Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Nasi Kuning 24 September

Posted by djadjasubagdja on September 24, 2009

Pagi tadi, ketika badan masih berbalut handuk mandi, istri dan anak-anak rame-rame menyalami, mengucapkan selamat ulang tahun. Ya, hari ini usia saya alhamdulillah bisa mencapai angka 42. Level 42! Memang bukan sebuah prestasi yang luar biasa, apa lagi jika dibandingkan dengan usia nenek saya yang sampai hari ini masih diberi umur panjang hingga mencapai 86 tahun!

Namun, tentunya saya merasa sangat bersyukur, karena selama 42 tahun yang telah terlewati ada banyak hal yang telah terjadi. Bermain bersama teman-teman, belajar, bekerja, bersosialisasi, berkeluarga, dan mencoba berbagi dengan sesama. Ah, sungguh indah semua ini. Sungguh Allah swt benar-benar Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemberi, dan Maha Pemelihara.

Suka dan duka selalu datang silih berganti mengiringi perjalanan hidup ini. Prestasi dan kegagalan pun menjadi tonggak-tonggak bersejarah dalam kehidupanku ini. Orang-orang datang dan pergi, lahir dan wafat, tapi tetap terkenang dalam hati …. subhanallah, sungguh indah kehidupan yang telah Engkau ciptakan ya Allah. Sunguh semua ini memberi warna dalam hidup ini.

Ucapan, senyuman, dan salam, serta kecupan dari anak-anak dan istri tercinta telah menggenapkan kebahagian hari ini. Bahkan bertambah-tambah, ketika mengetahui bahwa ibunda tercinta membuatkan nasi kuning. Ucapan dan doa dari Ibunda, Nenek, adik bungsuku, ibu Mertua …. sungguh sebuah hadiah yang luar biasa. Begitu tulus mereka mendoakan. Ah, belum lagi sms dan segudang pesan di Facebook dari teman-teman dan kerabat. Jumlahnya tak terhitung. Terima kasih teman. Sayang, nasi kuningnya terbatas.

Kembali ke nasi kuning. Rasanya sudah lama ibunda tidak membuatkan nasi kuning khusus ulang tahun. Baru kejadian lagi hari ini. Sungguh, benar-benar kejutan. Dulu, ketika kami masih kecil, rasanya hampir setiap tahun ibunda membuatkan nasi kuning atau tumpeng dikala kami berulang tahun.

Kami memang tidak dididik untuk merayakan ulang tahun seperti orang-orang kebanyakan, dengan meniup lilin di atas tart, kami terbiasa merayakan ulang tahun dengan nasi kuning atau nasi tumpeng, yang kami makan bersama sekeluarga setelah sebelumnya didahului doa bersama. Sederhana tapi bermakna. Itulah ajarah ayahanda almarhum. “Nabi kita juga tidak pernah tiup lilin pas ulang tahun,” demikian selalu beliau pesankan kepada kami.

Sayang nasi kuning buatan ibunda tadi pagi tidak bisa kami nikmati bersama di rumah ibunda di Bandung. Mendadak istri tercinta kambuh sakit maag-nya, dan kami terpaksa pulang ke Jakarta lebih cepat. Semua janji dengan beberapa teman, termasuk si sobat, Ipul, yang sudah repot-repot bawa pempek khusus buatku, dibatalkan. Nasi kuning kami bungkus, untuk dibawa ke Jakarta.

Setibanya di rumah, di Jakarta, karena lapar, saya makan nasi kuning buatan ibunda bersama anak-anak, sementara istri tercinta rebahan di kamar tidur. Beberapa saat kemudian, sepulang mengantar anak-anak ke toko buku, saya pun tertidur hingga sore hari. Ketika bangun, saya cari sisa nasi kuning tadi siang …. dan ternyata sudah habis disantap si sulung yang rupanya doyan juga dengan nasi kuning buatan neneknya ….. Alhamdulillah. Semoga si sulung mendapat spirit budaya merayakan ulang tahun dengan nasi kuning secara sederhana.

Posted in Humaniora | 1 Comment »

Ramadhan, Bulan Latihan

Posted by djadjasubagdja on August 21, 2009

Tentunya bukan tanpa tujuan, Allah swt memerintahkan shaum di bulan Ramadhan. Betul sekali, ada banyak tujuan dari perintah shaum Ramadhan ini. Salah satunya, yang selalu menarik bagi saya, adalah melatih keimanan dan ketaqwaan kita. Dengan kata lain, bulan Ramadhan adalah juga bulan latihan.

Di saat kita berpuasa, kita menahan lapar dan haus, kita menahan amarah, kita menahan diri dari berprasangka, kita menahan diri dari perbuatan yang dapat menyakiti orang lain. Selama puasa juga kita menahan sahwat kita, kita memelihara pandangan dan pendenganran kita. Kita pelihara juga perkataan kita. Bahkan, selama bulan Ramadhan kita meningkatakan sholat kita, bacaan Al Qur’an kita, shodaqoh kita, dan zakat kita.

Namun, apakah hal itu kemudian kita kendorkan setelah Ramadhan meninggalkan kita? Apakah dengan berakhirnya Ramadhan maka kita tidak lagi melaksanakan sholat malam? Apakah zakat dan shodaqoh hanya kita laksanakan di bulan Ramadhan? Apakah hanya ketika sedang berpuasa saja kita jaga pandangan, pendengaran dan perkataan kita? Apakah hanya ketika sedang berpuasa saja kita menjaga kesabaran kita? Apakah hanya di bulan Ramadhan saja kita tidak menyakiti orang lain?

Tentu saja tidak! Di bulan-bulan lain selain bulan Ramadhan pun SESUNGGUHNYA kita diharapkan berperilaku sama seperti ketika kita berpuasa. Di bulan-bulan lain selain bulan Ramadhan status kita sama, kita adalah insan ciptaan Allah swt yang hidup bersama-sama dengan ciptaan Allah lainnya. Jika di bulan Ramadhan kita tingkatkan keimanan kita, makapa apakah di bulan-bulan lain selain Ramadhan kita kendorkan lagi. Bukan itu tujuan ibadah Ramadhan, saudaraku.

Hakikat Ramadhan adalah peningkatan, dan setelah Ramadhan berlalu, bukan berarti kita kembali ke sebelum Ramadhan, tapi tetaplah di level keimanan dan ketaqwaan yang telah kita raih di bulan Ramadhan. Alangkah ruginya orang yang telah payah-payah berpuasa dan melaksanakan segala macam ibadah Ramadhan, dan kemudian mencapai tingkat keimanan dan ketaqwaan yang cukup tinggi, tapi ketika Ramadhan berlalu dia kembali ke tingkat keimanan dan ketaqwaan yang sebelumnya.

Orang seperti ini sama saja dengan orang-orang yang meluangkan waktunya untuk menunaikan sholat dengan khusuk tetapi ketika tidak sedang sholat kelakuannya jauh dari predikat ihsan. Sholat itu tonggak pengingat yang dikaruniakan Allah swt kepada manusia agar selalu ingat kepadaNya, agar selalu menjalankan perintahNya dan menjauni laranganNya setiap saat. Sholat kita pasti dihitung pahalanya, tapi jangan lupa, kelakukan kita ketika tidak sedang sholat juga dicatat.

Sholat itu alat pengingat dari Allah swt bagi kita, sehingga kita terpelihara, tercegah dari perbuatan keji dan munkar. Baik itu keji terhadap orang lain atau mahluk lain atau pun keji terhadap diri sendiri. Sementara itu, puasa adalah sarana latihan penigkatan keimanan dan ketaqwaan, agar ada peningkatan keimanan dan ketaqwaan. Rugi besar orang-orang yang sholat tapi sesaat setelah sholat dia lupa akan Tuhannya. Rugi besar bagi orang-orang yang menamatkan ibadah Ramadhannya tapi setelah itu keimanan dan ketaqwaannya menurun kembali.

Posted in Humaniora | Leave a Comment »

Mendiknas untuk Kabinet Mendatang

Posted by djadjasubagdja on June 12, 2009

Di tengah-tengah hiruk-pikuk Pilpres 2009, tidak banyak media yang mengulas tentang Camendiknas di kabinet yang akan datang, padahal Mendiknas merupakan posisi penting di kabinet. Bahkan boleh dibilang, Mendiknas adalah mentri yang terpenting dalam kabinet. Bagaimana tidak, pendidikan menentukan kualitas SDM masa depan, anak-anak kita.

Saat ini kita tidak bisa memungkiri bahwa secara umum pendidikan belum memenuhi harapan kita semua, meskipun juga kita harus jujur mengakui ada banyak kemajuan yang telah dicapai di dunia pendidikan. Dengan demikian, di kabinet yang akan datang, diperlukan seorang mentri yang mengetahui persis kondisi pendidikan hingga saat ini, dan kebutuhan SDM di masa mendatang.

Mencari sosok yang mengetahui dengan baik kondisi dunia pendidikan pada saat ini sebetulnya tidak terlalu sulit, ada beberapa tokoh dan bahkan mungkin bukan tokoh yang memahami dunia pendidikan dengan baik. Hanya sayang, belum tentu orang-orang ini merupakan orang partai. Sementara itu, orang partai yang bisa mengelola sebuah departemen cukup banyak, namun belum tentu mengetahui seluk-beluk dunia pendidikan, terutama pendidikan dasar dan menengah, dengan baik.

Kenapa saya tekankan pada dunia pendidikan dasar dan menengah? Sederhana saja, dunia pendidikan tinggi boleh dibilang sudah lebih mandiri dan kebanyakan ditangani oleh orang-orang yang berkompeten. Di dunia pendidikan tinggi, tugas pemerintah hanya tinggal mengatur perijinan pembukaan jurusan, agar jangan sampai terjadi sruplus lulusan jurusan tertentu dan defisit lulusan jurusan-jurusan lainnya.

Tentunya, untuk mendukung hal ini, Camendiknas juga haruslah seorang sosok yang pandai berkoordinasi dengan Menperin, Menaker, dan Mendag, karena ketiga departemen ini yang mengetahui SDM bidang apa saja yang bakal diperlukan Negara dalam beberapa dekade ke depan. Hal ini penting dalam mendesain komposisi jurusan di perguruan tinggi dan SMK.

Sebaliknya, di dunia pendidikan dasar dan menengah, peranan Diknas sangat diperlukan. Di aras pendidikan dasar dan menengah ini, kebijakan-kebijakan dan pembinaan-pembinaan dari Depdiknas masih sangat diperlukan. Belum lagi landasan-landasar operasional seperti kurikulum, evaluasi, dan Standar-standar Pendidikan Nasional lainnya sebagimana yang diamanatkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas.

Jadi wajar, sebenarnya, kalau Camendiknas diambil dari mereka yang telah lama berada di dunia pendidikan dasar dan menengah. Paling tidak yang sangat sering berhubungan dengan dunia ini. Jadi bukan soal kalau yang bersangkutan bukan seorang profesor.

Sistem pendidikan sebetulnya tidak terlalu rumit. Dasar-dasar dari sebuah sistem pendidikan terdiri dari:

  • sarana infrastruktur
  • sarana pendukung pembelajaran
  • kurikulum
  • sumber daya manusia atau pengajar

Untuk itu, seorang Camendiknas haruslah seseorang yang mengetahui kondisi sarana infrastruktur dan sarana pendukung pembelajaran yang ada. Camendiknas juga wajib memahami metodologi pengembangan kurikulum dan model-model kurikulum standar internasional, untuk kemudian menentukan model mana yang bisa diadaptasi. Dan terakhir, Camendiknas harus memahami dengan benar kondisi SDM/pengajar yang ada saat ini, dan bagaimana peningkatannya.

Camendiknas yang akan menjadi Mendiknas di kabinet mendatang haruslah seseorang yang betul-betul mengetahui mata pelajaran apa saja yang diajarkan di tingkat pendidikan dasar dan menengah. Jangan sampai, misalnya, Mendiknas di kabinet yang akan datang merasa bahwa negara telah menyediakan semua judul buku teks, padahal masih ada banyak judul yang belum bisa diakses para guru dan siswa. Hal ini penting, agar jangan sampai guru kebingungan mencari sumber bahan ajar karena hanya diarahkan untuk mendapatkan bahan ajar di sumber yang disediakan Negara saja, sementara di sumber itu belum tersedia 100%.

Camendiknas juga mesti memahami sumber-sumber daya yang dimiliki Depdiknas dalam melakukan pengkajian dan pengembangan kurikulum. Jangan sampai sumber daya yang ada tidak dimanfaatkan, dan kemudian membentuk lembaga-lembaga khusus yang menangani segala sesuatu yang berhubungan dengan kurikulum ini. Kalau hal ini terjadi, maka akan terjadi pemborosan anggaran. Anggaran kurikulum ini juga harus mencakup sosialisasi dan penataran mengenai kurikulum terbaru bagi semua guru. Jangan sampai Mendiknas di kabinet mendatang melempar kurkulum baru ke lapangan, sementara para guru belum siap.

Harapan yang lebih jauh lagi, Camendiknas mestinya merupakan sosok yang bisa membangun sebuah rencana pendidikan jangka panjang, dan kemudian ditetapkan menjadi sebuah Undang-undang oleh DPR. Hal ini penting, agar jangan sampai selalu muncul kecurigaan di masyarakat bahwa kalau ganti mentri maka akan ganti kebijakan dasar. Jika rencana pendidikan jangka panjang ini bisa diwujudkan, maka siapapun mentrinya di kabinet kapanpun hanya akan tinggal melanjutkan program-program dari pendahulunya saja.

Posted in Pendidikan | 1 Comment »

Sabar dalam Menjalani Pengobatan

Posted by djadjasubagdja on April 14, 2009

Seorang teman seprofesi yang bernama Marwati saat ini tengah menjalani terapi pasca penyembuhan lengannya yang terkilir akibat jatuh. Ketika saya tanyakan kabarnya melalui YM, setengah bercanda dia mengisyaratkan ke saya bahwa dia sudah ‘pegel’  juga menjalani terapi. Entah benar demikian atau penafsiran saya saja, tapi untuk membantu memberinya semangat, saya ceritakan pengalaman guru biologi saya di SMA. Setelah selesai saya ceritakan, dia langsung bilang ke saya kalau sebaiknya saya tulis pengalaman guru saya itu di blog. Jadi inilah kisah bu guru biologi SMA saya ini.

Ibu Dien adalah guru biologi kami di kelas 2 dan 3 SMA. Orangnya pintar dan disiplin dalam menjalankan tugasnya sebagai guru. Dalam mengajar, bu Dien selalu berusaha membangun pengertian-pengertian lewat peristiwa sehari-hari. Misalnya saja ketika kami selesai mengikuti psikotes masal di sekolah untuk keperluan pemilihan jurusan di perguruan tinggi. Besoknya, bu Dien langsung bertanya kepada kami, “Kemarin kalian melihat fenotive saya enggak?” Akhirnya kami mengerti konsep perbedaan fenotive dan genetive, karena kebetulan yang mengawasi kami melakukan kegiatan psikotes tersebut adalah putri tertua bu Dien yang wajahnya sangat mirip beliau.

Namun, dari beberapa hal yang disampaikan di kelas, ada satu cerita yang tidak pernah saya lupakan. Cerita ini adalah pengalaman pribadi ibu Dien ketika beliau masih duduk di bangku sekolah. Ketika itu mungkin tahun 50-an, jaman sepeda ontel merajai jalanan kota-kota besar. Jadi, singkat cerita, bu Dien kalau tidak salah digigit binatang (saya lupa anjing, monyet, kucing, atau burung), tapi yang jelas, kalau digigit binatang maka kita harus disuntik rabies.

Entahlah jaman sekarang, tapi ketika itu, yang bisa melakukan suntik rabies di kota Bandung hanya di Biofarma, di Jalan Pasteur, sebelah Rumah Sakit Hasan Sadikin. Jadi, pergilah ibu Dien ke Biofarma untuk disuntik rabies. Perlu diketahui, suntik rabies tidak sama dengan suntik biasa. Penyuntikannya dilakukan di perut dimana di bagian yang disuntik itu kulitnya menjadi menggelembung. Kemudian, penyuntikanya dilakukan hingga 21 kali di hari yang berbeda (saya lupa sehari sekali atau seminggu sekali) di bagian perut yang digelembungkan tersebut.

Karena memang proses pengobatannya seperti itu, ya terpaksa bu Dien menjalaninya. Suntikan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, hingga yang ke 20 beliau jalani dengan disiplin. Prosesnya benar-benar berat bagi beliau, karena untuk pergi ke Biofarma beliau harus menggenjot sepedanya di jalan yang meskipun diaspal tapi tidak serata  aspal jaman sekarang. Ketika itu pelapisan jalan dengan teknologi aspal hotmix belum ada. Sepanjang jalan bu Dien merasa kesakitan karena gelembung kulit tempat penyuntikannya terguncang-guncang.

Karena itu, tidak bisa kita salahkan ketika beliau akhirnya memutuskan tidak ke Biofarma lagi setelah penyuntikan ke-20. Dan betul, bisa diramalkan, beberapa hari kemudian beliau harus kembali ke biofarma, karena memang prosesnya belum tuntas. Lebih celaka lagi, penyuntikannya harus diulang kembali sebanyak 21 kali, bukan hanya suntikan ke-21-nya. Wah, kebayang ya, akhirnya harus 41 kali bolak-balik ke Biofarma.

Inti dari cerita bu Dien di atas adalah bahwa kita seyogyanya tidak menghentikan proses pengobatan di tengah jalan. Lain halnya jika kita menghentikannya dan kemudian pindah berobat ke dokter atau rumah sakit lain, dengan alasan tertentu. Makna lain dari cerita ibu Dien ini adalah pentingnya disiplin, dalam hal apapun. Disiplin memang terkadang menyakitkan, tapi terkadang lebih menyakitkan lagi jika kita tidak disiplin.

Posted in Humaniora, Pendidikan | 2 Comments »

Di Rumah …. Enggak Pake Kata ‘aja’

Posted by djadjasubagdja on April 4, 2009

Sebagai pengguna Facebook, hal yang paling sering saya lakukan adalah mengomentari status teman-teman. Mulai dari komentar bernuansa humor hingga yang berupa doa, sering saya layangkan. Status teman-teman tersebut tidak hanya berupa kegiatan yang sedang mereka lakukan, atau posisi mereka, tetapi juga pandangan mereka atas sesuatu. Namun ada satu hal yang paling menarik bagi saya, yakni status teman-teman di saat akhir pekan.

Di akhir pekan, kalau boleh saya kelompokkan, ada dua kelompok status teman-teman saya di FB. Pertama adalah mereka yang mengisi akhir pekan di luar rumah, dan kelompok lainnya adalah mereka yang memutuskan untuk tidak kemana-mana. Teman-teman di kelompok kedua ini, biasanya mengisi status mereka dengan sepenggal kalimat “di rumah aja” atau yang sejenisnya.

Tidak pergi ke luar rumah untuk beraktivitas seakan menjadi sesuatu yang bernilai kecil di masyarakat kita. Hal ini tercermin dari penggunaan kata “aja” atau “saja”  jika kita mengabarkan kepada orang lain bahwa kita sedang di rumah, tidak kemana-mana. Seolah-olah, berakhir pekan di rumah, tidak bepergian, merupakan sesuatu yang derajatnya lebih rendah dari bepergian untuk berktivitas di luar rumah.

Padahal, ada banyak hal menarik yang bisa kita lakukan di rumah di akhir pekan. Mencoba resep baru, merapikan rak buku, atau sekadar berkumpul bersama seluruh anggota keluarga sambil menikmati pisang goreng dan acara televisi, merupakan hal positif yang bisa memberi kontribusi pada pembinaan dan pengembangan keluarga. Hal ini sangat berarti bagi terbentuknya komunikasi antar anggota keluarga.

Saya masih ingat apa yang kami lakukan di akhir pekan ketika saya dan adik-adik mulai menginjak usia remaja. Ketika itu hari Sabtu bukan merupakan hari libur. Malam minggu biasanya kami isi dengan makan malam spesial di rumah. Saya katakan spesial, karena biasanya yang memasak adalah ayah kami. Menu spesialnya adalah nasi goreng plus telur dan udang kering atau nasi kunyit yang digoreng tanpa minyak.

Kalau sudah jam tujuh malam, dan tidak satupun dari kami yang punya acara, biasanya kami minta ayah kami membautkan nasi goreng. Ibu kami biasanya hanya menyiapkan bahan-bahannya saja, selanjutnya, mulai dari mengupas bawang, mengiris bawang, hingga menghidangkannya di piring besar, ayah kami yang melakukannya. Sementara beliau memasak, kami biasanya duduk-duduk saja menonton tv.

Hal yang cukup unik dari acara makan nasi goreng buatan ayah kami ini adalah ketika menyantapnya. Nasi goreng tersebut tidak dihidangkan di piring makan, tapi di sebuah piring besar, lalu kami menyantapnya rame-rame dari piring tersebut. Itulah keunikannya. Itu juga kenikmatannya. Terkadang ayah kami hanya menonton saja kami menyerbu piring besar yang berisi nasi goreng buatannya tadi, tapi itulah kepuasan beliau, pasti.

Setelah itu, ya kami lanjutkan nonton televisi bersama. Kalau sedang musim mangga, biasanya ibu kami mengupaskan mangga untuk kami. Dan setiap potongan mangga yang mendarat di piring pasti langsung segera berpindah ke mulit kami. Kalau sudah berebutan seperti ini, biasanya ayah kami hanya tertawa-tawa saja. Paling-paling beliau mengambil gitar dan menyanyi lagu sekenanya sambil tidak menghiraukan protes kami atas lagu yang dinyanyikannya.

Orang tua kami dua-duanya pegawai negri. Tidak banyak uang yang mereka miliki. Gajinya hanya cukup untuk memenuhi keperluan kami sehari-hari. Jadi, jangan harap hari Minggu selalu diisi piknik atau pergi jalan-jalan. Hingga saya lulus SMA, orang tua kami tidak memiliki mobil pribadi, paling juga mobil dinas ayah kami. Jadi, yang namanya piknik itu sangat jarang kami lakukan. Hari Minggu kami lebih sering tinggal di rumah.

Namun demikian, meski tidak bepergian, selalu saja ada yang dilakukan ayah kami di hari Minggu. Mulai dari memperbaiki perabotan yang rusak, menambal dinding yang rusak, membetulkan instalasi listrik, mengganti tanah di pot tanaman, mencangkok, menggergaji dahan atau ranting yang mengganggu, membersihkan selokan di depan rumah, memotong rumput, atau menanam pohon di halaman. Kegiatan-kegiatan tersebut beliau lakukan dengan selalu meminta bantuan kami.

Seringnya sih, kami enggan membantu beliau, karena capek, kotor, berkeringat, dan terkadang kulit kami jadi terpanggang sinar matahari. Namun ketika kami beranjak dewasa kami sadar bahwa sebetulnya beliau tidak memerlukan bantuan kami. Beliau meminta kami membantunya hanya agar kami terbiasa mengurus rumah dan tahu bagaimana caranya memperbaiki sesuatu yang rusak. Sekarang ini, dalam hal memelihara rumah, satu hal yang tidak bisa saya lakukan adalah memperbaiki atap, karena badan saya sekarang ini tidak cocok untuk pekerjaan ini.

Jadi, sebetulnya, di akhir pekan, ada banyak hal yang bisa kita lakukan dengan keluarga di rumah. Kita bisa mengajak anak-anak memperbaiki sesuatu, merapikan halaman, merawat tanaman atau hewan peliharaan, atau berkemah di halaman rumah, seperti yang dilakukan rekan saya, Winda, baru-baru ini.

Berkemah, meski hanya di halaman rumah, pasti sangat berkesan bagi anak-anak. Saya masih ingat, dulu, ketika saya duduk di kelas 5 atau 6, saya dan beberapa sepupu berkemah di halaman belakang rumah. Kami memasang tenda di antara pohon belimbing dan rumpun pohon pisang. Ada api unggun juga waktu itu, kebetulan rumah sepupu saya sedang direnovasi, jadi banyak kayu bekas yang “dibuang” ke halaman belakang rumah kami.

Tendanya sangat sederhana, bukan tenda betulan. Waktu itu kami hanya memanfaatkan ponco (jas hujan militer yang agak besar) yang diletakkan di atas tambang plastik yang direntangkan di batang pohon belimbing dan tiang jemuran. Lalu keempat ujungnya kami ikat dengan tali rafia yang ditambatkan ke pasak. Alasnya hanya berupa tikar biasa. Ujung-ujungnya yang bolong kami tutupi dengan seprai bekas.

Betul-betul sederhana, tapi malam itu kami benar-benar merasakan suasana berkemah. Tidur di tenda dan menghangatkan badan dengan mengelilingi api unggun. Tidak pernah saya lupakan acara kemah kami di malam minggu itu. Semalaman kami di halaman rumah hingga besok paginya. Hanya 30 menit saja saya masuk ke dalam rumah malam itu untuk menonton serial komedi favorit saya “Hogan Heroes”. Jadi, tulis saja di FB bahwa anda ’sedang di rumah’ tanpa kata ’saja’.

Posted in Humaniora | 1 Comment »

Bu Kapti Membuat Matematika tidak Menyeramkan

Posted by djadjasubagdja on March 22, 2009

Kalau diijinkan memberikan julukan, maka bu Kapti, yang bernama lengkap ibu Sukapti ini, adalah guru gaul. Beliau boleh dibilang guru langka, karena biasanya guru matematika itu rata-rata orangnya serius dan formal. Bu Kapti memang lain dari pada yang lain, selalu senyum dan penuh canda. Namun bukan berarti beliau mengajari kami sambil bercanda. Bu Kapti pandai sekali mengelola sikap, kapan harus serius dan kapan bercanda dengan kami, murid-muridnya.

 

Saya tidak mengatakan beliau ini guru matematika yang memiliki metode pengajaran matematika super hebat. Namun, yang jelas, dengan kepandaiannya bersikap terhadap murid-muridnya, beliau menjadikan matematika tidak menakutkan bagi kami. Jika beliau menyuruh salah seorang dari kami mengerjakan soal di papan tulis, dan teman kami ini tidak dapat mengerjakannya, maka beliau tidak marah-marah. Beliau hanya berkata, “Kumaha atuh ini? Ayo ada yang bisa mengerjakan?”

 

Barangkali kesabaran beliau dalam menghadapi kami yang waktu itu masih sedang-sedangnya lebih mengedepankan bermain dari pada belajar, yang menjadikan jam pelajaran bu Kapti merupakan juga jam favorit kami. Saya pribadi, sekarang ini, kalau sudah harus mengajari anak saya matematika, rasanya inginnya marah terus. Saya baru sadar sekarang, betapa bu Kapti sangat sabar menghadapi beberapa dari kami yang tidak terlalu cepat mencerna matematika.

 

Selain seorang guru matematika yang baik, bu Kapti juga seorang wali kelas yang benar-benar menjadi “ibu” bagi kami. Ketika kelas dua, kebetulan bu Kapti adalah wali kelas kami. Hal yang tidak akan pernah kami lupakan dari beliau adalah kiatnya dalam melibatkan orang tua kami dalam mendidik kami. Di awal tahun di kelas dua, bu Kapti mengundang semua orang tua kami sekelas untuk mengadakan pertemuan orang tua di salah satu rumah teman kami. Uniknya, pertemuan ini tidak hanya dihadiri wali kelas dan orang tua, tapi juga seluruh siswa.

 

Pertemuan yang sifatnya informal ini diadakan beberapa kali, kalau tidak salah hingga tiga kali. Karena sifatnya informal, maka terkadang kami hanya duduk berkumpul lesehan sambil menikmati makanan ringan yang dihidangkan tuan rumah. Sambil duduk santai kami membicarakan masalah-masalah yang menyangkut pelajaran dan apa lagi kalau bukan urusan main sepulang sekolah.

 

Saya masih ingat, dalam pertemuan pertama, beberapa orang tua menyampaikan kekhawatiran dengan kegiatan kami sepulang sekolah. Memang, terkadang kami harus mengerjakan tugas bersama sepulang sekolah, tapi sebetulnya, sejujurnya, seringnya sih kami bermain bersama sepulang sekolah. Sebetulnya, orang tua kami tidak keberatan kami bermain sepulang sekolah, hanya saja mereka lebih tenang hatinya kalau mereka mengetahui keberadaan kami. Akhirnya diputuskan untuk membuat daftar siswa beserta nama orang tua, alamat kantor orang tua, dan alamat rumah, sehingga orang tua kami bisa saling berkomunikasi. Daftar itu diperbanyak dan dibagikan ke semua orang tua. 

 

Sungguh, pertemuan yang diprakarsai oleh bu Kapti ini membuahkan hasil yang sangat berarti. Orang tua kami bisa lebih memantau kegiatan dan keberadaan kami. Sejalan dengan hal ini, kami sendiri menjadi lebih tertib. Jika kami akan mengadakan acara, misalnya merayakan ulang tahun teman sepulang sekolah, kami pasti memberi tahu orang tua kami sebelumnya. Perlu dicatat, pada masa itu, ponsel belum ditemukan dan bahkan rumah yang ada teleponnya pun masih jarang. Itulah gunanya orang tua kami mengetahui alamat dan nomor telepon kantor mereka masing-masing. Memudahkan dalam berkomunikasi.

 

Bu Kapti bukannya guru yang tanpa inovasi di dalam mengajari kami matematika. Ketika kami duduk di kelas tiga, beliau membagi kami dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok biasanya ada satu atau dua orang yang cukup baik nilai matematikanya. Di bulan-bulan menjelang ujian akhir, semua kelompok harus mengerjakan empat set kumpulan soal dari sebuah buku kumpulan soal. Kelompok harus mengerjakan bersama-sama, kemudian hasil kerja kelompok itu disalin oleh semua anggota kelompok. Hal ini tentunya memberi manfaat ganda bagi kami. Pertama adalah kemungkinan besar lebih banyak soal yang dapat dipecahkan, karena dikerjakan secara berkelompok. Keduanya, karena kemudian kami semua harus menyalin hasil kerja kelompok itu, maka kami menjadi lebih terlatih lagi.

 

Ketika batas akhir tanggal pengumpulan tugas tiba, ternyata hanya beberapa siswa yang menyerahkan tugas. Saya dan teman-teman sekelompok belum tuntas mengerjakan. “Pokoknya, tugas harus diserahkan sebelum tanggal yang telah ditetapkan!” demikian ditegaskan bu Kapti kepada kami di kelas pada tanggal tersebut. Karena kami tidak ingin mendapat nilai jelek, maka sepulang sekolah kami meneruskan mengerjakan tugas tersebut. Hanya saja, karena waktu yang mepet, akhirnya kami membagi tugas, setiap anggota kelompok mengerjakan satu set. Tidak sempat lagi kami mendiskusikan seluruh set dan menyalin setiap set.

 

Akhirnya, setelah berkeringat mengerjakan soal-soal, selesailah kami mengerjakan keempat set kumpulan soal tersebut jam 10 malam. Segera saja kami meluncur menuju rumah bu Kapti dan berdoa semoga beliau belum tidur. Ketika kami tiba di rumah beliau, bu Kapti memang belum tidur, dan beliau hanya ketawa-ketawa saja melihat ulah kami yang mengumpulkan tugas malam-malam. Itupun tidak 100% seperti yang beliau minta, kami hanya mengumpulkan empat set lembar jawaban sebagai jawaban kelompok. “Kan ibu minta kami mengumpulkan paling lambat hari ini, dan ini belum jam 12 malam Bu,” kata kami memberanikan diri.

 

Bu Kapti menerima semua lembar jawaban itu sambil mengecek siapa saja yang benar-benar mengerjakan tugas kelompok kami. Terus terang, kami tidak menutupi siapa yang mengerjakan set soal yang mana. Bahkan kami sampaikan juga bahwa ada salah seorang teman yang tidak ikut mengerjakan karena yang bersangkutan kebetulan hari itu harus mengikuti bimbingan belajar. Semua kami sampaikan, dan bu Kapti menerima tugas kami sambil tidak lupa menyuguhi kami minum dan suguhan candanya.

 

Rasanya, selama saya belum pikun, sulit rasanya melupakan senyum bu Kapti. Keseriusannya di kelas. Candanya yang menyegarkan kami. Tanggung jawabnya sebagai wali kelas. Kedekatannya dengan murid. Semuanya menjadikan kelas matematika kami tidak menakutkan. Terima kasih banyak bu Kapti.

Posted in Humaniora, Pendidikan | Leave a Comment »

Contreng bin Coblos

Posted by djadjasubagdja on March 17, 2009

Pemilu Legislatif 2009 akan merupakan pemilu yang lain dari pada pemilu-pemilu sebelumnya. Ya, anda benar, Pemilu Legislatif 2009 bakal menjadi pemilihal langsung caleg sekaligus pemilu contreng pertama. April nanti kita tidak akan nyoblos tapi memberi tanda contreng di gambar partai, atau nomor partai, atau nomor caleg, atau nama caleg. Jadi, di pemilu kali ini kita tidak akan mendapatkan paku dan bantal_coblos, tapi alat tulis untuk mencontreng.

Jika kita pahami hal ini sebagai sebuah kemajuan, maka itu tidak salah sama sekali. Sudah saatnya kita memilih dengan menggunakan alat tulis, sebuah ikon yang memiliki arti implisit berpendidikan. Angka buta huruf di negri kita memang masih tinggi, tapi yang jelas, mayoritas pemilih kita pasti lebih terbiasa memegang alat tulis ketimbang paku. Coba anda sendiri ingat-ingat, berapa kali dalam sepekan memegang alat tulis, dan berapa kali memegang paku?

Hanya memang sangat disayangkan, sosialisasi pencontrengan ini masih belum berjalan dengan baik. Hal ini setidaknya juga diakui oleh seorang anggota KPU di acara Democrazy yang ditayangkan Metro TV 15 Maret 2009. Di acara yang sama juga ditayangkan beberapa subsiaran pendek yang memperlihatkan bahwa masyarakat masih belum memahami bagaimana harus melakukan pencontrengan ini.

Terlepas dari cukup atau tidaknya anggaran KPU dan apakah waktunya masih mencukupi atau sudah terlalu mepet, tapi peningkatan sosialisasi ini mesti dilakukan. Saat ini sudah bukan saatnya lagi untuk melemparkan kritik kepada KPU dan kemudian mendorong-dorong mereka untuk melakukan peningkatan kegiatan sosialisasi. Peningkatan sosialisasi sudah wajib dilakukan oleh media massa. Saya lihat memang sudah ada tayangan sosialisasi pencontrengan di televisi, tapi rasanya masih kurang.

Saya kira sudah saatnya surat kabar dan televisi melakukan sosialisasi tambahan, diluar yang telah dipesan KPU. Alokasikanlah barang seperempat halaman koran setiap hari untuk memuat contoh surat suara dan bagaimana cara mencontrengnya. Stasiun televisi bisa membuat tayangan singkat setiap hari, katakanlah berdurasi 1,5 menit, yang memperlihatkan cara-cara melakukan pencontrengan. Konsorsium percetakan surat suara juga dapat membantu sosialisasi dengan mencetak poster petunjuk pencontrengan yang bisa dipasang berdampingan dengan poster caleg.

Tentunya ada biaya yang harus dikeluarkan, tapi hal ini bisa dijadikan CSR media massa dan percetakan tersebut. Terlepas anda akan memilih atau tidak, ada baiknya memahami pencontrengan ini.

Posted in Humaniora | Leave a Comment »

Suara Merdu bu Emmy, Semerdu Inovasi bu Emmy

Posted by djadjasubagdja on March 13, 2009

Kalau guru menyuruh murid menyanyi di depan kelas, itu mah sudah biasa. Namun kalau murid “ngerjain” gurunya agar menyanyi di depan kelas, barangkali hanya ada di sekolah kami. Kejadiannya bukan sekali, tapi beberapa kali, dan saya yakin tidak hanya saya dan teman-teman sekelas yang melakukan hal ini, tapi juga kelas-kelas lain melakukan hal sama.

Ya, bagaimana kami tidak pernah bosan mendaulat guru Bahasa Inggris kami menyanyi di depan kelas, suara bu Emmy itu merdu, enak didengar. Biasanya, kalau kelas sudah mulai kelihatan jenuh, bu Emmy menulis syair lagu di papan tulis. Setelah itu beliau bertanya kepada kami, “Ibu sudah ajarkan lagu ini kan?” Serempak kami menjawab, “Beluuum.” Kalau sudah seperti ini, bu Emmy hanya bisa tersenyum-senyum sambil berkata, “Ya, pasti kalian bilang belum, ya sudah, ibu beri contoh menyanyikannya. ” Lalu mengalunlah suara merdu ibu Emmy Yuliaty di depan kelas, dan kami pun khusuk menikmatinya. Setelah itu barulah kami bernyanyi bersama.

Hal itulah yang paling berkesan dari bu Emmy. Saya yakin tidak hanya bagi saya, tapi pasti bagi seluruh anak SMAN 5 Bandung yang mendapat pelajaran Bahasa Inggris dari beliau. Beberapa lagu sempat beliau ajarkan, tapi yang masih saya ingat adalah lagu “Roses Are Red” dan “We shall Overvome”. Saya masih ingat lagu Roses are Red karena ada di album kompilasi Bobby Vinton di kaset milik ayah saya.

Namun, tidak hanya itu yang spesial dari bu Emmy. Pada hari pertama di awal semester, pasti bu guru yang selalu tampil rapi ini menginstruksikan kepada kami untuk menyediakan dua buah buku tulis ukuran A4 yang agak tebal. Satu sebagai buku catatan, dan yang lainnya sebagai buku PR. Kedua buku tersebut WAJIB disampul oleh bagian belakang kertas kalender bekas (yang berwarna putih polos).

Setiap pekan pasti ada PR yang jumlahnya lumayan banyak, antara 30 – 40 soal. PR itu berasal dari semua pertanyaan yang ada di bab yang akan dibahas pekan berikutnya. Buku teks bahasa Inggris yang kami pakai (kalau tidak salah judul bukunya adalah Curriculum English for Senior High School), terdiri dari beberapa bab yang jumlahnya cukup banyak. Sebagaimana layaknya pola buku teks pada masa itu, awal bab dimulai dengan bacaan, lalu ada pertanyaan yang berhubungan dengan bacaan, dan kemudian diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan grammar.

Ketika kami sudah menginjak kelas 2, PR kami tidak lagi hanya mengerjakan soal-soal yang ada di buku, tetapi juga menuliskan terjemahan dari bacaan di bab yang akan dipelajari di kelas. Ketika pelajaran dimulai, Bu Emmy pasti menyuruh kami semua mengumpulkan PR kami yang berupa hasil terjemahan dan jawaban pertanyaan-pertanyaan. Setelah itu, bu guru kami ini membuat pertanyaan sendiri dari bacaan tersebut secara lisan di depan kelas yang ditujukan kepada kami secara acak. Jadi, kalau misalnya PR yang dikumpulkan adalah hasil menyontek, pastilah tidak dapat menjawab pertanyaan lisan Bu Emmy di depan kelas.

Untuk setiap pertanyaan yang dijawab benar dalam bahasa Inggris, kami mendapat nilai 8, tapi jika jawabannya dalam bahasa Indonesia (tapi benar), maka nilainya 6. Siswa yang mencoba menjawab, tetapi salah, tetap mendapat nilai. Demikianlah, sepekan sekali hal ini berlangsung. Di hari lain, di pekan yang sama, biasanya diisi dengan pelajaran mengenai grammar. PR yang dikumpulkan, siang harinya sudah kembali ke tangan kami setelah beliau koreksi di jam kosong atau saat istirahat.

Hal yang terus terang membuat saya tetap mengagumi beliau hingga saat ini adalah variasi dalam pembelajaran yang dimiliki oleh Bu Emmy. Selain membahas bacaan di buku teks dan pelajaran grammar, beliau juga menyelipkan beberapa pembelajaran yang inovatif, seperti Diskusi Kelas dan Cepat Tepat. Tentu semuanya dalam bahasa Inggris.

Dalam Diskusi Kelas, kami dibagi kedalam beberapa kelompok. Pada pertemuan pertama, kelompok pertama berperan sebagai pemrasaran, kelompok kedua sebagai penyanggah. Pada pertemuan berikutnya, kelompok ketiga sebagai pemrasaran, dan kelompok keempat sebagai penyanggah. Begitulah seterusnya, lalu kemudian dibalik, yang pernah menjadi pemrasaran kemudian menjadi penyanggah.

Kelompok yang menjadi pemrasaran harus menyerahkan makalah singkat beberapa hari sebelum Diskusi Kelas dimulai. Semua makalah dinilai. Kinerja kelompok dinilai dengan terlebih dahulu ditetapkan poin-poinnya. Para penyanggah dan yang menjawab sanggahan mendapat nilai tambahan. Begitulah, sehingga pelajaran tidak membosankan. Meskipun tentu saja cukup repot kami dibuatnya terutama ketika membuat makalah kelompok.

Dalam kegiatan Cepat Tepat, kami juga dibagi menjadi beberapa regu. Lantas kemudian beberapa regu ditandingkan. Pertanyaan yang tidak bisa dijawab peserta tanding dilempar ke “penonton”. Regu yang menang mandapat nilai tertentu. Mereka yang menjawab juga mendapat nilai tambahan. 

Saya membayangkan, seandarinya semua guru seinovatif bu Emmy ketika melakukan kegiatan pembelajaran, tentulah sekolah menjadi sesuatu yang tidak membosankan. Selain itu, siswa juga menjadi terlatih untuk mengaplikasikan pelajaran dalam berbagai kegiatan. Dengan demikian, ketika siswa melanjutkan pendidikan atau bekerja, bekal yang didapat sudah mencukupi.

Rasanya masih belum lupa saya akan suara merdu Ibu Emmy tatkala beliau menyanyikan lagu Roses are Red. Terima kasih Bu Emmy.

Roses are re my Love

Velvets are blue

Sugar is sweet my love

but not as sweet as you ……

Posted in Humaniora, Pendidikan | Leave a Comment »

Pak Saras, Sosok Guru Bahasa Indonesia yang Sesungguhnya

Posted by djadjasubagdja on March 10, 2009

Pak Saras Ahmadi adalah guru Bahasa Indonesia kami ketika saya masih duduk di bangku SMA, tepatnya di SMA Negeri 5 Bandung. Saya tulis sosok beliau bukan karena pak guru yang satu ini pernah mendapatkan penghargaan sebagai guru teladan dari negara. Hanya saja, bagi saya pribadi, beliau merupakan satu dari beberapa guru favorit saya. Kalau boleh, saya kategorikan beliau ini sebagai guru yang sesungguhnya. Beliau tidak hanya mengajarkan pengetahuan dan keterampilan berbahasa, tapi juga memiliki tanggung jawab penuh dalam mengajarkan Bahasa Indonesia kepada kami.

Pernah suatu hari, di awal pelajaran, beliau tiba-tiba langsung mengajukan sebuah pertanyaan. Begini beliau bertanya, “Apa perbedaan antara puisi dan prosa?” Terus terang kami semua kaget, karena pada saat itu kami tidak sedang membahas kesusantraan. Beliau lalu mengulangi lagi pertanyaannya di tengah kebingunan kami.

Akhirnya ada beberapa dari kami yang mengacungkan jari tangan untuk menjawab pertanyaan beliau. Teman pertama kami langsung menjawab,”kalau prosa adalah karya bebas, kalau puisi karya terikat.” Langsung saja pak Saras menyalahkan jawaban teman kami. Lalu dia menunjuk teman kedua yang tadi mengacungkan jari. Meskipun agak bingung, karena jawaban teman pertama tadi disalahkan, teman kedua memberanikan diri menjawab, “kalau …. .”  Kami semua kaget karena sebelum selesai teman kami menjawabnya, pak guru kami ini sudah menyalahkan jawaban si teman kedua ini. Begitu seterusnya hingga tiga atau empat teman kami mencoba menjawabnya, tapi semuanya disalahkan.

Akhirnya pak saras berbicara. “Kata ‘kalau’ tidak boleh diucapkan di awal kalimat, tapi seharusnya ditempatkan di tengah kalimat. Jadi, jawaban kalian itu seharusnya begini ….. puisi adalah bla bla bla, kalau prosa adalah bla ba bla.” Begitulah kira-kira beliau sampaikan kepada kami saat itu, dan akhirnya kami mengerti bahwa hari itu kami tidak salah jadwal mempelajari sastra, tapi masih tetap meneruskan pelajaran pekan lalu, yakni tata bahasa.

Begitulah beliau. Pak Saras tidak hanya mengajarkan teori, tapi langsung mempraktekkannya di kelas. Beliau juga tidak hanya mengajarkan kami teori kesusastraan, tapi ketika W. S. Rendra manggung di kota kami, beliau menyarankan kami menonton bersama beliau. Sayang, saya tidak bisa ikut menontonnya. Namun, dari cerita beberapa teman yang menonton pertunjukan Rendra tadi bersama dengan pak Saras, teman-teman menikmatinya. Mestinya, seperti inilah Bahasa Indonesia diajarkan kepada siswa, bukan hanya teori.

Satu hal lagi yang tidak pernah saya lupakan dari beliau adalah pelajaran mengenai puisi dan prosa. Menurut beliau, sepanjang yang saya tangkap, puisi dan prosa sama-sama mengungkapkan kisah pengalaman hidup atau perasaan penulisnya. Bedanya hanya pada format penulisan. Puisi ditulis dalam kalimat-kalimat penuh makna dan relatif jumlah kalimatnya lebih sedikit dibandingkan dengan prosa.

Waktu itu beliau menguatkan pernyatannya dengan mengambil contoh puisi “Aku”, karya Chairil Anwar. Beliau sampaikan, karena Chairil Anwar adalah seorang penulis puisi, maka “Aku” menjadi sebuah puisi. Kalaulah Chairil Anwar itu seorang novelis, maka “Aku” pastilah berbentuk sebuah novel. Kemudian beliau melanjutkan dengan mengupas puisi “Aku” yang membuat saya mengerti bahwa memang, dari sisi hakikat sebuah karya sastra, tidak ada perbedan antara puisi dan prosa.

Sungguh, kalau saja semua guru Bahasa Indonesia bisa mengajar seperti pak Saras Ahmadi, guru kami, saya yakin pelajaran ini akan menjadi pelajaran yang paling mengasyikkan. Saya juga yakin, kalau para guru Bahasa indonesia tidak hanya mengajarkan teori berbahasa, tapi juga langsung mempraktekkannya di kelas, maka kemampuan membaca dan menulis siswa dan mahasiswa kita akan jauh lebih baik.

Posted in Humaniora, Pendidikan | Leave a Comment »

Keikhlasan dalam Beribadah

Posted by djadjasubagdja on February 7, 2009

Dulu, ketika saya masih sekolah, di dekat rumah lama orang tua saya ada belokan jalan yang kebetulan juga merupakan ujung sebuah gang. Di belokan itu beberapa becak mangkal di sana. Salah satu dari penarik becak itu bernama pak Abid (bukan nama sebenarnya). Selain sebagai penarik becak, pak Abid juga pengurus masjid yang terletak di gang tersebut, dimana saya sering sholat Jumat atau Tarawih di masjid tersebut yang kebetulan letaknya tidak jauh dari pangkalan becak tadi.

Di saat menunggu penumpang, tidak seperti penarik becak lainnya yang menghabiskan waktu dengan berkelakar atau mendengarkan lagu dangdut di radio kecil, pak Abid lebih sering terlihat membuka Al Qur’an dan mengaji, tentunya. Sungguh, sebuah pemandangan yang jarang terlihat di masa itu, antara akhir tahun 80-an hingga 90-an. Jangan cari pak Abid di tempat mangkalnya di saat menjelang sholat dzuhur dan ashar, dia pasti sudah ada di masjid, siap-siap mengumandangkan adzan dengan lantunan khas yang barangkali hanya beliau seorang yang memiliki irama adzan seperti itu.

Ada dua hal yang membuat saya kagum dengan pak Abid. Pertama adalah ketika beliau selesai melaksanakan sholat-sholat sunat menjelang sholat Jumat, beliau pasti menyalami semua orang yang berada di masjid. Memang sih masjidnya tidak besar, tapi seumur hidup saya belum pernah menjumpai orang yang begitu rajin menyalami sesama jamaah, kecuali pak Abid ini. Beliau biasanya sholat sunat beberapa kali, dan setiap selesai sholat sunat pasti akan menyalami orang-orang yang belum disalami sebelumnya.

Hal kedua adalah ternyata beliau juga memberi perhatian kepada sesama jamaah. Pernah saya mengalami kecelakaan lalu lintas, dan saya harus terbaring di tempat tidur selama lebih dari satu bulan, kemudian harus berjalan dengan kruk selama dua bulan berikutnya. Otomatis selama sebulan pertama saya tidak pernah ke masjid untuk sholat Jumat. Tiba-tiba saja pak Abid datang menengok bersama pak Ketua DKM. “Pantesan tidak pernah kelihatan jumatan,” begitu komentar beliau saat menengok. Subhanallah, rupanya beliau juga suka memperhatikan siapa yang hadir ke masjid dan siapa yang tidak, dan beliau berusaha memelihara silaturahmi dengan jamaah.

Dari sini saya bisa melihat bahwa pak Abid menjalankan ibadah vertikal dan horisontal. Hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia beliau pelihara dengan baik. Logika kita pasti mengatakan, bahwa layaklah Tuhan memberi kebahagiaan kepada umatnya yang saleh ini. Namun, hidup dan kehidupan tidak dikendalikan oleh logika manusia, beberapa tahun lalu saya mendengar kabar salah seorang anak pak Abid tewas terbunuh seorang penodong. Si anak ini sebenarnya bukan sasaran si penodong. Jadi, ceritanya, ketika terjadi sebuah penodongan, si anak kebetulan menyaksikan kejadian tersebut dan berusaha menolong orang yang ditodong. Namun malang nasibnya, penodong menusukkan pisaunya ke si anak ini hingga tewas. Begitulah nasib pak Abid.

Apakah pak Abid menjadi surut ibadahnya karena musibah yang menimpanya? Saya yakin tidak! Beliau pasti akan tetap menjalankan ibadah vertikal dan horisontalnya secara konisten. Bagi siapapun, baik seorang ahli ibadah, maupun yang tidak pernah beribadah, musibah sama saja. Musibah adalah sesuatu yang datang dan kemudian pergi. Hanya saja, seorang ahli ibadah akan menyikapi musibah dengan sabar dan ikhlas. Itulah buah dari ibadah yang sudah dapat kita nikmati di dunia, yakni sabar dan ikhlas.

Pak Abid tidak mempertanyakan mengapa jalan hidupnya berbeda dengan orang lain yang baru beberapa tahun rajin beribadah tapi telah dianugerahi kemudahan-kemudahan dalam usahanya. Pak Abid juga tidak mempertanyakan mengapa jalan hidupnya bahkan lebih berliku dan dipenuhi onak dibandingkan dengan orang yang malas beribadah. Pak Abid faham, itu semua rahasia Tuhan, karena pak Abid juga faham bahwa Tuhan telah berfirman bahwa Dia akan memberikan apa-apa yang dikehendakiNya kepada siapa-siapa yang dikehendakiNya.

Tuhan tidak berikan rezeki berlimpah, kedudukan tinggi, kemudahan, kelapangan, dan kebahagiaan hanya kepada orang-orang yang mematuhi aturannya. Bahkan kepada mereka yang tidak percaya akan keberadaanNya pun, Tuhan berikan itu semua, karena Tuhan menyayangi semua ciptaanNya. Jadi janganlah kita mengatakan bahwa karena ibadah kita telah sempurna, maka Tuhan anugerahkan semua kebaikan dan kemudahan; karena semua ibadah kita masih jauh belum berarti jika dibandingkan dengan nikmat yang selalu Tuhan anugerahkan kepada kita. Beribadahlah dengan ikhlas.

Posted in Humaniora | Leave a Comment »