Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Si Pendiri Blackberry Peduli dengan Penelitian Fisika Teori, Lantas Bagaimana dengan Negara?

Posted by djadjasubagdja on December 27, 2009

Sahabat saya, Arvino Mudjiarto, penah menuliskan sebuah kutipan menarik di statusnya di Facebook. Kutipan yang diambil dari pernyataan Mike Lazaridis (pendiri, pemilik dan penemu Blackberry) itu berbunyi, “If you look back through history, every industrial revolution has come from a breakthrough in theoretical physics”. Terjemahan bebas dari kutipan tersebut kurang lebihnya adalah: “Jika Anda melihat ke masa lalu, setiap revolusi industri berawal dari tindak lanjut fisika teoritis.”

Tentu saja status Arvino di atas membuat jari-jari saya otomatis menekan tombol-tombol papan ketik komputer, mengomentarinya. “Sayangnya banyak orang di negara berkembang tidak menyadari hal ini; tidak heran kalau kebanyakan negara berkembang sulit mengejar ketertinggalan dalam mengembangakan teknologinya, karena tidak melibatkan ilmu-ilmu dasar,” kurang lebih seperti itulah komentar saya.

Seorang Arvino memang tidak pernah kekurangan informasi. Dikomentari seperti itu langsung saja besoknya dia balas komentar saya tadi dengan menuliskan bahwa Akio Morita (pendiri Sony) dan Steve Jobs (pendiri Apple) adalah satu dari sekian fisikawan yang akhirnya bisa memberikan kontribusi pada kemajuan teknologi. Selain itu, tulis Arvino, Tim Berners Lee, menemukan “http” ketika bekerja di CERN, Laboratorium Fisika Partikel Eropa.

Lebih lanjut Arvino menuliskan bahwa Mike Lazaridis, si pendiri dan pemilik Blackberry & RIM, dengan keyakinan bahwa teknologi yang kita nikmati sekarang adalah buah dari penemuan-penemuan di bidang fisika, mendirikan lembaga penelitian nirlaba yang dinamai Perimeter Institute for Theoretical Physics (PI) di tahun 1999. Tidak tanggung-tanggung, dana senilai 20 juta dollar Amerika dia hibahkan untuk lembaga penelitian tersebut.

Masih belum cukup, bahkan di kemudian hari Mike Lazaridis bersama Jim Balsillie (pendiri dan pemilik Blackberry lainnya) mendermakan 80 juta dollar Amerika. Bersamaan dengan itu Dough Fregin juga menghibahkan dana senilai 20 juta dollar Amerika. Tidak kurang dari itu, sebuah yayasan dari Kanada, Canada Foundation for Innovation, juga tertarik untuk menghibahkan dana senilai 40 juta dollar Amerika untuk Perimeter Institute for Theoritical Physics ini.

Sungguh demikian besar perhatian orang-orang yang telah meraup kesuksesan dari kemajuan teknologi ini kepada penelitian di bidang ilmu fisika teori. Mereka seolah melupakan kenyataan bahwa penelitian fisika teoritis itu belum tentu membawa keuntungan terhadap bisnis yang tengah mereka geluti sekarang ini. Mereka melakukan itu semata karena keyakinan bahwa penelitian-penelitian ilmu-ilmu dasar, dalam hal ini fisika teoritis, akan membawa dampak pada kemajuan teknologi, yang tentunya akan diikuti dengan kemajuan peradaban dan perekonomian.

Jika kita melihat ke masa lampau, mekanisme dari kemajuan teknologi selalu diawali dengan penemuan-penemuan teori di bidang ilmu-ilmu dasar (fisika, kimia, biologi, matematika). Tidak mungkin orang berani membuat kapal laut dari logam jika tidak ada hukum fisika yang menghubungkan antara massa (berat) benda dengan volumenya. Perangkat ronsen modern sekarang adalah tindak lanjut para insinyur dan ahli medis atas penemuan sinar X oleh Wilhelm Condrad Roentgen. Demikian pula pemindai tubuh MRI, yang merupakan buah dari penelitian arah spin atomik.

Sebagai informasi, Roentgen tidak pernah melakukan penelitian atas berkas Sinar X tadi untuk keperluan pemindaian tubuh manusia (ronsen) atau deteksi bagasi di bandara. Roentgen, pada saat itu, semata-mata melakukan penelitian fisika untuk keperluan pengungkapan fenomena-fenomena fisika modern untuk kemajuan ilmu fisika itu sendiri. Jika kemudian para insinyur dan ahli medis memanfaatkan penemuan Roentgen ini untuk kesehatan dan keperluan lainnya, itulah berkah sebuah penemuan dalam bidang ilmu dasar bagi kemanusiaan.

Demikian pula ketika Dalton atau Bohr (dan juga para fisikawan lainnya seperti Pauli, Schroedinger, de Broglie, Einstein, suami-istri Curie, Heissenberg, Planck, Davisson, Germer, dan masih banyak lagi) melakukan penelitan mengenai atom, mereka melakukannya semata demi terkuaknya misteri alam mikro, yakni atom. Ketika kemudian pengetahuan mengenai atom ini berkembang dan kemudian diketahui bahwa di dalam atom itu ada partikel yang kemudian dinamai elektron, maka pastinya para fisikawan ini akan menitikkan air mata jika mereka mengetahui bahwa buah dari penelitian mereka telah menjadi fondasi bagi teknologi elektronika yang menandai kemajuan peradaban di abad ke-20.

Itulah kesaktian fisika teori yang juga pasti dimiliki oleh ilmu dasar lainnya, yakni kimia, biologi dan matematika. Kesaktian yang sama juga pasti dimiliki oleh ilmu-ilmu dasar di bidang sosial dan humaniora seperti ilmu ekonomi (murni), sosiologi, dan filsafat. Hanya sayang, kebanyakan Negara berkembang tidak menyisihkan dana pembangunannya untuk kegiatan penelitan ilmu-ilmu dasar. Kalaupun ada, jumlahnya sangat terbatas.

Pemerintah di Negara berkembang, kalaupun cukup memiliki perhatian pada penelitian, biasanya memprioritaskan pada penelitian teknologi, atau tepatnya pada apa yang disebut sebagai teknologi tepat guna. Jika hanya hal ini yang diprioritaskan, maka bersiap-siaplah untuk terus berlari mengejar ketertinggalan teknologi dan peradaban hingga terengah-engah dan lalu kehabisan tenaga.

Kembali pada apa yang dilakukan Mike Lazaridis pada lembaga penelitian nirlaba Perimeter Institute for Theoretical Physics. Belum tentu dia mendapatkan keuntungan dari lembaga tersebut. Barangkali orang lain di Negara lain yang akan mendapat berkah dari penelitan-penelitian yang dilakukan para fisikawan di lembaga tersebut. Namun tentunya bukan itu yang difikirkan oleh Mike Lazaridis. Dia melakukan itu karena kenyataan menunjukkan bahwa penelitian ilmu dasar akan membawa kemajuan pada perkembangan teknologi dan peradaban manusia serta kemanusiaan.

Advertisements

7 Responses to “Si Pendiri Blackberry Peduli dengan Penelitian Fisika Teori, Lantas Bagaimana dengan Negara?”

  1. itulah perbedaan negara maju dan negara berkembang seprti indonesia.. mereka sudah memikirkan hal detil sekecil sekalipun….. sedang kita bingung dengan hal pokok sikut sana sikut sini

  2. DeZiGH said

    Menarik

  3. Efek fisika memang luar biasa dalam teknologi…
    Namun hanya sedikit yang berani take a risk seperti mereka, saya yakin bahwa mereka tekun ditambah dengan fasilitator yang bervisi produktif…
    Syang nya di Indonesia banyak yang mikir susahnya dulu belajar Fisika….

    http://www.sugiantomann.wordpress.com

  4. Prib said

    sayangnya ilmu fisika masih sering dipandang sebelah mata, dan mata kuliah fisika masih menjadi hantu bagi siswa-siswa baik di smp, sma, sampai perguruan tinggi…

    padahal kalau kita mau maju, salah satunya adalah dengan mempelajari ilmu fisika..

    nice artikel!

    • djadjasubagdja said

      @Prib: mata pelajaran fisika di smp dan sma seharusnya dibuat menarik, sehingga siswa dapat memahami fenomena-fenomena. Sekarang ini pelajaran fisika di SMA dipenuhi juga oleh perhitungan rumit, padahal tidak semua lulusan SMA masuk ke MIPA/Teknik. Menurut saya sih mungkin di kelas 1 dan 2 semua materi fisika diberikan ke semua siswa, tapi tanpa perhitungan yang rumit. Nanti baru setelah penjurusan diberikan peningkatan pembahasannya.

  5. mantapbo said

    wah di Indonesia ilmu fisika jadi kurang peminat
    karena gurunya gak bisa share ke murid dengan cara menarik and inovatif

    • djadjasubagdja said

      @Mantapbo: saya setuju kalau para guru SMP/SMA bisa membuat fisika menjadi menarik, karena memang fisika itu ilmu dasar dari teknologi elektronika, sipil, mesin, kebumian, dan ruang angkasa.
      Namun jika tujuannya aga minat untuk kuliah di jurusan fisika bertambah, maka pertanyaan selanjutnya adalah sebetulnya seberapa banyak negara membutuhkan ahli fisika? Kalau belum terlalu banyak ya jumlah jurusan fisika untuk saat ini sudah mencukupi, karena lulusannya juga kebanyakan tidak terserap di bidang-bidang pekerjaan yang betul-betul membutuhkan sarjana fisika.
      Jika Pemerintah meningkatkan kegiatan riset, maka barulah akan diperlukan lebih banyak sarjana fisika. Sayang Pemerintah tidak terlalu memperhatikan riset ilmu-ilmu dasar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: