Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Tulisan yang mengulas atau bersinggungan dengan dunia pendidikan formal dan informal.

Keprihatinan Seorang Pekerja Buku: Beda Penerbit dan Percetakan di Mata Masyarakat

Posted by djadjasubagdja on October 1, 2014

Pernahkah Anda membuat surat undangan pernikahan? Dimana mencetaknya? Kalau Anda tinggal di sekitar Pancoran, Jakarta Selatan, pasti akan mencetaknya di Pasar Tebet. Ada banyak percetakan kartu undangan di lantai bawah Pasar Tebet. Di kota lain, pasti ada banyak percetakan seperti itu. Namun, percetakan yang seperti itu adalah percetakan kecil. Percetakan besar seperti Gramedia, Granesia, Gelora Aksara Pratama, Ghalia Indonesia Printing, Temprint, Temprina, Karya Kita, Macanan, dan percetakan besar lainnya juga banyak tersebar di bumi Nusantara ini,

Ketika Anda membuat kartu undangan, siapakah yang menentukan isi kartu undangan? Ya! pasti kita sendiri yang menentukan kata-katanya. Kita ketik di komputer, lalu file-nya kita serahkan ke percetakan. Kita sampaikan jenis kertas, ukuran kertas, pelipatan kertas, jenis huruf, dan ukuran huruf yang kita inginkan kepada percetakan. Lalu percetakan merancangnya, membuat dummy/proof, meminta persetujuan dari kita, baru mereka mencetaknya (memperbanyaknya atau menggandakannya).

Dari ilustrasi di atas, kita bisa membedakan mana pemilik kartu undangan, dan mana pencetak kartu undangan. Siapakah yang bertanggung jawab atas isi kartu undangan? Tentunya kita, sebagai pemesan kartu undangan. Kita sendiri juga yang akan menyebarkan kartu undangan tersebut. Kita juga yang akan mempersiapkan resepsi sesuai tanggal dan tempat resepsi sebagaimana yang tertulis di kartu undangan.

Di dalam dunia penerbitan buku, prosesnya boleh dikatakan sedikit mirip lah dengan ketika kita membuat kartu undangan. Pihak yang mencetak (dan menjilid) buku adalah percetakan. Sementara itu, yang menyiapkan isi dan memesan pencetakannya adalah penerbit. Jadi, penerbit dan percetakan adalah dua pihak yang berbeda, bahkan kebanyakan adalah dua perusahaan yang berbeda.

Saat ini kita telah memasuki zaman internet, dimana buku bisa kita baca melalui dua media, yakni buku yang berupa lembaran-lembaran kertas dan buku yang tersimpan di media elektronik (yaitu eBook). Baik buku kertas maupun eBook, sama-sama ada penerbitnya. Apakah penerbitnya itu sebuah perusahaan, yayasan, organisasi, atau perorangan (indie), itu sah-sah saja. Satu hal yang jelas, ada penerbitnya.

Penerbitlah yang merencanakan akan menerbitkan buku apa. Penerbit yang mencari (atau dicari) penulis untuk bekerja sama mewujudkan sebuah naskah menjadi buku/naskah yang siap cetak. Setelah bersepakat dengan penulis, naskah tersebut disunting/diedit oleh editor/penyunting, lalu didesain (di-setting) oleh desainer/setter, kemudian dikoreksi oleh korektor. Setelah beberapa kali dikoreksi dan mengalami penyempurnaan desain, naskah tadi menjadi buku yang siap untuk dicetak/diperbanyak/digandakan.

Naskah yang telah menjadi buku yang siap cetak tadi, kemudian dibawa ke percetakan oleh penerbit. Sang penerbit menyampaikan spesifikasi yang diinginkan, seperti ukuran buku, jenis kertas, jenis kertas jilid, pewarnaan, dan jenis penjilidan. Percetakan lalu mengerjakan pencetakan dan penjilidannya. Setelah selesai, lalu penerbit membayar ongkos cetaknya ke percetakan tersebut, baru kemudian buku dikirim ke penerbit atau diambil penerbit. Setelah itu, buku dikirim ke distributor atau langsung ke toko buku oleh penerbit.

Untuk buku-buku yang dijadikan eBook, si penerbit tinggal mengubah mengubah file ke format tertentu (biasanya ke format PDF atau ePub), lalu dikirimkan ke eBookStores atau “toko” eBook. Di sini kita dapat melihat bahwa beda buku konvensional (buku yang dicetak) dengan eBook hanya di proses perbanyakan saja. Penerbit tinggal memilih apakah bukunya akan dicetak atau dijadikan eBook. Buku konvensional diperbanyak di percetakan, sementara itu untuk eBook yang diperbanyak adalah aksesnya.

Dari uraian-uraian di atas, kita mendapat gambaran yang lebih jelas mengenai perbedaan peranan penerbit dan percetakan. Penerbit menyiapkan naskah hingga siap cetak. Percetakan memperbanyak naskah yang siap cetak tersebut. Isi buku itu tetap menjadi tanggung jawab penerbit (dan penulis). Percetakan hanya diperintahkan oleh penerbit untuk mencetak/memperbanyaknya. Lalu penerbit membayar ongkos jasa pencetakan/penggandaan tersebut. Penerbit itu karyawan utamanya adalah para editor/penyunting dan desainer/setter buku. Percetakan itu isinya mesin cetak dan mesin jilid.

Di Indonesia, dilihat dari hubungannya dengan kegiatan pencetakan, penerbit dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok. Penerbit yang tidak memiliki mesin cetak adalah kelompok pertama. Penerbit-penerbit di kelompok pertama ini biasanya memiliki mitra kerja perusahaan percetakan, tapi biasanya tidak ada ikatan permanen dalam kemitraan tersebut. Artinya, penerbit-penerbit ini bisa memutuskan mencetak di percetakan mana saja, dengan pertimbangan harga, mutu, dan kapasitas percetakan. Kemitraan ini benar-benar kemitraan dua buah badan usaha yang berbeda dan tidak dalam sebuah grup bisnis. Mayoritas penerbit di Indonesia adalah seperti ini. Bahkan di luar negeri juga kebanyakan seperti ini. Banyak sekali kita lihat buku-buku terbitan penerbit Amerika Serikat yang dicetak di Kanada (printed in Canada, begitu tertulis di lebaran awal bukunya)

Kelompok kedua adalah penerbit-penerbit yang memiliki mesin cetak. Biasanya penerbit-penerbit di kolompok ini memiliki divisi cetak dan divisi penerbitan. Kedua divisi ini berada di bawah satu perusahaan (badan usaha) yang sama. Tidak banyak penerbit yang seperti ini di Indonesia.

Kelompok ketiga adalah penerbit yang berada dalam sebuah grup perusahaan, di mana di dalam grup tersebut ada perusahaan penerbitan, perusahaan percetakan, dan perusahaan lainnya (misalnya surat kabar, majalah, dll). Kelompok ketiga ini juga tidak terlalu banyak. Kurang lebih jumlahnya sama dengan kelompok kedua. Artinya, kebanyakan penerbit di Indonesia tidak memiliki hubungan permanen (kecuali ketika memesan cetak) dengan percetakan.

Jadi, boleh dikatakan bahwa penerbit berbeda dengan percetakan. Kebetulan penulis adalah karyawan sebuah penerbit buku. Penerbit tersebut berada dalam sebuah grup perusahaan yang memiliki percetakan. Nama penerbit tempat penulis bekerja berbeda dengan nama percetakan yang dinaungi grup perusahaan tersebut. Keduanya tercetat di Negara sebagai dua badan usaha yang berbeda (dua PT yang berbeda). Direksinya pun berbeda, apa lagi karyawannya.

Artinya, penulis hanya bisa berpindah posisi jabatan di perusahaan penerbit buku tempat penulis bekerja, tidak bisa tiba-tiba menempati posisi jabatan di perusahaan percetakan yang berada di satu grup perusahaan tersebut. Bahkan, jika berkunjung ke percetakaan tersebut, misalnya untuk menyampaikan keberatan (complaint) atas mutu cetak, penulis diperlakukan sebagai tamu. Percetakan tersebut juga tidak hanya menerima pesanan/order cetakan dari penerbit tempat penulis bekerja, tapi juga dari beberapa penerbit lain, termasuk beberapa penerbit majalah.

Penulis menyampaikan hal ini untuk memperkuat pemahaman kita akan perbedaan penerbit dengan percetakan. Mengapa hal ini penulis paparkan? Karena penulis merasa prihatin, hingga di zaman eBook ini masyarakat belum bisa membedakan penerbit dengan percetakan. Beberapa teman dan kerabat juga jika bertemu dengan penulis, biasanya bertanya, “masih kerja di percetakan?” Sebetulnya saya kurang nyaman dengan pertanyaan tersebut, karena saya bekerja di industri penerbitan, bukan industri percetakan. Namun saya jawab dengan senyum, “Masih, di penerbit buku, bukan percetakan.”

Pertanyaan lain yang sering dialamatkan kepada penulis adalah, “Gimana, masih di penerbit? Kan sekarang zaman eBook, gak takut buku lenyap dari peredaran?” Jika ada teman yang bertanya seperti ini, maka penulis harus panjang lebar menerangkan bahwa penerbit itu menerbitkan buku, dan terserah penerbit akan memperbanyak di percetakan sebagai buku cetak (konvensional) atau mengunduhnya ke eBookStores (toko buku elektronik). eBook itu kan buku juga, kalau bukan buku, tidak akan dinamai eBook. Artinya, masyarakat masih “menyatukan” antara penerbit dan percetakan, padahal merupakan dua jenis industri yang berbeda.

Di dunia industri, penerbitan dimasukkan ke jenis industri kereatif. Industri-industri lain yang diklasifikasikan sebagai industri kreatif ini misalnya perangkat lunak (software), film, musik, kerajinan, periklanan, dll. Sementara itu, percetakan masuk ke dalam industri manufaktur, sama dengan industri penggandaan keping CD. Setidaknya itulah pemahaman penulis. Parahnya, masyarakat hanya menganggap industri kerajinan saja yang termasuk industri kreatif.

Penulis berpendapat bahwa penting sekali bagi masyarakat untuk dapat membedakan penerbit dengan percetakan. Hal ini sama pentingnya bagi masyarakat untuk bisa membedakan antara arsitek dan insinyur sipil, atau antara perusahaan studio rekaman dengan perusahaan penggandaan keping CD, atau antara perusahaan surat kabar/majalah dengan percetakan, atau antara rumah produksi (production house) dengan stasiun televisi.

Bagi sebagian pihak, dengan kepentingan masing-masing, barangkali perbedaan ini tidak terlalu penting. Namun bagi kami, para pekerja industri penerbitan (editor, korektor, desainer isi buku, desainer sampul/kulit buku, ilustrator , staf promosi buku, dll), hal ini penting sekali. Para pekerja di industri percetakan adalah saudara-saudara kami juga. Namun, membedakan penerbitan dan percetakan ini penting. Izinkan penulis memberikan ilustrasi berikut ini.

Katakanlah ada sebuah yayasan yang peduli dengan kebutuhan bacaan bagi anak-anak Indonesia. Mereka berencana memberikan buku bacaan gratis untuk anak-anak panti asuhan. Yayasan tersebut kemudian memfasilitasi sejumlah penulis buku cerita anak untuk menulis naskah buku bacaan/cerita anak. Kemudian Yayasan tersebut melakukan proses editing/penyuntingan dan setting naskah-naskah tersebut hingga menjadi sebuah buku/naskah yang siap cetak. Dengan kata lain, Yayasan tersebut menjadi penerbit buku-buku tersebut.

Kemudian Yayasan tersebut membuka kesempatan kerja sama kepada semua pihak untuk memperbanyak naskah-naskah yang telah siap cetak itu. Beberapa percetakan mengajukan diri, dan kemudian terpilih lah beberapa percetakan yang ditunjuk untuk penggandaan buku-buku untuk anak-anak tersebut dengan harga yang disepakati.

Lalu ternyata beberapa percetakan tidak dapat menyelesaikan pekerjaan yang dipesan si Yayasan pada waktunya. Kemudian Yayasan meminta maaf kepada panti-panti asuhan yang telah meraka janjikan akan diberi buku gratis. Yayasan menyampaikan kepada para pengurus panti-panti asuhan bahwa penerbit yang mereka tunjuk untuk menggandakan buku tidak dapat memenuhi janji sesuai waktu yang telah ditetapkan.

Penyebutan “penerbit” oleh Yayasan (karena Yayasan tersebut kebetulan tidak dapat membedakan penerbit dengan percetakan), akan membawa dampak luas bagi dinamika industri penerbitan dan percetakan. Bayangkan saja, yang melakukan wanprestasi adalah percetakan, tapi yang disalahkan adalah penerbit. Bisa saja percetakan yang ditunjuk yayasan tersebut memang satu grup dengan perusahaan penerbitan, tapi tetap saja itu dua perusahaan yang berbeda, dua industri yang berbeda.

Jika ada pihak lain yang menangkap pernyataan Yayasan tadi sebagai sebuah isyarat perbaikan, maka pihak tersebut akan berusaha memperbaiki kinerja para penerbit, bukan kinerja industri percetakan. Lha ini kan jadinya salah sasaran. Jika pernyataan Yayasan tadi dikutip media, maka akan muncul citra negatif industri penerbitan di mata masyarakat. Ini berbahaya. Lamaran seorang editor kepada gadis idamannya akan ditolak calon mertua lantaran takut anaknya jadi istri seorang karyawan yang bekerja di industri yang kinerjanya dipandang rendah di masyarakat, yang beruntung malah karyawan percetakan (maaf, penulis bercanda sedikit).

Intinya, masyarakat (dan tentunya Negara juga) harus dapat membedakan industri penerbitan dan industri percetakan. Hal ini penting, mengingat SDM keduanya berbeda, input dan output keduanya berbeda. Jika ada kekurangan di jenis industri tententu, Negara akan mudah mengidentifikasinya, sehingga perbaikan/pembinaan tidak menjadi salah sasaran.

Jika ada keterlambatan pencetakan, maka yang harus diidentifikasi adalah apakah mesinnya yang kurang atau shop_floor_management yang harus disempurnakan, misalnya. Jika keterlambatan itu ada di penerbitan, maka yang harus diidentifikasi adalah keterampilan para editor atau jangan-jangan komputernya yang ketinggalan jaman. Di sini lah pentingnya membedakan dua hal yang nyata sekali bedanya!

Penulis merasa bahwa masyarakat dan Negara harus dapat membedakan penerbit dengan percetakan. Terus terang, sebagai pekerja industri penerbitan, penulis prihatin jika ada keterlambatan di pencetakan, tapi yang disalahkan adalah penerbit. Kami tidak terlibat, tapi kami yang dituduh bersalah. Kami, para pekerja industri penerbitan, merasa sedih! (Djadja Subagdja, editor senior penerbit buku)

Advertisements

Posted in Humaniora, Pendidikan | Leave a Comment »

Jus Terong Penjajah yang Menjajah

Posted by djadjasubagdja on July 11, 2011

Jika anda tertarik dengan menu nasi darah, sosis squid ward, sayur popeye, buah eragon, buah citra, kue doraemon, kue mayang sari, minuman pelayan semenit, jus terong penjajah, atau jus bugs bunny, maka anda harus bergabung dengan sisiwa baru yang sedang mengikuti masa orientasi sekolah. Istilah-istilah kreatif di atas memang terasa lucu dan menantang kecerdasan peserta MOS (dan orang tuanya juga). Namun apakah memang perlu seperti itu?

Jika barang yang dimaksud memang tersedia banyak, ya tidak masalah, keluar uang sedikit atau banyak ya tidak apa-apa. Demi anak. Namun jika barang yang dicari sudah habis di pasar/toko, harus bagaimana lagi. Akhirnya akal-akalan, sambil meyakinkan si anak bahwa itu sudah sesuai dengan yang ditugaskan.

Saya kemudian teringat dengan masa orientasi saya sendiri di kampus, dulu. Berbeda dengan kampus-kampus lain ketika itu, ITB tidak menyelenggarakan masa orientasi mahasiswa (OPSPEK). Justru ketika tahun pertama berakhir, memasuki tahun kedua,  kami dipelonco senior sebelum bergabung ke organisasi himpunan jurusan. Penyelenggaraannya tidak diakui otoritas kampus, alias liar.

Namun, meskipun liar, dari sisi tugas membawa barang/perlengkapan, rasanya tidak terlalu merepotkan kami, apa lagi orang tua kami. Peserta yang dipelonco tidak ditugasi membawa barang aneh-aneh yang tidak perlu, paling-paling disuruh membawa koran bekas yang digulung. Setelah capek digulung, eh dipakai senior untuk memukul-mukul lantai menakut-nakuti kami ketika disuruh push up.

Kegiatannya kebanyakan berupa penugasan fisik berat, seperti lari, merayap, atau push up hingga berkali-kali. Kemudian kegiatan diakhiri dengan berkemah di Cikole – Lembang. Oleh sebab itu, kami ditugasi untuk membawa kayu bakar, korek api, lilin, gula batu, kantong kresek, kaos kaki tebal, jaket tebal, dan tenda. Tidak ada barang aneh atau lucu.Tidak ada kalung jengkol dan pete seperti di kampus-kampus lain. Ada juga tugas memecahkan perhitungan rumit yang hasil akhirnya berupa angka, dan pada jam yang sesuai dengan angka tersebut tugas hitungan tadi harus kami kumpulkan.

Jika tidak membawa, tidak dihukum, paling diomel-omeli, karena semua itu merupakan perlengkapan yang harus kami miliki untuk bisa bertahan dalam perkemahan di daerah dingin tersebut. Tidak membawanya sama dengan rugi sendiri. Kalau tidak membawa semua itu, bisa repot, terutama pas kegiatan jurit malam, berjalan sendirian di tengah hutan di malam hari dengan hanya berpedoman pada tanda panah. Ujung-uungnya, akhirnya dibotakin.

Di perkemahan, kegiatan aktivitas fisik berat yang dilakukan cukup heboh, seperti merayap di lumpur, direndam di sungai, naik/turun bukit, tarik tambang, merayap di atas tambang yang direntangkan di antara dua bukit, dan di-press sampai sesak nafas. Jadi rupanya, kegiatan lari, senam, dan push up beberapa hari sebelumnya selama di kampus itu tujuannya sebagai pemanasan sebelum aktivitas fisik berat di perkemahan.

Sebetulnya, baik perpeloncoan lucu-lucuan, maupun perpeloncoan bernuansa aktivitas fisik berat, ujung-ujungnya sama, peserta rata-rata kesal dan marah (setidaknya pada saat itu). Itulah kenapa ketika saya sudah menjadi senior saya tidak mau ikut melonco junior. Bukan apa-apa, sejujurnya dulu saya tidak senang diperlakukan seperti itu, jadi kenapa saya harus melakukan hal itu kepada orang lain?

Posted in Pendidikan | Leave a Comment »

Peringkat Perguruan Tinggi: Beneran?

Posted by djadjasubagdja on May 21, 2010

Beberapa hari yang lalu muncul berita di detik.com yang menyebutkan bahwa menurut lembaga survey QS (www.topuniversities.com) peringkat ITB ada di urutan ke 113 Asia, sementara UI di peringkat 50 Asia. Namun pada hari ini muncul pernyataan dari mantan Rektor ITB, Djoko Santoso, di detikBandung.com yang pada intinya meragukan pemeringkatan tersebut.

Beliau menyebutkan beberapa keganjilan, terutama dengan memasukkan ITB ke kategori universitas, dimana untuk kategori universitas (yang penilaiannya meliputi seluruh bidang-bidang ilmu sebagaimana yang umum dimiliki sebuah universitas), sementara ITB jelas-jelas tidak memiliki bidang-bidang ilmu hukum, sospol, atau kedokteran. Masuk akal juga, karena menurut QS juga, kalau untuk bidang IT & Engineering, ITB ada di peringkat 30 Asia.

Pemberitaan pertama di detik.com di atas pernah saya posting di Facebook, tepatnya di grup IA ITB, ITB ’86, dan Fisika ITB ’86. Tentu saja dengan maksud mengingatkan sivitas akademika dan alumni bahwa ITB harus berlari lebih kencang lagi. Sebagai alumnus ITB, saya merasa berkewajiban mengabarkan hal ini kepada sesama alumni dan almamater. Katakanlah kritik pribadi.

Rupanya tidak hanya saya yang mengikuti pemeringkatan ini. Rekan saya, Didik Djunaedi, yang sama-sama alumnus ITB, mem-posting sebuah link situs pemeringkatan lainnya, yakni http://www.4icu.org/topAsia/ yang menyebutkan bahwa ITB ada di peringkat 11 Asia. Ah, jadi ini mana yang benar? Kenapa perbedaan posisinya sangat jauh?

Lama saya memelototi situs ini, lantas saya cari almamater saya satu lagi, yakni UI. Ternyata saya tidak menemukan UI. Padahal di QS menempati posisi 50 Asia. Ah, apa benar pemeringkatan di situs ini? Lantas, jika merujuk ke pernyataan pak Djoko Santoso di detikBandung, apakah lembaga-lembaga survey pemeringkatan ini benar? Apa saja sih kriterianya?

Jadi merenung juga saya, tapi tidak terlalu lama. Tiba-tiba saja saya tersenyum, lantas berkesimpulan.
Peringkat perguruan tinggi boleh lah dibikin-bikin oleh lembaga survey, atau oleh Unesco sekalipun. Namun peringkat yang sesungguhnya kan ada di masyarakat. Ketika kita memilih sekolah, kita tidak pernah melihat peringkat, kita biasanya lebih mendengar alumni. Kita juga biasanya lebih melihat prestasi alumninya di masyarakat.

Peringkat berapapun; baik itu ITB, maupun UI, kalian berdua are the best! Vivat almamater!

Posted in Pendidikan | 1 Comment »

Tiga Kriteria Penerjemah Buku Teks yang Baik

Posted by djadjasubagdja on December 19, 2009

“Dia sedang berselancar di ombak kemerahan.” Demikian terjemahan yang muncul di layar kaca televisi ketika saya sedang menonton sebuah film remaja berbahasa Inggris. Tentu saja saya tertawa membaca terjemahan tersebut, karena bukan itu yang dimaksud dari ungkapan “She is surfing on a crimson tide.” Ungkapan ini maksudnya adalah bahwa “dia sedang datang bulan.” Itu memang ungkapan informal remaja Amerika di tahun 90-an, entahlah kalau sekarang.

Untung itu hanya terjemahan sebuah film hiburan. Bagaimana kalau kesalahan penerjemahan muncul dalam sebuah buku teks terjemahan? Apa yang kemudian bakal terjadi jika sebuah kesalahan penerjemahan istilah atau ungkapan dalam sebuah buku teks kemudian menjadi sesuatu yang membaku di kalangan para mahasiswa?

Kemungkinan terjadinya kesalahan penerjemahan dalam sebuah buku teks cukup tinggi. Selalu saja ada hal-hal kecil yang terasa benar terjemahannya, padahal salah. Pernah saya menemukan sebuah kesalahan penerjemahan istilah dalam sebuah naskah buku fisika. Dalam naskah tersebut, istilah “gaya tak-sentuh” diterjemahkan sebagai “non-contact force”. Sepintas hal ini terasa benar, mengingat istilah lainnya, yakni “gaya sentuh”, diterjemahkan sebagai “contact force”.

Namun, secara intuitif, saya merasa ada kejanggalan. Akhirnya saya buka sebuah buku teks fisika standar yang dipakai di perguruan-perguruan tinggi di Amerika Serikat, dan intuisi saya benar. Di buku yang juga banyak dipakai para mahasiswa sains dan teknik di berbagai belahan bumi tersebut dituliskan bahwa padanan istilah gaya tak-sentuh itu adalah “long-range force”, bukan “non-contact force”. Sementara itu, padanan istilah “gaya sentuh” memang lah “contact force”.

Hal ini kemudian mengingatkan pada pengalaman pribadi antara tahun 1997 hingga 1999, dimana saya banyak terlibat dalam pengerjaan buku-buku terjemahan untuk perkuliahan bidang MIPA dan teknik. Beberapa bulan semenjak ditugasi di pekerjaan tersebut, yang saya lakukan hanyalah membaca hasil terjemahan dari buku-buku yang akan diterbitkan. Kesimpulan saya pada saat itu adalah, bahwa harus dilakukan penerjemahan ulang, karena saya meragukannya. Hal ini pastilah tidak sejalan dengan tuntutan target kuantitas penerbitan, dan pastinya saat itu saya dinilai kurang produktif.

Lantas saya mulai melakukan analisis dari hasil-hasil terjemahan tadi, dan sampai pada hipotesis bahwa penerjemahan sebuah buku teks harus dilakukan oleh seorang penerjemah dengan criteria-kriteria tertentu, yakni penerjemah haruslah:
1. Menguasai bahasa yang akan diterjemahkan
2. Menguasai bahasa hasil terjemahan (dalam hal ini Bahasa Indonesia)
3. Menguasai bidang ilmu yang sesuai dengan buku teks tersebut

Secara sederhana, jika kita akan menerjemahkan katakanlah buku teks bidang ekonomi berbahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia, maka penerjemahnya selain harus menguasai bahasa Inggris (tentunya), juga harus menguasai Bahasa Indonesia dengan baik. Hal yang terakhir ini sederhana, tetapi sering dilupakan orang. Seringkali orang hanya mencari penerjemah yang ahli berbahasa asing saja, sementara Bahasa Indonesia-nya pas-pasan. Akhirnya hasil terjemahannya akan sangat bernuansa asing, dan barangkali hanya si penerjemah yang memahami hasil terjemahannya.

Kriteria ketiga nampak sederhana, sehingga seringkali penerjemahan dilakukan oleh seseorang yang bukan benar-benar ahli di bidangnya. Misalkan saja, tidak terlalu baik jika sebuah buku elektronika diterjemahkan oleh seorang sarjana fisika, meskipun di jurusan fisika juga dipelajari dasar-dasar elektronika. Hal ini sebaiknya dihindari, mengingat setiap bidang ilmu memiliki istilah yang sangat khas.

Kita semua tahu bahwa “grass field” diterjemahkan sebagai “padang rumput”. Namun dalam bidang fisika, “electromagnetic field” diterjemahkan sebagai “medan elektromagnetik”, bukan “padang elektromagnetik”. Artinya, kata “field”, yang biasa diterjemahkan sebagai “padang”, belum tentu diterjemahkan seperti itu dalam suatu ilmu atau bidang tertentu. Begitu pula ketika kata “field” ini dipakai dalam frase “battle field”, yang terjemahannya adalah “medan tempur”, bukan “padang tempur”.

Kata “force”, yang dalam ilmu fisika diterjemahkan sebagai “gaya”, dalam bidang kemiliteran diterjemahkan sebagai “angkatan” (air force = angkatan udara) atau “kesatuan (militer)”. Istilah “elevation”, yang dalam kehidupan sehari-hari diterjemahkan sebagai “ketinggian”, di dalam ilmu fisika diterjemahkan sebagai “sudut kemiringan” (atau sudut elevasi). Dalam bidang ilmu arsitektur, “elevation” diartikan lain lagi.

Memang, saat ini sudah tersedia beragam kamus istilah. Seorang penerjemah bisa memanfaatkannya. Namun tentunya hal itu akan mengurangi kecepatan kerja. Lebih dari itu, tentunya pemahaman seseorang yang bukan ahlinya akan sangat berbeda dengan yang ahlinya. Belum lagi kalau kita lihat kenyataan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan begitu pesatnya, sehingga kamus istilah sering ketinggalan masa.

Sekali lagi, penerjemahan juga tidak bisa dikira-kira atau dianalogikan. Berikut ini saya kemukakan lagi contoh yang cukup menarik. Dengan pengetahuan bahwa “angkatan udara” itu terjemahannya adalah “air force”, kita tidak bisa menerjemahkan “angkatan darat” sebagai “land force” (yang benar = army) atau “angkatan laut” sebagai “sea/ocean force” (yang benar = navy). Hal ini sama seperti pada kasus “gaya sentuh” (contact force) dan “gaya tak-sentuh” (long-range force) di awal tulisan ini.

Dalam ilmu komputer, banyak sekali istilah asing yang terjemahannya tidak terlalu mengacu pada istilah kita sehari-hari. “Mouse” tetap saja diterjemahkan sebagai “mouse”; “driver” tetap saja diterjemahkan sebagai “driver” (bukan pengemudi). “Memory” diterjemahkan sebagai “memori” (bukan ingatan). “Processor” diterjemahkan sebagai “prosesor” (bukan pemroses), tetapi “word processor” diterjemahkan sebagai “pemroses kata”.

Menerjemahkan buku teks memang tidak bisa dilakukan oleh seorang ahli yang bisa berbahasa asing yang sesuai saja, tapi selain itu juga dia harus menguasai bahasa tujuan penerjemahan dan betul-betul menguasai bidang/ilmu dari materi terjemahan tersebut. Pertanyaannya adalah, jika kita akan menerjemahkan sesuatu, praktisnya, apa yang harus kita lakukan?

Katakanlah, Jika materi terjemahannya adalah sebuah buku teks matematika berbahasa Inggris, maka carilah seorang dosen atau peneliti matematika yang pernah kuliah di Amerika Serikat, atau Inggris, atau Australia. Kemudian pastikan yang bersangkutan menyelesaikan sekolahnya (SD, SMP, SMA) di Indonesia. Karena kalau yang bersangkutan menyelesaikan keseluruhan sekolah dan kuliahnya di luar negri, biasanya penguasaan Bahasa Indonesia-nya kurang baik.

Posted in Humaniora, Pendidikan | Leave a Comment »

Mendiknas untuk Kabinet Mendatang

Posted by djadjasubagdja on June 12, 2009

Di tengah-tengah hiruk-pikuk Pilpres 2009, tidak banyak media yang mengulas tentang Camendiknas di kabinet yang akan datang, padahal Mendiknas merupakan posisi penting di kabinet. Bahkan boleh dibilang, Mendiknas adalah mentri yang terpenting dalam kabinet. Bagaimana tidak, pendidikan menentukan kualitas SDM masa depan, anak-anak kita.

Saat ini kita tidak bisa memungkiri bahwa secara umum pendidikan belum memenuhi harapan kita semua, meskipun juga kita harus jujur mengakui ada banyak kemajuan yang telah dicapai di dunia pendidikan. Dengan demikian, di kabinet yang akan datang, diperlukan seorang mentri yang mengetahui persis kondisi pendidikan hingga saat ini, dan kebutuhan SDM di masa mendatang.

Mencari sosok yang mengetahui dengan baik kondisi dunia pendidikan pada saat ini sebetulnya tidak terlalu sulit, ada beberapa tokoh dan bahkan mungkin bukan tokoh yang memahami dunia pendidikan dengan baik. Hanya sayang, belum tentu orang-orang ini merupakan orang partai. Sementara itu, orang partai yang bisa mengelola sebuah departemen cukup banyak, namun belum tentu mengetahui seluk-beluk dunia pendidikan, terutama pendidikan dasar dan menengah, dengan baik.

Kenapa saya tekankan pada dunia pendidikan dasar dan menengah? Sederhana saja, dunia pendidikan tinggi boleh dibilang sudah lebih mandiri dan kebanyakan ditangani oleh orang-orang yang berkompeten. Di dunia pendidikan tinggi, tugas pemerintah hanya tinggal mengatur perijinan pembukaan jurusan, agar jangan sampai terjadi sruplus lulusan jurusan tertentu dan defisit lulusan jurusan-jurusan lainnya.

Tentunya, untuk mendukung hal ini, Camendiknas juga haruslah seorang sosok yang pandai berkoordinasi dengan Menperin, Menaker, dan Mendag, karena ketiga departemen ini yang mengetahui SDM bidang apa saja yang bakal diperlukan Negara dalam beberapa dekade ke depan. Hal ini penting dalam mendesain komposisi jurusan di perguruan tinggi dan SMK.

Sebaliknya, di dunia pendidikan dasar dan menengah, peranan Diknas sangat diperlukan. Di aras pendidikan dasar dan menengah ini, kebijakan-kebijakan dan pembinaan-pembinaan dari Depdiknas masih sangat diperlukan. Belum lagi landasan-landasar operasional seperti kurikulum, evaluasi, dan Standar-standar Pendidikan Nasional lainnya sebagimana yang diamanatkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas.

Jadi wajar, sebenarnya, kalau Camendiknas diambil dari mereka yang telah lama berada di dunia pendidikan dasar dan menengah. Paling tidak yang sangat sering berhubungan dengan dunia ini. Jadi bukan soal kalau yang bersangkutan bukan seorang profesor.

Sistem pendidikan sebetulnya tidak terlalu rumit. Dasar-dasar dari sebuah sistem pendidikan terdiri dari:

  • sarana infrastruktur
  • sarana pendukung pembelajaran
  • kurikulum
  • sumber daya manusia atau pengajar

Untuk itu, seorang Camendiknas haruslah seseorang yang mengetahui kondisi sarana infrastruktur dan sarana pendukung pembelajaran yang ada. Camendiknas juga wajib memahami metodologi pengembangan kurikulum dan model-model kurikulum standar internasional, untuk kemudian menentukan model mana yang bisa diadaptasi. Dan terakhir, Camendiknas harus memahami dengan benar kondisi SDM/pengajar yang ada saat ini, dan bagaimana peningkatannya.

Camendiknas yang akan menjadi Mendiknas di kabinet mendatang haruslah seseorang yang betul-betul mengetahui mata pelajaran apa saja yang diajarkan di tingkat pendidikan dasar dan menengah. Jangan sampai, misalnya, Mendiknas di kabinet yang akan datang merasa bahwa negara telah menyediakan semua judul buku teks, padahal masih ada banyak judul yang belum bisa diakses para guru dan siswa. Hal ini penting, agar jangan sampai guru kebingungan mencari sumber bahan ajar karena hanya diarahkan untuk mendapatkan bahan ajar di sumber yang disediakan Negara saja, sementara di sumber itu belum tersedia 100%.

Camendiknas juga mesti memahami sumber-sumber daya yang dimiliki Depdiknas dalam melakukan pengkajian dan pengembangan kurikulum. Jangan sampai sumber daya yang ada tidak dimanfaatkan, dan kemudian membentuk lembaga-lembaga khusus yang menangani segala sesuatu yang berhubungan dengan kurikulum ini. Kalau hal ini terjadi, maka akan terjadi pemborosan anggaran. Anggaran kurikulum ini juga harus mencakup sosialisasi dan penataran mengenai kurikulum terbaru bagi semua guru. Jangan sampai Mendiknas di kabinet mendatang melempar kurkulum baru ke lapangan, sementara para guru belum siap.

Harapan yang lebih jauh lagi, Camendiknas mestinya merupakan sosok yang bisa membangun sebuah rencana pendidikan jangka panjang, dan kemudian ditetapkan menjadi sebuah Undang-undang oleh DPR. Hal ini penting, agar jangan sampai selalu muncul kecurigaan di masyarakat bahwa kalau ganti mentri maka akan ganti kebijakan dasar. Jika rencana pendidikan jangka panjang ini bisa diwujudkan, maka siapapun mentrinya di kabinet kapanpun hanya akan tinggal melanjutkan program-program dari pendahulunya saja.

Posted in Pendidikan | 1 Comment »

Sabar dalam Menjalani Pengobatan

Posted by djadjasubagdja on April 14, 2009

Seorang teman seprofesi yang bernama Marwati saat ini tengah menjalani terapi pasca penyembuhan lengannya yang terkilir akibat jatuh. Ketika saya tanyakan kabarnya melalui YM, setengah bercanda dia mengisyaratkan ke saya bahwa dia sudah ‘pegel’  juga menjalani terapi. Entah benar demikian atau penafsiran saya saja, tapi untuk membantu memberinya semangat, saya ceritakan pengalaman guru biologi saya di SMA. Setelah selesai saya ceritakan, dia langsung bilang ke saya kalau sebaiknya saya tulis pengalaman guru saya itu di blog. Jadi inilah kisah bu guru biologi SMA saya ini.

Ibu Dien adalah guru biologi kami di kelas 2 dan 3 SMA. Orangnya pintar dan disiplin dalam menjalankan tugasnya sebagai guru. Dalam mengajar, bu Dien selalu berusaha membangun pengertian-pengertian lewat peristiwa sehari-hari. Misalnya saja ketika kami selesai mengikuti psikotes masal di sekolah untuk keperluan pemilihan jurusan di perguruan tinggi. Besoknya, bu Dien langsung bertanya kepada kami, “Kemarin kalian melihat fenotive saya enggak?” Akhirnya kami mengerti konsep perbedaan fenotive dan genetive, karena kebetulan yang mengawasi kami melakukan kegiatan psikotes tersebut adalah putri tertua bu Dien yang wajahnya sangat mirip beliau.

Namun, dari beberapa hal yang disampaikan di kelas, ada satu cerita yang tidak pernah saya lupakan. Cerita ini adalah pengalaman pribadi ibu Dien ketika beliau masih duduk di bangku sekolah. Ketika itu mungkin tahun 50-an, jaman sepeda ontel merajai jalanan kota-kota besar. Jadi, singkat cerita, bu Dien kalau tidak salah digigit binatang (saya lupa anjing, monyet, kucing, atau burung), tapi yang jelas, kalau digigit binatang maka kita harus disuntik rabies.

Entahlah jaman sekarang, tapi ketika itu, yang bisa melakukan suntik rabies di kota Bandung hanya di Biofarma, di Jalan Pasteur, sebelah Rumah Sakit Hasan Sadikin. Jadi, pergilah ibu Dien ke Biofarma untuk disuntik rabies. Perlu diketahui, suntik rabies tidak sama dengan suntik biasa. Penyuntikannya dilakukan di perut dimana di bagian yang disuntik itu kulitnya menjadi menggelembung. Kemudian, penyuntikanya dilakukan hingga 21 kali di hari yang berbeda (saya lupa sehari sekali atau seminggu sekali) di bagian perut yang digelembungkan tersebut.

Karena memang proses pengobatannya seperti itu, ya terpaksa bu Dien menjalaninya. Suntikan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, hingga yang ke 20 beliau jalani dengan disiplin. Prosesnya benar-benar berat bagi beliau, karena untuk pergi ke Biofarma beliau harus menggenjot sepedanya di jalan yang meskipun diaspal tapi tidak serata  aspal jaman sekarang. Ketika itu pelapisan jalan dengan teknologi aspal hotmix belum ada. Sepanjang jalan bu Dien merasa kesakitan karena gelembung kulit tempat penyuntikannya terguncang-guncang.

Karena itu, tidak bisa kita salahkan ketika beliau akhirnya memutuskan tidak ke Biofarma lagi setelah penyuntikan ke-20. Dan betul, bisa diramalkan, beberapa hari kemudian beliau harus kembali ke biofarma, karena memang prosesnya belum tuntas. Lebih celaka lagi, penyuntikannya harus diulang kembali sebanyak 21 kali, bukan hanya suntikan ke-21-nya. Wah, kebayang ya, akhirnya harus 41 kali bolak-balik ke Biofarma.

Inti dari cerita bu Dien di atas adalah bahwa kita seyogyanya tidak menghentikan proses pengobatan di tengah jalan. Lain halnya jika kita menghentikannya dan kemudian pindah berobat ke dokter atau rumah sakit lain, dengan alasan tertentu. Makna lain dari cerita ibu Dien ini adalah pentingnya disiplin, dalam hal apapun. Disiplin memang terkadang menyakitkan, tapi terkadang lebih menyakitkan lagi jika kita tidak disiplin.

Posted in Humaniora, Pendidikan | 2 Comments »

Bu Kapti Membuat Matematika tidak Menyeramkan

Posted by djadjasubagdja on March 22, 2009

Kalau diijinkan memberikan julukan, maka bu Kapti, yang bernama lengkap ibu S0ekapti ini, adalah guru gaul. Beliau boleh dibilang guru langka, karena biasanya guru matematika itu rata-rata orangnya serius dan formal. Bu Kapti memang lain dari pada yang lain, selalu senyum dan penuh canda. Namun bukan berarti beliau mengajari kami sambil bercanda. Bu Kapti pandai sekali mengelola sikap, kapan harus serius dan kapan bercanda dengan kami, murid-muridnya.

Saya tidak mengatakan beliau ini guru matematika yang memiliki metode pengajaran matematika super hebat. Namun, yang jelas, dengan kepandaiannya bersikap terhadap murid-muridnya, beliau menjadikan matematika tidak menakutkan bagi kami. Jika beliau menyuruh salah seorang dari kami mengerjakan soal di papan tulis, dan teman kami ini tidak dapat mengerjakannya, maka beliau tidak marah-marah. Beliau hanya berkata, “Kumaha atuh ini? Ayo ada yang bisa mengerjakan?”

Barangkali kesabaran beliau dalam menghadapi kami yang waktu itu masih sedang-sedangnya lebih mengedepankan bermain dari pada belajar, yang menjadikan jam pelajaran bu Kapti merupakan juga jam favorit kami. Saya pribadi, sekarang ini, kalau sudah harus mengajari anak saya matematika, rasanya inginnya marah terus. Saya baru sadar sekarang, betapa bu Kapti sangat sabar menghadapi beberapa dari kami yang tidak terlalu cepat mencerna matematika.

Selain seorang guru matematika yang baik, bu Kapti juga seorang wali kelas yang benar-benar menjadi “ibu” bagi kami. Ketika kelas dua, kebetulan bu Kapti adalah wali kelas kami. Hal yang tidak akan pernah kami lupakan dari beliau adalah kiatnya dalam melibatkan orang tua kami dalam mendidik kami. Di awal tahun di kelas dua, bu Kapti mengundang semua orang tua kami sekelas untuk mengadakan pertemuan orang tua di salah satu rumah teman kami. Uniknya, pertemuan ini tidak hanya dihadiri wali kelas dan orang tua, tapi juga seluruh siswa.

Pertemuan yang sifatnya informal ini diadakan beberapa kali, kalau tidak salah hingga tiga kali. Karena sifatnya informal, maka terkadang kami hanya duduk berkumpul lesehan sambil menikmati makanan ringan yang dihidangkan tuan rumah. Sambil duduk santai kami membicarakan masalah-masalah yang menyangkut pelajaran dan apa lagi kalau bukan urusan main sepulang sekolah.

Saya masih ingat, dalam pertemuan pertama, beberapa orang tua menyampaikan kekhawatiran dengan kegiatan kami sepulang sekolah. Memang, terkadang kami harus mengerjakan tugas bersama sepulang sekolah, tapi sebetulnya, sejujurnya, seringnya sih kami bermain bersama sepulang sekolah. Sebetulnya, orang tua kami tidak keberatan kami bermain sepulang sekolah, hanya saja mereka lebih tenang hatinya kalau mereka mengetahui keberadaan kami. Akhirnya diputuskan untuk membuat daftar siswa beserta nama orang tua, alamat kantor orang tua, dan alamat rumah, sehingga orang tua kami bisa saling berkomunikasi. Daftar itu diperbanyak dan dibagikan ke semua orang tua.

Sungguh, pertemuan yang diprakarsai oleh bu Kapti ini membuahkan hasil yang sangat berarti. Orang tua kami bisa lebih memantau kegiatan dan keberadaan kami. Sejalan dengan hal ini, kami sendiri menjadi lebih tertib. Jika kami akan mengadakan acara, misalnya merayakan ulang tahun teman sepulang sekolah, kami pasti memberi tahu orang tua kami sebelumnya. Perlu dicatat, pada masa itu, ponsel belum ditemukan dan bahkan rumah yang ada teleponnya pun masih jarang. Itulah gunanya orang tua kami mengetahui alamat dan nomor telepon kantor mereka masing-masing. Memudahkan dalam berkomunikasi.

Bu Kapti bukannya guru yang tanpa inovasi di dalam mengajari kami matematika. Ketika kami duduk di kelas tiga, beliau membagi kami dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok biasanya ada satu atau dua orang yang cukup baik nilai matematikanya. Di bulan-bulan menjelang ujian akhir, semua kelompok harus mengerjakan empat set kumpulan soal dari sebuah buku kumpulan soal. Kelompok harus mengerjakan bersama-sama, kemudian hasil kerja kelompok itu disalin oleh semua anggota kelompok. Hal ini tentunya memberi manfaat ganda bagi kami. Pertama adalah kemungkinan besar lebih banyak soal yang dapat dipecahkan, karena dikerjakan secara berkelompok. Keduanya, karena kemudian kami semua harus menyalin hasil kerja kelompok itu, maka kami menjadi lebih terlatih lagi.

Ketika batas akhir tanggal pengumpulan tugas tiba, ternyata hanya beberapa siswa yang menyerahkan tugas. Saya dan teman-teman sekelompok belum tuntas mengerjakan. “Pokoknya, tugas harus diserahkan sebelum tanggal yang telah ditetapkan!” demikian ditegaskan bu Kapti kepada kami di kelas pada tanggal tersebut. Karena kami tidak ingin mendapat nilai jelek, maka sepulang sekolah kami meneruskan mengerjakan tugas tersebut. Hanya saja, karena waktu yang mepet, akhirnya kami membagi tugas, setiap anggota kelompok mengerjakan satu set. Tidak sempat lagi kami mendiskusikan seluruh set dan menyalin setiap set.

Akhirnya, setelah berkeringat mengerjakan soal-soal, selesailah kami mengerjakan keempat set kumpulan soal tersebut jam 10 malam. Segera saja kami meluncur menuju rumah bu Kapti dan berdoa semoga beliau belum tidur. Ketika kami tiba di rumah beliau, bu Kapti memang belum tidur, dan beliau hanya ketawa-ketawa saja melihat ulah kami yang mengumpulkan tugas malam-malam. Itupun tidak 100% seperti yang beliau minta, kami hanya mengumpulkan empat set lembar jawaban sebagai jawaban kelompok. “Kan ibu minta kami mengumpulkan paling lambat hari ini, dan ini belum jam 12 malam Bu,” kata kami memberanikan diri.

Bu Kapti menerima semua lembar jawaban itu sambil mengecek siapa saja yang benar-benar mengerjakan tugas kelompok kami. Terus terang, kami tidak menutupi siapa yang mengerjakan set soal yang mana. Bahkan kami sampaikan juga bahwa ada salah seorang teman yang tidak ikut mengerjakan karena yang bersangkutan kebetulan hari itu harus mengikuti bimbingan belajar. Semua kami sampaikan, dan bu Kapti menerima tugas kami sambil tidak lupa menyuguhi kami minum dan suguhan candanya.

Rasanya, selama saya belum pikun, sulit rasanya melupakan senyum bu Kapti. Keseriusannya di kelas. Candanya yang menyegarkan kami. Tanggung jawabnya sebagai wali kelas. Kedekatannya dengan murid. Semuanya menjadikan kelas matematika kami tidak menakutkan. Terima kasih banyak bu Kapti.

Posted in Humaniora, Pendidikan | 2 Comments »

Suara Merdu bu Emmy, Semerdu Inovasi bu Emmy

Posted by djadjasubagdja on March 13, 2009

Kalau guru menyuruh murid menyanyi di depan kelas, itu mah sudah biasa. Namun kalau murid “ngerjain” gurunya agar menyanyi di depan kelas, barangkali hanya ada di sekolah kami. Kejadiannya bukan sekali, tapi beberapa kali, dan saya yakin tidak hanya saya dan teman-teman sekelas yang melakukan hal ini, tapi juga kelas-kelas lain melakukan hal sama.

Ya, bagaimana kami tidak pernah bosan mendaulat guru Bahasa Inggris kami menyanyi di depan kelas, suara bu Emmy itu merdu, enak didengar. Biasanya, kalau kelas sudah mulai kelihatan jenuh, bu Emmy menulis syair lagu di papan tulis. Setelah itu beliau bertanya kepada kami, “Ibu sudah ajarkan lagu ini kan?” Serempak kami menjawab, “Beluuum.” Kalau sudah seperti ini, bu Emmy hanya bisa tersenyum-senyum sambil berkata, “Ya, pasti kalian bilang belum, ya sudah, ibu beri contoh menyanyikannya. ” Lalu mengalunlah suara merdu ibu Emmy Yuliaty di depan kelas, dan kami pun khusuk menikmatinya. Setelah itu barulah kami bernyanyi bersama.

Hal itulah yang paling berkesan dari bu Emmy. Saya yakin tidak hanya bagi saya, tapi pasti bagi seluruh anak SMAN 5 Bandung yang mendapat pelajaran Bahasa Inggris dari beliau. Beberapa lagu sempat beliau ajarkan, tapi yang masih saya ingat adalah lagu “Roses Are Red” dan “We shall Overcome”. Saya masih ingat lagu Roses are Red karena ada di album kompilasi Bobby Vinton di kaset milik ayah saya.

Namun, tidak hanya itu yang spesial dari bu Emmy. Pada hari pertama di awal semester, pasti bu guru yang selalu tampil rapi ini menginstruksikan kepada kami untuk menyediakan dua buah buku tulis ukuran A4 yang agak tebal. Satu sebagai buku catatan, dan yang lainnya sebagai buku PR. Kedua buku tersebut WAJIB disampul oleh bagian belakang kertas kalender bekas (yang berwarna putih polos).

Setiap pekan pasti ada PR yang jumlahnya lumayan banyak, antara 30 – 40 soal. PR itu berasal dari semua pertanyaan yang ada di bab yang akan dibahas pekan berikutnya. Buku teks bahasa Inggris yang kami pakai (kalau tidak salah judul bukunya adalah Curriculum English for Senior High School), terdiri dari beberapa bab yang jumlahnya cukup banyak. Sebagaimana layaknya pola buku teks pada masa itu, awal bab dimulai dengan bacaan, lalu ada pertanyaan yang berhubungan dengan bacaan, dan kemudian diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan grammar.

Ketika kami sudah menginjak kelas 2, PR kami tidak lagi hanya mengerjakan soal-soal yang ada di buku, tetapi juga menuliskan terjemahan dari bacaan di bab yang akan dipelajari di kelas. Ketika pelajaran dimulai, Bu Emmy pasti menyuruh kami semua mengumpulkan PR kami yang berupa hasil terjemahan dan jawaban pertanyaan-pertanyaan. Setelah itu, bu guru kami ini membuat pertanyaan sendiri dari bacaan tersebut secara lisan di depan kelas yang ditujukan kepada kami secara acak. Jadi, kalau misalnya PR yang dikumpulkan adalah hasil menyontek, pastilah tidak dapat menjawab pertanyaan lisan Bu Emmy di depan kelas.

Untuk setiap pertanyaan yang dijawab benar dalam bahasa Inggris, kami mendapat nilai 8, tapi jika jawabannya dalam bahasa Indonesia (tapi benar), maka nilainya 6. Siswa yang mencoba menjawab, tetapi salah, tetap mendapat nilai. Demikianlah, sepekan sekali hal ini berlangsung. Di hari lain, di pekan yang sama, biasanya diisi dengan pelajaran mengenai grammar. PR yang dikumpulkan, siang harinya sudah kembali ke tangan kami setelah beliau koreksi di jam kosong atau saat istirahat.

Hal yang terus terang membuat saya tetap mengagumi beliau hingga saat ini adalah variasi dalam pembelajaran yang dimiliki oleh Bu Emmy. Selain membahas bacaan di buku teks dan pelajaran grammar, beliau juga menyelipkan beberapa pembelajaran yang inovatif, seperti Diskusi Kelas dan Cepat Tepat. Tentu semuanya dalam bahasa Inggris.

Dalam Diskusi Kelas, kami dibagi kedalam beberapa kelompok. Pada pertemuan pertama, kelompok pertama berperan sebagai pemrasaran, kelompok kedua sebagai penyanggah. Pada pertemuan berikutnya, kelompok ketiga sebagai pemrasaran, dan kelompok keempat sebagai penyanggah. Begitulah seterusnya, lalu kemudian dibalik, yang pernah menjadi pemrasaran kemudian menjadi penyanggah.

Kelompok yang menjadi pemrasaran harus menyerahkan makalah singkat beberapa hari sebelum Diskusi Kelas dimulai. Semua makalah dinilai. Kinerja kelompok dinilai dengan terlebih dahulu ditetapkan poin-poinnya. Para penyanggah dan yang menjawab sanggahan mendapat nilai tambahan. Begitulah, sehingga pelajaran tidak membosankan. Meskipun tentu saja cukup repot kami dibuatnya terutama ketika membuat makalah kelompok.

Dalam kegiatan Cepat Tepat, kami juga dibagi menjadi beberapa regu. Lantas kemudian beberapa regu ditandingkan. Pertanyaan yang tidak bisa dijawab peserta tanding dilempar ke “penonton”. Regu yang menang mandapat nilai tertentu. Mereka yang menjawab juga mendapat nilai tambahan.

Saya membayangkan, seandarinya semua guru seinovatif bu Emmy ketika melakukan kegiatan pembelajaran, tentulah sekolah menjadi sesuatu yang tidak membosankan. Selain itu, siswa juga menjadi terlatih untuk mengaplikasikan pelajaran dalam berbagai kegiatan. Dengan demikian, ketika siswa melanjutkan pendidikan atau bekerja, bekal yang didapat sudah mencukupi.

Rasanya masih belum lupa saya akan suara merdu Ibu Emmy tatkala beliau menyanyikan lagu Roses are Red. Terima kasih Bu Emmy.

Roses are re my Love

Velvets are blue

Sugar is sweet my love

but not as sweet as you ……

Posted in Humaniora, Pendidikan | Leave a Comment »

Pak Saras, Sosok Guru Bahasa Indonesia yang Sesungguhnya

Posted by djadjasubagdja on March 10, 2009

Pak Saras Ahmadi adalah guru Bahasa Indonesia kami ketika saya masih duduk di bangku SMA, tepatnya di SMA Negeri 5 Bandung. Saya tulis sosok beliau bukan karena pak guru yang satu ini pernah mendapatkan penghargaan sebagai guru teladan dari negara. Hanya saja, bagi saya pribadi, beliau merupakan satu dari beberapa guru favorit saya. Kalau boleh, saya kategorikan beliau ini sebagai guru yang sesungguhnya. Beliau tidak hanya mengajarkan pengetahuan dan keterampilan berbahasa, tapi juga memiliki tanggung jawab penuh dalam mengajarkan Bahasa Indonesia kepada kami.

Pernah suatu hari, di awal pelajaran, beliau tiba-tiba langsung mengajukan sebuah pertanyaan. Begini beliau bertanya, “Apa perbedaan antara puisi dan prosa?” Terus terang kami semua kaget, karena pada saat itu kami tidak sedang membahas kesusantraan. Beliau lalu mengulangi lagi pertanyaannya di tengah kebingunan kami.

Akhirnya ada beberapa dari kami yang mengacungkan jari tangan untuk menjawab pertanyaan beliau. Teman pertama kami langsung menjawab,”kalau prosa adalah karya bebas, kalau puisi karya terikat.” Langsung saja pak Saras menyalahkan jawaban teman kami. Lalu dia menunjuk teman kedua yang tadi mengacungkan jari. Meskipun agak bingung, karena jawaban teman pertama tadi disalahkan, teman kedua memberanikan diri menjawab, “kalau …. .”  Kami semua kaget karena sebelum selesai teman kami menjawabnya, pak guru kami ini sudah menyalahkan jawaban si teman kedua ini. Begitu seterusnya hingga tiga atau empat teman kami mencoba menjawabnya, tapi semuanya disalahkan.

Akhirnya pak saras berbicara. “Kata ‘kalau’ tidak boleh diucapkan di awal kalimat, tapi seharusnya ditempatkan di tengah kalimat. Jadi, jawaban kalian itu seharusnya begini ….. puisi adalah bla bla bla, kalau prosa adalah bla ba bla.” Begitulah kira-kira beliau sampaikan kepada kami saat itu, dan akhirnya kami mengerti bahwa hari itu kami tidak salah jadwal mempelajari sastra, tapi masih tetap meneruskan pelajaran pekan lalu, yakni tata bahasa.

Begitulah beliau. Pak Saras tidak hanya mengajarkan teori, tapi langsung mempraktekkannya di kelas. Beliau juga tidak hanya mengajarkan kami teori kesusastraan, tapi ketika W. S. Rendra manggung di kota kami, beliau menyarankan kami menonton bersama beliau. Sayang, saya tidak bisa ikut menontonnya. Namun, dari cerita beberapa teman yang menonton pertunjukan Rendra tadi bersama dengan pak Saras, teman-teman menikmatinya. Mestinya, seperti inilah Bahasa Indonesia diajarkan kepada siswa, bukan hanya teori.

Satu hal lagi yang tidak pernah saya lupakan dari beliau adalah pelajaran mengenai puisi dan prosa. Menurut beliau, sepanjang yang saya tangkap, puisi dan prosa sama-sama mengungkapkan kisah pengalaman hidup atau perasaan penulisnya. Bedanya hanya pada format penulisan. Puisi ditulis dalam kalimat-kalimat penuh makna dan relatif jumlah kalimatnya lebih sedikit dibandingkan dengan prosa.

Waktu itu beliau menguatkan pernyatannya dengan mengambil contoh puisi “Aku”, karya Chairil Anwar. Beliau sampaikan, karena Chairil Anwar adalah seorang penulis puisi, maka “Aku” menjadi sebuah puisi. Kalaulah Chairil Anwar itu seorang novelis, maka “Aku” pastilah berbentuk sebuah novel. Kemudian beliau melanjutkan dengan mengupas puisi “Aku” yang membuat saya mengerti bahwa memang, dari sisi hakikat sebuah karya sastra, tidak ada perbedan antara puisi dan prosa.

Sungguh, kalau saja semua guru Bahasa Indonesia bisa mengajar seperti pak Saras Ahmadi, guru kami, saya yakin pelajaran ini akan menjadi pelajaran yang paling mengasyikkan. Saya juga yakin, kalau para guru Bahasa indonesia tidak hanya mengajarkan teori berbahasa, tapi juga langsung mempraktekkannya di kelas, maka kemampuan membaca dan menulis siswa dan mahasiswa kita akan jauh lebih baik.

Posted in Humaniora, Pendidikan | Leave a Comment »

Anak Bukan Milik Kita …. Hanya Titipan dariNya

Posted by djadjasubagdja on January 16, 2009

Adakah di dunia ini seseorang yang meminjami kita sesuatu seumur hidup kita, lalu kapanpun kita bisa minta dia ikut menjaga yang dia titipkan tersebut? Tentu saja tidak ada. Pinjaman tanpa bunga saja sudah jarang kita dapati di dunia ini. Kalaupun ada pinjaman tanpa imbalan, pastinya dalam jangka waktu yang terbatas, tidak seumur hidup kita bisa meminjam tanpa imbalan. Kalaupun ada pinjaman seumur hidup tanpa imbalan, pastinya si yang meminjamkan tidak bisa kita mintai bantuan untuk ikut menjaganya.

Namun Tuhan memberikan kita pinjaman tanpa imbalan seumur hidup, dan kapan saja kita bisa minta tolong Tuhan untuk menjaganya. Sungguh, bukankah itu suatu pertanda bahwa memang Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Tuhan pinjami kita anak, tanpa kita harus membayar bunganya, dan Tuhan pula yang akan mencukupi rezeki anak-anak kita. Sayang, kebanyakan dari kita tidak menyadari hal ini.

Kebanyakan dari kita menganggap anak adalah milik orang tua, padahal mereka adalah mahluk ciptaan Tuhan yang dipinjamkan kepada kita. Kita hanya diminta ikut menjaga dan mendidik, dan Tuhan sendiri yang memberikan kesehatan, kesejahteraan, kepintaran, dan kecakapan kepada mereka. Sering sekali kita melihat orang tua mengatur-ngatur masa depan anak tanpa mempertimbangkan minat dan bakat si anak.

Banyak dari orang tua yang merasa memiliki pengalaman hidup, lantas kemudian mengarahkan anak berdasarkan keinginan dia semata. Padahal, kalu difikir lebih dalam, jaman terus berkembang. Kehidupan yang akan dihadapi si anak pasti berbeda dengan kehidupan yang telah dilalui si orang tua. Jaman yang telah dilalui si orang tua, dan menjadi pengalaman hidupnya, sudah jauh berbeda dari jaman yang akan diarungi si anak.

Alkisah, ada seorang anak SD yang gemar bermain sepak bola. Teman-teman sepermainan dia mengakui kelihaiannya dalam mengolah bola di lini tengah dan kemudian menggiringnya mendekati gawang lawan. Sayang, orang tuanya tidak terlalu senang anaknya ‘menghabiskan’ waktu bermain bola. Orang tuanya tidak mau si anak kelelahan bermain bola, takut malamnya tidak bisa belajar. Wajar sih.

Ketika jaman kompetisi klub bola antar RW, si anak tadi diajak kawan-kawannya masuk ke klub bola RW dimana dia berdomisili. Beberapa pertandingan dia ikuti, hingga mengantarkan klub bola RW-nya menjadi klub yang disegani di kelurahan. Hanya sayang, dia lakukan itu tanpa sepengetahuan orang tuanya. Orang tuanya bukan tidak mengetahui hal itu. Gosip mudah beredar. Si anak memang bintang lapangan, semua orang sekampung sudah tau. Sekali saja ketahuan si anak pulang bermain bola, langsung saja dia dimarahi orang tuanya.

Waktu terus berlangsung, si anak tahu diri. Orang tua mengingainkan dia menjadi dokter atau insinyur atau ekonom. Dia berhenti bermain sepak bola. Dia serius menyelesaikan sekolahnya, hingga akhirnya bisa menjadi sarjana ekonomi. Namun, karena bakat si anak adalah bermain bola, maka keahliannya di bidang ekonomi tidak maksimal. Sulit juga bagi dia mencari pekerjaan.Baru beberapa tahun setelah lulus mendapat pekerjaan yang lumayan. Ya, sekadar lumayan buat menyambung hidup.

Saya berandai-andai. Kalau saja dulu dia teruskan bermain bola, lalu dia masuk klub perserikatan, bukan mustahil dia akan menjadi pengganti ajat Sudrajat, Robby Darwis, atau Adeng Hudaya, tiga ikon Persib ketika itu. Tentunya, dengan menjadi pemain bola profesional, kehidupannya akan jauh lebih baik dari yang sekarang.

Namun saya juga tidak menyalahkan orang tuanya. Orang tuanya hidup di jaman orde lama dimana tidak ada pemain sepak bola profesional ketika itu. Wajar kalau si orang tua tidak rela anaknya menjadi pemain bola. Hanya saja, kenyataannya, jaman berubah, dan yang namanya jaman akan selalu berubah. Di jaman si anak tadi, seseorang bisa hidup dari bermain sepak bola secara profesional. Itu yang tidak disadari si orang tua.

Seingat saya, di jaman saya bersekolah, kuliah di jurusan teknik sipil, elektro, atau mesin itu menjanjikan masa depan yang sangat baik. Tidak salah jika ada orang tua yang mengarahkan anaknya kuliah di jurusan-jurusan ini. Jika memang si anak memiliki minat di bidang-bidang ini, ya tidak masalah. Namun jika ternyata minat si anak adalah menggeluti dunia desain grafis, maka arahan orang tuanya agar dia kuliah di jurusan mesin atau elektro hanya akan menjadi beban bagi si anak.

Setelah si anak menyelesaikan pendidikan di fakultas teknik, si anak menemui kesulitan dalam mencari pekerjaan. Dia tidak begitu sreg bekerja di bidang teknik, tetapi juga tidak memiliki pendidikan formal desain grafis, ketika hendak melamar sebagai desainer. Coba kalau dulu dia kuliah di jurusan desain grafis, sesuai kata hatinya, dia tidak akan mengalami kesulitan mencari pekerjaan di jaman teknologi informasi sekarang ini, dimana kebutuhan akan desainer situs web sangat tinggi.

Sekali lagi, jaman berubah. Di era kehidupan orang tua si anak tadi, dunia desain grafis belum berkembang, masih menjadi bidang minor. Namun di saat ketika si anak memasuki usia kerja, justru bidang ini berkembang dengan pesat, jauh meninggalkan bidang-bidang teknik sipil, mesin, dan elektro. Pengalaman orang tua bukan satu-satunya acuan dalam menentukan sekolah anak.

Namun ini bukan berarti pengalaman orang tua sama sekali tidak dipakai dalam mendidik anak. Beberapa pengalaman mendasar, seperti misalnya bahwa rajin belajar lebih baik dari malas belajar, tetap sangat berperan dalam mendidik anak. Pengalaman orang tua sangat penting dijadikan acuan dalam mendidik anak, tetapi ketika sampai pada pemilihan jurusan, keinginan anak juga harus dipertimbangkan.

Bagaimana kalau justru pilihan si anak itu salah? Tidak perlu khawatir, si anak akan mengoreksi kesalahan yang telah dia buat tanpa menyalahkan si orang tua. Anak adalah milik Tuhan, orang tua hanyalah insan yang dititipi anak. Tugas orang tua adalah mengarahkan anak untuk hidup dengan baik dan benar, sesuai aturan Tuhan. Jangan lupa untuk selalu memohon Tuhan menjaga anak kita, tidak bayar koq.

Posted in Humaniora, Pendidikan | Leave a Comment »