Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Jus Terong Penjajah yang Menjajah

Posted by djadjasubagdja on July 11, 2011

Jika anda tertarik dengan menu nasi darah, sosis squid ward, sayur popeye, buah eragon, buah citra, kue doraemon, kue mayang sari, minuman pelayan semenit, jus terong penjajah, atau jus bugs bunny, maka anda harus bergabung dengan sisiwa baru yang sedang mengikuti masa orientasi sekolah. Istilah-istilah kreatif di atas memang terasa lucu dan menantang kecerdasan peserta MOS (dan orang tuanya juga). Namun apakah memang perlu seperti itu?

Jika barang yang dimaksud memang tersedia banyak, ya tidak masalah, keluar uang sedikit atau banyak ya tidak apa-apa. Demi anak. Namun jika barang yang dicari sudah habis di pasar/toko, harus bagaimana lagi. Akhirnya akal-akalan, sambil meyakinkan si anak bahwa itu sudah sesuai dengan yang ditugaskan.

Saya kemudian teringat dengan masa orientasi saya sendiri di kampus, dulu. Berbeda dengan kampus-kampus lain ketika itu, ITB tidak menyelenggarakan masa orientasi mahasiswa (OPSPEK). Justru ketika tahun pertama berakhir, memasuki tahun kedua,  kami dipelonco senior sebelum bergabung ke organisasi himpunan jurusan. Penyelenggaraannya tidak diakui otoritas kampus, alias liar.

Namun, meskipun liar, dari sisi tugas membawa barang/perlengkapan, rasanya tidak terlalu merepotkan kami, apa lagi orang tua kami. Peserta yang dipelonco tidak ditugasi membawa barang aneh-aneh yang tidak perlu, paling-paling disuruh membawa koran bekas yang digulung. Setelah capek digulung, eh dipakai senior untuk memukul-mukul lantai menakut-nakuti kami ketika disuruh push up.

Kegiatannya kebanyakan berupa penugasan fisik berat, seperti lari, merayap, atau push up hingga berkali-kali. Kemudian kegiatan diakhiri dengan berkemah di Cikole – Lembang. Oleh sebab itu, kami ditugasi untuk membawa kayu bakar, korek api, lilin, gula batu, kantong kresek, kaos kaki tebal, jaket tebal, dan tenda. Tidak ada barang aneh atau lucu.Tidak ada kalung jengkol dan pete seperti di kampus-kampus lain. Ada juga tugas memecahkan perhitungan rumit yang hasil akhirnya berupa angka, dan pada jam yang sesuai dengan angka tersebut tugas hitungan tadi harus kami kumpulkan.

Jika tidak membawa, tidak dihukum, paling diomel-omeli, karena semua itu merupakan perlengkapan yang harus kami miliki untuk bisa bertahan dalam perkemahan di daerah dingin tersebut. Tidak membawanya sama dengan rugi sendiri. Kalau tidak membawa semua itu, bisa repot, terutama pas kegiatan jurit malam, berjalan sendirian di tengah hutan di malam hari dengan hanya berpedoman pada tanda panah. Ujung-uungnya, akhirnya dibotakin.

Di perkemahan, kegiatan aktivitas fisik berat yang dilakukan cukup heboh, seperti merayap di lumpur, direndam di sungai, naik/turun bukit, tarik tambang, merayap di atas tambang yang direntangkan di antara dua bukit, dan di-press sampai sesak nafas. Jadi rupanya, kegiatan lari, senam, dan push up beberapa hari sebelumnya selama di kampus itu tujuannya sebagai pemanasan sebelum aktivitas fisik berat di perkemahan.

Sebetulnya, baik perpeloncoan lucu-lucuan, maupun perpeloncoan bernuansa aktivitas fisik berat, ujung-ujungnya sama, peserta rata-rata kesal dan marah (setidaknya pada saat itu). Itulah kenapa ketika saya sudah menjadi senior saya tidak mau ikut melonco junior. Bukan apa-apa, sejujurnya dulu saya tidak senang diperlakukan seperti itu, jadi kenapa saya harus melakukan hal itu kepada orang lain?

Advertisements

Posted in Pendidikan | Leave a Comment »

Antara Soto Bangkong, Wingko Babat, dan Tiramisu

Posted by djadjasubagdja on June 14, 2011

Sekitar tahun 2000-an, dalam perjalanan Bandung-Jakarta, mantan pimpinan saya mampir ke rumah makan Soto Bangkong yang di Puncak. Tidak lupa beliau ajak pak sopir untuk makan bersama. Pak sopir menolak, padahal pastinya dia sangat lapar, karena memang saat itu sudah waktunya makan malam. Sang pimpinan terus memaksa pak sopir untuk makan bareng, karena beliau tau pak sopir pasti lapar juga, tapi tetap saja pak sopir menolak.

Akhirnya pimpinan saya sadar kalau sang sopir salah mengerti dengan nama “Soto Bangkong”. Bangkong dalam bahasa Sunda berarti katak/kodok. Sang sopir sebetulnya bukan orang Sunda, dia orang Betawi, tapi dia tau kalau bangkong dalam bahasa Sunda itu berarti katak/kodok. “Pak Warta, Soto Bangkong itu bukan soto kodok, tapi soto ayam khas daerah Bangkong, nama daerah di Semarang,” demikian sang pimpinan menjelaskan kepada pak sopir. Setelah mengerti, akhirnya pak sopir itupun mau diajak makan malam bersama.

Kisah yang mirip, pernah saya alami sendiri. Dulu, ketika masih di SD, uwak (pakde’) kami baru pulang dari Semarang. Beliau membawa banyak oleh-oleh, diantaranya Wingko Babat. Kami pun dikirimi Wingko Babat. Membaca namanya, saya fikir ini makanan pasti terbuat dari beras ketan dan di dalamnya ada babatnya. Pas saya gigit, eh koq rasanya manis. Penasaran, saya belah dua itu wingko dengan tangan, berharap menemukan babat di tengahnya. Namun tidak ada babatnya.

Terus terang, saya kecewa …. hahaha …. dan tidak habis fikir kenapa harus diembel-embeli babat kalau tidak ada babat di dalamnya. Malah rasanya manis. Sejak saat itu, saya tidak pernah menyentuh lagi yang namanya Wingko Babat, karena merasa “tertipu”. Baru setelah saya besar, dan tau bahwa Babat itu nama daerah tempat wingko tersebut dibuat, pelan-pelan saya bisa menikmati Wingko Babat. Sekarang saya malah doyan Wingko Babat.

Satu kisah lucu lagi adalah ketika makan bersama istri saya di sebuah rumah makan di jalan Hasanuddin, di Bandung, di abad yang lalu. Setelah memesan beberapa jenis makanan, istri saya memesan tiramisu. Terus terang, sampai hari itu saya belum pernah makan tiramisu. Pernah mendengar, tapi belum pernah mencoba, ketika itu.

Bayangan saya akan tiramisu adalah tiram dan sup miso (miso soup, sup-nya orang Jepang), dan saya fikir tiramisu ini makanan khas Jepang. Jadi, dengan bayangan seperti itu, saya juga ikut memesan tiramisu ini. “Tiramisu-nya satu lagi ya, mbak,” kata saya kepada si pramusaji sambil membayangkan sup miso hangat campur tiram.

Setelah menunggu beberapa saat, datanglah pesanan kami. Tiramisu-nya juga datang bersamaan dengan hidangan utama. “Ini apa? rasanya kita gak pesan puding coklat,” kata saya kepada istri. “Lha kan tadi kita pesan tiramisu,” jawab istri saya. Hahahaha …. jadi rupanya ini toh yang disebut tiramisu …. bukan tiram dan sup miso, serta bukan makanan Jepang!

Posted in Humaniora | Leave a Comment »

Ponselku yang Telanjang

Posted by djadjasubagdja on April 16, 2011

Dari dulu hingga sekarang, ponsel saya selalu telanjang. Artinya saya tidak pernah menyarunginya. Memang sih, setelah dipakai lama ada lecet-lecet, tapi saya tidak kapok-kapok, setiap beli atau dibelikan ponsel baru, tidak pernah saya sarungi.

Kenapa tidak pernah saya sarungi? Pertama, jadi gemuk. Takutnya jadi menyaingi pemiliknya yang memang gemuk. Kedua, saya belum menemukan sarung ponsel yang lebih hi-tech dan lebih mahal dari ponselnya …. hahahaha … bercanda ….. Seriusnya, bagi saya, ponsel itu terlihat lebih cantik dansexy kalau telanjang, tanpa sarung. Ini bukan porno, lho!

Kenapa saya berprinsip demikian? Awalnya sekitar tahun 2000-an, ketika PDA lagi ngetop. Mantan boss saya ketawa abis, menertawakan klien kami yang menyarungi PDA miliknya. “Sama insinyurnya, itu PDA sengaja dibikin setipis mungkin, eh malah dia pake’in pake sarung setebal itu,” kata beliau sambil tertawa. Sejak saat itu, saya lepas sarung ponsel sejuta umat milik saya waktu itu.

Hanya dengan dua alasan itu, hingga kini saya bertahan dengan prinsip ponsel telanjang. Baru tadi pagi saya menemukan alasan ketiga. Seorang teman, Yamin alias Buyung, mengirim artikel pendek di grup BB SMP. Artikel itu menyebutkan bahwa pemakaian sarung malah membuat perangkat jadi panas, sehingga cepat rusak. Apalagi kalau sarungnya memakai magnet, katanya ada pengaruh medan magnet yang membuat perangkat bekerja lebih berat.

Entah benar atau tidak, artikel yang juga mengutip pernyataan seorang karyawan teknik sebuah perusahaan ponsel pintar tersebut, bagi saya cukup logis juga. Apa lagi di artikel tersebut juga ditulis bahwa jika memang sebuah ponsel memerlukan sarung, maka pastilah sarung itu akan disediakan produsen di dalam dus ponsel tersebut. Kenyataannya, sarung ponsel memang dibuat oleh perusahaan lain.

Pastilah ada alasan orang memakaikan sarung pada ponsel kesayangannya. Beda dengan saya yang tidak peduli apakah ponsel saya mau lecet atau tidak, yang penting komunikasi lancar dan tetap gaul. Hal ini barangkali juga merupakan perilaku pengguna. Bagi pengguna, bukan masalah menabrak teknologi, yang penting prinsip ekonomi dia pegang.

Perilaku pengguna yang juga menabrak teknologi (menurut saya) adalah pemakaian lapisan anti-spypada layar ponsel. Layarnya sudah canggih, sehingga gambar/citra di layar bisa dilihat dari depan dan dari samping. Namun kemudian, kelebihan ini malah dirasakan mengganggu privasi pengguna. Maka dipasanglah lapisan anti-spy yang nota bene “meredam” kecanggihan layar generasi terbaru ini.

Ya, itulah perilaku pengguna barang berteknologi tinggi. Bagaimana dengan perilaku pengguna barang sederhana? Coba saja Anda amati sendiri, ada saja orang yang enggan melepas sarung plastik pada kursi kantor yang baru didapatkannya. Panas atuh, juragan! ….. hahahaha ……

Posted in Humaniora, Iptek | 2 Comments »

Seandainya Sepupu Saya Terus Bermain Bola

Posted by djadjasubagdja on January 10, 2011

Setiap menyaksikan pertandingan sepak bola di tv, saya selalu teringat seorang sepupu yang waktu kecilnya termasuk jagoan main sepak bola. Di penghujung tahun 70-an, di tempat tinggal kami bermunculan klub-klub sepak bola anak-anak kampung. Biasanya satu klub terdiri dari beberapa anak yang tinggal berdekatan, dari RT atau RW yang sama. Lantas mereka bertanding dengan klub kampung lain.

Fenomena ini kemudian berkembang. Pertandingan klub anak-anak kampung ini kemudian menjadi lebih terorganisir hingga menjadi sebuah turnamen di tingkat Kelurahan (waktu itu namanya Lingkungan). Pada perkembangannya, tidak hanya anak-anak yang membentuk klub, tapi kemudian para pemuda pun mengikuti jejak mereka. Kemudian lahirlah apa yang disebut “Domba Cup”.

Kembali ke sepupu saya tadi. Sang sepupu ini termasuk menonjol permainannya di turnamen antar klub anak-anak kampung. Beberapa kali saya menyaksikan dia bertanding, terus terang dia memang jago menggiring bola, dan bahkan memasukkannya ke gawang. Namun sayang, sang sepupu yang ketika itu dalam asuhan buyut kami, tidak direstui buyut kami untuk bermain bola.

Di mata buyut kami, bermain sepak bola hanya membuang-buang waktu. Seringkali buyut kami menjewernya kalau ketahuan bermain sepak bola. Bahkan kami pun kena getahnya dan diberi tahu orang tua kami agar tidak mendorong-dorong dia bermain sepak bola. Terus terang, waktu itu saya dan sepupu-sepupu lain yang menyemangati dia bermain di klub kampung.

Waktu berjalan, setahu kami, sang sepupu ini masih suka bermain sepak bola hingga SMP. Barangkali buyut kami pun tau mengenai itu, tapi selama bukan mengikuti pertandingan antar klub kampung, ya masih oke-oke saja lah. Barangkali maksud buyut kami adalah, oke saja kalau hanya berolah raga bermain bola, tapi jangan ikut bertanding, karena sekolah yang utama.

Setelah kami besar, saya, yang memang dari kecil tidak terlalu menggemari dunia olah raga, kemudian meneruskan sekolah di perguruan tinggi. Sang sepupu tadi pun sama, dia kemudian kuliah juga, tidak menjadi pemain bola. Sekarang, setelah dewasa, saya menjadi pegawai, demikian pula dengan sepupu saya tadi. Itu barangkali memang sudah menjadi jalan hidup kami. Alhamdulillah kami bisa menghidupi keluarga dengan menjadi karyawan.

Namun, selalu saja saya berandai-andai. Seandainya sepupu saya dulu tidak dilarang-larang bermain sepak bola di klub kampung, barangkali dia sudah menjadi pemain tim sepak bola nasional, atau minimal pemain Persib. Perkiraan saya tidak berlebihan, karena kemampuan si sepupu saya tadi, menurut saya, kurang lebihnya sama lah dengan salah seorang teman SMA saya yang kebetulan pemain Persib Junior.

Sebelum saya lanjutkan, di sini saya tidak bermaksud menyalahkan buyut kami. Tidak, beliau tidak salah. Hanya saja, memang ketika itu menjadi pemain sepak bola bukan sebuah profesi menjanjikan. Bahkan baru 10 tahun setelah itu para pemain sepak bola mendapatkan penghasilan yang lumayan plus janji menjadi karyawan Pemda. Baru beberapa tahun setelah itu muncul kompetisi sepak bola pro yang lebih mensejahterakan pemain.

Seandainya saja sepupu saya menjadi pemain sepak bola profesional, pastinya penghasilannya akan jauh lebih banyak dari sekarang ini. Jangan salah sangka, sepupu saya ini sekarang memiliki pekerjaan tetap di sebuah perusahaan nasional. Namun jika kita bandingkan dengan penghasilan pemain sepak bola yang bisa mencapai Rp 80 juta per bulan, maka gaji sepupu saya bukan tandingannya.

Ah, seandainya sepupu saya menjadi pemain profesional, atau lebih jauh lagi, seandainya lebih banyak lagi anak negri ini yang dari kecil didorong untuk menjadi pemain sepak bola profesional, tentunya dana sepakbola yang diambil dari APBD itu tidak akan banyak jatuh ke tangan pemain asing!

Posted in Humaniora | Leave a Comment »

Tentang Pajak Oleh-oleh Itu

Posted by djadjasubagdja on December 11, 2010

Alkisah, si Fulan ditugasi kantornya mengunjungi pameran buku terbesar di dunia, yakni Frankfurt Book Fair (FBF). Di FBF tidak ada peserta yang menjual buku. Di sana buku dipamerkan untuk dijual hak ciptanya kepada penerbit lain untuk diterjemahkan ke dalam bahasa lain. FBF adalah pameran buku business to business (B2B). Ketika pameran berakhir, seperti biasa, peserta pameran meninggalkan buku-buku yang dipamerkan begitu saja dan semua pengunjung bisa mengambilnya, gratis!

Hal itu pula yang dilakukan si Fulan seselesainya pameran. Dia langsung mengambil beberapa buku menarik untuk koleksi perpustakaan di kantornya, sebuah perusahaan penerbitan buku. Dia berharap para editor di kantornya bisa melihat buku-buku yang dia bawa untuk diadaptasi. Dia juga berharap teman-teman kantornya bisa menambah wawasan dengan membaca buku-buku yang dibawanya.

Harga buku di luar negri tidak seperti harga buku di kita yang selalu dianggap mahal. Harga buku di luar negri didasarkan pada pemikiran bahwa buku berisi ilmu dan informasi, jadi betul-betul dihargai. Maka jangan heran jika harga buku ada di kisaran 15 hingga 100 dollar Amerika Serikat. Buku yang diambil si Fulan di pameran pastinya buku bagus, jadi katakanlah harganya rata-rata sekitar 50 dollar Amerika.

Jika ada 10 buku saja yang bisa dia ambil secara gratis di pameran, maka nilainya bisa mencapai 500 dollar Amerika! Nilai itu di atas 250 dollar Amerika, di atas batas tidak kena pajak oleh-oleh. Apakah itu akan dipajaki?

Lantas bagaimana menentukan harganya karena buku-buku itu memang benar-benar didapat tanpa bon, alias gratis. Apa si Fulan harus meminta surat keterangan kepada Kanselir Jerman bahwa semua buku di FBF bisa didapat secara gratis di akhir pameran? Enggak lah yaw, nanti kita malah ditertawakan orang-orang sedunia!

Belakangan obrolan-obrolan di FB dan BB dimarakkan juga dengan topik pajak yang dikenakan atas oleh-oleh yang kita bawa dari luar negri. Jika oleh-oleh kita masih senilai 250 dollar Amerika atau kurang dari itu, maka kita tidak perlu membayar pajak. Pajak oleh-oleh hanya dibayarkan atas kelebihan nilai jika oleh-oleh kita totalnya memebihi angka 250 dollar Amerika.

Konon peraturan ini sebetulnya telah lama ada, tetapi sudah lama tidak ditegakkan, nah baru sekarang-sekarang ini ditegakkan kembali. Terlepas dari setuju atau tidak setuju, peraturan adalah peraturan, dan hal tersebut telah diundangkan. Hanya saja tentunya sebuah peraturan itu bisa dikokersi oleh peraturan yang lebih baru. Mau mengoreksinya?

Barangkali yang harus dipertimbangkan adalah angka 250 dollar Amerika yang dijadikan batasan atau kuotanya. Apa yang menjadi dasar penetapannya? Harga oleh-oleh di negara mana yang dijadikan patokan? Apakah semua jenis oleh-oleh yang melebihi nilai tersebut layak dikenai pajak? Seperti misalnya buku gratis si Fulan tadi atau air zam zam oleh-oleh jemaah haji. Berani menentukan nilai air zam zam? Bisa kualat, juragan!

Sebagaimana kita tau, kalau dari luar negri, maka barang belanjaan yang layak disebut oleh-oleh adalah suvenir atau barang yang belum ada di negri kita. Jadi, misalnya, orang membeli oleh-oleh jam tangan model terbaru atau sepatu model terbaru atau sovenir khas negara yang dikunjunginya. Harganya pastilah lebih dari 250 dollar Amerika. Bukankan oleh-oleh tersebut adalah tanda sayang kepada istri dan anak-anak tercinta? Wajarkah nilai 250 dollar sebagai batasan?

Mari kita pakai kasus yang realistik dan lebih umum. Misalnya seorang karyawan mendapat tugas dinas ke Manila. Selesai menjalankan tugas, dia belanja di toko suvenir, membeli 3 buah hiasan dari kulit kerang khas Filipina. Satu untuk dia pajang di rumah, dua lainnya untuk dihadiahkan kepada orang tua dan mertua. Itu hal yang wajar. Lalu dia juga membeli baju barong a’la Marcos untuk suaminya. Tidak lupa dia membeli tas dari anyaman khas Filipina. Untuk kedua orang anaknya, dia membeli mainan kayu khas Philipina. Ini juga masih wajar.

Mari kita bermatematika ria sebentar. Hiasan dari kulit kerang harga satuannya kurang lebih 20 dollar Amerika. Harga mainan sekitar 10 dollar Amerika. Harga tas wanita sekitar 25 dollar Amerika. Sementara harga baju barong memang cukup mahal, tapi itu kan untuk suami tersayang; harganya sekitar 150 dollar Amerika. Tidak lupa juga dia membeli beberapa dus manisan mangga khas Philippina senilai 20 dollar untuk teman sekantor. Jadi total belanja dia senilai 275 dollar Amerika.

Untuk belanja oleh-oleh paket hemat seperti contoh di atas saja, nilainya sudah 275 dollar Amerika. Apa lagi jika orang tersebut ditugaskan ke Singapura yang harga barang-barangnya lebih mahal dibandingkan dengan di Filipina. Belum lagi jika orang tersebut ditugaskan ke New York. Dia pasti membeli beberapa sovenir khas NYC dan pastinya parfum, mainan, dan buku untuk suami dan anak-anak tercinta. Nilainya pasti tidak akan kurang dari 500 dollar.

Kita juga harus membandingkan dengan negara kita sendiri. Kita bayangkan seorang warga asing yang mengikuti seminar atau simposium di Jakarta, dia pasti membeli sepasang baju batik untuk dirinya dan istrinya. Harganya pasti jutaan rupiah. Belum lagi kalau dia membeli beberapa ukiran dan hiasan dinding untuk dia pajang di rumahnya, sebagai tanda dia pernah ke Jakarta. Berapa itu semua? Pastilah tidak kurang dari 5 juta rupiah. Nilai ini wajar bagi seseorang yang bepergian ke luar negri.

Nilai belanja si orang yang ditugasi ke Manila di atas, atau kalau dia ditugaskan ke Singapura atau New York sudah lebih dari 250 dollar. Kasus tersebut masih disandarkan atas hal-hal yang lazim dibeli seseorang sebagai oleh-oleh. Dalam banyak kasus, ketika kita ke luar negri, ada saja teman yang nitip beli sesuatu, atau teman-teman kantor yang nagih oleh-oleh. Setidaknya beberapa helai t-shirt harus kita beli untuk teman-teman atau kerabat. Ini hal yang wajar, dan yang wajar seperti ini yang harus dipertimbangkan dalam menetapkan kuota nilai oleh-oleh yang tidak kena pajak.

Lain si Fulan lain si Falun. Si Falun ini kikir, jarang sekali dia membeli oleh-oleh untuk keluarganya kalau ditugaskan ke luar negri. “Nanti papa kasih mentahnya aja ya mam, dari pada kena pajak,” demikian kata si Falun ke istrinya. Nah, suatu ketika si Falun ditugaskan ke Kanada. Di sana dia tidak lupa menemui sahabat lamanya yang sekarang bermukim di Toronto. Sang sahabat senang dikunjungi si Falun, dan tidak lupa sang sahabat memberikan hadiah sepasang jam tangan mahal untuk si Falun dan istrinya.

Falun tau bahwa hal ini akan berdampak pada pembayaran pajak oleh-oleh. Jam tangan yang untuk dirinya bisa dia langsung pakai, tapi jam tangan yang untuk istrinya bagaimana? Mau dia tolak aja? Kan gak enak. Mau dibuang aja? Ya sayang dong, itu jam tangan kan harganya ribuan dollar Amerika.

Akhirnya si Falun terpaksa membawanya sebagai oleh-oleh. Sesampainya di Tanah Air, si Falun terpaksa membayar pajak oleh-oleh sebagai dampak kebaikan dari sahabat lamanya tadi. Karena tanpa bon, harga pun ditentukan oleh petugas. “Inilah nilai persahabatan,” gumam si Falun ketika dia mengeluarkan uang dari dompetnya untuk membayar pajak oleh-oleh.

Posted in Humaniora | 4 Comments »

Hujan Abu Vulkanik

Posted by djadjasubagdja on November 8, 2010

Pekan ini kota-kota di sekitar Merapi diguyur hujan abu vulkanik yang dimuntahkannya. Bahkan abu vulkanik Merapi tertiup jauh hingga ke Pangalengan, Kabupaten Bandung. Beberapa foto yang memperlihatkan warga Yogyakarta, Magelang, dan Sleman mengenakan masker di jalanan berdebu nampak menghiasi sejumlah media. Terus terang saya sangat prihatin dengan kondisi tersebut.

Keprihatinan saya didasari oleh pengalaman yang sama, yang pernah saya alami juga di tahun 1982 ketika Galunggung meletus. Ketika itu abu vulkanik Galunggung tertiup jauh hingga ke Kota Bandung. Apa yang dialami warga Yogyakarta, Sleman, Magelang dan kota lainnya di seputar Merapi sama dengan yang kami alami dulu di tahun 1982.

Ketika abu Galunggung menghujani Kota Bandung, kecepatan pemberitaan belum sefantastis jaman sekarang. Berita aktivitas Galunggung tidak seramai berita aktivitas Merapi saat ini. Lebih dari itu, saya kira warga Bandung juga tidak pernah berfikir abu letusan Galunggung bakal menghujani kotanya. Jarak Galunggung – Bandung tidak sedekat Merapi – Yogyakarta, jadi sungguh merupakan kejutan bagi orang Bandung menerima hujan abu Galunggung.

Saya masih ingat, pagi itu saya pergi ke sekolah seperti biasa, naik bemo. Ketika sampai di perempatan antara Jalan Gardujati dan Jalan Kebonjati, saya pijit bel bemo karena mau turun. Namun saat itu ada pemandangan yang membuat saya terheran-heran. Ketika membayar ongkos ke sopir bemo, saya lihat langit di sebelah Timur malah gelap. Lantas secara refleks saya tengok ke belakang, ke arah Barat, dan ternyata malah langit di Barat terang benderang. Saya bisa melihat perbedaan ini karena kebetulan Jalan Kebonjati membujur dari arah Barat ke Timur.

Apa mungkin ini yang namanya kiamat, fikir saya waktu itu. Namun sebagai seorang anak kelas 2 SMP, saya waktu itu tidak berfikir terlalu banyak. Saya lantas lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri Jalan Pasirkaliki menuju sekolah. Tiba di sekolah, teman-teman juga ramai membicarakan langit yang menghitam. Namun setelah bel berbunyi kami segera masuk ke dalam kelas.

Setelah bel berbunyi, guru matematika kami, Ibu Nurma Isa, masuk ke kelas, dan kami belajar matematika seperti biasa. Beberapa waktu setelah pelajaran dimulai perhatian kami teralihkan ke keriuhan di luar kelas saat teman-teman dari kelas lain (kalau tak salah kelas 2F) sedang berjalan beriringan dari arah perpustakaan menuju ke kelas mereka. Teman-teman ini berjalan sambil membersihkan rambutnya dari debu berwarna abu-abu.

Lantas segera saja kami semua tersadar bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi, hujan abu! Kepala Sekolah beserta para guru segera membuat pengumuman bahwa kegiatan belajar dihentikan, tapi siswa silarang meninggalkan sekolah kecuali jika ada orang tua yang menjemput atau rumahnya tidak jauh dari sekolah. Saya sendiri dijemput oleh ayah kami dengan mobil jemputan kantor. Perjalanan dari sekolah ke rumah cukup mencekam juga, jalan dan udara dipenuhi abu. Semua kendaraan menyalakan lampu dan berjalan perlahan karena pandangan buruk dan jalan juga menjadi licin oleh tumpukan abu.

Setibanya di rumah, ibu dan adik-adik rupanya sudah terlebih dahulu ada di rumah. Lantas segera saja ayah kami menutup semua lubang ventilasi dengan koran bekas, serta menutupi celah pintu bagian bawah dengan kain pel basah. Langit gelap, udara dikotori abu yang terus turun dari langit, dan suhu udara dingin, sedingin malam. Tidak banyak yang kami lakukan selain tiduran sambil berselimut.

Baru sore harinya abu vulkanik tidak turun lagi, namun kami belum bisa melihat langit, karena udara yang masih terkotori abu. Bayangkan saja, abu vulkanik itu sangat halus, angin sepoi-sepoi saja dapat menerbangkan tumpukan abu di tanah. Abu yang turun di Kota Bandung waktu itu volumenya juga sangat banyak. Tumpukannya di jalan dan halaman barangkali mencapai ketebalan 5 sampai 10 sentimeter. Becak yang meluncur di jalanan saja dapat menerbangkan tumpukan abu tersebut.

Saya lupa apakah keesokan harinya saya pergi ke sekolah atau kami diliburkan. Namun yang jelas selama beberapa pekan kami harus memakai penutup hidung jika bepergian. Saat itu masker yang seperti dipakai pengendara sepeda motor jaman sekarang belum ada, masker rumah sakit juga tidak lazim dijual di apotek, jadi pada saat itu penutup hidung kami adalah saputangan. Kami juga belum dapat bermain-main di pekarangan. Sampai beberapa hari, jarang sekali orang keluar rumah. Jangankan main kucing-kucingan atau sepak bola dengan teman-teman, untuk main ke rumah teman saja rasanya enggan.

Beberapa hari setelah hujan abu tersebut, tiba-tiba saja ayah kami naik ke atap rumah, lantas turun kembali untuk mengambil sekop kecil dan beberapa kantong plastik. Lantas beliau kembali naik ke atap. Sambil mengenakan penutup hidung, beliau sekopi abu yang menempel di genting lalu beliau masukkan ke kantong plastik. Jika kantong-kantong plastiknya sudah penuh, beliau minta bantuan kami untuk membuang abunya.

Demikian beliau lakukan hal itu beberapa hari, di sore hari sepulang kerja (jaman dulu jam kerja hanya sampai pukul 14.00). Setelah tumpukan debu di genting dan jalan air terambil semua, lantas beliau menyirami genting dengan air dari selang. Meskipun saat itu saya bingung mengapa beliau lakukan itu, tapi kami bantu juga. Tetangga juga nampaknya pada bingung. Mungkin mereka fikir kenapa pula tumpukan abu di genting itu harus dibersihkan, bukankah hujan yang akan membersihkannya?

Saya perhatikan, beberapa orang yang melintas di depan rumah kami juga sedikit tersenyum melihat apa yang ayah kami lakukan. Namun karena ayah kami seorang perwira menengah, pastilah mereka tahan-tahan untuk tidak tertawa. Pembantu kami juga bercerita kalau orang-orang sebetulnya pada tertawa menyaksikan apa yang ayah kami lakukan, tapi mereka tidak berani tertawa di dekat rumah kami.

Namun apa yang dilakukan ayah kami berbuah manis ketika hujan turun. Apa yang menjadi keheranan orang-orang akhirnya terjawab ketika turun hujan pertama pasca hujan abu tadi. Setelah hujan berhenti hampir semua tetangga ribut lantaran talang air mereka tersumbat abu. Bahkan ketika hujan sedang turun beberapa dari mereka naik ke atap untuk menusuk-nusuk abu yang menyumbat talang air. Beberapa talang rumah tetangga juga ada yang jebol, bahkan ada yang pinggiran atapnya rusak karena terbebani air yang menggenanginya, akibat talang yang tersumbat.

Saya ingat, setelah hujan itu nenek kami berkata, “Nah kalau dulu orang-orang menertawakan bapak kalian ketika sedang membersihkan atap rumah, sekarang kita tersenyum karena talang rumah kita tidak mampet.” Begitulah kata nenek kami yang bangga dengan menantunya itu.

Posted in Humaniora | Leave a Comment »

Internet Sehat Bikin Hebat, Semoga Bukan Hanya Impian

Posted by djadjasubagdja on October 18, 2010

Kalau anda pengguna salah satu jejaring sosial terpopuler saat ini, tentu masih ingat video singkat berisi sajak yang dibacakan oleh seorang anak kecil yang ‘menyindir’ para orang tua yang kecanduan jejaring sosial tersebut. Dalam beberapa hari, setelah video sajak tersebut diunggah, maka ramailah orang-orang membicarakannya, saling menertawakan kelakuan teman dan diri sendiri. Namun apakah ‘permintaan’ sang anak diindahkan oleh para orang tua? Entahlah, yang jelas jejaring sosial kian sesak dan perangkat pengaksesnya juga kian beragam.

Jejaring sosial berbasis internet seperti Friendster, Facebook, atau Twitter adalah budaya baru warga negara internet (netizen), kamum urban yang tidak gaptek. Jika Friendster lebih banyak dikonsumsi kaum muda, maka Facebook dan Twitter dikonsumsi oleh hampir semua usia dan golongan. Tidak hanya warga biasa, bahkan pejabat dan pesohor pun memanfaatkannya. Bukan hal aneh jika seorang mentri rajin men-twit atau seorang ustadz pandai ‘berdakwah’ di FB.

Sehatkah fenomena ini? Tentu saja relatif. Jika kita ambil contoh pak ustadz atau pak mentri di atas, ya sehat sekali. Jaman dulu, mana ada mentri segaul itu? Jaman dulu, mana ada ustadz secanggih itu? Namun jika kita ambil contoh peristiwa ‘penculikan’ seorang anak gadis oleh teman yang dikenalnya di jejaring sosial, ya berarti tidak sehat juga. Jika kita bisa ‘menemukan’ kawan lama di jejaring sosial, maka hal itu berarti tersambungnya tali silaturahmi. Namun jika yang kita ‘temukan’ adalah pacar lama, maka entah apa yang akan terjadi.

Pendek kata, dampak baik atau buruk dari internet tergantung kepada kita. Sebelum ada media gaul jejaring sosial di internet, media gaul lainnya sudah ada sejak lama. Pesawat 2 meteran atau 11 meteran dan interkom adalah contohnya. Kita semua faham, semua media gaul tersebut memiliki dampak baik dan buruk. Bukan alat atau medianya yang mengakibatkan munculnya kebaikan dan keburukan tersebut, tapi memang manusia (baca: penggunanya) memiliki kedua sisi tersebut.

Kembali kepada internet. Jika segala sesuatu yang kita lakukan dengan memanfaatkan internet itu adalah sesuatu yang sehat maka kebaikan yang mengikutinya. Bahkan, bukan hanya kebaikan, tapi sesuatu yang hebat. internet sehat bikin hebat, itu harapannya. Seperti apa kehebatan itu?

Jika kita tengah mencari tahu mengenai pengetahuan atau informasi kebutuhan hidup, maka akan lebih cepat, mudah, dan murah dengan bantuan internet. Kita tidak perlu melakukan beberapa percakapan telepon untuk mencari tiket pesawat dan penginapan, cukup mencari dan memesannya melalui internet. Demikian pula di saat kita mencari buku, peralatan elektronik, peralatan rumah tangga, atau bahkan melakukan transaksi perbankan seperti pembayaran tagihan listrik, telepon, tv kabel, atau melakukan transfer uang. Semua bisa dilakukan dari rumah atau kantor kita; atau dari tempat kita mudik. Bukankah itu hebat?

Namun demikian, sudah berapa persen masyarakat urban kita memanfaatkan internet? Seberapa banyak masyarakat urban kita yang percaya dengan transaksi keuangan atau pembelian barang melalui internet? Entah ini karena faktor kepercayaan atau faktor budaya, tetapi kaum urban kita masih lebih gemar berbelanja sambil jalan-jalan cuci mata. Bisa dibayangkan, kalau belanja melalui internet sudah membudaya dengan lebih luas, maka akan lebih efisien hidup kita. Bukankah itu hebat?

Namun kehebatan itu dapat diwujudkan jika dan hanya jika internet kita sehat. internet sehat itu artinya jalurnya sangat lebar, tapi cukup ekonomis. internet yang sehat itu artinya yang jalurnya tidak dipenuhi lalu lintas konten yang tidak perlu, seperti pornografi, misalnya. internet yang sehat itu artinya aman dari bahaya penyadapan/pembocoran data dan manipulasi data. internet sehat itu artinya menjangkau seluruh wilayah tanah air kita.

Jika hal-hal tersebut di atas dapat dipenuhi oleh para pemangku kepentingan di ranah perinternetan, maka tidak ada hasil yang akan kita dapatkan kecuali kebaikan dari internet yang bisa membawa kita pada kehebatan. internet yang sehat seperti di atas akan membuat kita menjadi masyarakat yang hebat. Bukan semata karena kita menjadi masyarakat yang melek teknologi. Namun, lebih dari itu, juga melek terhadap hal-hal yang baik dari sisi aturan, moral, dan etika.

Coba anda bayangkan, sebuah struktur internet di sebuah negara yang jalurnya super cepat, handal, dan murah. Namun tidak ada regulasi dan kebijakan yang memayunginya. Saya yakin, jalur internet seperti itu hanya akan menjadi surga bagi para penyedia jasa konten amoral. Struktur internet ini juga akan tergadai pada para kaum licik yang memanfaatkan kelemahan masyarakat.

Kemudian, anda bayangkan lagi, katakanlah jalur super cepat, handal, dan murah tadi telah dipayungi oleh seabreg regulasi dan kebijakan. Namun masyarakatnya adalah masyarakat yang tidak terdidik dengan baik; yang hanya memiliki kecerdasan tanpa keluhuran budi pekerti. Maka dijamin, yang akan terjadi pastilah seperti yang kita saksikan di film Tom & Jerry. Kucing dan tikus saling kejar-kejaran. Artinya penegakan regulasi dan kebijakannya akan selalu dicoba untuk diterobos atau diakali orang-orang berotak tapi miskin moral.

Jadi, yang betul-betul harus dilakukan dalam mentransformasi masyarakat kita menjadi masyarakat berbasis internet (dari brick and mortar community ke click community) adalah mempersiapkan teknologi dan pendidikan yang baik bagi masyarakat. Hal ini penting, karena dalam setiap implementasi sistem informasi berbasis teknologi informasi manapun, selalu ada tiga domain yang terlibat, yakni: teknologi, ekonomi, dan sosial. Jangan merasa siap hanya karena kita telah menguasai teknologi dan memiliki dana yang cukup untuk sebuah pengembangan masyarakat berbasis internet, jika masyarakatnya belum terdidik dengan baik.

Internet, media cetak, radio, atau televisi adalah media. Semua itu hanya alat. Kita adalah panglimanya. Jika kita jaga kesehatannya, maka resultannya adalah sesuatu yang hebat. Sebuah komunitas yang selalu menerima informasi yang baik dan benar. Sebuah komunitas yang selalu saling mengingatkan dengan santun. Sebuah komunitas yang bisa memperpendek jarak dan mengoptimalkan waktu dengan internet. Sehatnya internet ini bisa diwujudkan jika teknologi telah kita kuasai, dana telah tersedia, regulasi telah siap, dan masyarakat telah terdidik dengan baik. Jika sudah demikian, maka ‘internet sehat bikin hebat’ bukan lagi sebuah impian.

Posted in Humaniora, Iptek | Tagged: | Leave a Comment »

Memelihara yang Ada atau Membangun yang Baru?

Posted by djadjasubagdja on September 23, 2010

Dalam menyusun rencana kerja atau rencana bisnis, kita terkadang dihadapkan pada pilihan apakah akan memelihara yang sudah ada atau membangun yang baru. Tentunya akan lebih nyaman jika kita bisa melakukan keduanya, tetapi terkadang keterbatasan sumber daya mengharuskan kita memlilih salah satu diantaranya.

Bagi mereka yang bekerja atau berbisnis di bidang produksi, memelihara yang ada adalah tetap mempertahankan produk lama, tetapi dengan beberapa modifikasi atau revisi/perbaikan. Memebangun yang baru berarti membuat produk baru, melakukan inovasi, atau diversifikasi.

Sementara itu, untuk pekerjaan atau usaha di bidang jasa, memelihara yang ada bisa berupa memelihara hubungan baik dengan klien lama atau memelihara layanan yang ada. Membangun yang baru bisa berarti memprospek calon klien baru atau menciptakan layanan baru.

Membangun yang baru memang merupakan hal yang paling menarik, karena memunculkan suasana atau nuansa baru plus tantangan yang baru. Tidak membosankan. Namun tentunya hal ini memerlukan sumber daya (terutama dana) yang lebih besar ketimbang memelihara yang ada. Namun perlu diingat juga bahwa hal ini tentunya bersifat umum, dalam kondisi khusus terkadang memelihara lebih menyedot sumber daya dibandingkan dengan membangun yang baru.

Sekali lagi, keputusan untuk memelihara yang ada atau membangun yang baru bergantung pada situasi dan keinginan kita. Namun yang ingin saya kemukakan adalah seringkali orang lupa memelihara yang ada. Orang sering hanya terfokus pada hal-hal baru, produk baru, layanan baru , atau klien baru; sementara, yang sudah ada menjadi terlupakan, tidak dipelihara.

Saya pernah mengalami sebuah tantangan yang diberikan pimpinan untuk menciptakan produk-produk baru. Opini yang dimunculkan oleh sang (mantan) pimpinan tersebut adalah bahwa prestasi kita dinilai dari seberapa besar kontribusi penjualan produk baru. Untuk itu kami ditantang untuk terus menciptakan produk-produk baru, bahkan untuk pasar-pasar baru.

Pada akhirnya, saat itu, kami memang bisa memperoleh bahan-bahan untuk membangun produk baru, tapi pada saat yang bersamaan, dengan tidak sengaja saya memperoleh sebuah informasi dari lapangan secara langsung, bahwa sebetulnya mereka menunggu produk-produk lama kami untuk dimunculkan lagi dengan wajah/sentuhan baru. Akhirnya pada saat itu pekerjaan saya fokuskan pada pencarian informasi sejenis di stake holders lainnya. Kemudian saya juga mulai membangun kembali (artinya memelihara) hubungan kerja dengan stake holders lama kami. Hanya sayang, saya tidak se-visi dengan (mantan) pimpinan saya pada waktu itu. Beliau tetap menekankan pada penciptaan produk-produk baru.

Selain pengalaman di atas, saya juga pernah mendapat nasihat berharga dari mantan pimpinan saya yang lain, di perusahaan yang berbeda. Beliau mengatakan bahwa memelihara klien lama itu jauh lebih penting dari pada mencari calon klien baru. “Biayanya lebih murah dan sudah pasti,” demikian beliau sampaikan pada waktu itu.

Kedua pelajaran berharga tersebut masih saya ingat sampai sekarang. Menciptakan produk atau layanan baru adalah sesuatu yang penting, tetapi jangan lupakan yang lama. Kemudian, dalam menciptakan sesuatu yang baru, informasi dari stake holders jangan diabaikan. Mereka adalah aset penting yang loyal dengan produk atau layanan kita.

Saya berbagi pengalaman ini karena saya masih melihat ada orang-orang tertentu yang HANYA berfokus pada penciptaan produk atau layanan baru; sementara yang lama terlupakan. Padahal, sekalipun kita memprioritaskan pada hal-hal baru, yang lama harus tetap dipelihara.

Posted in Humaniora | 2 Comments »

Jas untuk Wisuda

Posted by djadjasubagdja on August 8, 2010

Setelah membaca status teman saya di FB, mengenai bagaimana dia membujuk anaknya untuk segera membuat pe er, saya jadi teringat yang dilakukan orang tua saya untuk menyuruh saya segera menyelesaikan kuliah. Kalau diingat-ingat, terkadang saya suka tertawa sendiri, karena saya baru menyadarinya beberapa tahun setelah itu. Caranya memang cukup halus.

Meskipun setelah saya lulus kuliah S1 masih ada beberapa teman seangkatan yang belum lulus, tapi memang saya perlu waktu lama sekali untuk menyelesaikan kuliah saya. Bahkan dosen pembimbing saya saja sampai lupa kalau saya masih harus menyelesaikan tugas akhir (skripsi) saya. Beliau fikir saya sudah bekerja, padahal draft tugas akhir saya masih tersimpan di laci beliau.

Saya masih ingat, ketika teman-teman sudah banyak yang lulus, saya masih harus mengulang beberapa mata kuliah wajib di dua semester terakhir. Karena bagi saya kuliah-kuliah wajib di dua semester terakhir itu sangat sulit, maka saya putuskan untuk menunda pengerjaan tugas akhir. Alhasil, saya baru kembali menggarap tugas akhir setelah semua kuliah saya selesaikan, bahkan sampai surplus sks untuk mata kuliah pilihan.

Nah, ketika itulah rupanya orang tua saya mulai khawatir, karena batas waktu tujuh setengah tahun sudah di depan mata. Namun, karena mereka juga menyadari bahwa tidak mudah menyelesaikan semua perkuliahan dan tugas akhir, maka mereka melakukannya dengan cara yang halus.

Jadi ceritanya, suatu hari ayah saya memanggil saya dan menyampaikan bahwa beliau ada rejeki lebih dan bermaksud membuatkan saya jas. “Mumpung Bapa ada uang, kamu sama adik kamu Bapa bikinkan jas, ya buat persiapan wisuda, lah,” demikian kira-kira ujar beliau. Betul, selain saya, adik saya juga waktu itu dibikinkan jas, karena memang dia juga sedang menyusun tugas akhir. Saya memang kesalip adik saya.

Akhirnya pergilah kami bertiga, yakni ibu kami adik saya dan saya sendiri ke toko kain langganan kami. Lalu esoknya kami diantar ayah kami ke penjahit untuk diukur. Beberapa hari kemudian jadilah jas kami. Dan seperti yang diharapkan kedua orang tua kami, saya dan adik saya lulus kuliah pada tahun itu.

Kalau saya fikir lebih dalam, saya faham bahwa sudah terlalu lama saya kuliah dan tidak lulus-lulus, dan itulah rupanya cara kedua orang tua saya “menyuruh” saya untuk segera menyelesaikan kuliah. Sungguh, bahkan sampai saat ini saya masih bertanya-tanya apakah saya bisa mencontoh teladan mereka dalam memotivasi anak? Semoga saya bisa sebijak mereka.

Posted in Humaniora | 7 Comments »

Nonton Bola: Adakah Manfaatnya?

Posted by djadjasubagdja on July 5, 2010

Ketika Argentina kalah 0-4 dari Jerman, semenit kemudian saya lihat hampir semua teman yang on-line di Facebook menulis status yang berkaitan dengan hasil pertandingan ini. Beberapa jam sebelumnya, boleh dibilang 60% status teman-teman berisi kata-kata yang mengarah ke sepak bola. Bahkan satu dua orang teman yang tidak hobi menonton sepak bola pun statusnya mengarah ke sepak bola. Teman-teman yang anti_bola pun statusnya juga bernuansa bola, meskipun itu berupa kritikan.

Pendek kata, sebagian besar dari kita cukup rajin menonton pertandingan sepak bola Piala Dunia Afrika Selatan 2010. Apakah ini baik? Apakah ada manfaatnya? Apakah bermanfaat bagi diri kita sendiri? Apakah ada manfaatnya bagi masyarakat atau negara? Entahlah, tapi yang jelas, pertandingan-pertandingan tersebut bisa menghibur yang menontonnya.

Namun demikian, alangkah baiknya jika kita juga menarik manfaat yang lebih banyak dari sekadar menghibur diri dengan tontonan sehat. Coba kita tarik beberapa pelajaran berharga dari sepak bola. Jika kita lakukan, maka akan banyak hal yang bisa kita pelajari, dan kita manfaatkan dalam kehidupan kita sehari hari. Apa saja yang bisa kita tarik manfaat atau kita pelajari dari menonton sepak bola ini?

Ketika Spanyol kalah dari Swiss di babak penyisihan, kita dapat menyaksikan kepiawaian David Villa, Fabregas, atau Torres dalam memainkan bola, tapi selalu saja gagal menyarangkan bola yang digiringnya ke gawang Swiss. Pola serangan Spanyol di pertandingan pertamanya tersebut terasa monoton, dan seolah tidak ada inisiatif mengubah pola serangan, dan akhirnya mereka kalah dari tim nonunggulan. Namun di pertandingan-pertandingan berikutnya, pola serangan Spanyol bertambah baik, dan mampu menundukkan lawan-lawannya.

Tim Spanyol, dengan segudang pemain bintang kelas dunia mestinya tidak kalah di pertandaingan awal. Setidaknya demikian harapan para penggemarnya. Namun kenapa baru terlihat baik di pertandingan-pertandingan berikutnya? Dari sini kita dapat menarik pelajaran berharga bahwa kemenangan tidak bisa diperoleh oleh segerombolan pemain handal tapi miskin strategi. Dalam kehidupan sehari-hari pun sama. Sebuah bisnis tidak akan pernah mencapai visi dan misinya jika perusahaan hanya diisi oleh sekumpulan ahli tapi tanpa strategi dan kepemimpinan yang jelas. Demikian pula dalam sebuah pemerintahan.

Lantas kita juga menyaksikan betapa tragis nasib tim Argentina ketika ditaklukkan Jerman dengan telak. Kalah atau menang dalam pertandingan adalah hal yang wajar, tapi skor 0 – 4 adalah pil yang sangat pahit yang tidak pernah dibayangkan oleh siapapun. Boleh jadi tim Argentina ini mirip tim Spanyol yang juga bertabur bintang kelas dunia, tapi kan Argentina telah menunjukkan performansi yang sangat baik dari sejak pertandingan pertamanya.

Dari fenomena kedua ini kita dapat melihat bahwa mungkin saja tim yang mengandalkan pemain handal bisa memenangi beberapa pertandingan, tetapi tetap akan tumbang manakala menghadapi sebuah tim yang memiliki strategi bermain yang sangat baik. Jerman boleh jadi hanya memiliki Klose dan Podolski, sisanya adalah pemain-pemain muda. Namun pelatihnya, Joachim Loew, benar-benar pelatih, tidak hanya mondar-mandir di pinggir lapangan sembari menebar pesona.

Dari kekalahan Argentina kita bisa menarik pelajaran bahwa sebuah tim yang bertabur bintang tapi kurang mantap dalam strategi sama saja dengan sekumpulan snipper tanpa komandan yang disuruh menyerbu musuh. Argentina seperti bermain tanpa strategi, padahal pelatih mereka adalah seorang mantan bintang lapangan juga. Jadi, belum tentu seorang bintang pasti bisa jadi pelatih yang baik. Dalam kehidupan sehari-hari, belum tentu seorang ahli bisa menjadi seorang manager yang baik.

Satu hal yang selalu mengganggu saya ketika menonton pertandingan sepak bola adalah keputusan wasit yang keliru, setelah kita melihat tayangan-ulang yang diperlambat (slow motion). Mestinya sepak bola memanfaatan teknologi untuk membantu wasit. Hal ini sudah diaplikasikan dalam perwasitan American footbal atau tenis. Dengan demikian keputusan wasit jauh dari kontroversi. Jika hal ini sudah diaplikasikan, barangkali Inggris tidak akan kalah, atau setidaknya kekalahannya akan tipis saja.

Dari hal ini kita dapat mengambil hikmah bahwa teknologi bisa memberi manfaat pada banyak hal, tidak hanya pada tujuan awalnya. Pada awalnya kamera hanya dipakai sebgai alat pembuat film atau acara hiburan, tapi juga ternyata bermanfaat dalam bidang-bidang lainnya seperti dokumentasi, keamanan, dan olah raga. Itu artinya kita harus terus mempelajari teknologi dan mengembangkannya. Kita juga bisa menciptakan manfaat baru dari sebuah teknologi yang telah tercipta, seperti dalam kasus kamera tadi.

Jadi, ada banyak hal yang bisa kita tarik manfaatnya dari menonton sepak bola. Jika kita hanya memanfaatkan sebagai sarana hiburan saja, maka hanya hiburan lah yang kita dapat. Mari kita mengambil manfaat yang banyak dari menonton sepak bola. Jangan malah bertaruh atau kebablasan melupakan hal-hal yang wajib.

Posted in Humaniora | Leave a Comment »