Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Archive for the ‘Iptek’ Category

Tulisan yang mengulas atau bersinggungan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

KM 90-100 Cipularang: Antara Teknis, Supranatural, dan Pengemudi

Posted by djadjasubagdja on September 10, 2011

Sebetulnya, kecelakaan di jalan sering kali terjadi, di manapun di belahan dunia ini. Apa lagi di musim libur. Hal ini tentunya sesuai dengan hukum alam dimana peluang kejadian berbanding lurus dengan peningkatan aktivitas.

Demikian pula halnya dengan kecelakaan lalu lintas di Tol Cipularang di ruas KM 90 – 100, arah dari Bandung ke Jakarta. Frekuensinya meningkat sebanding dengan peningkatan kendaraan yang melaluinya. Sesuai dengan hukum alam, tepatnya ilmu statistik. Ooooops!! Namun, tentunya hal itu bukan pembenaran. Apa lagi korban jiwa relatif cukup banyak.

Seingat saya, dulu pernah ada rekan saya yang menulis panjang lebar mengenai ruas KM 90-100 beberapa hari setelah pembukaan Tol Cipularang. Teman saya ini bekerja di PT Telkom, tinggal di Jakarta, jadi sering melakukan perjalanan ke Kantor Pusat PT Telkom di Bandung. Rekan saya ini juga seorang sarjana fisika, yang mengerti mengenai gaya sentrifugal/sentripetal (terutama yang dialami kendaraan saat melaju di tikungan).

Dalam tulisan teman saya itu, dia menekankan pada hubungan antara sentripetal/sentrifugal yang muncul di kendaraan saat menikung dengan konstruksi jalan di ruas tersebut. Kemudian beberapa pekan setelah dikomersilkan, beberapa bagian Tol Cipularang mengalami longsor alias ambruk. Kemudian media mengkritisi konstruksi jalan tersebut. Struktur jalan dalam hubungannya dengan sentrifugal/sentripetal tadi juga muncul sedikit. Beberapa pakar mengkaitkan disharmoni antara usulan konsultan dan pelaksanaan pengerjaan.

Namun kemudian polemik di atas berhenti seiring dengan perbaikan dan penyempurnaan. Aspal pun mulai dilapiskan di atas badan jalan yang berupa beton. Pengguna merasa lebih nyaman dan puas. Perbincangan mengenai konstruksi jalan tol ini berangsur-angsur hilang di media. Fenomena baru malah muncul, yakni menjamurnya bisnis jasa travel Bandung-Jakarta yang memanfaatkan minibis.

Di Bulan September 2011 ini kembali tol Cipularang menjadi primadona media. Hampir semua media mengkritisi struktur ruas antara KM 90 hingga KM 100 jalan Tol Cipularang. Banyaknya kecelakaan di ruas jalan tersebut menimbulkan asumsi bahwa strukturnya tidak benar. Hal ini kemudian diluruskan oleh pakar dari ITB. Semoga apa yang disampaikannya benar.

Pemberitaan di media cetak dan perbincangan di televisi mengenai ruas ini tetap saja marak. Malah kini mengarah ke hal-hal yang bersifat supranatural. Media menyajikan berita dan artikel yang berkaitan dengan ruas jalan ini dari sisi struktur jalan, kelaikan kendaraan, kecergasan pengemudi, hingga ke penampakan-penampakan yang sering dilihat para pengemudi bis dan travel.

Tiba-tiba saya jadi ingat cerita almarhum sepupu saya yang berprofesi sebagai pengemudi travel. Almarhum bercerita bahwa banyak orang yang meyakini di sekitar ruas jalan tersebut ada hal-hal yang bersifat supranatural. Entah benar atau tidak, tapi katanya ketika jalan tersebut tengah dibangun, penduduk setempat menyarankan diadakan ruwatan di sekitar ruas tersebut. Ruwatan kemudian diselenggarakan dengan pementasan wayang semalam suntuk. Penontonnya hanya sedikit, tapi suasananya sangat “ramai”, katanya. Entahlah.

Namun kita juga tidak boleh mengingkari fakta lainnya dari beberapa kecelakaan maut di ruas jalan tersebut, yakni pengemudi yang mengantuk. Setidaknya dua dari kecelakaan-kecelakaan yang terjadi di ruas tersebut pada saat masa mudik Lebaran, pengemudinya mengaku mengantuk. Fakta lainnya adalah kelebihan penumpang pada beberapa kendaraan yang mengalami kecelakaan (yang disertai korban jiwa).

Bandung dan Jakarta seperti dua kota yang tidak dapat dipisahkan. Sejak jaman Belanda, ramai orang bepergian dari Jakarta ke Bandung dan sebaliknya. Sebelum Tol Cipularang ada, jalur Bandung – Jakarta, baik melalui Puncak maupun melalui Purwakarta, selalu ramai. Mobilitas penduduk di kedua kota ini sangat tinggi. Baik untuk pelesir maupun untuk keperluan pekerjaan atau bisnis.

Hal ini menimbulkan konsekuensi pada tingginya pemakaian sarana jalan Tol Cipularang. Apa lagi di saat akhir pekan atau musim liburan (termasuk musim mudik Lebaran). Apakah penyebab kecelakaan maut itu karena kondisi teknis struktur jalan di ruas tersebut, atau karena ada gangguan supranatural, atau karena ketidaklaikan kendaraan, atau karena kelalaian pengemudi? Tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti. Kalaupun ada, semua bisa dibalikkan dengan fakta lain bahwa: 1. tidak semua kendaraan yang melintas mengalami kecelakaan, 2. tidak semua kendaraan jenis tertentu mengalami kecelakaan, 3. Tidak semua kendaraan yang bermuatan lebih mengalami kecelakaan, dan 4. tidak semua pengemudi ngantuk/lelah mengalami kecelakaan.

Sebagian dari kita mengatakan bahwa itu semua sudah takdir. Itu benar adanya. Namun hal yang sudah pasti adalah bahwa di ruas jalan tersebut banyak dipasang rambu peringatan dan rambu pembatas kecepatan. Kalau kita sering melintas di ruas ini, kita sendiri juga akan merasakan bahwa kita tidak layak untuk memacu kendaraan kita seperti di ruas-ruas lainnya. Jadi, sekarang ini, yang penting adalah peningkatan kewaspadaan dari para pengemudi.

Pengemudi hendaklah menyiapkan kebugaran dan kecergasan diri. Jangan lupa juga mengontrol kondisi kendaraan. Kemudian berhati-hatilah, TERUTAMA ketika melintas di ruas KM 90-100 Tol Cipularang. Patuhi rambu-rambu yang telah disediakan operator tol. Terakhir, jangan lupa berdoa sebelum memulai perjalanan, memohon perlindungan dari hal-hal nyata dan hal-hal ghaib.

Memang nampak hebat ketika hanya menghabiskan 1,5 jam melintasi jalan tol dari Bandung menuju Jakarta atau sebaliknya. Namun jika hal itu beresiko, maka 2 jam atau 2,5 jam juga oke saja, karena yang telah menempuh 1,5 jam pun tidak pernah mendapat medali atau piala di atas podium juara.

Advertisements

Posted in Humaniora, Iptek | Leave a Comment »

Ponselku yang Telanjang

Posted by djadjasubagdja on April 16, 2011

Dari dulu hingga sekarang, ponsel saya selalu telanjang. Artinya saya tidak pernah menyarunginya. Memang sih, setelah dipakai lama ada lecet-lecet, tapi saya tidak kapok-kapok, setiap beli atau dibelikan ponsel baru, tidak pernah saya sarungi.

Kenapa tidak pernah saya sarungi? Pertama, jadi gemuk. Takutnya jadi menyaingi pemiliknya yang memang gemuk. Kedua, saya belum menemukan sarung ponsel yang lebih hi-tech dan lebih mahal dari ponselnya …. hahahaha … bercanda ….. Seriusnya, bagi saya, ponsel itu terlihat lebih cantik dansexy kalau telanjang, tanpa sarung. Ini bukan porno, lho!

Kenapa saya berprinsip demikian? Awalnya sekitar tahun 2000-an, ketika PDA lagi ngetop. Mantan boss saya ketawa abis, menertawakan klien kami yang menyarungi PDA miliknya. “Sama insinyurnya, itu PDA sengaja dibikin setipis mungkin, eh malah dia pake’in pake sarung setebal itu,” kata beliau sambil tertawa. Sejak saat itu, saya lepas sarung ponsel sejuta umat milik saya waktu itu.

Hanya dengan dua alasan itu, hingga kini saya bertahan dengan prinsip ponsel telanjang. Baru tadi pagi saya menemukan alasan ketiga. Seorang teman, Yamin alias Buyung, mengirim artikel pendek di grup BB SMP. Artikel itu menyebutkan bahwa pemakaian sarung malah membuat perangkat jadi panas, sehingga cepat rusak. Apalagi kalau sarungnya memakai magnet, katanya ada pengaruh medan magnet yang membuat perangkat bekerja lebih berat.

Entah benar atau tidak, artikel yang juga mengutip pernyataan seorang karyawan teknik sebuah perusahaan ponsel pintar tersebut, bagi saya cukup logis juga. Apa lagi di artikel tersebut juga ditulis bahwa jika memang sebuah ponsel memerlukan sarung, maka pastilah sarung itu akan disediakan produsen di dalam dus ponsel tersebut. Kenyataannya, sarung ponsel memang dibuat oleh perusahaan lain.

Pastilah ada alasan orang memakaikan sarung pada ponsel kesayangannya. Beda dengan saya yang tidak peduli apakah ponsel saya mau lecet atau tidak, yang penting komunikasi lancar dan tetap gaul. Hal ini barangkali juga merupakan perilaku pengguna. Bagi pengguna, bukan masalah menabrak teknologi, yang penting prinsip ekonomi dia pegang.

Perilaku pengguna yang juga menabrak teknologi (menurut saya) adalah pemakaian lapisan anti-spypada layar ponsel. Layarnya sudah canggih, sehingga gambar/citra di layar bisa dilihat dari depan dan dari samping. Namun kemudian, kelebihan ini malah dirasakan mengganggu privasi pengguna. Maka dipasanglah lapisan anti-spy yang nota bene “meredam” kecanggihan layar generasi terbaru ini.

Ya, itulah perilaku pengguna barang berteknologi tinggi. Bagaimana dengan perilaku pengguna barang sederhana? Coba saja Anda amati sendiri, ada saja orang yang enggan melepas sarung plastik pada kursi kantor yang baru didapatkannya. Panas atuh, juragan! ….. hahahaha ……

Posted in Humaniora, Iptek | 2 Comments »

Internet Sehat Bikin Hebat, Semoga Bukan Hanya Impian

Posted by djadjasubagdja on October 18, 2010

Kalau anda pengguna salah satu jejaring sosial terpopuler saat ini, tentu masih ingat video singkat berisi sajak yang dibacakan oleh seorang anak kecil yang ‘menyindir’ para orang tua yang kecanduan jejaring sosial tersebut. Dalam beberapa hari, setelah video sajak tersebut diunggah, maka ramailah orang-orang membicarakannya, saling menertawakan kelakuan teman dan diri sendiri. Namun apakah ‘permintaan’ sang anak diindahkan oleh para orang tua? Entahlah, yang jelas jejaring sosial kian sesak dan perangkat pengaksesnya juga kian beragam.

Jejaring sosial berbasis internet seperti Friendster, Facebook, atau Twitter adalah budaya baru warga negara internet (netizen), kamum urban yang tidak gaptek. Jika Friendster lebih banyak dikonsumsi kaum muda, maka Facebook dan Twitter dikonsumsi oleh hampir semua usia dan golongan. Tidak hanya warga biasa, bahkan pejabat dan pesohor pun memanfaatkannya. Bukan hal aneh jika seorang mentri rajin men-twit atau seorang ustadz pandai ‘berdakwah’ di FB.

Sehatkah fenomena ini? Tentu saja relatif. Jika kita ambil contoh pak ustadz atau pak mentri di atas, ya sehat sekali. Jaman dulu, mana ada mentri segaul itu? Jaman dulu, mana ada ustadz secanggih itu? Namun jika kita ambil contoh peristiwa ‘penculikan’ seorang anak gadis oleh teman yang dikenalnya di jejaring sosial, ya berarti tidak sehat juga. Jika kita bisa ‘menemukan’ kawan lama di jejaring sosial, maka hal itu berarti tersambungnya tali silaturahmi. Namun jika yang kita ‘temukan’ adalah pacar lama, maka entah apa yang akan terjadi.

Pendek kata, dampak baik atau buruk dari internet tergantung kepada kita. Sebelum ada media gaul jejaring sosial di internet, media gaul lainnya sudah ada sejak lama. Pesawat 2 meteran atau 11 meteran dan interkom adalah contohnya. Kita semua faham, semua media gaul tersebut memiliki dampak baik dan buruk. Bukan alat atau medianya yang mengakibatkan munculnya kebaikan dan keburukan tersebut, tapi memang manusia (baca: penggunanya) memiliki kedua sisi tersebut.

Kembali kepada internet. Jika segala sesuatu yang kita lakukan dengan memanfaatkan internet itu adalah sesuatu yang sehat maka kebaikan yang mengikutinya. Bahkan, bukan hanya kebaikan, tapi sesuatu yang hebat. internet sehat bikin hebat, itu harapannya. Seperti apa kehebatan itu?

Jika kita tengah mencari tahu mengenai pengetahuan atau informasi kebutuhan hidup, maka akan lebih cepat, mudah, dan murah dengan bantuan internet. Kita tidak perlu melakukan beberapa percakapan telepon untuk mencari tiket pesawat dan penginapan, cukup mencari dan memesannya melalui internet. Demikian pula di saat kita mencari buku, peralatan elektronik, peralatan rumah tangga, atau bahkan melakukan transaksi perbankan seperti pembayaran tagihan listrik, telepon, tv kabel, atau melakukan transfer uang. Semua bisa dilakukan dari rumah atau kantor kita; atau dari tempat kita mudik. Bukankah itu hebat?

Namun demikian, sudah berapa persen masyarakat urban kita memanfaatkan internet? Seberapa banyak masyarakat urban kita yang percaya dengan transaksi keuangan atau pembelian barang melalui internet? Entah ini karena faktor kepercayaan atau faktor budaya, tetapi kaum urban kita masih lebih gemar berbelanja sambil jalan-jalan cuci mata. Bisa dibayangkan, kalau belanja melalui internet sudah membudaya dengan lebih luas, maka akan lebih efisien hidup kita. Bukankah itu hebat?

Namun kehebatan itu dapat diwujudkan jika dan hanya jika internet kita sehat. internet sehat itu artinya jalurnya sangat lebar, tapi cukup ekonomis. internet yang sehat itu artinya yang jalurnya tidak dipenuhi lalu lintas konten yang tidak perlu, seperti pornografi, misalnya. internet yang sehat itu artinya aman dari bahaya penyadapan/pembocoran data dan manipulasi data. internet sehat itu artinya menjangkau seluruh wilayah tanah air kita.

Jika hal-hal tersebut di atas dapat dipenuhi oleh para pemangku kepentingan di ranah perinternetan, maka tidak ada hasil yang akan kita dapatkan kecuali kebaikan dari internet yang bisa membawa kita pada kehebatan. internet yang sehat seperti di atas akan membuat kita menjadi masyarakat yang hebat. Bukan semata karena kita menjadi masyarakat yang melek teknologi. Namun, lebih dari itu, juga melek terhadap hal-hal yang baik dari sisi aturan, moral, dan etika.

Coba anda bayangkan, sebuah struktur internet di sebuah negara yang jalurnya super cepat, handal, dan murah. Namun tidak ada regulasi dan kebijakan yang memayunginya. Saya yakin, jalur internet seperti itu hanya akan menjadi surga bagi para penyedia jasa konten amoral. Struktur internet ini juga akan tergadai pada para kaum licik yang memanfaatkan kelemahan masyarakat.

Kemudian, anda bayangkan lagi, katakanlah jalur super cepat, handal, dan murah tadi telah dipayungi oleh seabreg regulasi dan kebijakan. Namun masyarakatnya adalah masyarakat yang tidak terdidik dengan baik; yang hanya memiliki kecerdasan tanpa keluhuran budi pekerti. Maka dijamin, yang akan terjadi pastilah seperti yang kita saksikan di film Tom & Jerry. Kucing dan tikus saling kejar-kejaran. Artinya penegakan regulasi dan kebijakannya akan selalu dicoba untuk diterobos atau diakali orang-orang berotak tapi miskin moral.

Jadi, yang betul-betul harus dilakukan dalam mentransformasi masyarakat kita menjadi masyarakat berbasis internet (dari brick and mortar community ke click community) adalah mempersiapkan teknologi dan pendidikan yang baik bagi masyarakat. Hal ini penting, karena dalam setiap implementasi sistem informasi berbasis teknologi informasi manapun, selalu ada tiga domain yang terlibat, yakni: teknologi, ekonomi, dan sosial. Jangan merasa siap hanya karena kita telah menguasai teknologi dan memiliki dana yang cukup untuk sebuah pengembangan masyarakat berbasis internet, jika masyarakatnya belum terdidik dengan baik.

Internet, media cetak, radio, atau televisi adalah media. Semua itu hanya alat. Kita adalah panglimanya. Jika kita jaga kesehatannya, maka resultannya adalah sesuatu yang hebat. Sebuah komunitas yang selalu menerima informasi yang baik dan benar. Sebuah komunitas yang selalu saling mengingatkan dengan santun. Sebuah komunitas yang bisa memperpendek jarak dan mengoptimalkan waktu dengan internet. Sehatnya internet ini bisa diwujudkan jika teknologi telah kita kuasai, dana telah tersedia, regulasi telah siap, dan masyarakat telah terdidik dengan baik. Jika sudah demikian, maka ‘internet sehat bikin hebat’ bukan lagi sebuah impian.

Posted in Humaniora, Iptek | Tagged: | Leave a Comment »

Si Pendiri Blackberry Peduli dengan Penelitian Fisika Teori, Lantas Bagaimana dengan Negara?

Posted by djadjasubagdja on December 27, 2009

Sahabat saya, Arvino Mudjiarto, penah menuliskan sebuah kutipan menarik di statusnya di Facebook. Kutipan yang diambil dari pernyataan Mike Lazaridis (pendiri, pemilik dan penemu Blackberry) itu berbunyi, “If you look back through history, every industrial revolution has come from a breakthrough in theoretical physics”. Terjemahan bebas dari kutipan tersebut kurang lebihnya adalah: “Jika Anda melihat ke masa lalu, setiap revolusi industri berawal dari tindak lanjut fisika teoritis.”

Tentu saja status Arvino di atas membuat jari-jari saya otomatis menekan tombol-tombol papan ketik komputer, mengomentarinya. “Sayangnya banyak orang di negara berkembang tidak menyadari hal ini; tidak heran kalau kebanyakan negara berkembang sulit mengejar ketertinggalan dalam mengembangakan teknologinya, karena tidak melibatkan ilmu-ilmu dasar,” kurang lebih seperti itulah komentar saya.

Seorang Arvino memang tidak pernah kekurangan informasi. Dikomentari seperti itu langsung saja besoknya dia balas komentar saya tadi dengan menuliskan bahwa Akio Morita (pendiri Sony) dan Steve Jobs (pendiri Apple) adalah satu dari sekian fisikawan yang akhirnya bisa memberikan kontribusi pada kemajuan teknologi. Selain itu, tulis Arvino, Tim Berners Lee, menemukan “http” ketika bekerja di CERN, Laboratorium Fisika Partikel Eropa.

Lebih lanjut Arvino menuliskan bahwa Mike Lazaridis, si pendiri dan pemilik Blackberry & RIM, dengan keyakinan bahwa teknologi yang kita nikmati sekarang adalah buah dari penemuan-penemuan di bidang fisika, mendirikan lembaga penelitian nirlaba yang dinamai Perimeter Institute for Theoretical Physics (PI) di tahun 1999. Tidak tanggung-tanggung, dana senilai 20 juta dollar Amerika dia hibahkan untuk lembaga penelitian tersebut.

Masih belum cukup, bahkan di kemudian hari Mike Lazaridis bersama Jim Balsillie (pendiri dan pemilik Blackberry lainnya) mendermakan 80 juta dollar Amerika. Bersamaan dengan itu Dough Fregin juga menghibahkan dana senilai 20 juta dollar Amerika. Tidak kurang dari itu, sebuah yayasan dari Kanada, Canada Foundation for Innovation, juga tertarik untuk menghibahkan dana senilai 40 juta dollar Amerika untuk Perimeter Institute for Theoritical Physics ini.

Sungguh demikian besar perhatian orang-orang yang telah meraup kesuksesan dari kemajuan teknologi ini kepada penelitian di bidang ilmu fisika teori. Mereka seolah melupakan kenyataan bahwa penelitian fisika teoritis itu belum tentu membawa keuntungan terhadap bisnis yang tengah mereka geluti sekarang ini. Mereka melakukan itu semata karena keyakinan bahwa penelitian-penelitian ilmu-ilmu dasar, dalam hal ini fisika teoritis, akan membawa dampak pada kemajuan teknologi, yang tentunya akan diikuti dengan kemajuan peradaban dan perekonomian.

Jika kita melihat ke masa lampau, mekanisme dari kemajuan teknologi selalu diawali dengan penemuan-penemuan teori di bidang ilmu-ilmu dasar (fisika, kimia, biologi, matematika). Tidak mungkin orang berani membuat kapal laut dari logam jika tidak ada hukum fisika yang menghubungkan antara massa (berat) benda dengan volumenya. Perangkat ronsen modern sekarang adalah tindak lanjut para insinyur dan ahli medis atas penemuan sinar X oleh Wilhelm Condrad Roentgen. Demikian pula pemindai tubuh MRI, yang merupakan buah dari penelitian arah spin atomik.

Sebagai informasi, Roentgen tidak pernah melakukan penelitian atas berkas Sinar X tadi untuk keperluan pemindaian tubuh manusia (ronsen) atau deteksi bagasi di bandara. Roentgen, pada saat itu, semata-mata melakukan penelitian fisika untuk keperluan pengungkapan fenomena-fenomena fisika modern untuk kemajuan ilmu fisika itu sendiri. Jika kemudian para insinyur dan ahli medis memanfaatkan penemuan Roentgen ini untuk kesehatan dan keperluan lainnya, itulah berkah sebuah penemuan dalam bidang ilmu dasar bagi kemanusiaan.

Demikian pula ketika Dalton atau Bohr (dan juga para fisikawan lainnya seperti Pauli, Schroedinger, de Broglie, Einstein, suami-istri Curie, Heissenberg, Planck, Davisson, Germer, dan masih banyak lagi) melakukan penelitan mengenai atom, mereka melakukannya semata demi terkuaknya misteri alam mikro, yakni atom. Ketika kemudian pengetahuan mengenai atom ini berkembang dan kemudian diketahui bahwa di dalam atom itu ada partikel yang kemudian dinamai elektron, maka pastinya para fisikawan ini akan menitikkan air mata jika mereka mengetahui bahwa buah dari penelitian mereka telah menjadi fondasi bagi teknologi elektronika yang menandai kemajuan peradaban di abad ke-20.

Itulah kesaktian fisika teori yang juga pasti dimiliki oleh ilmu dasar lainnya, yakni kimia, biologi dan matematika. Kesaktian yang sama juga pasti dimiliki oleh ilmu-ilmu dasar di bidang sosial dan humaniora seperti ilmu ekonomi (murni), sosiologi, dan filsafat. Hanya sayang, kebanyakan Negara berkembang tidak menyisihkan dana pembangunannya untuk kegiatan penelitan ilmu-ilmu dasar. Kalaupun ada, jumlahnya sangat terbatas.

Pemerintah di Negara berkembang, kalaupun cukup memiliki perhatian pada penelitian, biasanya memprioritaskan pada penelitian teknologi, atau tepatnya pada apa yang disebut sebagai teknologi tepat guna. Jika hanya hal ini yang diprioritaskan, maka bersiap-siaplah untuk terus berlari mengejar ketertinggalan teknologi dan peradaban hingga terengah-engah dan lalu kehabisan tenaga.

Kembali pada apa yang dilakukan Mike Lazaridis pada lembaga penelitian nirlaba Perimeter Institute for Theoretical Physics. Belum tentu dia mendapatkan keuntungan dari lembaga tersebut. Barangkali orang lain di Negara lain yang akan mendapat berkah dari penelitan-penelitian yang dilakukan para fisikawan di lembaga tersebut. Namun tentunya bukan itu yang difikirkan oleh Mike Lazaridis. Dia melakukan itu karena kenyataan menunjukkan bahwa penelitian ilmu dasar akan membawa kemajuan pada perkembangan teknologi dan peradaban manusia serta kemanusiaan.

Posted in Humaniora, Iptek | 7 Comments »

Instruksi Pak Guru di FB

Posted by djadjasubagdja on December 30, 2008

Teman sekolah saya, Sonny Sam, yang sekarang menjadi guru di sebuah SMA Negeri di Bandung (yang juga kebetulan adalah almamater kami), menuliskan petunjuk bagi murid-muridnya di Facebook. Petunjuk itu menginstruksikan agar murid-muridnya membaca tulisannya tentang info Ujian Masuk UGM yang ada di Note yang dia tulis di Facebook. Terus terang, baru pertama kali ini saya melihat pemanfaatan sebuah situs komunitas gratisan untuk keperluan pendidikan formal. Apa yang dilakukan Sonny ini sungguh inovatif, pasti sangat sedikit orang yang berfikir bahwa sebuah situs komunitas seperti Facebook bisa dimanfaatkan sebagai penunjang pendidikan formal.

Di Amerika Serikat, sekitar tahun 90-an, ketika teknologi informasi mulai dipakai sebagai sarana penunjang pendidikan, ada dua hal utama yang dimanfaatkan dosen dan mahasiswa, yakni pencarian informasi di web dan pengumpulan tugas ke e-mail sang dosen. Dalam perkembangannya, di dalam negri, sekitar tahun 2000-an, banyak implementer, yang sedang mengimplementasikan sistem berbasis IT di tempat client, memanfaatkan YM (Yahoo! Messenger) untuk berkomunikasi dengan para programmer di kantor. Sekarang ini, banyak kantor yang memanfaatkan Skype untuk melakukan pembicaraan jarak jauh antar karyawannya.

Jika kita cermati dari fenomena di atas, sungguh, kemajuan teknologi informasi telah membuat kita dapat melakukan banyak hal dengan cerdas dan murah. Ya, cerdas, karena memanfaatkan teknologi tinggi dengan cara kita sendiri. Murah, karena semua aplikasi yang saya sebutkan di atas harganya nol, alias gratis. Satu-satunya biaya yang harus dikeluarkan adalah biaya koneksi internet yang kian hari kian murah.

Kembali pada instruksi Sonny Sam di Facebook yang dia tujukan untuk murid-muridnya. Tentunya ada pertimbangan-pertimbangan lain yang telah difikirkannya selain kenyataan bahwa yang bersangkutan adalah pengguna aktif situs ini. Pada saat ini situs-situs komunitas semacam Facebook sedang menjadi trend di kalangan pelajar, mahasiswa, karyawan, pengusaha, bahkan ibu rumah tangga. Pastinya, hal ini pula yang menjadi pemikiran Sonny mengapa instruksinya dilakukan melalui Facebook. Lebih dari itu, meski saat ini musim libur, para murid tetap bisa membaca petunjuk pak Sonny. Hebat euy!

Posted in Iptek, Pendidikan | Leave a Comment »

Manusia Modern

Posted by djadjasubagdja on December 17, 2008

Pernah salah seorang paman saya, seorang purnawirawan perwira menengah TNI-AL, berkata bahwa sebetulnya menjadi manusia modern itu bukan berarti karena memiliki peralatan modern yang serba canggih. Waktu itu beliau contohkan kalau kita sudah memiliki sebuah jam tangan digital (waktu itu sekitar tahun 80-an), bukan berarti kita telah menjadi manusia modern. Menurut beliau, manusia modern adalah manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan yang dikuasai oleh ilmu pengetahuan atau teknologi.

 

Pada waktu itu, saya menafsirkan pernyataan beliau sebagai sebuah nasehat bahwa saya harus tekun mempelajari iptek, jangan hanya menjadi pengguna saja. Dalam perjalanan hidup saya, sering sekali saya teringat apa yang beliau katakan tersebut. Terus terang, seiring dengan bertambahnya pengalaman hidup, kadang saya yakin sekali dengan apa yang beliau katakan, tapi terkadang juga tidak yakin bahwa hal itu benar 100%.

Kadang saya berfikir, kalau misalnya si A adalah seorang ahli ekonomi, apa dia juga harus memahami teknologi digital? Bukankah dengan menguasai salah satu ilmu pengetahuan atau teknologi saja sudah bisa dikatakan sebagai manusia modern? Demikianlah, seiring dengan bertambahnya pengalaman hidup, penafsiran atas apa yang dikatakan sang Paman tadi selalu berubah atau bertambah.

 

Malam ini tiba-tiba saya teringat kembali akan perkataan paman saya tadi. Pasalnya hanya karena ada seseorang yang akan bepergian ke luar negri, di mana di negri tersebut tegangan listriknya tidak sama dengan tegangan listrik kita. Orang ini seperti kebakaran jenggot meminta tolong anak buahnya mencarikan charger ponsel yang tegangan/voltase-nya sama dengan tegangan listrik di negri yang akan dia kunjungi.

 

Saya yang kebetulan kenal dengan si anak buah orang tadi, lantas berkomentar, “Dia pasti tidak pernah baca tulisan di charger ponselnya.” Si anak buah hanya tersenyum saja sambil menimpali komentar saya itu, “Iya ya kang, padahal kan jelas ada tulisan di charger-nya , INPUT: 110 – 240 V, ya mau dicolokin di sini atau di amrik juga pasti gak masalah itu.” Memang betul, tidak akan ada masalah, tinggal membawa kombinasi fitting saja karena lubang stop kontak di sana beda dengan di kita. Seandainya saja dia membaca tulisan di peralatan modern yang dimilikinya, dia tidak akan kebingungan! Dia manusia modern atau bukan ya?

Posted in Humaniora, Iptek | Leave a Comment »

Jangan Lupakan Media Sederhana

Posted by djadjasubagdja on November 27, 2008

Dengan sangat menyesal kami sampaikan bahwa sehubungan dengan keterbatasan dana dan kurangnya sponsor yang kami dapatkan, kami tidak dapat lagi melanjutkan layanan kami di Facebook. Kami percaya situs ini telah menjadi andalan bagi Anda dalam membina pertemanan dan anda telah merasakan manfaat yang nyata selama ini. Namun, bagaimanapun, terpaksa situs ini kami tutup dengan alasan tersebut di atas. Terima kasih Anda telah bersama kami selama ini dan kami benar-benar menyesal dengan ketidaknyamanan ini. Salam kami, Tim Facebook.
Coba anda bayangkan, bagaimana bila suatu hari, ketika anda membuka situs Facebook dan menemukan pengumuman seperti tersebut di atas? Tentu saja kita semua akan terkejut dan sekaligus kebingungan. Ya, bagaimana tidak kebingungan, karena selama ini kita mengandalkan Facebook juga sebagai tempat parkir data teman-teman kita. Kita dengan mudahnya menginformasikan sesuatu untuk teman atau grup kita melalui Facebook. Kita juga dengan mudahnya mendapatkan informasi tentang teman dan grup kita dari Facebook.

Secara tidak sadar, kita telah menganggap Facebook sebagai dunia nyata kita. Di sana ada home teman-teman kita, dan kita anggap itu benar-benar sebagai rumah teman kita. Tidak hanya data di Facebook. Begitupun dengan alamat imel (e-mail address) teman-teman kita. Itupun, secara tidak sadar, kita anggap sebagai alamat teman kita. Coba bayangkan kalau Facebook, Friendster, Blogspot, WordPress, Yahoo-mail, g-mail, hotmail, atau layanan imel dan pertemanan gratis lainnya tutup?

Ya, benar jawaban anda. Kan masih ada nomor ponsel mereka di ponsel kita. Oke lah, itu memang benar. Namun siapa yang menjamin bahwa ponsel kita tidak rusak. Siapa yang menjamin sim-card kita tidak rusak? Katakanlah kita memanfaatkan bank data di operator seluler kita, tapi siapa yang menjamin data nomor ponsel di operator pasti ada? Ingat ketika jaman krisis tahun 1998. Bahkan bank milik negara pun bisa tutup. Semua bisa terjadi.

Katakanlah anda simpan semua alamat imel teman anda, apakah itu di Outlook, di Lotus_Notes, di Lotus_Domino, di mail_server, di e-mail berbasis web (seperti yahoo_mail, gmail, atau hotmail). Pertanyaannya adalah, siapa yang menjamin itu semua tidak akan langgeng? Katakanlah ada back-up. Namun juga, bagaimana kalau back-up-nya juga rusak? Kalau sampai ini terjadi, ini memang boleh dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Namun ingat, yang luar biasa itu BISA terjadi!

Jika terjadi hal yang demikian. Apa yang bisa kita lakukan? Katakanlah terjadi gangguan jaringan internet (ini pernah terjadi saat ISP tidak bisa terhubung ke backbone selama beberapa hari), sehingga kita tidak bisa mengirim imel ke gmail atau hotmail seorang teman. Nomor ponselnya juga hilang lantaran ponsel kita dimasukkan ke bak mandi oleh di kecil. Apa yang akan kita lakukan jika kita harus segera menghubungi seorang teman atau kenalan, sementara kita tidak tahu alamat rumahnya? Padahal kita perlu segera menghubungi dia untuk sebuah urusan penting.

Hal itu bisa kita hindari jika kita memiliki back up data. Pertanyaan selanjutnya adalah media apa yang cukup andal untuk mem-back-up data penting kita seperti nomor ponsel, alamat, dan alamat imel? Jawabnya adalah buku alamat. Sederhana tapi jarang ngadat. Bisa dipakai tanpa perlu di-charge terlebih dahulu, yang penting jangan sampai ketumpahan kopi atau hilang. Jadi, mulailah memasukkan e-mail dan nomor teman di sebuah buku alamat. Seperti yang dilakukan orang tua kita.

Dulu, ketika jaman kuliah, saya memakai software Chiwriter untuk menulis skripsi (1994). Sekarang ini, Chiwriter sudah tidak ada lagi. Otomatis file skripsi saya tidak bisa dibuka. Ketika menulis thesis (2001), saya simpan file-nya di harddisk dan CD. Ketika komputer saya rusak dan CD thesis saya hilang entah kemana, saya tidak lagi memiliki file thesis saya. Namun saya masih memiliki hard-copy keduanya, baik skripsi maupun thesis, yang terjilid rapi. Kalau sampai hardcopy-nya juga hilang, skripsi saya masih ada di Perpus ITB, sementara thesis saya masih ada di Perpus UI. Bahkan mungkin ada di Perpus LIPI. Itulah gunanya back-up manual.

Back-up merupakan hal penting dalam dunia teknologi informasi dan komunikasi. Sebuah bank swasta nasional yang sangat terkenal konon katanya memiliki back-up data berlapis. Komputer di pusat datanya dilengkapi perangkat back-up data khusus yang kehandalannya sudah diakui dunia. Lebih dari itu, bank tersebut juga memiliki back-up and recovery center di beberapa tempat, seperti di daerah Cilangkap dan Karawaci. Itu yang mereka publikasikan. Barangkali juga mereka memiliki back-up and recovery center di tempat lain yang mereka rahasiakan. Dan pasti, mereka selalu melakukan pencetakan (menge-print) data transaksi untuk diarsip.

Hingga saat ini sistem back-up data yang dimiliki sistem-sistem data berbasis teknologi informasi sudah sangat canggih. Apa lagi untuk yang sifatnya transaksional dan menyajikan pelayanan real-time on-line. Dalam teknologi back-up and recovery-nya mereka pasti telah menerapkan teknologi mirroring terbaru. Namun demikian, sangat bijak juga jika tetap melakukan back-up manual, yakni menuliskan atau mencetaknya di atas kertas, si media sederhana tapi cukup andal.

Posted in Iptek | 2 Comments »

Tak Lelah Hardware Mengejar Software

Posted by djadjasubagdja on November 23, 2008

Saya masih ingat ketika komputer pertama saya rusak. “Memorinya rusak satu,” kata si teknisi menjelaskan tentang kerusakannya. Awalnya saya tidak begitu mengerti dengan yang dimaksud si teknisi, tapi setelah dia membuka casing komputernya dan memperlihatkan 8 buah komponen elektronik yang berderet rapi sambil mencabut salah satunya (yang rusak), akhirnya saya mengerti.

Memang, dari kuliah Pengenalan Komputer saya tahu kalau di dalam sebuah komputer itu ada yang namanya memori yang tidak kalah penting dari mikroprosesornya. Namun seperti apa wujud fisik memori, baru kali itulah saya melihatnya. Komputer saya yang pertama itu hadiah dari orang tua saya karena saya bisa diterima kuliah di perguruan tinggi negri yang biaya kuliahnya pada saat itu (tahun 1986) jauh lebih rendah dibandingkan kalau saya kuliah di swasta.

Saya belum lupa dengan komputer pertama saya itu, sebuah komputer rakitan tipe PC XT dengan mikroprosesor Intel 8088 (saudara tua Intel Pentium) yang kompatibel dengan IBM PC XT 8086 yang ada di laboratorium komputer TPB ITB, yang dipakai untuk latihan para mahasiswa tahun pertama. Saat itu komputer belum diajarkan di sekolah, bahkan belum semua perguruan tinggi mengajarkan pengenalan komputer. Pemilik komputer pun masih jarang, karena harganya masih mahal pada saat itu. Seingat saya, harga komputer pertama saya tadi sekitar 1,2 juta rupiah, tidak jauh dari harga sebuah sepeda motor bebek buatan Jepang waktu itu. Penggunaan komputer juga masih terbatas untuk keperluan pendidikan.

Meskipun harganya terbilang mahal, tapi kemampuannya jauh lebih rendah dari komputer pribadi (personal computer = PC) yang ada saat ini. Memorinya 64 kB (64 ribu bytes), kecepatan (clock speed) mikroprosesornya kurang dari 1 MHz (1 juta hertz). Coba bandingkan dengan PC sekarang yang rata-rata memiliki memori di atas 512 MB (512 juta bytes) dengan kecepatan prosesor 1 GHz (1 milyar hertz). Dari sisi kecepatan mikroprosesor dan kecepatan, PC sekarang sudah seribu kali lebih cepat dan memiliki kapasitas memori seribu kalinya. Sementara itu, harganya hanya sepertiga harga sebuah sepeda motor bebek buatan Jepang saat ini.

PC yang sekarang saya pakai untuk bekerja, spesifikasinya lebih tinggi dari yang saya sebutkan di atas. Memorinya 2 GB (2 milyar bytes) dan kecepatan mikroprosesor gandanya masing-masing 1,4 GHz (1,4 milyar hertz). Saat ini, PC dengan spesifikasi setinggi itulah yang banyak dipakai orang-orang. Kalau di jaman dulu, komputer dengan spresifikasi ini mungkin hanya ada di pusat-pusat penelitian atau perusahaan besar, dan tidak dijadikan komputer pribadi (PC), melainkan sebuah server (komputer induk).

Kecepatan mikroprosesor dan kapasitas memori PC jaman sekarang yang telah menjadi seribu atau bahkan dua ribu kali dibandingkan PC di tahun 80-an ini tidak lepas dari tuntutan kebutuhan. Menurut saya, PC tahun 80-an (seperti komputer pertama saya tadi) juga tidak bisa dibilang lambat saat kita mengeksekusi dan menggunakan perangkat lunak (software) yang ada saat itu. Hanya saja, perangkat lunak berkembang menjadi lebih tinggi resolusi grafisnya dan meningkat kemampuannya. Hal ini menuntut peningkatan kinerja perangkat keras (hardware), dalam hal ini terutama kecepatan mikroprosesor dan kapasitas memori yang lebih tinggi.

Di tahun 80-an, PC beroperasi dengan sistem operasi IBM DOS atau Microsoft DOS. Seingat saya, DOS yang pernah populer di negara kita adalah DOS versi 3.3 hingga DOS versi 6. Setelah itu, Microsoft mengganti DOS dengan Windows di penghujung tahun 80-an. Windows yang cukup memasyarakat di awal tahun 90-an adalah Windows 3.1 for Workgroups, di mana saat itu juga jaringan komputer dan internet sudah mulai memasyarakat. Boleh jadi, Windows inilah yang membuat Microsoft tambah meraksasa. Tampilannya yang sangat grafis (graphical user interface = GUI) menjadikan komputer mudah dioperasikan oleh hampir semua orang, lebih user friendly.

Kemunculan Windows ini juga diiringi oleh munculnya perangkat-perangkat lunak yang lebih user friendly. Di jaman DOS, perangkat lunak pengolah kata yang banyak dipakai adalah Wordstar, ChiWriter, dan WordPerfect. Untuk bisa mengoperasikan perangkat-perangkat lunak ini terkadang diperlukan sebuah kursus, karena menu-menu dan fungsinya tidak user friendly sebagaimana menu dan fungsi-fungsi yang terdapat di pengolah kata yang banyak dipakai orang saat ini, yaitu Microsoft Word. Demikian pula dengan perangkat lunak sel elektronik seperti Multiplan, Supercalk, atau Lotus-123 versi lama. Pengoperasiannya tidak semudah Microsoft Excell.

Namun tentunya kemudahan pengoperasian perangkat-perangkat lunak masa kini plus pilihan jenis huruf, format, tampilan, dan desainnya bukan tanpa syarat. Semua itu menuntut kecepatan dan memori yang lebih tinggi. Ketika kecepatan dan memori dapat menjawab tantangan ini, perangkat-perangkat lunak terus berkembang memenuhi kebutuhan pengguna untuk lebih user friendly lagi, dan konsekuensinya kembali menuntut kecepatan dan memori yang lebih tinggi dari sisi perangkat kerasnya.

Perkembangan perangkat lunak inilah yang memicu peningkatan kecepatan mikroprosesor dan kapasitas memori komputer. Ketika muncul versi terbaru dari sebuah perangkat lunak, maka sebuah komputer yang awalnya dirasakan sudah cukup handal, akan terasa sangat lambat dan bahkan mungkin menjadikan komputer kita hang. Produsen mikroprosesor kemudian meningkatkan produk barunya yang lebih cepat dan lebih tahan panas. Produsen komputer kemudian meluncurkan produk baru yang telah memakai mikroprosesor terbaru tadi dan juga meningkatkan kapasitas memorinya. Kemudian, seperti sebuah lomba tanpa garis finish, produsen perangkat lunak menyempurnakan produknya yang biasanya diiringi dengan kebutuhan akan kecepatan dan memori yang lebih. Entah kapan lomba ini akan berakhir.

Posted in Iptek | 2 Comments »

Menghemat APBN Senilai 60 T Lewat Pengadaan On-line: Apa Saja yang Harus Diperhatikan?

Posted by djadjasubagdja on November 4, 2008

Berita utama Kompas 1 November 2008 boleh jadi merupakan hiburan di tengah berita-berita utama surat kabar beberapa hari belakangan ini yang mengupas krisis global. Kali ini, berita utamanya bukan mengenai anjloknya indeks harga saham gabungan di pasar-pasar modal kelas dunia. Berita ini juga menghapus kegalauan kita atas berita-berita seputar penyelewengan dana-dana pembangunan.

Judul berita utama itu adalah “APBN Bisa Dihemat Rp 60 Triliun”. Wow, fantastis! Memang sih baru perkiraan, tapi bukan berarti tidak akan terlaksana, karena set awalnya telah dilakukan Depkeu. Dalam berita itu disebutkan bahwa Depkeu melakukan pengadaan perangkat komputer dan jaringan dengan sistem on-line, dan penghematan yang dicapai di proyek pengadaan tersebut mencapai 18%. Dengan fakta itu, perkiraan potensi dana APBN yang bisa dihemat bisa mencapai 60 triliun rupiah, jika semua proyek pengadaan memakai sistem on-line.

Di dalam berita itu juga disebutkan bahwa penghematan yang cukup signifikan itu bisa dicapai jika semua departemen dan lembaga pemerintahan nondepartemen mengikuti sistem on-line ini. Sedihnya, berita itu juga menyebutkan bahwa komitmen departemen dan lembaga nondepartemen untuk mengaplikasikan sistem pengadaan on-line ini masih rendah. Capek deh!

Pemerintahan kita saat ini, dari segi teknologi informasi, sebenarnya tidak ketinggalan jaman. Secara struktural kita memiliki Depkominfo, yang juga bertugas mengurusi segala hal yang berhubungan dengan sistem informasi berbasis teknologi informasi di lingkungan pemerintahan. Lebih dari itu, jika kita menjelajah internet, dengan mudah kita dapat mengakses sejumlah situs instansi-instansi pemerintah, baik pempus maupun pemda. Buku elektronik pun sudah ada. Itu artinya, jika dilihat dari ketersediaan perangkat keras dan jaringan, lembaga-lembaga pemerintah sudah siap melaksanakan pengadaan barang secara on-line.

Namun, seperti disebutkan dalam berita di atas, mengapa instansi-instansi di lingkungan pemerintah kurang berkomitmen untuk melaksanakan sistem on-line ini? Barangkali, instansi-instansi tersebut memiliki pengalaman buruk dengan implementasi teknologi informasi di kantornya. Penggunaan teknologi informasi yang dulu dikenal sebagai otomatisasi atau komputerisasi memang tidak selalu hadir sebagai solusi. Alih-alih diproyeksikan akan mengeliminasi masalah, malah menimbulkan masalah baru, sementara masalah lama juga tidak hilang. Ujung-ujungnya, kembali ke cara lama, manual. Ini teknologinya yang salah atau kitanya yang tidak siap?

Barangkali keduanya benar. Dalam mengembangkan sistem berbasis teknologi informasi, seperti sistem pengadaan on-line di atas, ada tiga faktor yang harus diperhatikan oleh semua fihak yang terlibat. Ketiga faktor itu adalah: aspek teknologi, aspek ekonomi, dan aspek sosial. Dalam ilmu komputer, aspek yang kedua dikenal sebagai Information Economics.

Faktor pertama, aspek teknologi, sudah jelas bagi kita semua. Artinya, saat ini begitu banyak tersedia sumber daya yang menguasai teknologi informasi. Kemudian, teknologinya itu sendiri sudah cukup handal. Dengan sistem keamanan yang ditangani secara serius, teknologi informasi sudah dapat menangani sejumlah data raksasa dengan sangat cepat dan tidak menyulitkan pengguna. Dunia perbankan nasional telah lama memanfaatkan teknologi informasi untuk transaksi-transaksi dengan nasabah dan antarbank. Jaringan ATM dan kartu debet merupakan fakta, bahwa teknologi informasi cukup handal.

Faktor selanjutnya, yakni aspek ekonomi, juga perlu diperhatikan. Ini kerena pengembangan sistem berbasis teknologi informasi melibatkan dana investasi dan dana operasional yang nilainya tidak kecil. Analisis biaya dan keuntungan total (total cost benefit analysis = TCBA) perlu dilakukan dengan memperhatikan juga keuntungan-keuntungan intangible-nya, selain yang tangible-nya.

Dalam contoh kasus pengadaan barang secara on-line di atas, penghematan senilai 60 triliun rupiah merupakan keuntungan tangible-nya. Selian itu, keuntungan intangible, yang meliputi nilai-nilai lain seperti value of restructuring (VR), value linking (VL), dan value of acceleration (VA) juga perlu dihitung. Baru setelah itu dilakukan TCBA-nya, dengan memperhitungkan juga discounted cash flow (DCF) -nya.

Faktor yang terakhir, aspek sosial, merupakan aspek yang sering dilupakan pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan sebuah sistem berbasis teknologi informasi. Kebanyakan pemilik/penanggung jawab sistem tidak memperhatikan hal ini. Pengembang juga terkadang lupa melibatkan hal ini saat melakukan perencanaan.

Dalam mengembangkan sebuah sistem yang berbasis teknologi informasi, pengembang biasanya mencatat rapi tujuan pengembangan sistem dan segala keinginan pemilik/penanggung jawab sistem. Pengembang juga selalu mengadakan rapat-rapat intensif dengan jajaran manajemen atau kepala bagian untuk mengetahui proses-proses, prosedur, dan goal yang ada di setiap unit instansi/perusahaan/organisasi. Namun mereka sering lupa melakukan wawancara dengan staf karyawan nonpimpinan yang juga akan menjadi pengguna/operator. Sama dengan para pimpinan, mereka adalah end-user juga.

Mengetahui kelebihan dan kekurangan sistem (lama) yang sedang berjalan dari sisi end-user sangat penting, karena ujung-ujungnya merekalah yang paling terlibat dalam mengoperasikan sistem yang baru nanti. Kebutuhan (requirements) tidak hanya datang dari para kepala, manager dan direktur, end-user lainnya juga memiliki kebutuhan, dan menjadi tugas pengembang untuk bisa mengakomodasi seluruh requirements ini.

Hal lainnya yang paling sering lupa dikerjakan oleh pengembang adalah pembuatan buku panduan. Ketika sistem mulai diimplementasikan, dokumentasi sistem telah tersusun rapi. Tentunya administratur sistem dapat berpedoman pada dokumen tersebut pada saat melakukan penyetingan dan pemeliharaan sistem. Pelatihan juga telah dilaksanakan. Namun itu belum cukup; buku panduan untuk end-user juga perlu dibuat. Tidak mungkin end-user bisa mengingat semua materi pelatihan. Jika buku panduan tidak dibuat, maka administratur sistem mesti bersiap-siap disibuki dengan segudang pertanyaan yang itu-itu juga dari end-user yang berbeda, sepanjang hari untuk waktu yang cukup lama.

Tidak adanya buku panduan untuk end-user dan/atau buruknya sosialisasi sistem kepada end-user akan berakibat pada keenganan end-user untuk menggunakan sistem yang telah berbasis teknologi informasi tersebut. Mereka harus selalu bertanya untuk hal-hal kecil, sementara administratur sistem akan jenuh menerima keluhan yang sama dari sejumlah end-user. Lama-kelamaan, hal ini akan menimbulkan resistensi di kalangan end-user dan kekesalan di pihak administrasi sistem. “Enakan dulu waktu masih manual,” merupakan kalimat yang kerap meluncur dari end-user sebuah sistem yang tidak tersosialisasi dengan baik.

Hal serupa juga akan terjadi pada sebuah sistem yang di awal perencanaannya tidak melibatkan semua end-user. Pelatihan dan buku panduan hanya akan menguras biaya dan tenaga semata, mengingat hanya requirements pimpinan saja yang terakomodasi. Kalau sudah begini, biasanya semua pihak saling menyalahkan. Akhirnya, sistem baru tidak efektif, hanya menjadi menara gading.

Mengembangkan sistem berbasis teknologi informasi, atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai komputerisasi, memang sudah merupakan keharusan; mengingat penghematan yang bisa ditimbulkannya, seperti perkiraan penghematan sistem pengadaan on-line di lingkungan pemerintahan di atas. Namun sebelum sistem itu dikembangkan, perlu dilakukan suatu TCBA yang melibatkan keuntungan tangible dan intangible (VL, VR, VA).

Dalam tahap pengembangannya, sebelum dilakukan pendesainan sistem, pengembang wajib memahami requirements seluruh lapisan end-user, mulai dari pimpinan hingga karyawan lapis bawah yang terlibat dan terkait. Pada saat sistem itu mulai diimplementasikan, sosialisasi sistem harus dilakukan dengan baik. Selain dilakukan pelatihan bagi end-user, adanya buku panduan bagi end-user juga merupakan sebuah keharusan.

Posted in Iptek | Leave a Comment »

Sebagian Hidup Kita Ada di Dunia Biner

Posted by djadjasubagdja on October 26, 2008

Masih ingat dengan istilah biner? Itu lho, yang pernah kita dapat dari pelajaran matematika SD …. atau mungkin yang kita kenal dengan bilangan berbasis 2 atau jam 2 an, yang hanya terdiri dari angka 0 dan angka 1. Dulu saya sering bertanya-tanya, untuk apa sih belajar bilangan biner? Bahkan hingga SMA pun tetap belum menemukan jawaban, apa gunanya bilangan biner dalam kehidupan. Bukankah sehari-hari kita menerapkan bilangan berbasis 10, yang terdiri dari angka 0 hingga 9?

Baru kemudian, di tahun pertama kuliah saya mengetahui kegunaan dari bilangan biner ini. Rupanya biner inilah yang dijadikan dasar paling hakiki dalam dunia komputer. Sekadar gambaran saja, semua karakter di komputer direpresentasikan oleh sebuah nilai. Lalu nilai itu dikonversi ke dalam bentuk biner. Alhasil, semua karakter direpresentasikan oleh sederetan kombinasi angka 0 dan 1.

Dengan demikian, karakter-karakter yang berwujud sekumpulan nilai berformat biner tadi dapat direpresentasikan oleh sekumpulan kombinasi sinyal listik, di mana sinyal bertegangan tertentu mewakili angka 0 dan sinyal lainnya dengan sedikit perbedaan tegangan mewakili angka 1. Akhirnya data-data tadi bisa diproses secara elektronik. Dengan kata lain, dunia perkomputeran adalah dunia biner.

Saat ini, jika kita berbicara mengenai komputer, siapa sih yang tidak tersentuh teknologi komputer? Komputer dan bahkan internet telah masuk desa. Baik langsung maupun tidak langsung, hampir semua orang telah bersentuhan dengan komputer. Kartu Keluarga, KTP, SIM, tabungan, dan ATM telah menjadi bagian dari kehidupan kita dan semua itu dapat berfungsi dengan bantuan perangkat komputer.

Lebih dari itu, saat ini sudah tidak aneh lagi kalau seseorang yang bisa dikatagorikan sebagai profesional kerah putih memiliki alamat imel (e-mail address). Bahkan siswa sekolah menengah dan mahasiswa di kota-kota juga memiliki alamat imel. Chatting, atau ngobrol lewat internet, sudah bukan barang aneh lagi bagi kedua golongan masyarakat ini.

Beberapa orang rekan saya, meski berpredikat kaum profesional kerah putih, tidak memiliki alamat imel. Bagi mereka, memiliki imel bukan merupakan tuntutan hidup. Bukan gaya hidup mereka. Namun demikian, bukan berarti mereka tidak memanfaatkan imel sama sekali. Di kartu namanya, mereka cantumkan alamat imel kantor, dan dalam beberapa kesempatan mereka sampaikan ke kolega mereka untuk mengirimkan hasil pekerjaan atau penawaran melalui imel kantor mereka.

Jadi, tidak berlebihan jika saya katakan bahwa hidup kita banyak bersentuhan dengan dunia perkomputeran atau dunia biner ini. Dengan kata lain, sebagian dari kehidupan kita ada di dunia biner. Sebagaian hidup kita ada di dunia bilangan 0 dan 1.

Bagi teman-teman saya yang tidak memiliki alamat imel tadi, barangkali persentuhan dengan dunia biner hanya sebatas pemanfaatan komputer sebagai alat bantu. Baik itu untuk mengetik, mendesain, menyimpan foto, mendengarkan lagu, menyimpan data, mengolah data, atau menjelajah dunia maya alias internet. Mereka bisa dikatakan tidak menganggap komputer sebagai alat untuk bersosialisasi.

Nah, bagi yang memiliki alamat imel dan menggunakannya secara intensif, atau mereka yang gemar ber-chatting ria, komputer biasanya tidak hanya dianggap sebagai alat bantu. Lebih dari itu, golongan ini menganggap komputer sebagai sarana untuk bersosialisasi. Baik itu hanya sekadar bersilaturahmi, seperti mengirim imel atau melakukan chatting atau menulis pesan dan berbagi foto di situs pertemanan (seperti Friendster atau Facebook), maupun untuk menyuarakan opini di blog komunitas atau blog pribadi.

Golongan ini secara tidak sadar telah menganggap internet sebagai sebuah ruangan nyata dimana mereka bisa berkomunikasi dengan teman atau kerabat sebagaimana layaknya orang berbincang di warung tegal, cafe, atau teras rumah. Saya sendiri, misalnya, kadang tidak sadar kalau saya sudah lama tidak bertemu muka dengan beberapa teman kuliah atau teman sekolah. Lha, hampir tiap hari saya berkomunikasi dengan mereka melalui internet.

Bagi kebanyakan orang, barangkali benar bahwa sebagian hidup kita ada di dunia biner. Namun bagi mereka yang sering berkomunikasi melalui internet, bisa jadi sebagian besar hidupnya telah melekat di dunia biner. Teman saya bilang, “My face is glued to my computer screen.”

Posted in Iptek | 1 Comment »