Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Tentang Pajak Oleh-oleh Itu

Posted by djadjasubagdja on December 11, 2010

Alkisah, si Fulan ditugasi kantornya mengunjungi pameran buku terbesar di dunia, yakni Frankfurt Book Fair (FBF). Di FBF tidak ada peserta yang menjual buku. Di sana buku dipamerkan untuk dijual hak ciptanya kepada penerbit lain untuk diterjemahkan ke dalam bahasa lain. FBF adalah pameran buku business to business (B2B). Ketika pameran berakhir, seperti biasa, peserta pameran meninggalkan buku-buku yang dipamerkan begitu saja dan semua pengunjung bisa mengambilnya, gratis!

Hal itu pula yang dilakukan si Fulan seselesainya pameran. Dia langsung mengambil beberapa buku menarik untuk koleksi perpustakaan di kantornya, sebuah perusahaan penerbitan buku. Dia berharap para editor di kantornya bisa melihat buku-buku yang dia bawa untuk diadaptasi. Dia juga berharap teman-teman kantornya bisa menambah wawasan dengan membaca buku-buku yang dibawanya.

Harga buku di luar negri tidak seperti harga buku di kita yang selalu dianggap mahal. Harga buku di luar negri didasarkan pada pemikiran bahwa buku berisi ilmu dan informasi, jadi betul-betul dihargai. Maka jangan heran jika harga buku ada di kisaran 15 hingga 100 dollar Amerika Serikat. Buku yang diambil si Fulan di pameran pastinya buku bagus, jadi katakanlah harganya rata-rata sekitar 50 dollar Amerika.

Jika ada 10 buku saja yang bisa dia ambil secara gratis di pameran, maka nilainya bisa mencapai 500 dollar Amerika! Nilai itu di atas 250 dollar Amerika, di atas batas tidak kena pajak oleh-oleh. Apakah itu akan dipajaki?

Lantas bagaimana menentukan harganya karena buku-buku itu memang benar-benar didapat tanpa bon, alias gratis. Apa si Fulan harus meminta surat keterangan kepada Kanselir Jerman bahwa semua buku di FBF bisa didapat secara gratis di akhir pameran? Enggak lah yaw, nanti kita malah ditertawakan orang-orang sedunia!

Belakangan obrolan-obrolan di FB dan BB dimarakkan juga dengan topik pajak yang dikenakan atas oleh-oleh yang kita bawa dari luar negri. Jika oleh-oleh kita masih senilai 250 dollar Amerika atau kurang dari itu, maka kita tidak perlu membayar pajak. Pajak oleh-oleh hanya dibayarkan atas kelebihan nilai jika oleh-oleh kita totalnya memebihi angka 250 dollar Amerika.

Konon peraturan ini sebetulnya telah lama ada, tetapi sudah lama tidak ditegakkan, nah baru sekarang-sekarang ini ditegakkan kembali. Terlepas dari setuju atau tidak setuju, peraturan adalah peraturan, dan hal tersebut telah diundangkan. Hanya saja tentunya sebuah peraturan itu bisa dikokersi oleh peraturan yang lebih baru. Mau mengoreksinya?

Barangkali yang harus dipertimbangkan adalah angka 250 dollar Amerika yang dijadikan batasan atau kuotanya. Apa yang menjadi dasar penetapannya? Harga oleh-oleh di negara mana yang dijadikan patokan? Apakah semua jenis oleh-oleh yang melebihi nilai tersebut layak dikenai pajak? Seperti misalnya buku gratis si Fulan tadi atau air zam zam oleh-oleh jemaah haji. Berani menentukan nilai air zam zam? Bisa kualat, juragan!

Sebagaimana kita tau, kalau dari luar negri, maka barang belanjaan yang layak disebut oleh-oleh adalah suvenir atau barang yang belum ada di negri kita. Jadi, misalnya, orang membeli oleh-oleh jam tangan model terbaru atau sepatu model terbaru atau sovenir khas negara yang dikunjunginya. Harganya pastilah lebih dari 250 dollar Amerika. Bukankan oleh-oleh tersebut adalah tanda sayang kepada istri dan anak-anak tercinta? Wajarkah nilai 250 dollar sebagai batasan?

Mari kita pakai kasus yang realistik dan lebih umum. Misalnya seorang karyawan mendapat tugas dinas ke Manila. Selesai menjalankan tugas, dia belanja di toko suvenir, membeli 3 buah hiasan dari kulit kerang khas Filipina. Satu untuk dia pajang di rumah, dua lainnya untuk dihadiahkan kepada orang tua dan mertua. Itu hal yang wajar. Lalu dia juga membeli baju barong a’la Marcos untuk suaminya. Tidak lupa dia membeli tas dari anyaman khas Filipina. Untuk kedua orang anaknya, dia membeli mainan kayu khas Philipina. Ini juga masih wajar.

Mari kita bermatematika ria sebentar. Hiasan dari kulit kerang harga satuannya kurang lebih 20 dollar Amerika. Harga mainan sekitar 10 dollar Amerika. Harga tas wanita sekitar 25 dollar Amerika. Sementara harga baju barong memang cukup mahal, tapi itu kan untuk suami tersayang; harganya sekitar 150 dollar Amerika. Tidak lupa juga dia membeli beberapa dus manisan mangga khas Philippina senilai 20 dollar untuk teman sekantor. Jadi total belanja dia senilai 275 dollar Amerika.

Untuk belanja oleh-oleh paket hemat seperti contoh di atas saja, nilainya sudah 275 dollar Amerika. Apa lagi jika orang tersebut ditugaskan ke Singapura yang harga barang-barangnya lebih mahal dibandingkan dengan di Filipina. Belum lagi jika orang tersebut ditugaskan ke New York. Dia pasti membeli beberapa sovenir khas NYC dan pastinya parfum, mainan, dan buku untuk suami dan anak-anak tercinta. Nilainya pasti tidak akan kurang dari 500 dollar.

Kita juga harus membandingkan dengan negara kita sendiri. Kita bayangkan seorang warga asing yang mengikuti seminar atau simposium di Jakarta, dia pasti membeli sepasang baju batik untuk dirinya dan istrinya. Harganya pasti jutaan rupiah. Belum lagi kalau dia membeli beberapa ukiran dan hiasan dinding untuk dia pajang di rumahnya, sebagai tanda dia pernah ke Jakarta. Berapa itu semua? Pastilah tidak kurang dari 5 juta rupiah. Nilai ini wajar bagi seseorang yang bepergian ke luar negri.

Nilai belanja si orang yang ditugasi ke Manila di atas, atau kalau dia ditugaskan ke Singapura atau New York sudah lebih dari 250 dollar. Kasus tersebut masih disandarkan atas hal-hal yang lazim dibeli seseorang sebagai oleh-oleh. Dalam banyak kasus, ketika kita ke luar negri, ada saja teman yang nitip beli sesuatu, atau teman-teman kantor yang nagih oleh-oleh. Setidaknya beberapa helai t-shirt harus kita beli untuk teman-teman atau kerabat. Ini hal yang wajar, dan yang wajar seperti ini yang harus dipertimbangkan dalam menetapkan kuota nilai oleh-oleh yang tidak kena pajak.

Lain si Fulan lain si Falun. Si Falun ini kikir, jarang sekali dia membeli oleh-oleh untuk keluarganya kalau ditugaskan ke luar negri. “Nanti papa kasih mentahnya aja ya mam, dari pada kena pajak,” demikian kata si Falun ke istrinya. Nah, suatu ketika si Falun ditugaskan ke Kanada. Di sana dia tidak lupa menemui sahabat lamanya yang sekarang bermukim di Toronto. Sang sahabat senang dikunjungi si Falun, dan tidak lupa sang sahabat memberikan hadiah sepasang jam tangan mahal untuk si Falun dan istrinya.

Falun tau bahwa hal ini akan berdampak pada pembayaran pajak oleh-oleh. Jam tangan yang untuk dirinya bisa dia langsung pakai, tapi jam tangan yang untuk istrinya bagaimana? Mau dia tolak aja? Kan gak enak. Mau dibuang aja? Ya sayang dong, itu jam tangan kan harganya ribuan dollar Amerika.

Akhirnya si Falun terpaksa membawanya sebagai oleh-oleh. Sesampainya di Tanah Air, si Falun terpaksa membayar pajak oleh-oleh sebagai dampak kebaikan dari sahabat lamanya tadi. Karena tanpa bon, harga pun ditentukan oleh petugas. “Inilah nilai persahabatan,” gumam si Falun ketika dia mengeluarkan uang dari dompetnya untuk membayar pajak oleh-oleh.

Advertisements

4 Responses to “Tentang Pajak Oleh-oleh Itu”

  1. juli cha tarido said

    ini teh bener2 serius dah diterapkan ya pak?
    aneh bener negara kita sekarang

    • djadjasubagdja said

      @Juli: sudah diterapkan, tapi katanya, karena tujuannya untuk mencegah pemanfaatan perjalanan ke luar negeri untuk berdagang (tanpa pajak), jadi mereka juga cukup selektif. Saya dulu terlalu curiga, tapi rupanya tujuannya memang baik.

      • jodi said

        Sebenarnya aku yang belum sepakat dengat batasannya Kang, kalau urusan bisnis atau dagang gak masuk akal nilainya cuman US$ 250 (sekitar 2.2jt rupiah). Bisnis apaan nilainya segitu… nasi timbel sih cukup kaya modalnya bulik saya di kampung. kasih batasan aja yang masuk akal aja ‘kali. Tapi terima kasih diingetin, saya sedang di Nebraska beraninya cuman beli gantungan kunci, dan ternyata inipun made in China…. wkwkwk

      • djadjasubagdja said

        @Jodi: Selamat berburu gantungan kunci. BTW, kata temen yang baru pulang jalan-jalan sekeluarga dari Jepang (sebelum tsunami), katanya, mereka tidak diperiksa. Mungkin yang disasar yang baru pulang dari negara tertentu spt Hongkong/China, dimana harga barang sangat murah di sana, dan kalau beli banyak bisa dijual di Jakarta dgn untung yang lumayan. Mungkin sebetulnya ini yang mereka cegah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: