Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Sepeser dari Saya untuk IA ITB

Posted by djadjasubagdja on January 21, 2016

Tanggal 22-24 Januari 2016 besok akan berlangsung Kongres Ikatan Alumni ITB (IA-ITB) yang ke-9  di kampus ITB. Tidak banyak alumni yang mengetahui tentang Kongres ini. Kebanyakan alumni hanya tahu bahwa tanggal 23-nya adalah Hari Pemilihan Ketua Umum IA ITB. Wajar lah, karena pemilihan ketua merupakan hal yang paling seksi dari seluruh rangkaian kegiatan kongres sebuah organisasi.

Hingar-bingar kampanye para timses kandidat Ketua Umum nampak terlihat di media-media sosial dan beberapa chatting group. Terus terang, saya salut dengan kreativitas teman-teman saya sealmamater yang menjadi timses ini. Ya iya lah, ITB gitu loh. Lalu bagaimana reaksi alumni? Beberapa teman alumni ada yang kritis memberikan tanggapan atas kampanye para calon, tapi kebanyakan sih cuek.

Saya mungkin termasuk yang agak sok kritis, bertanya kepada calon dan timses calon. Hal yang saya tanyakan adalah komitmen waktu para calon untuk mengurusi IA. Seberapa serius sih mereka akan memberikan waktu kepada IA di sela-sela kesibukan utama mereka, yakni mencari nafkah untuk keluarganya.

Namun kalau mau jujur, sebetulnya saya bukan bertanya. Untuk apa saya bertanya? Memangnya kalau mereka menjawab 20%, 25%, atau bahkan 50% dari waktunya yang akan diberikan kepada IA, lantas bagaimana saya mengukurnya? Bagaimana pula saya memantaunya? Saya sendiri tidak akan memiliki waktu untuk memantau komitmen para calon ini jika telah terpilih nanti.

Sebetulnya, bukan itu maksud saya bertanya. Saya hanya mengingatkan para calon bahwa mereka tidak akan memiliki waktu yang cukup untuk IA. Mereka memiliki pekerjaan atau bisnis. Pekerjaan yang mereka miliki bukan sembarangan pekerjaan, tapi pekerjaan kelas dewa. Begitupun para calon yang berprofesi sebagai pebisnis. Mereka itu wirausahawan tulen yang menjadi motor bagi bisnisnya. Pendek kata, mereka orang-orang yang sukses karena kompetensi mereka. Artinya, waktu luang mereka terbatas. Kalau pun mereka memiliki waktu luang yang cukup, lantas bagaimana dengan puluhan pengurus lainnya?

OK, katakanlah analisis saya di atas salah. Baiklah. Sekarang izinkan saya bercerita hal yang saya alami sendiri. Sejak tahun 2006 saya menjadi pengurus pusat di sebuah organisasi yang bernama Ikapi. Ikapi adalah asosiasi para penerbit nasional. Anggota Ikapi adalah perusahaan-perusahaan penerbit buku di Indonesia. Perusahaan tempat saya bekerja adalah angota Ikapi, jadi saya duduk di kepengurusan Ikapi sebagai representasi dari perusahaan tempat saya bekerja. Semua pengurus Ikapi seperti saya, berasal dari penerbit anggota Ikapi. Para pengurus Ikapi ada yang berstatus pimpinan/direksi, komisaris, dan manajer di penerbit anggota Ikapi tersebut. Artinya, semua pengurus Ikapi memiliki kesibukan di perusahaan penerbitannya masing-masing.

Ketua Umum Ikapi sama seperti ketua umum asosiasi atau organisasi (termasuk ikatan alumni), yakni dipilih dalam sebuah Kongres/Munas oleh para anggota. Ketua Umum lalu membentuk kepengurusan, lalu menetapkan program kerja sesuai amanat Kongres/Munas. Dalam menjalankan program-program kerja, Pengurus didukung oleh Sekretariat, dan jika diperlukan Pengurus dapat membentuk pokja atau kepanitaan. Pengurus melakukan rapat setidaknya satu kali dalam sebulan. Meskipun hanya sebulan sekali, selalu ada saja pengurus yang tidak dapat hadir di rapat pengurus. Ada saja hal penting yang menghalangi kehadiran pengurus. Masih untung ada chatting group, tapi terus terang ada hal-hal yang harus dibicarakan dengan mekanisme rapat konvensional. Rapat daring (OL) tidak pernah bisa memberikan hasil yang maksimal, apa lagi jika yang menjadi materi diskusi adalah sesuatu yang strategis.

Sulit sekali mengatur jadwal agar semua pengurus memiliki waktu luang, padahal rencana rapat telah diagendakan di awal tahun untuk satu tahun ke depan. Masih beruntung tidak ada ketentuan di AD/ART bahwa rapat harus dilakukan di sekretariat. Terkadang rapat dilaksanakan di perusahaan milik salah seorang pengurus yang di saat tertentu sangat sibuk. Selain memudahkan si pengurus yang super sibuk ini, juga memberikan suasana baru. Namun, lagi-lagi, selalu saja ada pengurus lainnya yang absen.

Seperti yang saya tulis di atas, saya menjadi pengurus sejak tahun 2006. Sudah tiga periode kepengurusan saya lakoni. Di periode 2006 – 2010 saya menjadi Kepala Bidang Diklat dan Litbang. Dari tahun 2010 – 2011, saya menjadi Kepala Bidang Keorganisasian. Kemudian di tahun 2011 menjadi Sekretaris (di bawah Sekum), hingga 2015. Di kepengurusan yang sekarang, saya dipercaya menjadi Ketua Bidang atau Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan dan Kerja Sama Antarlembaga (nama resmi masih menunggu pengesahan AD/ART baru).

Saya merasa perlu mengemukakan posisi-posisi yang pernah saya tempati di Ikapi ini sekadar untuk memberikan gambaran kepada pembaca bahwa apa yang saya tulis ini dilandasi pengalaman, bukan pemikiran pribadi. Oiya, sehari-hari saya bekerja di sebuah penerbit buku yang cukup dikenal di Negeri ini. Ini bukan pamer posisi di organisasi dan pekerjaan. Ada banyak teman saya yang jauh lebih hebat dari saya. Ini semata memberikan gambaran yang obyektif mengenai pengalaman saya beroganisasi sambil bekerja.

Mungkin pembaca berfikir, ya pantas saja saya tidak bisa memberikan waktu sepenuhnya kepada Ikapi, karena saya hanyalah seorang karyawan, yang tidak bisa menolak jika tiba-tiba diajak rapat oleh direksi. Itu benar sekali. Namun, para pengurus lain yang kebanyakan berstatus direktur/dirut pun, tetap saja memiliki catatan absen untuk rapat-rapat atau ketika kami harus melakukan audiensi dengan pimpinan lembaga-lembaga pemerintahan atau pihak-pihak yang terkait kegiatan perbukuan. Jadi, mau manajer, mau direktur, mau komisaris, tetap saja tidak pernah memiliki waktu penuh untuk organisasi. “Masih mending pak Djadja yang lebih sering ada waktu untuk Ikapi ketimbang pengurus yang lain,” demikian pernah disampaikan Sekum dalam sebuah rapat terbatas yang hanya dihadiri Ketum, Sekum, dan saya.

Akibatnya, tidak semua program yang telah ditetapkan bisa dijalankan. Beberapa program tidak tereksekusi atau dapat dijalankan tapi dengan hasil minimal. Di kepengurusan 2006-2010, para pengurus telah menyadari hal ini, dan sampai pada kesimpulan bahwa Sekretariat harus dipimpin oleh seorang Kepala sekretariat yang kuat. Hal ini juga didasarkan pada kondisi bahwa di masa sebelumnya Sekretariat Ikapi pernah dipimpin oleh seorang Kepala Sekretariat yang bernama Pak Sumantri, yang memiliki kapasitas dalam mengeksekusi program-program yang ditetapkan pengurus. Lalu diangkatlah seseorang yang kami anggap mampu memimpin Sekretariat dengan baik, dan mampu mengeksekusi program-program yang ditetapkan pengurus atau mampu memberikan dukungan penuh kepada pengurus.

Hal ini tercapai, apa lagi yang bersangkutan adalah mantan karyawan di level manajer sebuah penerbit besar. Namun sayang, tidak lama setelah itu, yang bersangkutan “dilamar” sebuah penerbit. Akhirnya Sekretariat Ikapi kembali berjalan tanpa pimpinan, hanya berisi beberapa staf biasa. Hal ini berlangsung hingga tahun pertama kepengurusan 2010-2015. Pengurus baru ketika itu kewalahan dengan sejumlah program yang gagal tereksekusi. Lalu dicari Kepala Sekretariat yang baru, dan akhirnya Sekretariat Ikapi kembali memiliki kepala. Pengurus dapat bernafas lega. Beberapa kegiatan berlangsung dengan sukses, bahkan Ikapi di saat itu mendapat pujian dari para pengurus asosiasi penerbit negara-negara ASEAN, karena dapat menyelenggarakan sebuah seminar internasional di sebuah tempat yang representatif dan seminarnya benar-benar berkelas internasional.

Namun sekali lagi Sekretariat Ikapi harus kehilangan sang Kepala Sekretariat. Ada urusan pribadi yang harus ditunaikan sang Kepala baru ini, dia harus pindah ke luar kota. Kembali Sekretariat Ikapi berjalan tanpa seorang Kepala. Sekum dan Sekretaris (baca: saya) sangat kerepotan. Beberapa hal yang harus dilakukan terkadang terlupakan atau tertelan oleh kesibukan para pengurus di perusahaan masing-masing. Sekali lagi, banyak kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan.

Akhirnya, pada awal tahun 2015 Sekretariat Ikapi kembali dipimpin seorang Kepala Sekretariat. Para pengurus kembali lega. Beberapa kegiatan bisa dilaksanakan dengan baik, termasuk memberikan dukungan kepada Panitia Indonesia International Book Fair (IIBF) ketika “memindahkan” IIBF dari Istora Senayan ke JCC. Meskipun pemindahan ini sepenuhnya merupakan prestasi Panitia IIBF dan Pengurus Ikapi, tapi Sekretariat memberikan andil memuluskan kepindahan tersebut. Sekum dan Sekretaris dapat bernafas lega. Kegiatan Munas di akhir kepengurusan pun dapat berjalan lancar. Ketua Umum baru yang berasal dari pengurus sebelumnya, terpilih. Oiya, Ketum Ikapi yang sekarang ini alumnus ITB lho, seorang ibu yang memimpin sebuah penerbit di Bandung. Di kepengurusan sekarang ini ada tiga orang alumni ITB. Ya, bahkan di dunia perbukuan pun alumni ITB eksis!

Dari perjalanan yang cukup panjang sebagaimana yang saya kisahkan di atas, saya menyaksikan betapa sebuah organisasi yang pengurusnya memiliki kesibukan di tempat bekerja/berbisnis, sangat membutuhkan sebuah tim sekretariat yang kuat, yang memberikan dukungan penuh pada kegiatan-kegiatan yang ditetapkan oleh para pengurus. Sekretariat juga harus dipimpin oleh seorang kepala yang profesional dan kompeten.

Saya tidak tahu sekuat apa tim Sekretariat IA ITB. Namun saya mendengar anggota pengurus IA ITB jumlahnya cukup banyak, jauh lebih banyak dari pengurus Ikapi Pusat yang jumlahnya kurang dari 20 orang. Program IA ITB juga pastinya lebih banyak dari program Ikapi. Anggota IA ITB tentu jauh lebih banyak dari anggota Ikapi yang “hanya” sekitar 1370 penerbit (yang aktif malah kurang dari 500 penerbit).

Dengan perbandingan seperti itu, saya perkirakan tim Sekretariat IA ITB harus memiliki seorang Kepala Sekretariat sekelas seorang general manager (GM) di perusahaan, dan dia harus dibantu beberapa orang manajer yang membawahi beberapa staf. Mungkin jumlah manajer Sekretariat tidak harus paralel dengan jumlah bidang dalam kepengurusan. Bisa saja para manajer ini membawahi fungsi-fungsi tertentu. Sifatnya fungsional, bukan didasarkan pada bidang-bidang yang ada di kepengurusan.

Harapan saya, Ketua Umum IA ITB mendatang tidak membentuk kepengurusan yang gemuk, tetapi didukung oleh tim Sekretariat yang kuat, yang bisa mengeksekusi program-program yang ditetapkan pengurus sesuai amanat kongres. Ini hanya harapan saya pribadi sebagai alumnus. Juga bukan bermaksud menggurui, hanya berbagi pengalaman semata. Sekiranya apa yang saya kemukakan ini dinilai cukup bermanfaat oleh para kandidat atau Ketua Umum terpilih nanti, tentunya saya sangat menghargai penilaiannya. Namun jika apa yang saya kemukakan ini dinilai tidak memberi manfaat, saya juga menghargai penilaiannya. Bagi saya, hal yang terpenting adalah tulisan ini sudah dibaca sampai kalimat terakhir ini. (Djadja Subagdja, FI ’86)IMG-20141207-WA012

Posted in Humaniora | 1 Comment »

Keprihatinan Seorang Pekerja Buku: Beda Penerbit dan Percetakan di Mata Masyarakat

Posted by djadjasubagdja on October 1, 2014

Pernahkah Anda membuat surat undangan pernikahan? Dimana mencetaknya? Kalau Anda tinggal di sekitar Pancoran, Jakarta Selatan, pasti akan mencetaknya di Pasar Tebet. Ada banyak percetakan kartu undangan di lantai bawah Pasar Tebet. Di kota lain, pasti ada banyak percetakan seperti itu. Namun, percetakan yang seperti itu adalah percetakan kecil. Percetakan besar seperti Gramedia, Granesia, Gelora Aksara Pratama, Ghalia Indonesia Printing, Temprint, Temprina, Karya Kita, Macanan, dan percetakan besar lainnya juga banyak tersebar di bumi Nusantara ini,

Ketika Anda membuat kartu undangan, siapakah yang menentukan isi kartu undangan? Ya! pasti kita sendiri yang menentukan kata-katanya. Kita ketik di komputer, lalu file-nya kita serahkan ke percetakan. Kita sampaikan jenis kertas, ukuran kertas, pelipatan kertas, jenis huruf, dan ukuran huruf yang kita inginkan kepada percetakan. Lalu percetakan merancangnya, membuat dummy/proof, meminta persetujuan dari kita, baru mereka mencetaknya (memperbanyaknya atau menggandakannya).

Dari ilustrasi di atas, kita bisa membedakan mana pemilik kartu undangan, dan mana pencetak kartu undangan. Siapakah yang bertanggung jawab atas isi kartu undangan? Tentunya kita, sebagai pemesan kartu undangan. Kita sendiri juga yang akan menyebarkan kartu undangan tersebut. Kita juga yang akan mempersiapkan resepsi sesuai tanggal dan tempat resepsi sebagaimana yang tertulis di kartu undangan.

Di dalam dunia penerbitan buku, prosesnya boleh dikatakan sedikit mirip lah dengan ketika kita membuat kartu undangan. Pihak yang mencetak (dan menjilid) buku adalah percetakan. Sementara itu, yang menyiapkan isi dan memesan pencetakannya adalah penerbit. Jadi, penerbit dan percetakan adalah dua pihak yang berbeda, bahkan kebanyakan adalah dua perusahaan yang berbeda.

Saat ini kita telah memasuki zaman internet, dimana buku bisa kita baca melalui dua media, yakni buku yang berupa lembaran-lembaran kertas dan buku yang tersimpan di media elektronik (yaitu eBook). Baik buku kertas maupun eBook, sama-sama ada penerbitnya. Apakah penerbitnya itu sebuah perusahaan, yayasan, organisasi, atau perorangan (indie), itu sah-sah saja. Satu hal yang jelas, ada penerbitnya.

Penerbitlah yang merencanakan akan menerbitkan buku apa. Penerbit yang mencari (atau dicari) penulis untuk bekerja sama mewujudkan sebuah naskah menjadi buku/naskah yang siap cetak. Setelah bersepakat dengan penulis, naskah tersebut disunting/diedit oleh editor/penyunting, lalu didesain (di-setting) oleh desainer/setter, kemudian dikoreksi oleh korektor. Setelah beberapa kali dikoreksi dan mengalami penyempurnaan desain, naskah tadi menjadi buku yang siap untuk dicetak/diperbanyak/digandakan.

Naskah yang telah menjadi buku yang siap cetak tadi, kemudian dibawa ke percetakan oleh penerbit. Sang penerbit menyampaikan spesifikasi yang diinginkan, seperti ukuran buku, jenis kertas, jenis kertas jilid, pewarnaan, dan jenis penjilidan. Percetakan lalu mengerjakan pencetakan dan penjilidannya. Setelah selesai, lalu penerbit membayar ongkos cetaknya ke percetakan tersebut, baru kemudian buku dikirim ke penerbit atau diambil penerbit. Setelah itu, buku dikirim ke distributor atau langsung ke toko buku oleh penerbit.

Untuk buku-buku yang dijadikan eBook, si penerbit tinggal mengubah mengubah file ke format tertentu (biasanya ke format PDF atau ePub), lalu dikirimkan ke eBookStores atau “toko” eBook. Di sini kita dapat melihat bahwa beda buku konvensional (buku yang dicetak) dengan eBook hanya di proses perbanyakan saja. Penerbit tinggal memilih apakah bukunya akan dicetak atau dijadikan eBook. Buku konvensional diperbanyak di percetakan, sementara itu untuk eBook yang diperbanyak adalah aksesnya.

Dari uraian-uraian di atas, kita mendapat gambaran yang lebih jelas mengenai perbedaan peranan penerbit dan percetakan. Penerbit menyiapkan naskah hingga siap cetak. Percetakan memperbanyak naskah yang siap cetak tersebut. Isi buku itu tetap menjadi tanggung jawab penerbit (dan penulis). Percetakan hanya diperintahkan oleh penerbit untuk mencetak/memperbanyaknya. Lalu penerbit membayar ongkos jasa pencetakan/penggandaan tersebut. Penerbit itu karyawan utamanya adalah para editor/penyunting dan desainer/setter buku. Percetakan itu isinya mesin cetak dan mesin jilid.

Di Indonesia, dilihat dari hubungannya dengan kegiatan pencetakan, penerbit dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok. Penerbit yang tidak memiliki mesin cetak adalah kelompok pertama. Penerbit-penerbit di kelompok pertama ini biasanya memiliki mitra kerja perusahaan percetakan, tapi biasanya tidak ada ikatan permanen dalam kemitraan tersebut. Artinya, penerbit-penerbit ini bisa memutuskan mencetak di percetakan mana saja, dengan pertimbangan harga, mutu, dan kapasitas percetakan. Kemitraan ini benar-benar kemitraan dua buah badan usaha yang berbeda dan tidak dalam sebuah grup bisnis. Mayoritas penerbit di Indonesia adalah seperti ini. Bahkan di luar negeri juga kebanyakan seperti ini. Banyak sekali kita lihat buku-buku terbitan penerbit Amerika Serikat yang dicetak di Kanada (printed in Canada, begitu tertulis di lebaran awal bukunya)

Kelompok kedua adalah penerbit-penerbit yang memiliki mesin cetak. Biasanya penerbit-penerbit di kolompok ini memiliki divisi cetak dan divisi penerbitan. Kedua divisi ini berada di bawah satu perusahaan (badan usaha) yang sama. Tidak banyak penerbit yang seperti ini di Indonesia.

Kelompok ketiga adalah penerbit yang berada dalam sebuah grup perusahaan, di mana di dalam grup tersebut ada perusahaan penerbitan, perusahaan percetakan, dan perusahaan lainnya (misalnya surat kabar, majalah, dll). Kelompok ketiga ini juga tidak terlalu banyak. Kurang lebih jumlahnya sama dengan kelompok kedua. Artinya, kebanyakan penerbit di Indonesia tidak memiliki hubungan permanen (kecuali ketika memesan cetak) dengan percetakan.

Jadi, boleh dikatakan bahwa penerbit berbeda dengan percetakan. Kebetulan penulis adalah karyawan sebuah penerbit buku. Penerbit tersebut berada dalam sebuah grup perusahaan yang memiliki percetakan. Nama penerbit tempat penulis bekerja berbeda dengan nama percetakan yang dinaungi grup perusahaan tersebut. Keduanya tercetat di Negara sebagai dua badan usaha yang berbeda (dua PT yang berbeda). Direksinya pun berbeda, apa lagi karyawannya.

Artinya, penulis hanya bisa berpindah posisi jabatan di perusahaan penerbit buku tempat penulis bekerja, tidak bisa tiba-tiba menempati posisi jabatan di perusahaan percetakan yang berada di satu grup perusahaan tersebut. Bahkan, jika berkunjung ke percetakaan tersebut, misalnya untuk menyampaikan keberatan (complaint) atas mutu cetak, penulis diperlakukan sebagai tamu. Percetakan tersebut juga tidak hanya menerima pesanan/order cetakan dari penerbit tempat penulis bekerja, tapi juga dari beberapa penerbit lain, termasuk beberapa penerbit majalah.

Penulis menyampaikan hal ini untuk memperkuat pemahaman kita akan perbedaan penerbit dengan percetakan. Mengapa hal ini penulis paparkan? Karena penulis merasa prihatin, hingga di zaman eBook ini masyarakat belum bisa membedakan penerbit dengan percetakan. Beberapa teman dan kerabat juga jika bertemu dengan penulis, biasanya bertanya, “masih kerja di percetakan?” Sebetulnya saya kurang nyaman dengan pertanyaan tersebut, karena saya bekerja di industri penerbitan, bukan industri percetakan. Namun saya jawab dengan senyum, “Masih, di penerbit buku, bukan percetakan.”

Pertanyaan lain yang sering dialamatkan kepada penulis adalah, “Gimana, masih di penerbit? Kan sekarang zaman eBook, gak takut buku lenyap dari peredaran?” Jika ada teman yang bertanya seperti ini, maka penulis harus panjang lebar menerangkan bahwa penerbit itu menerbitkan buku, dan terserah penerbit akan memperbanyak di percetakan sebagai buku cetak (konvensional) atau mengunduhnya ke eBookStores (toko buku elektronik). eBook itu kan buku juga, kalau bukan buku, tidak akan dinamai eBook. Artinya, masyarakat masih “menyatukan” antara penerbit dan percetakan, padahal merupakan dua jenis industri yang berbeda.

Di dunia industri, penerbitan dimasukkan ke jenis industri kereatif. Industri-industri lain yang diklasifikasikan sebagai industri kreatif ini misalnya perangkat lunak (software), film, musik, kerajinan, periklanan, dll. Sementara itu, percetakan masuk ke dalam industri manufaktur, sama dengan industri penggandaan keping CD. Setidaknya itulah pemahaman penulis. Parahnya, masyarakat hanya menganggap industri kerajinan saja yang termasuk industri kreatif.

Penulis berpendapat bahwa penting sekali bagi masyarakat untuk dapat membedakan penerbit dengan percetakan. Hal ini sama pentingnya bagi masyarakat untuk bisa membedakan antara arsitek dan insinyur sipil, atau antara perusahaan studio rekaman dengan perusahaan penggandaan keping CD, atau antara perusahaan surat kabar/majalah dengan percetakan, atau antara rumah produksi (production house) dengan stasiun televisi.

Bagi sebagian pihak, dengan kepentingan masing-masing, barangkali perbedaan ini tidak terlalu penting. Namun bagi kami, para pekerja industri penerbitan (editor, korektor, desainer isi buku, desainer sampul/kulit buku, ilustrator , staf promosi buku, dll), hal ini penting sekali. Para pekerja di industri percetakan adalah saudara-saudara kami juga. Namun, membedakan penerbitan dan percetakan ini penting. Izinkan penulis memberikan ilustrasi berikut ini.

Katakanlah ada sebuah yayasan yang peduli dengan kebutuhan bacaan bagi anak-anak Indonesia. Mereka berencana memberikan buku bacaan gratis untuk anak-anak panti asuhan. Yayasan tersebut kemudian memfasilitasi sejumlah penulis buku cerita anak untuk menulis naskah buku bacaan/cerita anak. Kemudian Yayasan tersebut melakukan proses editing/penyuntingan dan setting naskah-naskah tersebut hingga menjadi sebuah buku/naskah yang siap cetak. Dengan kata lain, Yayasan tersebut menjadi penerbit buku-buku tersebut.

Kemudian Yayasan tersebut membuka kesempatan kerja sama kepada semua pihak untuk memperbanyak naskah-naskah yang telah siap cetak itu. Beberapa percetakan mengajukan diri, dan kemudian terpilih lah beberapa percetakan yang ditunjuk untuk penggandaan buku-buku untuk anak-anak tersebut dengan harga yang disepakati.

Lalu ternyata beberapa percetakan tidak dapat menyelesaikan pekerjaan yang dipesan si Yayasan pada waktunya. Kemudian Yayasan meminta maaf kepada panti-panti asuhan yang telah meraka janjikan akan diberi buku gratis. Yayasan menyampaikan kepada para pengurus panti-panti asuhan bahwa penerbit yang mereka tunjuk untuk menggandakan buku tidak dapat memenuhi janji sesuai waktu yang telah ditetapkan.

Penyebutan “penerbit” oleh Yayasan (karena Yayasan tersebut kebetulan tidak dapat membedakan penerbit dengan percetakan), akan membawa dampak luas bagi dinamika industri penerbitan dan percetakan. Bayangkan saja, yang melakukan wanprestasi adalah percetakan, tapi yang disalahkan adalah penerbit. Bisa saja percetakan yang ditunjuk yayasan tersebut memang satu grup dengan perusahaan penerbitan, tapi tetap saja itu dua perusahaan yang berbeda, dua industri yang berbeda.

Jika ada pihak lain yang menangkap pernyataan Yayasan tadi sebagai sebuah isyarat perbaikan, maka pihak tersebut akan berusaha memperbaiki kinerja para penerbit, bukan kinerja industri percetakan. Lha ini kan jadinya salah sasaran. Jika pernyataan Yayasan tadi dikutip media, maka akan muncul citra negatif industri penerbitan di mata masyarakat. Ini berbahaya. Lamaran seorang editor kepada gadis idamannya akan ditolak calon mertua lantaran takut anaknya jadi istri seorang karyawan yang bekerja di industri yang kinerjanya dipandang rendah di masyarakat, yang beruntung malah karyawan percetakan (maaf, penulis bercanda sedikit).

Intinya, masyarakat (dan tentunya Negara juga) harus dapat membedakan industri penerbitan dan industri percetakan. Hal ini penting, mengingat SDM keduanya berbeda, input dan output keduanya berbeda. Jika ada kekurangan di jenis industri tententu, Negara akan mudah mengidentifikasinya, sehingga perbaikan/pembinaan tidak menjadi salah sasaran.

Jika ada keterlambatan pencetakan, maka yang harus diidentifikasi adalah apakah mesinnya yang kurang atau shop_floor_management yang harus disempurnakan, misalnya. Jika keterlambatan itu ada di penerbitan, maka yang harus diidentifikasi adalah keterampilan para editor atau jangan-jangan komputernya yang ketinggalan jaman. Di sini lah pentingnya membedakan dua hal yang nyata sekali bedanya!

Penulis merasa bahwa masyarakat dan Negara harus dapat membedakan penerbit dengan percetakan. Terus terang, sebagai pekerja industri penerbitan, penulis prihatin jika ada keterlambatan di pencetakan, tapi yang disalahkan adalah penerbit. Kami tidak terlibat, tapi kami yang dituduh bersalah. Kami, para pekerja industri penerbitan, merasa sedih! (Djadja Subagdja, editor senior penerbit buku)

Posted in Humaniora, Pendidikan | Leave a Comment »

Tuhan Memberi Apa yang Kubutuhkan …..

Posted by djadjasubagdja on July 10, 2014

Beberapa puluh meter menjelang masjid, hujan mulai turun rintik-rintik. Untung hujan masih merintik ketika tiba di halaman masjjid. Adzan Isya hampir selesai ketika kakiku menginjak karpet masjid. Lalu kutunaikan sholat Qobliyah 2 rakaat. Ketika kami berjamaah sholat Isya, hujan bertambah lebat. Dan bertambah deras ketika kucoba berkonsentrasi ke ayat-ayat dari beberapa surat pendek yang dibaca imam sholat Tarawih. Ketika sholat Witir usai, hujan tak juga mereda. Namanya juga Bogor, Si Kota Hujan.

Beberapa jamaah yang membawa payung satu per satu meninggalkan masjid. Tinggal beberapa orang yang menunggu dijemput. Kecuali aku sendirian yang benar-benar menunggu hujan reda. Mungkin. Dan akhirnya tinggal saya dan satu dua orang yang masih menunggu hujan mereda, atau barangkali mereka menunggu jemputan payung.

“Seandainya saja istriku datang membawakan payung untukku,” lamunku. Tiba-tiba melintas dalam bayanganku, istriku datang ke masjid sambil membawa payung. Terlihat seolah jelas ketika aku mengarahkan pandanganku ke halaman masjid. Dalam penampakannya, dia berdiri di halaman masjid di depan pintu. Dia mengenakan sweater biru tua lama miliknya, oleh-oleh dari ayahnya ketika tugas ke Eropa, kalau tidak salah. Dia tidak tersenyum, tidak pula cemberut. Dia nampak sedih, dia juga tidak berkata apapun, selain memandang ke arah dalam masjid.

Ah, seandainya itu bukan bayangan semata. Seandainya itu benar-benar dia menjemputku karena aku terjebak hujan di masjid. Namun itu tidak mungkin. Kalau pun aku terjebak hujan di masjid yang berada di kompleks perumahan tempat dulu kami tinggal, pastilah istriku menyuruh Si Bibi membawakan payung untukku, seperti biasa. Aneh juga, kenapa aku sampai membayangkan istriku menjemputku di masjid karena aku terjebak hujan. Itu jelas tidak mungkin. Aku berada di masjid dekat tempat kosan, di Bogor, 60 km jauhnya dari rumah!

Tiba-tiba, seorang bapak yang sudah berumur menyapaku. “Tinggal di mana Pak?” tanya dia ramah. Lalu aku terangkan bahwa aku kos di sebuah rumah di blok G. Kemudian aku balik bertanya ke dia, “Bapak tidak minta dijemput?”. Kutanyakan spt itu karena kulihat beliau membawa ponsel. “Ini lagi nunggu yang jemput,” jawabnya sambil tersenyum.

Lalu aku ke luar masjid, membuang kejenuhanku di dalam masjid. Beberapa detik kemudian datang seorang anak remaja berpayung besar seperti mencari seseorang. Kutebak saja, ini pasti orang suruhan rumah si Bapak berbaju putih. Aku melongok ke dalam masjid, dan berkata kepada si Bapak berbaju putih, “Pak, mungkin ada yang jemput, itu di luar ada yang mencari seseorang.”

Ternyata benar, itu jemputan dia. Si anak remaja tadi lalu memberikan sebuah payung besar lainnya kepada si Bapak berbaju putih. Si Bapak melihat ke arahku yang masih berdiri di teras masjid, berharap hujan mereda. “Ayo ikut saya, saya di blok H, kita searah,” ajak si Bapak berbaju putih. 

Biasanya aku malu-malu segan menerima tawaran kebaikan dari orang yang baru kukenal. Namun entah kenapa, kali ini kusambut tawarannya. Payungnya cukup besar untuk kami berdua. Maka kami berpayung berdua, sambil saling bercakap. Rupanya beliau pensiunan dosen IPB. Dia mengampu statistik. Murid Prof Andi Hakim Nasution. 

Sesampainya di kamar kosan, aku merenung, Dijemput istriku sambil membawakan payung adalah anganku. Mungkin doaku juga. Namun Tuhan Mahalogis, dan angan-anganku itu tidak logis. Namun juga, Tuhan Maha Mendengar, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dia kirim seorang Bapak yang baik hati untuk memayungiku. Subhanallah. 

Aku tulis sepenggal kisah pendek ini di grup ngobrol teman seprofesi. Mereka pada terharu. Namun ada satu komentar dari temanku, Yudi, yang berada di Batam: “Ja, Tuhan tidak memberikan apa yang kamu inginkan, tapi Dia berikan apa yang kamu butuhkan.” 

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Menolong Korban Laka Lantas: antara Rasa Kemanusiaan dan Rasa Takut

Posted by djadjasubagdja on January 3, 2013

Awal tahun 2013 diawali berita kecelakaan maut di Jagorawi KM 3,350. Kecelakaan lalu lintas itu ramai dibicarakan orang karena merengut nyawa dua orang dan melibatkan anak seorang menteri. Dua hari kemudian muncul pemberitaan mengenai Rangga, seorang pemuda warga Bogor, yang pada saat kecelakaan tersebut terjadi, ada di lokasi.

Menurut penuturan Rangga dalam sebuah acara berita di stasiun televisi, ketika kecelakaan terjadi dia berhenti, lalu dia menolong beberapa korban, membawa nya ke rumah sakit terdekat dengan mobilnya, lalu kembali ke tempat kejadian. Banyak hal yang disampaikan, terkait kecelakaan tersebut. Namun yang menarik bagi saya adalah sikapnya yang tidak cu’ek, dia berhenti, menolong, dan berteriak-teriak ke mobil yang lewat agar mengabari pihak berwajib.

Saya sendiri tidak bisa membayangkan jika saya berada di tempat kejadian. Mungkin saja saya berhenti, tapi yang paling mungkin saya lakukan adalah menelepon kantor polisi. Lalu menunggu hingga polisi dan ambulans datang.

Di negara kita, menolong dengan membawa korban kecelakaan ke rumah sakit terdekat itu bukan hal yang sering dilakukan orang-orang. Saya sendiri pernah jatuh dari motor, dan setelah hilang rasa terkejut saya, lalu saya naik becak sendiri ke rumah sakit, setelah menitipkan motor ke tukang parkir terdekat.

Ketika terjadi kecelakaan maut di dekat Tugu Tani, ada banyak mobil melintas, tapi hanya satu mobil bak yang berhenti dan menolong mengangkut korban ke rumah sakit. Apakah masyarakat kita tidak memiliki kesetiakawanan sosial? Saya kira bukan demikian. Beberapa orang mengatakan bahwa mereka takut menolong korban laka lantas karena takut malah dituduh sebagai penabrak, atau minimal dijadikan saksi di pengadilan yang pasti akan mengganggu waktu aktivitas sehari-hari.

Kemudian saya jadi teringat hal yang pernah dilakukan ayah kami sekitar tahun 90-an. Beliau pulang dari kantor dengan beberapa percikan darah di kursi mobil dinasnya, bahkan karung beras pembagian juga terkena noda darah. Pak sopir kantor langsung membersihkan noda-noda darah di mobil.

Saya kaget juga, lalu bertanya apakah mereka mengalami kecelakaan. Ternyata tidak. Ayah saya langsung ke kamar mandi, pak sopir menjelaskan sambil mencuci jok mobil. “Tadi kami menolong korban tabrak lari. Si korban tidak sadarkan diri. Orang lain gak berani nolong, karena takut disangka penabrak. Ya akhirnya Bapak putuskan untuk nolong dan bawa ke rumah sakit. Kalau Bapak kan pake seragam, jadi rumah sakit pasti percaya bahwa bukan kami yang menabrak,” demikian pak sopir menjelaskan.

Lega juga saya, karena tadinya saya pikir mereka mengalami kecelakaan. Setelah keluar dari kamar mandi, ayah saya juga menceritakan ulang. “Ya itulah, kenapa orang lain takut menolong, bukan karena mereka tidak mau menolong, bukan karena rasa kekeluargaan sudah hilang, tapi karena takut. Kalau bapak kamu ya gak takut, rumah sakit percaya sama bapak, karena bapak kan tentara.”

Diam-diam, saya salut dengan ayah saya. Bagaimanapun juga, meskipun tidak ada resiko dituduh penabrak, tapi kan mobil jadi kotor oleh bercak darah korban. Dan kenyataannya memang demikian. Pak sopir harus kerja ekstra membersihkan jok mobil. Kebetulan saja joknya dari bahan imitasi, jadi tidak sulit membersihkannya. Bagaimana kalau terbuat dari kain? Barangkali itu juga kenapa orang-orang suka enggan menolong membawa korban laka lantas dengan mobilnya.

Terlepas dari itu, apa yang dilakukan ayah saya mungkin kecil artinya jika dibandingkan orang-orang hebat yang tindakan heroiknya tertulis di buku-buku sejarah. Namun satu hal yang beberapa tahun kemudian saya sadari, yakni ayah saya hanya diberi sakit beberapa jam saja sebelum akhirnya beliau meninggal. Hanya semalam saja beliau di rumah sakit, setelah itu meninggal dengan tenang.

Posted in Humaniora | 1 Comment »

2012 in review

Posted by djadjasubagdja on January 1, 2013

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The new Boeing 787 Dreamliner can carry about 250 passengers. This blog was viewed about 790 times in 2012. If it were a Dreamliner, it would take about 3 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Model Bisnis e-Book: Sebuah Pemelajaran dari China

Posted by djadjasubagdja on May 31, 2012

Model Bisnis merupakan salah satu kunci sukses sebuah aktivitas bisnis. Bahkan di abad ke-21 ini telah menjadi kunci terpenting dalam menentukan kesuksesan sebuah bisnis. Sebut saja Google atau Facebook yang mengawali bisnisnya dengan berinvestasi dalam penyediaan layanan/jasa kepada publik secara gratis, lalu setelah komunitas pengguna jasa terbentuk maka berdatanganlah pengiklan. Itulah model bisnis mereka. Bayangkan jika Google atau Facebook telah terlebih dahulu mematok tarif layanan kepada pengguna di awal, mungkin bisnis mereka tidak akan meraksasa.

 

Di dunia Penerbitan, model bisnis yang lazim adalah pola penerbit-distributor-toko (untuk buku-buku fiksi dan nonfiksi/umum). Sementara itu, penerbit buku pelajaran kebanyakan memakai pola penerbit-distributor-sekolah/kampus. Dengan kata lain, penerbit mengolah naskah, mencetak, lalu menjualnya melalui distributor. Selain itu, pasti ada beragam pola lainnya, tapi umumnya seperti itulah model bisnis penerbitan buku cetak.

 

Lantas bagaimana dengan buku versi elektronis atau yang lebih kita kenal dengan e-book? Dikbud sebetulnya telah menerbitkan e-book, dengan nama BSE (Buku Sekolah Elektronik) sejak tahun 2009-an. Apakah model bisnisnya bisa ditiru oleh penerbit swasta? Tentu saja tidak. Dikbud membeli naskah BSE dari penulis, lalu mengunggahnya ke internet untuk diunduh oleh siapa pun secara gratis. Tentunya model bisnis ini tidak bisa diejawantahkan di penerbitan buku yang dikelola pihak swasta.

 

Jadi, seperti apa model bisnis e-book yang cocok untuk penerbit swasta? Tentunya ada beragam model; dan keberagamannya ditentukan oleh banyak hal, seperti iklim bisnis, demografi, ketersediaan teknologi, perilaku konsumen yang ditargetkan, regulasi, dan sebagainya. Namun ada baiknya juga kita melihat kisah-kisah sukses bisnis e-book. Berikut ini adalah salah satu kisah sukses sebuah penerbit yang berbisnis e-book.

Shanda adalah sebuah penerbit buku konvensional (buku cetak) di China yang terjun ke bisnis e-book tanpa meninggalkan bisnis awalnya. Penerbit tersebut memiliki model bisnis yang unik. Shanda menyediakan sebuah situs jejaring (website) yang bisa diakses siapa pun untuk mengunggah naskah, tanpa harus meminta ijin. Lalu, publik bisa membaca naskah-naskah yang diunggah tersebut secara gratis. Jika sebuah naskah banyak diakses pengunjung, mereka hubungi penulisnya untuk ditawari kerja sama penerbitan. Setelah ada perjanjian penerbitan, naskah si penulis tersebut dipindahkan ke laman lain yang aksesnya berbayar.

 

Dari beberapa naskah yang di saat masih berada di laman gratisan banyak dibaca pengunjung, ternyata masih tetap diakses banyak pengunjung ketika sudah tersimpan di laman berbayar. Setelah berada di laman berbayar, ternyata siklusnya belum berhenti, e-book yang banyak dibaca biasanya dicetak, dijadikan buku konvensional. Ternyata, setelah menjadi buku konvensional pun, tetap saja penjualannya bagus.

 

Pengalaman Shanda ini disampaikan oleh CCO (Chief of Copyrights Officer) mereka, Zhou Hongli, di sebuah simposium menganai hak cipta di Abu Dhabi pada tahun 2010 lalu. Memang tidak banyak yang disampaikan Zhou mengenai bagaimana mereka menarik bayaran untuk laman berbayar mereka. Zhou hanya mengungkapkan bahwa Shanda mempersilakan pembacanya membeli “hak baca on-line“, lalu para pembaca tersebut dapat mengakses/membaca sejumlah e-book sesuai dana yang telah dibayarkan kepada Shanda.

 

Model bisnis ini menarik, sekaligus menunjukkan bahwa naskah yang banyak peminatnya pastilah akan selalu diminati; tidak bergantung pada medianya. Kisah sukses Shanda ini juga menunjukkan pada kita bahwa penerbit tidak perlu melakukan ‘hijrah’ dari buku konvensional ke e-book, tapi cukup menambahkannya saja. Semoga bermanfaat.

Posted in Humaniora | Leave a Comment »

2011 in review

Posted by djadjasubagdja on January 1, 2012

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 1,300 times in 2011. If it were a cable car, it would take about 22 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

KM 90-100 Cipularang: Antara Teknis, Supranatural, dan Pengemudi

Posted by djadjasubagdja on September 10, 2011

Sebetulnya, kecelakaan di jalan sering kali terjadi, di manapun di belahan dunia ini. Apa lagi di musim libur. Hal ini tentunya sesuai dengan hukum alam dimana peluang kejadian berbanding lurus dengan peningkatan aktivitas.

Demikian pula halnya dengan kecelakaan lalu lintas di Tol Cipularang di ruas KM 90 – 100, arah dari Bandung ke Jakarta. Frekuensinya meningkat sebanding dengan peningkatan kendaraan yang melaluinya. Sesuai dengan hukum alam, tepatnya ilmu statistik. Ooooops!! Namun, tentunya hal itu bukan pembenaran. Apa lagi korban jiwa relatif cukup banyak.

Seingat saya, dulu pernah ada rekan saya yang menulis panjang lebar mengenai ruas KM 90-100 beberapa hari setelah pembukaan Tol Cipularang. Teman saya ini bekerja di PT Telkom, tinggal di Jakarta, jadi sering melakukan perjalanan ke Kantor Pusat PT Telkom di Bandung. Rekan saya ini juga seorang sarjana fisika, yang mengerti mengenai gaya sentrifugal/sentripetal (terutama yang dialami kendaraan saat melaju di tikungan).

Dalam tulisan teman saya itu, dia menekankan pada hubungan antara sentripetal/sentrifugal yang muncul di kendaraan saat menikung dengan konstruksi jalan di ruas tersebut. Kemudian beberapa pekan setelah dikomersilkan, beberapa bagian Tol Cipularang mengalami longsor alias ambruk. Kemudian media mengkritisi konstruksi jalan tersebut. Struktur jalan dalam hubungannya dengan sentrifugal/sentripetal tadi juga muncul sedikit. Beberapa pakar mengkaitkan disharmoni antara usulan konsultan dan pelaksanaan pengerjaan.

Namun kemudian polemik di atas berhenti seiring dengan perbaikan dan penyempurnaan. Aspal pun mulai dilapiskan di atas badan jalan yang berupa beton. Pengguna merasa lebih nyaman dan puas. Perbincangan mengenai konstruksi jalan tol ini berangsur-angsur hilang di media. Fenomena baru malah muncul, yakni menjamurnya bisnis jasa travel Bandung-Jakarta yang memanfaatkan minibis.

Di Bulan September 2011 ini kembali tol Cipularang menjadi primadona media. Hampir semua media mengkritisi struktur ruas antara KM 90 hingga KM 100 jalan Tol Cipularang. Banyaknya kecelakaan di ruas jalan tersebut menimbulkan asumsi bahwa strukturnya tidak benar. Hal ini kemudian diluruskan oleh pakar dari ITB. Semoga apa yang disampaikannya benar.

Pemberitaan di media cetak dan perbincangan di televisi mengenai ruas ini tetap saja marak. Malah kini mengarah ke hal-hal yang bersifat supranatural. Media menyajikan berita dan artikel yang berkaitan dengan ruas jalan ini dari sisi struktur jalan, kelaikan kendaraan, kecergasan pengemudi, hingga ke penampakan-penampakan yang sering dilihat para pengemudi bis dan travel.

Tiba-tiba saya jadi ingat cerita almarhum sepupu saya yang berprofesi sebagai pengemudi travel. Almarhum bercerita bahwa banyak orang yang meyakini di sekitar ruas jalan tersebut ada hal-hal yang bersifat supranatural. Entah benar atau tidak, tapi katanya ketika jalan tersebut tengah dibangun, penduduk setempat menyarankan diadakan ruwatan di sekitar ruas tersebut. Ruwatan kemudian diselenggarakan dengan pementasan wayang semalam suntuk. Penontonnya hanya sedikit, tapi suasananya sangat “ramai”, katanya. Entahlah.

Namun kita juga tidak boleh mengingkari fakta lainnya dari beberapa kecelakaan maut di ruas jalan tersebut, yakni pengemudi yang mengantuk. Setidaknya dua dari kecelakaan-kecelakaan yang terjadi di ruas tersebut pada saat masa mudik Lebaran, pengemudinya mengaku mengantuk. Fakta lainnya adalah kelebihan penumpang pada beberapa kendaraan yang mengalami kecelakaan (yang disertai korban jiwa).

Bandung dan Jakarta seperti dua kota yang tidak dapat dipisahkan. Sejak jaman Belanda, ramai orang bepergian dari Jakarta ke Bandung dan sebaliknya. Sebelum Tol Cipularang ada, jalur Bandung – Jakarta, baik melalui Puncak maupun melalui Purwakarta, selalu ramai. Mobilitas penduduk di kedua kota ini sangat tinggi. Baik untuk pelesir maupun untuk keperluan pekerjaan atau bisnis.

Hal ini menimbulkan konsekuensi pada tingginya pemakaian sarana jalan Tol Cipularang. Apa lagi di saat akhir pekan atau musim liburan (termasuk musim mudik Lebaran). Apakah penyebab kecelakaan maut itu karena kondisi teknis struktur jalan di ruas tersebut, atau karena ada gangguan supranatural, atau karena ketidaklaikan kendaraan, atau karena kelalaian pengemudi? Tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti. Kalaupun ada, semua bisa dibalikkan dengan fakta lain bahwa: 1. tidak semua kendaraan yang melintas mengalami kecelakaan, 2. tidak semua kendaraan jenis tertentu mengalami kecelakaan, 3. Tidak semua kendaraan yang bermuatan lebih mengalami kecelakaan, dan 4. tidak semua pengemudi ngantuk/lelah mengalami kecelakaan.

Sebagian dari kita mengatakan bahwa itu semua sudah takdir. Itu benar adanya. Namun hal yang sudah pasti adalah bahwa di ruas jalan tersebut banyak dipasang rambu peringatan dan rambu pembatas kecepatan. Kalau kita sering melintas di ruas ini, kita sendiri juga akan merasakan bahwa kita tidak layak untuk memacu kendaraan kita seperti di ruas-ruas lainnya. Jadi, sekarang ini, yang penting adalah peningkatan kewaspadaan dari para pengemudi.

Pengemudi hendaklah menyiapkan kebugaran dan kecergasan diri. Jangan lupa juga mengontrol kondisi kendaraan. Kemudian berhati-hatilah, TERUTAMA ketika melintas di ruas KM 90-100 Tol Cipularang. Patuhi rambu-rambu yang telah disediakan operator tol. Terakhir, jangan lupa berdoa sebelum memulai perjalanan, memohon perlindungan dari hal-hal nyata dan hal-hal ghaib.

Memang nampak hebat ketika hanya menghabiskan 1,5 jam melintasi jalan tol dari Bandung menuju Jakarta atau sebaliknya. Namun jika hal itu beresiko, maka 2 jam atau 2,5 jam juga oke saja, karena yang telah menempuh 1,5 jam pun tidak pernah mendapat medali atau piala di atas podium juara.

Posted in Humaniora, Iptek | Leave a Comment »

Antara Salaman, Ketupat, dan Baju Baru

Posted by djadjasubagdja on August 27, 2011

Seingat saya, sejak dulu, bagi anak-anak, Lebaran berarti salaman, makan ketupat, kue, kacang, dan baju baru. Salam-salaman memiliki pengertian bersilaturahmi, mulai dari sekadar mengunjungi tetangga dan kerabat, hingga mudik alias pulang kampung.

 Hal ini tentunya tidak akan kita dapati di kawasan Timur Tengah yang penduduknya sama-sama merayakan Idul Fitri. Tradisi salaman, ketupat, kue, dan baju baru hanya terdapat di Indonesia, Malaysia dan Brunei. Barangkali juga ada tradisi semacam ini di Pakistan atau India, tapi rasanya Idul Fitri di negara lain tidak seheboh di Indonesia, Malaysia, dan Brunei.

Baikkah tradisi ini? Para ulama, ustadz, dan da’i selalu mengingatkan esensi Idul Fitri sebetulnya sederhana, yakni menyetop puasa dan melaksanakan shalat Idul Fitri berjamaah. Menyetop berpuasa artinya harus makan, dan memang di hari tersebut diharamkan berpuasa. Dalam melaksanakan shalat Idul fitri berjamaah, seperti shalat berjamaah lainnya, dianjurkan mengenakan pakaian yang terbaik. Itu saja.

Jadi, sebetulnya, kita tidak diperintahkan secara khusus harus bersalam-salaman di Hari Idul Fitri, bahkan sampai harus mudik. Kita juga tidak secara khusus diperintahkan memakai baju baru dan menyantap hidangan istimewa, apa lagi harus ketupat dan kari. Namun, pada kenyataannya, itulah yang dilakukan hampir semua umat muslim di Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Benarkah hal ini?

Benar atau tidak, hanya Allah swt yang mengetahuinya. Benar dan tidak juga relatif. Bergantung pada niat dan motivasi, serta pemahaman (ilmu) kita mengenai Idul fitri itu sendiri. Jika kita memang memiliki uang yang cukup untuk menyediakan makanan, bahkan menyiapkan untuk para tamu dan tetangga, mengapa tidak? Jika kita memiliki uang yang cukup untuk membeli pakaian baru, mengapa tidak? Jika memang waktu kita cukup luang untuk pergi mudik, mengapa tidak?

Selama tidak ada niat dalam diri kita untuk memamerkan apapun. Selama tidak ada niat dalam diri kita untuk berpesta pora menikmati segala jenis hidangan. Selama niat kita bahwa mudik itu untuk bersilaturahmi dengan orang tua dan saudara-saudara. Maka sah-sah saja kita mudik, bersalaman keliling kampung atau keliling kota, makan ketupat, menyuguhi tamu dengan aneka kue dan makanan lainnya, dan memakai baju baru. Selama dalam koridor silaturahmi.

Namun tentunya kurang baik jika kita niatkan untuk berhura-hura di hari Lebaran, menyantap hidangan tanpa memperhatikan kapasitas perut, pamer masakan, merasa masakan olahannya adalah yang terlezat, atau pamer baju baru. Kurang baik juga jika kita memaksakan diri membeli baju baru, memaksakan diri belanja beragam makanan, memaksakan diri membuat kue, atau memaksakan diri pergi mudik, padahal kemampuan kita terbatas atau padahal masih ada keperluan lain yang lebih penting. Apa lagi kalau sampai berhutang.

Marilah kita sambut Idul Fitri dengan mengumandangkan Takbir dan menyelesaikan kewajiban-kewajiban kita. Luangkan waktu untuk sholat Idul Fitri berjamaah di pagi hari, karena itu adalah ibadah sunat mu’akad. Jika memang ada rejeki lebih, bolehlah pergi mudik, bolehlah membeli baju baru, bolehlah menyiapkan makanan agak berlebih untuk menyuguhi tamu yang bersilaturahmi. Landasi semuanya dengan niat ibadah, niatkan karena Allah semata. Namun tetaplah ingat akan esensi atau ibadah pokok dari Idul Fitri, yakni menyuarakan Takbir dan sholat Idul Fitri.

(Sebuah nasehat untuk diri sendiri)

Posted in Humaniora | Leave a Comment »

Si Oleh-oleh Rutin: Ayam Pop!

Posted by djadjasubagdja on July 13, 2011

Dari tahun 1976 hingga 1981, Ayah kami ditempatkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kami, anak-anak, dan Ibu tidak turut ke Banjarmasin, karena Ibu bekerja sebagai guru di Bandung. Waktu itu, kondisi Banjarmasin belum seperti sekarang, air bersih dan sayuran segar sulit didapat. Itu juga yang menjadi alasan kedua kenapa kami tidak pindah ke Banjarmasin. Untungnya atasan Ayah kami sangat pengertian. Setiap ada rapat di Jakarta, beliau selalu menugaskan ayah kami yang menghadiri rapat. Artinya, sering juga ayah kami bisa berkesempatan pulang ke Bandung.

 Waktu itu, perjalanan terpraktis dari Jakarta ke Bandung, atau sebaliknya, adalah dengan Taxi 4848. Karena penumpang dijemput dari rumah dan diantar hingga ke tujuan. Mobil yang dipakai 4848 saat itu adalah sedan Holden Kingswood atau Premier, jadi penumpangnya hanya 4 orang, tidak terlalu makan waktu pada penjemputan dan pengantaran. Ketika itu Jakarta belum terlalu macet, dan Bandung belum macet. Khusus untuk rute Bandung-Jakarta atau sebaliknya, tempat istirahat resmi 4848 adalah Restoran Simpang Raya di Puncak.

Jadi, setelah selesai rapat di Jakarta, ayah kami pulang dulu ke Bandung naik Taksi 4848. Demikian pula sebaliknya, ketika harus kembali ke Banjarmasin, maka beliau juga memakai Taksi 4848 ke Bandara Kemayoran, Jakarta. Kelihatannya tidak ada yang istimewa, tapi bagi kami, anak-anaknya, ada yang istimewa. Ketika Taksi 4848 beristirahat di Simpang Raya Puncak, seperti penumpang lainnya tentu saja ayah kami makan. Namun beliau juga tidak lupa memesan beberapa potong ayam pop untuk dibungkus sebagai oleh-oleh. Itulah istimewanya!

Seingat saya, karena kebaikan atasannya tadi, dalam setahun, bisa dua atau tiga kali ayah kami berkesempatan pulang ke Bandung, termasuk pas Lebaran. Itu artinya, dalam setahun, kami bisa dua sampai tiga kali menikmati ayam pop Simpang Raya Puncak sebagai oleh-oleh. Akhirnya ayam pop menjadi makanan favorit saya di rumah makan Minang. Oleh-oleh memang selalu memberi makna dan kesan baik.

Ketika saya sudah berkeluarga, dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta beserta anak-istri dan mertua, kami mampir ke restoran Simpang Raya Puncak. Saya memesan ayam pop, demikian pula istri saya. Sambil makan, ibu mertua saya bercerita bahwa dulu Bapak Mertua (alm) suka mampir di Simpang Raya Puncak sepulang dinas dari Bandung. Ya ampun, saya jadi berfikir, barangkali dulu beliau pernah makan satu restoran dengan ayah kami, lalu sama-sama memesan ayam pop, dibungkus buat anak-anak di rumah. Kemudian yang seorang pulang ke Jakarta, yang seorang lagi pulang ke Bandung. Entahlah ….

Posted in Humaniora | 2 Comments »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.