Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Siapkah Kita Menangani PLTN?

Posted by djadjasubagdja on December 13, 2007

Menarik sekali tulisan Prof. Liek Wilardjo yang berjudul “Gegabah”, yang dimuat Kompas 12 Juni 2007 lalu. Dengan gaya tulisannya, beliau membimbing pembaca kepada kearifan untuk bertindak hati-hati (prudent) dan belajar dari bangsa-bangsa di negara maju yang telah mulai mengurangi PLTN mereka.

Saya katakan menarik sekali karena Prof. Liek Wilardjo (sebagai seorang fisikawan) tidak menguliahi kita dengan seabreg kebaikan dan keburukan PLTN dari dimensi ilmu dan teknologi, tapi beliau hanya menyampaikan kenyataan di atas dan kekhawatiran mengenai kedisiplinan dan ketaatan kita pada aturan.

Barangkali sebagian dari kita bertanya-tanya, sejauh itukah pertimbangan yang perlu kita perhitungkan jika kita membahas penerapan teknologi dalam kehidupan sehari-hari? Bukankah teknologi nuklir sudah matang. Bahkan teknologi lain yang setengah matang pun sudah ramai kita pakai. Lihat saja di dunia perkantoran, kantor mana yang tidak memanfaatkan teknologi komputer padahal kita semua tahu kalau yang namanya perangkat lunak itu sangat rentan terhadap serangan virus?

Pemikiran di atas benar adanya. Teknologi nuklir sudah relatif matang, bahkan pakarnya pun sudah banyak kita miliki. Lembaga pemerintahan yang mengurus kenukliran ini pun sudah lebih dari cukup, ada BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional) dan BAPETEN (Badan Pengawasan Tenaga Nuklir). Jurusan fisika di beberapa perguruan tinggi pun sudah lama memiliki program studi/keahlian pengetahuan/teknologi nuklir. Rencana pembangunan PLTN pun telah lama berkumandang di Negri kita ini. Bahkan sebelum krisis dimulai, Atomic Energy of Canada Limited (AECL), sebuah BUMN Kanada yang bergerak di bidang pembangunan reaktor nuklir berteknologi PHWR (Presured Heavy Water Reactor), telah menempatkan kantor perwakilan mereka untuk wilayah Asia-Pacific di Jakarta, tapi akhirnya mereka memindahkannya ke Bangkok karena rencana pembangunan PLTN kita tidak pernah terlaksana.

Keselamatan kerja di lingkungan instalasi radiasi telah lama kita pelajari dan praktekkan. Mata kuliah Proteksi Radiasi (Radiation Protection atau Health Physics) pasti ada di program-program studi pengetahuan fisika nuklir atau teknologi nuklir. Ketetapan-ketetapan dan standar-standar proteksi radiasi yang telah ditetapkan IAEA (International Atomic Energy Agency, sebuah badan PBB yang mengurusi energi nuklir/atom) merupakan hal dasar yang dipelajari para mahasiswa program studi ini. Proteksi radiasi juga telah lama diterapkan di instalasi reaktor kita di Yogyakarta, Bandung, dan Serpong.

Namun demikian, prodesur keselamatan radiasi menuntut kedisiplinan yang tidak bisa ditawar-tawar mulai dari perencanaan pembangunan hingga pengelolaan instalasi. Kita bisa bayangkan apa yang akan terjadi jika dinding instalasi/bangunan reaktor nuklir tebalnya kurang beberapa mili dari yang diharuskan? Atau katakanlah apa yang akan terjadi pada pekerja jika badge pengukur dosis radiasi pribadi (pocket/personal dosimeter) mereka tidak dikelola dengan kedisiplinan tinggi? Apakah kita yakin tidak akan ada anggaran yang tersunat untuk keperluan proteksi radiasi ini? Coba kita renungkan lagi, sudah siapkah kita (secara teknologi dan nonteknologi) untuk membangun PLTN?

Terus terang, saya bukan ahlinya untuk menjawab pertanyaan tadi. Saya juga tidak meminta para pembaca untuk berfikir keras memikirkan hal itu. Tapi marilah kita kembali ke akarnya. Pembangunan PLTN adalah pembangunan sebuah pembangkit listrik, dan ada banyak sumber energi yang dapat kita manfaatkan untuk membangkitkan tenaga listrik

Kita semua tahu bahwa umat manusia telah mengembangkan beragam pembangkit tenaga listrik. Kita pun memiliki beragam pembangkit tenaga listrik selain PLTD (pembangkit listrik tenaga disel). Sejak tahun 60-an kita telah memiliki PLTA Jatiluhur. Sejak tahun 70-an kita telah meneliti PLTP (pembangkit listrik tenaga panas bumi) di Kamojang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sudah lama juga para guru kita mengajarkan bahwa ombak dan pasang-surut dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik, dan kita tahu kalau garis pantai kita panjangnya bukan main-main. Pemanfaatan biogas pun sudah kerap ditayangkan sejak jaman acara Dari Desa ke Desa di TVRI tahun 80-an. Jadi, energi alternatif itu sebenarnya sudah lama nongkrong di hadapan kita.

Permasalahannya sekarang adalah, apakah sudah ada desain dasar (grand design) keenergian dari Pemerintah? Apakah iklan layanan masyarakat untuk berhemat energi yang kerap muncul di layar teve kita adalah bagian dari sebuah program keenergian yang terintegrasi dengan regulasi-regulasi yang ada di Departemen Pertambangan & Energi, Departemen Perhubungan, Departemen Perindustrian, dan Departemen Perdagangan, misalnya? Bagaimana energi kita akan hemat jika tidak ada regulasi kapasitas mesin kendaraan yang kita produksi atau kita impor? Mestinya program keenergian kita terpadu dengan regulasi produksi dan impor peralatan listrik dan mesin, baik untuk konsumsi industri maupun rumah tangga.

Pembangunan PLTN adalah alternatif terakhir, ketika semua energi telah kita manfaatkan untuk listrik kita sementara kebutuhan masih membengkak. Jika biogas, sel surya, mikrohidro, bahan bakar nabati, energi angin, energi pasang surut, dan energi hijau lainnya sudah kita manfaatkan tapi kebutuhan kita belum terpenuhi, maka barulah kita menengok PLTN.

Jika Pemerintah sudah bisa mengatur Pemda dalam mengelola kendaraan umum, ijin pembangunan gedung (yang dikaitkan dengan efisiensi pemakaian listrik), dan regulasi pemda (perda) lainnya yang bersinggungan dengan energi, maka mungkin kita tidak akan pernah kehabisan energi listrik. Semua bisa kita atur, semua energi alternatif bisa kita manfaatkan.

Memang benar, pemanfaatan energi alternatif masih memerlukan kajian dan penelitian lebih mendalam, terutama dari sisi rasio biaya terhadap kinerjanya (price per performance), karena jangan sampai harganya menjadi mahal. Bahkan di negara maju sekalipun masih dalam fase penelitian. Namun demikian, jangan mentang-mentang di negri orang masih diteliti, lantas kita menunggu teknologi itu matang, lalu ramai-ramai kita melakukan studi banding dan mengimpornya. Sudah saatnya kita berusaha menjadi pionir dalam penelitian teknologi, terutama teknologi energi alternatif.

Advertisements

2 Responses to “Siapkah Kita Menangani PLTN?”

  1. Aris said

    Yang mengerikan nanti perwatan yang ceroboh mulai dari pembangunannya sampai ke perawatan sehari-sehari. Risikonya , njeblug.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: