Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Bu Kapti Membuat Matematika tidak Menyeramkan

Posted by djadjasubagdja on March 22, 2009

Kalau diijinkan memberikan julukan, maka bu Kapti, yang bernama lengkap ibu S0ekapti ini, adalah guru gaul. Beliau boleh dibilang guru langka, karena biasanya guru matematika itu rata-rata orangnya serius dan formal. Bu Kapti memang lain dari pada yang lain, selalu senyum dan penuh canda. Namun bukan berarti beliau mengajari kami sambil bercanda. Bu Kapti pandai sekali mengelola sikap, kapan harus serius dan kapan bercanda dengan kami, murid-muridnya.

Saya tidak mengatakan beliau ini guru matematika yang memiliki metode pengajaran matematika super hebat. Namun, yang jelas, dengan kepandaiannya bersikap terhadap murid-muridnya, beliau menjadikan matematika tidak menakutkan bagi kami. Jika beliau menyuruh salah seorang dari kami mengerjakan soal di papan tulis, dan teman kami ini tidak dapat mengerjakannya, maka beliau tidak marah-marah. Beliau hanya berkata, “Kumaha atuh ini? Ayo ada yang bisa mengerjakan?”

Barangkali kesabaran beliau dalam menghadapi kami yang waktu itu masih sedang-sedangnya lebih mengedepankan bermain dari pada belajar, yang menjadikan jam pelajaran bu Kapti merupakan juga jam favorit kami. Saya pribadi, sekarang ini, kalau sudah harus mengajari anak saya matematika, rasanya inginnya marah terus. Saya baru sadar sekarang, betapa bu Kapti sangat sabar menghadapi beberapa dari kami yang tidak terlalu cepat mencerna matematika.

Selain seorang guru matematika yang baik, bu Kapti juga seorang wali kelas yang benar-benar menjadi “ibu” bagi kami. Ketika kelas dua, kebetulan bu Kapti adalah wali kelas kami. Hal yang tidak akan pernah kami lupakan dari beliau adalah kiatnya dalam melibatkan orang tua kami dalam mendidik kami. Di awal tahun di kelas dua, bu Kapti mengundang semua orang tua kami sekelas untuk mengadakan pertemuan orang tua di salah satu rumah teman kami. Uniknya, pertemuan ini tidak hanya dihadiri wali kelas dan orang tua, tapi juga seluruh siswa.

Pertemuan yang sifatnya informal ini diadakan beberapa kali, kalau tidak salah hingga tiga kali. Karena sifatnya informal, maka terkadang kami hanya duduk berkumpul lesehan sambil menikmati makanan ringan yang dihidangkan tuan rumah. Sambil duduk santai kami membicarakan masalah-masalah yang menyangkut pelajaran dan apa lagi kalau bukan urusan main sepulang sekolah.

Saya masih ingat, dalam pertemuan pertama, beberapa orang tua menyampaikan kekhawatiran dengan kegiatan kami sepulang sekolah. Memang, terkadang kami harus mengerjakan tugas bersama sepulang sekolah, tapi sebetulnya, sejujurnya, seringnya sih kami bermain bersama sepulang sekolah. Sebetulnya, orang tua kami tidak keberatan kami bermain sepulang sekolah, hanya saja mereka lebih tenang hatinya kalau mereka mengetahui keberadaan kami. Akhirnya diputuskan untuk membuat daftar siswa beserta nama orang tua, alamat kantor orang tua, dan alamat rumah, sehingga orang tua kami bisa saling berkomunikasi. Daftar itu diperbanyak dan dibagikan ke semua orang tua.

Sungguh, pertemuan yang diprakarsai oleh bu Kapti ini membuahkan hasil yang sangat berarti. Orang tua kami bisa lebih memantau kegiatan dan keberadaan kami. Sejalan dengan hal ini, kami sendiri menjadi lebih tertib. Jika kami akan mengadakan acara, misalnya merayakan ulang tahun teman sepulang sekolah, kami pasti memberi tahu orang tua kami sebelumnya. Perlu dicatat, pada masa itu, ponsel belum ditemukan dan bahkan rumah yang ada teleponnya pun masih jarang. Itulah gunanya orang tua kami mengetahui alamat dan nomor telepon kantor mereka masing-masing. Memudahkan dalam berkomunikasi.

Bu Kapti bukannya guru yang tanpa inovasi di dalam mengajari kami matematika. Ketika kami duduk di kelas tiga, beliau membagi kami dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok biasanya ada satu atau dua orang yang cukup baik nilai matematikanya. Di bulan-bulan menjelang ujian akhir, semua kelompok harus mengerjakan empat set kumpulan soal dari sebuah buku kumpulan soal. Kelompok harus mengerjakan bersama-sama, kemudian hasil kerja kelompok itu disalin oleh semua anggota kelompok. Hal ini tentunya memberi manfaat ganda bagi kami. Pertama adalah kemungkinan besar lebih banyak soal yang dapat dipecahkan, karena dikerjakan secara berkelompok. Keduanya, karena kemudian kami semua harus menyalin hasil kerja kelompok itu, maka kami menjadi lebih terlatih lagi.

Ketika batas akhir tanggal pengumpulan tugas tiba, ternyata hanya beberapa siswa yang menyerahkan tugas. Saya dan teman-teman sekelompok belum tuntas mengerjakan. “Pokoknya, tugas harus diserahkan sebelum tanggal yang telah ditetapkan!” demikian ditegaskan bu Kapti kepada kami di kelas pada tanggal tersebut. Karena kami tidak ingin mendapat nilai jelek, maka sepulang sekolah kami meneruskan mengerjakan tugas tersebut. Hanya saja, karena waktu yang mepet, akhirnya kami membagi tugas, setiap anggota kelompok mengerjakan satu set. Tidak sempat lagi kami mendiskusikan seluruh set dan menyalin setiap set.

Akhirnya, setelah berkeringat mengerjakan soal-soal, selesailah kami mengerjakan keempat set kumpulan soal tersebut jam 10 malam. Segera saja kami meluncur menuju rumah bu Kapti dan berdoa semoga beliau belum tidur. Ketika kami tiba di rumah beliau, bu Kapti memang belum tidur, dan beliau hanya ketawa-ketawa saja melihat ulah kami yang mengumpulkan tugas malam-malam. Itupun tidak 100% seperti yang beliau minta, kami hanya mengumpulkan empat set lembar jawaban sebagai jawaban kelompok. “Kan ibu minta kami mengumpulkan paling lambat hari ini, dan ini belum jam 12 malam Bu,” kata kami memberanikan diri.

Bu Kapti menerima semua lembar jawaban itu sambil mengecek siapa saja yang benar-benar mengerjakan tugas kelompok kami. Terus terang, kami tidak menutupi siapa yang mengerjakan set soal yang mana. Bahkan kami sampaikan juga bahwa ada salah seorang teman yang tidak ikut mengerjakan karena yang bersangkutan kebetulan hari itu harus mengikuti bimbingan belajar. Semua kami sampaikan, dan bu Kapti menerima tugas kami sambil tidak lupa menyuguhi kami minum dan suguhan candanya.

Rasanya, selama saya belum pikun, sulit rasanya melupakan senyum bu Kapti. Keseriusannya di kelas. Candanya yang menyegarkan kami. Tanggung jawabnya sebagai wali kelas. Kedekatannya dengan murid. Semuanya menjadikan kelas matematika kami tidak menakutkan. Terima kasih banyak bu Kapti.

Advertisements

2 Responses to “Bu Kapti Membuat Matematika tidak Menyeramkan”

  1. danny said

    ada yg tau alamat bu soekapti skrg ga? beliau sempat jd wali kelas kami dulu di smandel. tolong kontak ke 08122312852. trims yah

    • djadjasubagdja said

      wah, kita punya guru yang sama ya …. tapi sayang saya juga tidak tau alamat beliau …. dulu rumahnya di daerah Supratman, tapi tidak tau alamat jelasnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: