Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Antara Salaman, Ketupat, dan Baju Baru

Posted by djadjasubagdja on August 27, 2011

Seingat saya, sejak dulu, bagi anak-anak, Lebaran berarti salaman, makan ketupat, kue, kacang, dan baju baru. Salam-salaman memiliki pengertian bersilaturahmi, mulai dari sekadar mengunjungi tetangga dan kerabat, hingga mudik alias pulang kampung.

 Hal ini tentunya tidak akan kita dapati di kawasan Timur Tengah yang penduduknya sama-sama merayakan Idul Fitri. Tradisi salaman, ketupat, kue, dan baju baru hanya terdapat di Indonesia, Malaysia dan Brunei. Barangkali juga ada tradisi semacam ini di Pakistan atau India, tapi rasanya Idul Fitri di negara lain tidak seheboh di Indonesia, Malaysia, dan Brunei.

Baikkah tradisi ini? Para ulama, ustadz, dan da’i selalu mengingatkan esensi Idul Fitri sebetulnya sederhana, yakni menyetop puasa dan melaksanakan shalat Idul Fitri berjamaah. Menyetop berpuasa artinya harus makan, dan memang di hari tersebut diharamkan berpuasa. Dalam melaksanakan shalat Idul fitri berjamaah, seperti shalat berjamaah lainnya, dianjurkan mengenakan pakaian yang terbaik. Itu saja.

Jadi, sebetulnya, kita tidak diperintahkan secara khusus harus bersalam-salaman di Hari Idul Fitri, bahkan sampai harus mudik. Kita juga tidak secara khusus diperintahkan memakai baju baru dan menyantap hidangan istimewa, apa lagi harus ketupat dan kari. Namun, pada kenyataannya, itulah yang dilakukan hampir semua umat muslim di Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Benarkah hal ini?

Benar atau tidak, hanya Allah swt yang mengetahuinya. Benar dan tidak juga relatif. Bergantung pada niat dan motivasi, serta pemahaman (ilmu) kita mengenai Idul fitri itu sendiri. Jika kita memang memiliki uang yang cukup untuk menyediakan makanan, bahkan menyiapkan untuk para tamu dan tetangga, mengapa tidak? Jika kita memiliki uang yang cukup untuk membeli pakaian baru, mengapa tidak? Jika memang waktu kita cukup luang untuk pergi mudik, mengapa tidak?

Selama tidak ada niat dalam diri kita untuk memamerkan apapun. Selama tidak ada niat dalam diri kita untuk berpesta pora menikmati segala jenis hidangan. Selama niat kita bahwa mudik itu untuk bersilaturahmi dengan orang tua dan saudara-saudara. Maka sah-sah saja kita mudik, bersalaman keliling kampung atau keliling kota, makan ketupat, menyuguhi tamu dengan aneka kue dan makanan lainnya, dan memakai baju baru. Selama dalam koridor silaturahmi.

Namun tentunya kurang baik jika kita niatkan untuk berhura-hura di hari Lebaran, menyantap hidangan tanpa memperhatikan kapasitas perut, pamer masakan, merasa masakan olahannya adalah yang terlezat, atau pamer baju baru. Kurang baik juga jika kita memaksakan diri membeli baju baru, memaksakan diri belanja beragam makanan, memaksakan diri membuat kue, atau memaksakan diri pergi mudik, padahal kemampuan kita terbatas atau padahal masih ada keperluan lain yang lebih penting. Apa lagi kalau sampai berhutang.

Marilah kita sambut Idul Fitri dengan mengumandangkan Takbir dan menyelesaikan kewajiban-kewajiban kita. Luangkan waktu untuk sholat Idul Fitri berjamaah di pagi hari, karena itu adalah ibadah sunat mu’akad. Jika memang ada rejeki lebih, bolehlah pergi mudik, bolehlah membeli baju baru, bolehlah menyiapkan makanan agak berlebih untuk menyuguhi tamu yang bersilaturahmi. Landasi semuanya dengan niat ibadah, niatkan karena Allah semata. Namun tetaplah ingat akan esensi atau ibadah pokok dari Idul Fitri, yakni menyuarakan Takbir dan sholat Idul Fitri.

(Sebuah nasehat untuk diri sendiri)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: