Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Jus Terong Penjajah yang Menjajah

Posted by djadjasubagdja on July 11, 2011

Jika anda tertarik dengan menu nasi darah, sosis squid ward, sayur popeye, buah eragon, buah citra, kue doraemon, kue mayang sari, minuman pelayan semenit, jus terong penjajah, atau jus bugs bunny, maka anda harus bergabung dengan sisiwa baru yang sedang mengikuti masa orientasi sekolah. Istilah-istilah kreatif di atas memang terasa lucu dan menantang kecerdasan peserta MOS (dan orang tuanya juga). Namun apakah memang perlu seperti itu?

Jika barang yang dimaksud memang tersedia banyak, ya tidak masalah, keluar uang sedikit atau banyak ya tidak apa-apa. Demi anak. Namun jika barang yang dicari sudah habis di pasar/toko, harus bagaimana lagi. Akhirnya akal-akalan, sambil meyakinkan si anak bahwa itu sudah sesuai dengan yang ditugaskan.

Saya kemudian teringat dengan masa orientasi saya sendiri di kampus, dulu. Berbeda dengan kampus-kampus lain ketika itu, ITB tidak menyelenggarakan masa orientasi mahasiswa (OPSPEK). Justru ketika tahun pertama berakhir, memasuki tahun kedua,  kami dipelonco senior sebelum bergabung ke organisasi himpunan jurusan. Penyelenggaraannya tidak diakui otoritas kampus, alias liar.

Namun, meskipun liar, dari sisi tugas membawa barang/perlengkapan, rasanya tidak terlalu merepotkan kami, apa lagi orang tua kami. Peserta yang dipelonco tidak ditugasi membawa barang aneh-aneh yang tidak perlu, paling-paling disuruh membawa koran bekas yang digulung. Setelah capek digulung, eh dipakai senior untuk memukul-mukul lantai menakut-nakuti kami ketika disuruh push up.

Kegiatannya kebanyakan berupa penugasan fisik berat, seperti lari, merayap, atau push up hingga berkali-kali. Kemudian kegiatan diakhiri dengan berkemah di Cikole – Lembang. Oleh sebab itu, kami ditugasi untuk membawa kayu bakar, korek api, lilin, gula batu, kantong kresek, kaos kaki tebal, jaket tebal, dan tenda. Tidak ada barang aneh atau lucu.Tidak ada kalung jengkol dan pete seperti di kampus-kampus lain. Ada juga tugas memecahkan perhitungan rumit yang hasil akhirnya berupa angka, dan pada jam yang sesuai dengan angka tersebut tugas hitungan tadi harus kami kumpulkan.

Jika tidak membawa, tidak dihukum, paling diomel-omeli, karena semua itu merupakan perlengkapan yang harus kami miliki untuk bisa bertahan dalam perkemahan di daerah dingin tersebut. Tidak membawanya sama dengan rugi sendiri. Kalau tidak membawa semua itu, bisa repot, terutama pas kegiatan jurit malam, berjalan sendirian di tengah hutan di malam hari dengan hanya berpedoman pada tanda panah. Ujung-uungnya, akhirnya dibotakin.

Di perkemahan, kegiatan aktivitas fisik berat yang dilakukan cukup heboh, seperti merayap di lumpur, direndam di sungai, naik/turun bukit, tarik tambang, merayap di atas tambang yang direntangkan di antara dua bukit, dan di-press sampai sesak nafas. Jadi rupanya, kegiatan lari, senam, dan push up beberapa hari sebelumnya selama di kampus itu tujuannya sebagai pemanasan sebelum aktivitas fisik berat di perkemahan.

Sebetulnya, baik perpeloncoan lucu-lucuan, maupun perpeloncoan bernuansa aktivitas fisik berat, ujung-ujungnya sama, peserta rata-rata kesal dan marah (setidaknya pada saat itu). Itulah kenapa ketika saya sudah menjadi senior saya tidak mau ikut melonco junior. Bukan apa-apa, sejujurnya dulu saya tidak senang diperlakukan seperti itu, jadi kenapa saya harus melakukan hal itu kepada orang lain?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: