Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Antara Soto Bangkong, Wingko Babat, dan Tiramisu

Posted by djadjasubagdja on June 14, 2011

Sekitar tahun 2000-an, dalam perjalanan Bandung-Jakarta, mantan pimpinan saya mampir ke rumah makan Soto Bangkong yang di Puncak. Tidak lupa beliau ajak pak sopir untuk makan bersama. Pak sopir menolak, padahal pastinya dia sangat lapar, karena memang saat itu sudah waktunya makan malam. Sang pimpinan terus memaksa pak sopir untuk makan bareng, karena beliau tau pak sopir pasti lapar juga, tapi tetap saja pak sopir menolak.

Akhirnya pimpinan saya sadar kalau sang sopir salah mengerti dengan nama “Soto Bangkong”. Bangkong dalam bahasa Sunda berarti katak/kodok. Sang sopir sebetulnya bukan orang Sunda, dia orang Betawi, tapi dia tau kalau bangkong dalam bahasa Sunda itu berarti katak/kodok. “Pak Warta, Soto Bangkong itu bukan soto kodok, tapi soto ayam khas daerah Bangkong, nama daerah di Semarang,” demikian sang pimpinan menjelaskan kepada pak sopir. Setelah mengerti, akhirnya pak sopir itupun mau diajak makan malam bersama.

Kisah yang mirip, pernah saya alami sendiri. Dulu, ketika masih di SD, uwak (pakde’) kami baru pulang dari Semarang. Beliau membawa banyak oleh-oleh, diantaranya Wingko Babat. Kami pun dikirimi Wingko Babat. Membaca namanya, saya fikir ini makanan pasti terbuat dari beras ketan dan di dalamnya ada babatnya. Pas saya gigit, eh koq rasanya manis. Penasaran, saya belah dua itu wingko dengan tangan, berharap menemukan babat di tengahnya. Namun tidak ada babatnya.

Terus terang, saya kecewa …. hahaha …. dan tidak habis fikir kenapa harus diembel-embeli babat kalau tidak ada babat di dalamnya. Malah rasanya manis. Sejak saat itu, saya tidak pernah menyentuh lagi yang namanya Wingko Babat, karena merasa “tertipu”. Baru setelah saya besar, dan tau bahwa Babat itu nama daerah tempat wingko tersebut dibuat, pelan-pelan saya bisa menikmati Wingko Babat. Sekarang saya malah doyan Wingko Babat.

Satu kisah lucu lagi adalah ketika makan bersama istri saya di sebuah rumah makan di jalan Hasanuddin, di Bandung, di abad yang lalu. Setelah memesan beberapa jenis makanan, istri saya memesan tiramisu. Terus terang, sampai hari itu saya belum pernah makan tiramisu. Pernah mendengar, tapi belum pernah mencoba, ketika itu.

Bayangan saya akan tiramisu adalah tiram dan sup miso (miso soup, sup-nya orang Jepang), dan saya fikir tiramisu ini makanan khas Jepang. Jadi, dengan bayangan seperti itu, saya juga ikut memesan tiramisu ini. “Tiramisu-nya satu lagi ya, mbak,” kata saya kepada si pramusaji sambil membayangkan sup miso hangat campur tiram.

Setelah menunggu beberapa saat, datanglah pesanan kami. Tiramisu-nya juga datang bersamaan dengan hidangan utama. “Ini apa? rasanya kita gak pesan puding coklat,” kata saya kepada istri. “Lha kan tadi kita pesan tiramisu,” jawab istri saya. Hahahaha …. jadi rupanya ini toh yang disebut tiramisu …. bukan tiram dan sup miso, serta bukan makanan Jepang!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: