Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Seandainya Sepupu Saya Terus Bermain Bola

Posted by djadjasubagdja on January 10, 2011

Setiap menyaksikan pertandingan sepak bola di tv, saya selalu teringat seorang sepupu yang waktu kecilnya termasuk jagoan main sepak bola. Di penghujung tahun 70-an, di tempat tinggal kami bermunculan klub-klub sepak bola anak-anak kampung. Biasanya satu klub terdiri dari beberapa anak yang tinggal berdekatan, dari RT atau RW yang sama. Lantas mereka bertanding dengan klub kampung lain.

Fenomena ini kemudian berkembang. Pertandingan klub anak-anak kampung ini kemudian menjadi lebih terorganisir hingga menjadi sebuah turnamen di tingkat Kelurahan (waktu itu namanya Lingkungan). Pada perkembangannya, tidak hanya anak-anak yang membentuk klub, tapi kemudian para pemuda pun mengikuti jejak mereka. Kemudian lahirlah apa yang disebut “Domba Cup”.

Kembali ke sepupu saya tadi. Sang sepupu ini termasuk menonjol permainannya di turnamen antar klub anak-anak kampung. Beberapa kali saya menyaksikan dia bertanding, terus terang dia memang jago menggiring bola, dan bahkan memasukkannya ke gawang. Namun sayang, sang sepupu yang ketika itu dalam asuhan buyut kami, tidak direstui buyut kami untuk bermain bola.

Di mata buyut kami, bermain sepak bola hanya membuang-buang waktu. Seringkali buyut kami menjewernya kalau ketahuan bermain sepak bola. Bahkan kami pun kena getahnya dan diberi tahu orang tua kami agar tidak mendorong-dorong dia bermain sepak bola. Terus terang, waktu itu saya dan sepupu-sepupu lain yang menyemangati dia bermain di klub kampung.

Waktu berjalan, setahu kami, sang sepupu ini masih suka bermain sepak bola hingga SMP. Barangkali buyut kami pun tau mengenai itu, tapi selama bukan mengikuti pertandingan antar klub kampung, ya masih oke-oke saja lah. Barangkali maksud buyut kami adalah, oke saja kalau hanya berolah raga bermain bola, tapi jangan ikut bertanding, karena sekolah yang utama.

Setelah kami besar, saya, yang memang dari kecil tidak terlalu menggemari dunia olah raga, kemudian meneruskan sekolah di perguruan tinggi. Sang sepupu tadi pun sama, dia kemudian kuliah juga, tidak menjadi pemain bola. Sekarang, setelah dewasa, saya menjadi pegawai, demikian pula dengan sepupu saya tadi. Itu barangkali memang sudah menjadi jalan hidup kami. Alhamdulillah kami bisa menghidupi keluarga dengan menjadi karyawan.

Namun, selalu saja saya berandai-andai. Seandainya sepupu saya dulu tidak dilarang-larang bermain sepak bola di klub kampung, barangkali dia sudah menjadi pemain tim sepak bola nasional, atau minimal pemain Persib. Perkiraan saya tidak berlebihan, karena kemampuan si sepupu saya tadi, menurut saya, kurang lebihnya sama lah dengan salah seorang teman SMA saya yang kebetulan pemain Persib Junior.

Sebelum saya lanjutkan, di sini saya tidak bermaksud menyalahkan buyut kami. Tidak, beliau tidak salah. Hanya saja, memang ketika itu menjadi pemain sepak bola bukan sebuah profesi menjanjikan. Bahkan baru 10 tahun setelah itu para pemain sepak bola mendapatkan penghasilan yang lumayan plus janji menjadi karyawan Pemda. Baru beberapa tahun setelah itu muncul kompetisi sepak bola pro yang lebih mensejahterakan pemain.

Seandainya saja sepupu saya menjadi pemain sepak bola profesional, pastinya penghasilannya akan jauh lebih banyak dari sekarang ini. Jangan salah sangka, sepupu saya ini sekarang memiliki pekerjaan tetap di sebuah perusahaan nasional. Namun jika kita bandingkan dengan penghasilan pemain sepak bola yang bisa mencapai Rp 80 juta per bulan, maka gaji sepupu saya bukan tandingannya.

Ah, seandainya sepupu saya menjadi pemain profesional, atau lebih jauh lagi, seandainya lebih banyak lagi anak negri ini yang dari kecil didorong untuk menjadi pemain sepak bola profesional, tentunya dana sepakbola yang diambil dari APBD itu tidak akan banyak jatuh ke tangan pemain asing!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: