Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Hujan Abu Vulkanik

Posted by djadjasubagdja on November 8, 2010

Pekan ini kota-kota di sekitar Merapi diguyur hujan abu vulkanik yang dimuntahkannya. Bahkan abu vulkanik Merapi tertiup jauh hingga ke Pangalengan, Kabupaten Bandung. Beberapa foto yang memperlihatkan warga Yogyakarta, Magelang, dan Sleman mengenakan masker di jalanan berdebu nampak menghiasi sejumlah media. Terus terang saya sangat prihatin dengan kondisi tersebut.

Keprihatinan saya didasari oleh pengalaman yang sama, yang pernah saya alami juga di tahun 1982 ketika Galunggung meletus. Ketika itu abu vulkanik Galunggung tertiup jauh hingga ke Kota Bandung. Apa yang dialami warga Yogyakarta, Sleman, Magelang dan kota lainnya di seputar Merapi sama dengan yang kami alami dulu di tahun 1982.

Ketika abu Galunggung menghujani Kota Bandung, kecepatan pemberitaan belum sefantastis jaman sekarang. Berita aktivitas Galunggung tidak seramai berita aktivitas Merapi saat ini. Lebih dari itu, saya kira warga Bandung juga tidak pernah berfikir abu letusan Galunggung bakal menghujani kotanya. Jarak Galunggung – Bandung tidak sedekat Merapi – Yogyakarta, jadi sungguh merupakan kejutan bagi orang Bandung menerima hujan abu Galunggung.

Saya masih ingat, pagi itu saya pergi ke sekolah seperti biasa, naik bemo. Ketika sampai di perempatan antara Jalan Gardujati dan Jalan Kebonjati, saya pijit bel bemo karena mau turun. Namun saat itu ada pemandangan yang membuat saya terheran-heran. Ketika membayar ongkos ke sopir bemo, saya lihat langit di sebelah Timur malah gelap. Lantas secara refleks saya tengok ke belakang, ke arah Barat, dan ternyata malah langit di Barat terang benderang. Saya bisa melihat perbedaan ini karena kebetulan Jalan Kebonjati membujur dari arah Barat ke Timur.

Apa mungkin ini yang namanya kiamat, fikir saya waktu itu. Namun sebagai seorang anak kelas 2 SMP, saya waktu itu tidak berfikir terlalu banyak. Saya lantas lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri Jalan Pasirkaliki menuju sekolah. Tiba di sekolah, teman-teman juga ramai membicarakan langit yang menghitam. Namun setelah bel berbunyi kami segera masuk ke dalam kelas.

Setelah bel berbunyi, guru matematika kami, Ibu Nurma Isa, masuk ke kelas, dan kami belajar matematika seperti biasa. Beberapa waktu setelah pelajaran dimulai perhatian kami teralihkan ke keriuhan di luar kelas saat teman-teman dari kelas lain (kalau tak salah kelas 2F) sedang berjalan beriringan dari arah perpustakaan menuju ke kelas mereka. Teman-teman ini berjalan sambil membersihkan rambutnya dari debu berwarna abu-abu.

Lantas segera saja kami semua tersadar bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi, hujan abu! Kepala Sekolah beserta para guru segera membuat pengumuman bahwa kegiatan belajar dihentikan, tapi siswa silarang meninggalkan sekolah kecuali jika ada orang tua yang menjemput atau rumahnya tidak jauh dari sekolah. Saya sendiri dijemput oleh ayah kami dengan mobil jemputan kantor. Perjalanan dari sekolah ke rumah cukup mencekam juga, jalan dan udara dipenuhi abu. Semua kendaraan menyalakan lampu dan berjalan perlahan karena pandangan buruk dan jalan juga menjadi licin oleh tumpukan abu.

Setibanya di rumah, ibu dan adik-adik rupanya sudah terlebih dahulu ada di rumah. Lantas segera saja ayah kami menutup semua lubang ventilasi dengan koran bekas, serta menutupi celah pintu bagian bawah dengan kain pel basah. Langit gelap, udara dikotori abu yang terus turun dari langit, dan suhu udara dingin, sedingin malam. Tidak banyak yang kami lakukan selain tiduran sambil berselimut.

Baru sore harinya abu vulkanik tidak turun lagi, namun kami belum bisa melihat langit, karena udara yang masih terkotori abu. Bayangkan saja, abu vulkanik itu sangat halus, angin sepoi-sepoi saja dapat menerbangkan tumpukan abu di tanah. Abu yang turun di Kota Bandung waktu itu volumenya juga sangat banyak. Tumpukannya di jalan dan halaman barangkali mencapai ketebalan 5 sampai 10 sentimeter. Becak yang meluncur di jalanan saja dapat menerbangkan tumpukan abu tersebut.

Saya lupa apakah keesokan harinya saya pergi ke sekolah atau kami diliburkan. Namun yang jelas selama beberapa pekan kami harus memakai penutup hidung jika bepergian. Saat itu masker yang seperti dipakai pengendara sepeda motor jaman sekarang belum ada, masker rumah sakit juga tidak lazim dijual di apotek, jadi pada saat itu penutup hidung kami adalah saputangan. Kami juga belum dapat bermain-main di pekarangan. Sampai beberapa hari, jarang sekali orang keluar rumah. Jangankan main kucing-kucingan atau sepak bola dengan teman-teman, untuk main ke rumah teman saja rasanya enggan.

Beberapa hari setelah hujan abu tersebut, tiba-tiba saja ayah kami naik ke atap rumah, lantas turun kembali untuk mengambil sekop kecil dan beberapa kantong plastik. Lantas beliau kembali naik ke atap. Sambil mengenakan penutup hidung, beliau sekopi abu yang menempel di genting lalu beliau masukkan ke kantong plastik. Jika kantong-kantong plastiknya sudah penuh, beliau minta bantuan kami untuk membuang abunya.

Demikian beliau lakukan hal itu beberapa hari, di sore hari sepulang kerja (jaman dulu jam kerja hanya sampai pukul 14.00). Setelah tumpukan debu di genting dan jalan air terambil semua, lantas beliau menyirami genting dengan air dari selang. Meskipun saat itu saya bingung mengapa beliau lakukan itu, tapi kami bantu juga. Tetangga juga nampaknya pada bingung. Mungkin mereka fikir kenapa pula tumpukan abu di genting itu harus dibersihkan, bukankah hujan yang akan membersihkannya?

Saya perhatikan, beberapa orang yang melintas di depan rumah kami juga sedikit tersenyum melihat apa yang ayah kami lakukan. Namun karena ayah kami seorang perwira menengah, pastilah mereka tahan-tahan untuk tidak tertawa. Pembantu kami juga bercerita kalau orang-orang sebetulnya pada tertawa menyaksikan apa yang ayah kami lakukan, tapi mereka tidak berani tertawa di dekat rumah kami.

Namun apa yang dilakukan ayah kami berbuah manis ketika hujan turun. Apa yang menjadi keheranan orang-orang akhirnya terjawab ketika turun hujan pertama pasca hujan abu tadi. Setelah hujan berhenti hampir semua tetangga ribut lantaran talang air mereka tersumbat abu. Bahkan ketika hujan sedang turun beberapa dari mereka naik ke atap untuk menusuk-nusuk abu yang menyumbat talang air. Beberapa talang rumah tetangga juga ada yang jebol, bahkan ada yang pinggiran atapnya rusak karena terbebani air yang menggenanginya, akibat talang yang tersumbat.

Saya ingat, setelah hujan itu nenek kami berkata, “Nah kalau dulu orang-orang menertawakan bapak kalian ketika sedang membersihkan atap rumah, sekarang kita tersenyum karena talang rumah kita tidak mampet.” Begitulah kata nenek kami yang bangga dengan menantunya itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: