Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Internet Sehat Bikin Hebat, Semoga Bukan Hanya Impian

Posted by djadjasubagdja on October 18, 2010

Kalau anda pengguna salah satu jejaring sosial terpopuler saat ini, tentu masih ingat video singkat berisi sajak yang dibacakan oleh seorang anak kecil yang ‘menyindir’ para orang tua yang kecanduan jejaring sosial tersebut. Dalam beberapa hari, setelah video sajak tersebut diunggah, maka ramailah orang-orang membicarakannya, saling menertawakan kelakuan teman dan diri sendiri. Namun apakah ‘permintaan’ sang anak diindahkan oleh para orang tua? Entahlah, yang jelas jejaring sosial kian sesak dan perangkat pengaksesnya juga kian beragam.

Jejaring sosial berbasis internet seperti Friendster, Facebook, atau Twitter adalah budaya baru warga negara internet (netizen), kamum urban yang tidak gaptek. Jika Friendster lebih banyak dikonsumsi kaum muda, maka Facebook dan Twitter dikonsumsi oleh hampir semua usia dan golongan. Tidak hanya warga biasa, bahkan pejabat dan pesohor pun memanfaatkannya. Bukan hal aneh jika seorang mentri rajin men-twit atau seorang ustadz pandai ‘berdakwah’ di FB.

Sehatkah fenomena ini? Tentu saja relatif. Jika kita ambil contoh pak ustadz atau pak mentri di atas, ya sehat sekali. Jaman dulu, mana ada mentri segaul itu? Jaman dulu, mana ada ustadz secanggih itu? Namun jika kita ambil contoh peristiwa ‘penculikan’ seorang anak gadis oleh teman yang dikenalnya di jejaring sosial, ya berarti tidak sehat juga. Jika kita bisa ‘menemukan’ kawan lama di jejaring sosial, maka hal itu berarti tersambungnya tali silaturahmi. Namun jika yang kita ‘temukan’ adalah pacar lama, maka entah apa yang akan terjadi.

Pendek kata, dampak baik atau buruk dari internet tergantung kepada kita. Sebelum ada media gaul jejaring sosial di internet, media gaul lainnya sudah ada sejak lama. Pesawat 2 meteran atau 11 meteran dan interkom adalah contohnya. Kita semua faham, semua media gaul tersebut memiliki dampak baik dan buruk. Bukan alat atau medianya yang mengakibatkan munculnya kebaikan dan keburukan tersebut, tapi memang manusia (baca: penggunanya) memiliki kedua sisi tersebut.

Kembali kepada internet. Jika segala sesuatu yang kita lakukan dengan memanfaatkan internet itu adalah sesuatu yang sehat maka kebaikan yang mengikutinya. Bahkan, bukan hanya kebaikan, tapi sesuatu yang hebat. internet sehat bikin hebat, itu harapannya. Seperti apa kehebatan itu?

Jika kita tengah mencari tahu mengenai pengetahuan atau informasi kebutuhan hidup, maka akan lebih cepat, mudah, dan murah dengan bantuan internet. Kita tidak perlu melakukan beberapa percakapan telepon untuk mencari tiket pesawat dan penginapan, cukup mencari dan memesannya melalui internet. Demikian pula di saat kita mencari buku, peralatan elektronik, peralatan rumah tangga, atau bahkan melakukan transaksi perbankan seperti pembayaran tagihan listrik, telepon, tv kabel, atau melakukan transfer uang. Semua bisa dilakukan dari rumah atau kantor kita; atau dari tempat kita mudik. Bukankah itu hebat?

Namun demikian, sudah berapa persen masyarakat urban kita memanfaatkan internet? Seberapa banyak masyarakat urban kita yang percaya dengan transaksi keuangan atau pembelian barang melalui internet? Entah ini karena faktor kepercayaan atau faktor budaya, tetapi kaum urban kita masih lebih gemar berbelanja sambil jalan-jalan cuci mata. Bisa dibayangkan, kalau belanja melalui internet sudah membudaya dengan lebih luas, maka akan lebih efisien hidup kita. Bukankah itu hebat?

Namun kehebatan itu dapat diwujudkan jika dan hanya jika internet kita sehat. internet sehat itu artinya jalurnya sangat lebar, tapi cukup ekonomis. internet yang sehat itu artinya yang jalurnya tidak dipenuhi lalu lintas konten yang tidak perlu, seperti pornografi, misalnya. internet yang sehat itu artinya aman dari bahaya penyadapan/pembocoran data dan manipulasi data. internet sehat itu artinya menjangkau seluruh wilayah tanah air kita.

Jika hal-hal tersebut di atas dapat dipenuhi oleh para pemangku kepentingan di ranah perinternetan, maka tidak ada hasil yang akan kita dapatkan kecuali kebaikan dari internet yang bisa membawa kita pada kehebatan. internet yang sehat seperti di atas akan membuat kita menjadi masyarakat yang hebat. Bukan semata karena kita menjadi masyarakat yang melek teknologi. Namun, lebih dari itu, juga melek terhadap hal-hal yang baik dari sisi aturan, moral, dan etika.

Coba anda bayangkan, sebuah struktur internet di sebuah negara yang jalurnya super cepat, handal, dan murah. Namun tidak ada regulasi dan kebijakan yang memayunginya. Saya yakin, jalur internet seperti itu hanya akan menjadi surga bagi para penyedia jasa konten amoral. Struktur internet ini juga akan tergadai pada para kaum licik yang memanfaatkan kelemahan masyarakat.

Kemudian, anda bayangkan lagi, katakanlah jalur super cepat, handal, dan murah tadi telah dipayungi oleh seabreg regulasi dan kebijakan. Namun masyarakatnya adalah masyarakat yang tidak terdidik dengan baik; yang hanya memiliki kecerdasan tanpa keluhuran budi pekerti. Maka dijamin, yang akan terjadi pastilah seperti yang kita saksikan di film Tom & Jerry. Kucing dan tikus saling kejar-kejaran. Artinya penegakan regulasi dan kebijakannya akan selalu dicoba untuk diterobos atau diakali orang-orang berotak tapi miskin moral.

Jadi, yang betul-betul harus dilakukan dalam mentransformasi masyarakat kita menjadi masyarakat berbasis internet (dari brick and mortar community ke click community) adalah mempersiapkan teknologi dan pendidikan yang baik bagi masyarakat. Hal ini penting, karena dalam setiap implementasi sistem informasi berbasis teknologi informasi manapun, selalu ada tiga domain yang terlibat, yakni: teknologi, ekonomi, dan sosial. Jangan merasa siap hanya karena kita telah menguasai teknologi dan memiliki dana yang cukup untuk sebuah pengembangan masyarakat berbasis internet, jika masyarakatnya belum terdidik dengan baik.

Internet, media cetak, radio, atau televisi adalah media. Semua itu hanya alat. Kita adalah panglimanya. Jika kita jaga kesehatannya, maka resultannya adalah sesuatu yang hebat. Sebuah komunitas yang selalu menerima informasi yang baik dan benar. Sebuah komunitas yang selalu saling mengingatkan dengan santun. Sebuah komunitas yang bisa memperpendek jarak dan mengoptimalkan waktu dengan internet. Sehatnya internet ini bisa diwujudkan jika teknologi telah kita kuasai, dana telah tersedia, regulasi telah siap, dan masyarakat telah terdidik dengan baik. Jika sudah demikian, maka ‘internet sehat bikin hebat’ bukan lagi sebuah impian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: