Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Penggalakan ASI: Siapa Saja yang Harus Mendukungnya?

Posted by djadjasubagdja on June 3, 2010

Tadi siang, sambil menikmati teh, selepas makan siang di kantin, saya berbincang-bincang dengan beberapa rekan kerja. Salah seorang diantaranya adalah pak Yudi Chaidir. Di luar dugaan, pak Yudi ini pernah mengikuti pelatihan menyusui anak dengan ASI (laktasi) yang diselenggarakan oleh Unicef.

Rupanya rekan saya ini merupakan pria Indonesia ke-7 yang pernah mengikuti pelatihan ini. Subyek utama pelatihan ini tentunya kaum wanita, tetapi pria juga diikutsertakan. Hal ini penting karena banyak hal yang bisa dilakukan suami untuk membantu pemberian ASI, mulai dari hubungan suami-istri yang aman hingga pijatan sang suami di punggung istri yang bisa melancarkan produksi ASI.

Tentunya, dalam waktu yang singkat, kami tidak bisa membicarakan keseluruhan materi pelatihan. Namun ada beberapa hal menarik yang saya dapatkan dari obrolan kami tersebut. Beberapa diantaranya saya uraikan di bawah ini:

1. Meskipun semua orang tahu bahwa ASI jauh lebih baik dari susu bayi/formula, tetapi ternyata kita adalah pasar utama susu bayi/formula.
2. Di Uni Arab Emirat, setiap bayi yang lahir dianggap anak negara, dan ibunya wajib menyusui hingga 6 bulan. Jika ibunya tidak mampu menyusui, maka negara mencarikan ibu susu bagi si bayi. Susu formula hanya untuk bayi bermasalah, jadi pembeliannya hanya dengan resep dokter.
3. Di Swedia, seorang suami mendapatkan hak cuti yang sama dengan istri, pasca istrinya melahirkan.
4. ASI setulnya bisa diproduksi ibu pascamelahirkan hingga beberapa bulan (lebih dari 3 bulan); jika ASI tidak keluar lagi, maka hal itu disebabkan oleh gangguan pada pola makan dan istirahat ibu (ibu menyusui tidak boleh stress, apa lagi memikirkan pekerjaan).
5. Orang-orang di negara maju tidak bangga dengan botol susu formula di keranjang bayi saat membawa bayinya jalan-jalan.
6. Seharusnya perkantoran menyediakan ruangan khusus untuk ibu menyusui.

Dengan berpatokan pada uraian di atas, sudah saatnya kita galakkan penggunaan ASI. Penggalakan ini harus melibatkan 4 fihak, yakni: ibu, suami, tempat kerja ibu, dan Negara. Suami-istri bisa dengan mudah memutuskan untuk member ASI secara eksklusif kepada bayinya selama 6 hingga 12 bulan, tetapi bagaimana dengan ibu yang juga wanita karir.

Dalam kasus wanita karir yang sedang menyusui, tempat kerja harus berperan. Tempat kerja wajib memberi kesempatan seluas-luasnya kepada karyawannya sang sedang menyusui untuk dapat melakukan kewajibannya ini.

Negara juga perlu membuat regulasi ketenagakerjaan mengenai menyusui bayi bagi wanita karir. Cuti 3 bulan harus dievaluasi ulang. Negara juga harus membuat regulasi tata niaga susu formula. Misalnya dengan keharusan resep dokter dalam pembelian susu formula, dengan pertimbangan bahwa memang sang ibu tidak dapat memproduksi ASI atau karena bayinya secara medis dinyatakan harus mendapatkan asupan susu formula.

Jika keempat fihak ini bisa bersinergi, maka 20 tahun lagi kita akan melihat anak-anak kita tumbuh lebih sehat dan cerdas, alias cergas. Namun peran Pemerintah sangat diharapkan untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik ini.

Advertisements

One Response to “Penggalakan ASI: Siapa Saja yang Harus Mendukungnya?”

  1. DeZiGH said

    Setuju, terutama bagian cuti paternity yang 3 bulan ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: