Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Pengobatan tidak (selalu) Harus Internasional

Posted by djadjasubagdja on May 18, 2010

Ketika sedang sakit begini, meskipun sakit ringan, maka paling pas kalau menerawang ke belakang ketika anggota keluarga sedang sakit. Dengan mengingat-ngingat bahwa anak-anak dan istri juga pernah sakit, bahkan masuk rumah sakit, maka akan lebih mudah bagi kita untuk tetap sabar ketika sakit. Ah jadi teringat ketika istri dan si bungsu kena cacar air beberapa tahun lalu.

Ceritanya ketika itu kami baru pulang liburan dari Bandung, menginap di rumah orang tua saya. Tadinya mau berlama-lama, tapi terpaksa harus pulang karena ada keponakan (yang juga menginap di rumah orang tua saya) terkena cacar air. Jadi, pulanglah kami lebih cepat dari yang direncanakan. Beberapa hari kemudian, istri saya ketularan.

Lantas segera kami bawa berobat. Sesuai rujukan asuransi, kliniknya adalah sebuah klinik internasional. Dan seperti yang sudah dapat diduga, biaya pengobatan dan obat-obatannya sangat mahal. Untungnya bakal diganti oleh pihak asuransi. Obatnya dua macam, pil antibiotik dan salep antibiotik.

Keesokan harinya, si bungsu juga kena cacar air. Karena rujukan dari asuransi tidak ke klinik internasional seperti ibunya, maka si bungsu saya bawa ke poli anak di rumah sakit lokal. Si bungsu juga mendapatkan dua jenis obat, yakni puyer antibiotik dan salep antibiotik. “Kalau salepnya habis, beli saja di apotek,” begitu nasihat dokternya. Tidak seperti ibunya, biaya pengobatan dan obat-obatannya cukup murah, kurang dari 10% biaya ibunya.

Dua hari setelah berobat, ternyata si bungsu menunjukan pemulihan yang lebih cepat dari ibunya. Ketika salep istri saya habis, dicobalah diobati dengan salep si bungsu (karena setelah kami baca, kandungan zat aktifnya persis sama); dan ternyata lebih mujarab. Akhirnya salep si bungsu habis, dan tentunya saya harus membeli salep tambahan. Sebelum ke apotek, saya lihat rincian harga obat istri saya. Ternyata harga salepnya saja di atas 100 ribu rupiah. Karena saya pikir salep si bungsu juga tidak akan jauh harganya dari salep ibunya, saya pergi dulu ke atm sebelum membeli salep.

Namun sesampainya di apotek, alangkah kagetnya saya demi mengetahui bahwa ternyata salep si bungsu harganya tidak sampai 10 ribu rupiah. Buru-buru saja saya beli beberapa untuk si bungsu dan ibunya. Alhamdulillah, baik si bungsu dan istri saya cepat sembuh dan luka-lukanya tidak meninggalkan bekas. Hanya saja, si bungsu lebih duluan sembuhnya.

Dari kejadian tersebut, saya jadi merenung. Jika obat-obat generik khasiatnya sama (atau bahkan lebih manjur, dalam kasus keluarga saya), maka untuk apa dibuat obat nongenerik yang mahal itu? Hal lainnya yang bisa saya pelajari adalah, klinik atau rumah sakit internasional belum tentu lebih baik bagi kita, tapi yang jelas lebih mahal. Namun pasti anda pikir hal ini hanya kasuistis saja. Bisa jadi, tapi coba simak lagi kejadian berikutnya.

Beberapa waktu lalu, istri saya kena gajala tipus. Lalu, sekali lagi karena rujukan dari pihak asuransi, dia pergi berobat lagi ke klinik internasional yang sama. Beberapa kali dia berobat, sampai hampir sebulan, namun penyakitnya seperti sulit hilang. Jejak salmonelanya (dari hasil lab) masih saja ada, meski sedikit. Sampai akhirnya di pekan keempat istri saya sampai harus mengkonsumsi antibiotik yang cukup keras.

Kondisinya bukan tambah membaik, namun malah seperti kembali ke asal, yakni mual-mual dan sulit makan (padahal sepekan sebelumnya gejala itu sudah hilang). Akhirnya kami putuskan berganti tempat berobat, kami pergi ke RS Medistra. Hari itu hari Minggu, setelah beberapa jam di UGD, istri saya akhirnya dirawat inap. Meskipun hari Minggu, Medistra mau menghubungi internis senior mereka, dr Merry, dan siangnya sang internis datang memeriksa istri saya, meskipun itu bukan jam tugas beliau.

Kepada sang internis kami sampaikan kronologi pengobatan sebelumnya di klinik internasional tadi, dan juga memperlihatkan obat-obat yang diberikan. Setelah dirawat beberapa hari, akhirnya istri saya sembuh. Terima kasih Medistra, terima kasih dr Merry, ternyata rumah sakit lokal lebih cocok buat kami.

Saya katakan lebih cocok karena saya pernah mendengar bahwa ternyata memang standar pengobatan gejala tipus di negara-negara maju adalah betul-betul membuat jejak salmonelanya nol. Sementara itu, menurut sebuah penelitian, di perut kebanyakan orang kita telah terdapat sejumlah kecil salmonella, dan itu tidak membuat kita terkena gejala tipus. Jadi tidak salah jika pengobatan internasional mensyaratkan nol salmonella, sebagai standar kesembuhan. Hanya saja, perut kita ini yang tidak internasional. Jadi, belum tentu pengobatan standar internasional cocok untuk kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: