Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Adilkah Jika Hanya Rokok yang Diperangi?

Posted by djadjasubagdja on February 23, 2010

Perang terhadap rokok kalau tidak salah telah lama dimulai. Diawali dengan anjuran tidak merokok, meluaskan daerah larangan merokok, wajib-cetak tulisan bahaya merokok di bungkus rokok, pengaturan iklan rokok, hingga penaikan cukai rokok. Belum lagi munculnya opini untuk mengharamkan merokok. Boleh dikatakan, rokok adalah produk legal yang paling gencar diperangi.

Saya pernah melihat sebuah poster yang memperlihatkan racun-racun yang terkandung dalam sebatang rokok di ruang tunggu pasien. Poster itu juga banyak ditempel di tempat-tempat umum, dan bahkan dengan mudah bisa kita temukan di internet. Tanpa harus mempelajari literatur mengenai rokok, tapi cukup dengan melihat poster tersebut, kita langsung faham akan bahaya merokok bagi si perokok dan orang di sekitarnya.

Pendek kata, merokok itu dilarang semata-mata karena membahayakan kesehatan manusia. Bahkan hampir semua perokok setuju dengan hal ini. Jadi, wajarlah kalau pihak-pihak berwenang rajin memerangi kebiasaan merokok dan rokok itu sendiri. Siapa sih yang tidak mau sehat?

Namun demikian, apakah hanya rokok yang merusak kesehatan kita? Bukankah makanan berkarbohidrat tinggi atau minuman yang manis juga beresiko tinggi bagi kesehatan kita? Bukankah makanan berkolesterol tinggi juga beresiko bagi kesehatan kita? Jadi, rasanya tidak adil jika hanya rokok yang kita perangi demi menjaga kesehatan manusia.

Perang atas bahan makanan/minuman berbahaya hingga saat ini hanya sebatas makanan/minuman yang mengandug bahan-bahan beracun saja, seperti pewarna tekstil, boraks, melamin, atau bahan pengawet lain. Perang terhadap penggunaan hormon tertentu di peternakan belum segencar perang terhadap rokok. Perang terhadap minuman yang mengandung gula atau makanan berkolesterol tinggi juga belum segencar perang terhadap rokok.

Namun tunggu sebentar. Iya, Anda benar. Minuman yang mengandung gula atau makanan berkolesterol kan tidak berbahaya bagi tubuh jika dikonsumsi secukupnya. Mungkin bukan perang yang harus dilakukan, tapi kampanye pengaturan pengkonsumsiannya yang harus dilakukan.

IDI atau Depkes harus menetapkan berapa sendok atau gram gula yang wajar dikonsumsi seseorang dalam sehari. Produsen minuman bergula wajib mencantumkan berapa gram gula yang dikandung dalam minuman yang diproduksinya dalam tiap kemasan. Restoran harus pula menyebutkan kandungan gula makanan/minuman yang disajikannya. Hal yang sama juga patut diberlakukan untuk makanan yang pengkonsumsiannya perlu dibatasi.

Hal ini barangkali agak berlebihan, tetapi terlalu banyak mengkonsumsi gula adalah kebiasaan buruk yang lambat laun dapat membunuh. Sama dengan rokok juga. Demikian pula dengan makanan berlemak atau berkolesterol tinggi. Di kemasan makanan/minuman biasanya sudah dicantumkan kadar kolesterol dan kalorinya. Nah, pengelola restoran pun harus menginformasikan kandungan kalori/gula dan kolesterol di makanan yang disajikannya.

Pada awalnya, hal ini pasti akan terasa aneh dan pastinya merepotkan si pengelola restoran. Namun, demi kesehatan umat manusia, hal ini penting untuk mulai dikampanyekan. IDI atau Depkes dapat melakukan inisiasi dengan mulai mengkampanyekan anjuran batas asupan makanan/minuman bergula dan/atau berkolesterol bagi setiap orang per harinya. Kampanye itu barangkali dimulai dengan berapa sendok gula yang baik untuk secangkir teh atau kopi, berapa botol/kardus minuman bergula yang masih aman untuk dikonsumsi, dan kampanye-kampanye praktis lainnya yang mudah dimengerti semua lapisan masyarakat.

Sudah saatnya kita tidak hanya memikirkan bagaimana memerangi kebiasaan merokok melalui seperangkat perundang-undangan dan sejumlah kampanye dan poster. Kita juga harus memikirkan perundang-undangan mengenai konsumsi makanan/minuman yang bisa mengakibatkan penurunan kesehatan kita. Kesehatan adalah hak kita dan salah satu kewajiban Pemerintah adalah menjaga kesehatan masyarakat.

Advertisements

2 Responses to “Adilkah Jika Hanya Rokok yang Diperangi?”

  1. NunungNuridazed said

    Sedih memang kalau ngomongin soal rokok. Yang pasti banyak mudharatnya. Tapi tak bisa dipungkiri, tak sedikit pihak yang diuntungkan, termasuk EO yang acaranya disponsori oleh asap tembakau ini. Tak hanya mengabarkan kenikmatan rokok, bahkan ada event yang membagikan gratis produknya ke para remaja. Naif kan, namanya juga iklan.. Tapi tahukah Anda, bahwa promosi ini juga efektif dimulai dari keluarga ? Ketika sosok Bapak, bahkan Ibu tak bisa meninggalkan kebiasaan merokok untuk anak-anaknya, itu berarti menurunkan budaya “makruh” ini juga. Maka ia tak layak melarang generasi pewarisnya. Hm.., karenanya, jauhkan rokok dari keluarga,perangi sekarang juga, seperti saya. Bagaimana menurut Anda ?

  2. DeZiGH said

    Rokok sebaiknya tidak dilarang selama penggunaannya tidak di tempat yang akan mengganggu orang lain, tubuh seseorang adalah tanggung jawab orang itu sendiri, walau pun saya pun menganjurkan untuk tidak merokok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: