Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Tiga Kriteria Penerjemah Buku Teks yang Baik

Posted by djadjasubagdja on December 19, 2009

“Dia sedang berselancar di ombak kemerahan.” Demikian terjemahan yang muncul di layar kaca televisi ketika saya sedang menonton sebuah film remaja berbahasa Inggris. Tentu saja saya tertawa membaca terjemahan tersebut, karena bukan itu yang dimaksud dari ungkapan “She is surfing on a crimson tide.” Ungkapan ini maksudnya adalah bahwa “dia sedang datang bulan.” Itu memang ungkapan informal remaja Amerika di tahun 90-an, entahlah kalau sekarang.

Untung itu hanya terjemahan sebuah film hiburan. Bagaimana kalau kesalahan penerjemahan muncul dalam sebuah buku teks terjemahan? Apa yang kemudian bakal terjadi jika sebuah kesalahan penerjemahan istilah atau ungkapan dalam sebuah buku teks kemudian menjadi sesuatu yang membaku di kalangan para mahasiswa?

Kemungkinan terjadinya kesalahan penerjemahan dalam sebuah buku teks cukup tinggi. Selalu saja ada hal-hal kecil yang terasa benar terjemahannya, padahal salah. Pernah saya menemukan sebuah kesalahan penerjemahan istilah dalam sebuah naskah buku fisika. Dalam naskah tersebut, istilah “gaya tak-sentuh” diterjemahkan sebagai “non-contact force”. Sepintas hal ini terasa benar, mengingat istilah lainnya, yakni “gaya sentuh”, diterjemahkan sebagai “contact force”.

Namun, secara intuitif, saya merasa ada kejanggalan. Akhirnya saya buka sebuah buku teks fisika standar yang dipakai di perguruan-perguruan tinggi di Amerika Serikat, dan intuisi saya benar. Di buku yang juga banyak dipakai para mahasiswa sains dan teknik di berbagai belahan bumi tersebut dituliskan bahwa padanan istilah gaya tak-sentuh itu adalah “long-range force”, bukan “non-contact force”. Sementara itu, padanan istilah “gaya sentuh” memang lah “contact force”.

Hal ini kemudian mengingatkan pada pengalaman pribadi antara tahun 1997 hingga 1999, dimana saya banyak terlibat dalam pengerjaan buku-buku terjemahan untuk perkuliahan bidang MIPA dan teknik. Beberapa bulan semenjak ditugasi di pekerjaan tersebut, yang saya lakukan hanyalah membaca hasil terjemahan dari buku-buku yang akan diterbitkan. Kesimpulan saya pada saat itu adalah, bahwa harus dilakukan penerjemahan ulang, karena saya meragukannya. Hal ini pastilah tidak sejalan dengan tuntutan target kuantitas penerbitan, dan pastinya saat itu saya dinilai kurang produktif.

Lantas saya mulai melakukan analisis dari hasil-hasil terjemahan tadi, dan sampai pada hipotesis bahwa penerjemahan sebuah buku teks harus dilakukan oleh seorang penerjemah dengan criteria-kriteria tertentu, yakni penerjemah haruslah:
1. Menguasai bahasa yang akan diterjemahkan
2. Menguasai bahasa hasil terjemahan (dalam hal ini Bahasa Indonesia)
3. Menguasai bidang ilmu yang sesuai dengan buku teks tersebut

Secara sederhana, jika kita akan menerjemahkan katakanlah buku teks bidang ekonomi berbahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia, maka penerjemahnya selain harus menguasai bahasa Inggris (tentunya), juga harus menguasai Bahasa Indonesia dengan baik. Hal yang terakhir ini sederhana, tetapi sering dilupakan orang. Seringkali orang hanya mencari penerjemah yang ahli berbahasa asing saja, sementara Bahasa Indonesia-nya pas-pasan. Akhirnya hasil terjemahannya akan sangat bernuansa asing, dan barangkali hanya si penerjemah yang memahami hasil terjemahannya.

Kriteria ketiga nampak sederhana, sehingga seringkali penerjemahan dilakukan oleh seseorang yang bukan benar-benar ahli di bidangnya. Misalkan saja, tidak terlalu baik jika sebuah buku elektronika diterjemahkan oleh seorang sarjana fisika, meskipun di jurusan fisika juga dipelajari dasar-dasar elektronika. Hal ini sebaiknya dihindari, mengingat setiap bidang ilmu memiliki istilah yang sangat khas.

Kita semua tahu bahwa “grass field” diterjemahkan sebagai “padang rumput”. Namun dalam bidang fisika, “electromagnetic field” diterjemahkan sebagai “medan elektromagnetik”, bukan “padang elektromagnetik”. Artinya, kata “field”, yang biasa diterjemahkan sebagai “padang”, belum tentu diterjemahkan seperti itu dalam suatu ilmu atau bidang tertentu. Begitu pula ketika kata “field” ini dipakai dalam frase “battle field”, yang terjemahannya adalah “medan tempur”, bukan “padang tempur”.

Kata “force”, yang dalam ilmu fisika diterjemahkan sebagai “gaya”, dalam bidang kemiliteran diterjemahkan sebagai “angkatan” (air force = angkatan udara) atau “kesatuan (militer)”. Istilah “elevation”, yang dalam kehidupan sehari-hari diterjemahkan sebagai “ketinggian”, di dalam ilmu fisika diterjemahkan sebagai “sudut kemiringan” (atau sudut elevasi). Dalam bidang ilmu arsitektur, “elevation” diartikan lain lagi.

Memang, saat ini sudah tersedia beragam kamus istilah. Seorang penerjemah bisa memanfaatkannya. Namun tentunya hal itu akan mengurangi kecepatan kerja. Lebih dari itu, tentunya pemahaman seseorang yang bukan ahlinya akan sangat berbeda dengan yang ahlinya. Belum lagi kalau kita lihat kenyataan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan begitu pesatnya, sehingga kamus istilah sering ketinggalan masa.

Sekali lagi, penerjemahan juga tidak bisa dikira-kira atau dianalogikan. Berikut ini saya kemukakan lagi contoh yang cukup menarik. Dengan pengetahuan bahwa “angkatan udara” itu terjemahannya adalah “air force”, kita tidak bisa menerjemahkan “angkatan darat” sebagai “land force” (yang benar = army) atau “angkatan laut” sebagai “sea/ocean force” (yang benar = navy). Hal ini sama seperti pada kasus “gaya sentuh” (contact force) dan “gaya tak-sentuh” (long-range force) di awal tulisan ini.

Dalam ilmu komputer, banyak sekali istilah asing yang terjemahannya tidak terlalu mengacu pada istilah kita sehari-hari. “Mouse” tetap saja diterjemahkan sebagai “mouse”; “driver” tetap saja diterjemahkan sebagai “driver” (bukan pengemudi). “Memory” diterjemahkan sebagai “memori” (bukan ingatan). “Processor” diterjemahkan sebagai “prosesor” (bukan pemroses), tetapi “word processor” diterjemahkan sebagai “pemroses kata”.

Menerjemahkan buku teks memang tidak bisa dilakukan oleh seorang ahli yang bisa berbahasa asing yang sesuai saja, tapi selain itu juga dia harus menguasai bahasa tujuan penerjemahan dan betul-betul menguasai bidang/ilmu dari materi terjemahan tersebut. Pertanyaannya adalah, jika kita akan menerjemahkan sesuatu, praktisnya, apa yang harus kita lakukan?

Katakanlah, Jika materi terjemahannya adalah sebuah buku teks matematika berbahasa Inggris, maka carilah seorang dosen atau peneliti matematika yang pernah kuliah di Amerika Serikat, atau Inggris, atau Australia. Kemudian pastikan yang bersangkutan menyelesaikan sekolahnya (SD, SMP, SMA) di Indonesia. Karena kalau yang bersangkutan menyelesaikan keseluruhan sekolah dan kuliahnya di luar negri, biasanya penguasaan Bahasa Indonesia-nya kurang baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: