Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Nasi Kuning 24 September

Posted by djadjasubagdja on September 24, 2009

Pagi tadi, ketika badan masih berbalut handuk mandi, istri dan anak-anak rame-rame menyalami, mengucapkan selamat ulang tahun. Ya, hari ini usia saya alhamdulillah bisa mencapai angka 42. Level 42! Memang bukan sebuah prestasi yang luar biasa, apa lagi jika dibandingkan dengan usia nenek saya yang sampai hari ini masih diberi umur panjang hingga mencapai 86 tahun!

Namun, tentunya saya merasa sangat bersyukur, karena selama 42 tahun yang telah terlewati ada banyak hal yang telah terjadi. Bermain bersama teman-teman, belajar, bekerja, bersosialisasi, berkeluarga, dan mencoba berbagi dengan sesama. Ah, sungguh indah semua ini. Sungguh Allah swt benar-benar Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemberi, dan Maha Pemelihara.

Suka dan duka selalu datang silih berganti mengiringi perjalanan hidup ini. Prestasi dan kegagalan pun menjadi tonggak-tonggak bersejarah dalam kehidupanku ini. Orang-orang datang dan pergi, lahir dan wafat, tapi tetap terkenang dalam hati …. subhanallah, sungguh indah kehidupan yang telah Engkau ciptakan ya Allah. Sunguh semua ini memberi warna dalam hidup ini.

Ucapan, senyuman, dan salam, serta kecupan dari anak-anak dan istri tercinta telah menggenapkan kebahagian hari ini. Bahkan bertambah-tambah, ketika mengetahui bahwa ibunda tercinta membuatkan nasi kuning. Ucapan dan doa dari Ibunda, Nenek, adik bungsuku, ibu Mertua …. sungguh sebuah hadiah yang luar biasa. Begitu tulus mereka mendoakan. Ah, belum lagi sms dan segudang pesan di Facebook dari teman-teman dan kerabat. Jumlahnya tak terhitung. Terima kasih teman. Sayang, nasi kuningnya terbatas.

Kembali ke nasi kuning. Rasanya sudah lama ibunda tidak membuatkan nasi kuning khusus ulang tahun. Baru kejadian lagi hari ini. Sungguh, benar-benar kejutan. Dulu, ketika kami masih kecil, rasanya hampir setiap tahun ibunda membuatkan nasi kuning atau tumpeng dikala kami berulang tahun.

Kami memang tidak dididik untuk merayakan ulang tahun seperti orang-orang kebanyakan, dengan meniup lilin di atas tart, kami terbiasa merayakan ulang tahun dengan nasi kuning atau nasi tumpeng, yang kami makan bersama sekeluarga setelah sebelumnya didahului doa bersama. Sederhana tapi bermakna. Itulah ajarah ayahanda almarhum. “Nabi kita juga tidak pernah tiup lilin pas ulang tahun,” demikian selalu beliau pesankan kepada kami.

Sayang nasi kuning buatan ibunda tadi pagi tidak bisa kami nikmati bersama di rumah ibunda di Bandung. Mendadak istri tercinta kambuh sakit maag-nya, dan kami terpaksa pulang ke Jakarta lebih cepat. Semua janji dengan beberapa teman, termasuk si sobat, Ipul, yang sudah repot-repot bawa pempek khusus buatku, dibatalkan. Nasi kuning kami bungkus, untuk dibawa ke Jakarta.

Setibanya di rumah, di Jakarta, karena lapar, saya makan nasi kuning buatan ibunda bersama anak-anak, sementara istri tercinta rebahan di kamar tidur. Beberapa saat kemudian, sepulang mengantar anak-anak ke toko buku, saya pun tertidur hingga sore hari. Ketika bangun, saya cari sisa nasi kuning tadi siang …. dan ternyata sudah habis disantap si sulung yang rupanya doyan juga dengan nasi kuning buatan neneknya ….. Alhamdulillah. Semoga si sulung mendapat spirit budaya merayakan ulang tahun dengan nasi kuning secara sederhana.

Advertisements

One Response to “Nasi Kuning 24 September”

  1. DeZiGH said

    Aamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: