Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Ramadhan, Bulan Latihan

Posted by djadjasubagdja on August 21, 2009

Tentunya bukan tanpa tujuan, Allah swt memerintahkan shaum di bulan Ramadhan. Betul sekali, ada banyak tujuan dari perintah shaum Ramadhan ini. Salah satunya, yang selalu menarik bagi saya, adalah melatih keimanan dan ketaqwaan kita. Dengan kata lain, bulan Ramadhan adalah juga bulan latihan.

Di saat kita berpuasa, kita menahan lapar dan haus, kita menahan amarah, kita menahan diri dari berprasangka, kita menahan diri dari perbuatan yang dapat menyakiti orang lain. Selama puasa juga kita menahan sahwat kita, kita memelihara pandangan dan pendenganran kita. Kita pelihara juga perkataan kita. Bahkan, selama bulan Ramadhan kita meningkatakan sholat kita, bacaan Al Qur’an kita, shodaqoh kita, dan zakat kita.

Namun, apakah hal itu kemudian kita kendorkan setelah Ramadhan meninggalkan kita? Apakah dengan berakhirnya Ramadhan maka kita tidak lagi melaksanakan sholat malam? Apakah zakat dan shodaqoh hanya kita laksanakan di bulan Ramadhan? Apakah hanya ketika sedang berpuasa saja kita jaga pandangan, pendengaran dan perkataan kita? Apakah hanya ketika sedang berpuasa saja kita menjaga kesabaran kita? Apakah hanya di bulan Ramadhan saja kita tidak menyakiti orang lain?

Tentu saja tidak! Di bulan-bulan lain selain bulan Ramadhan pun SESUNGGUHNYA kita diharapkan berperilaku sama seperti ketika kita berpuasa. Di bulan-bulan lain selain bulan Ramadhan status kita sama, kita adalah insan ciptaan Allah swt yang hidup bersama-sama dengan ciptaan Allah lainnya. Jika di bulan Ramadhan kita tingkatkan keimanan kita, makapa apakah di bulan-bulan lain selain Ramadhan kita kendorkan lagi. Bukan itu tujuan ibadah Ramadhan, saudaraku.

Hakikat Ramadhan adalah peningkatan, dan setelah Ramadhan berlalu, bukan berarti kita kembali ke sebelum Ramadhan, tapi tetaplah di level keimanan dan ketaqwaan yang telah kita raih di bulan Ramadhan. Alangkah ruginya orang yang telah payah-payah berpuasa dan melaksanakan segala macam ibadah Ramadhan, dan kemudian mencapai tingkat keimanan dan ketaqwaan yang cukup tinggi, tapi ketika Ramadhan berlalu dia kembali ke tingkat keimanan dan ketaqwaan yang sebelumnya.

Orang seperti ini sama saja dengan orang-orang yang meluangkan waktunya untuk menunaikan sholat dengan khusuk tetapi ketika tidak sedang sholat kelakuannya jauh dari predikat ihsan. Sholat itu tonggak pengingat yang dikaruniakan Allah swt kepada manusia agar selalu ingat kepadaNya, agar selalu menjalankan perintahNya dan menjauni laranganNya setiap saat. Sholat kita pasti dihitung pahalanya, tapi jangan lupa, kelakukan kita ketika tidak sedang sholat juga dicatat.

Sholat itu alat pengingat dari Allah swt bagi kita, sehingga kita terpelihara, tercegah dari perbuatan keji dan munkar. Baik itu keji terhadap orang lain atau mahluk lain atau pun keji terhadap diri sendiri. Sementara itu, puasa adalah sarana latihan penigkatan keimanan dan ketaqwaan, agar ada peningkatan keimanan dan ketaqwaan. Rugi besar orang-orang yang sholat tapi sesaat setelah sholat dia lupa akan Tuhannya. Rugi besar bagi orang-orang yang menamatkan ibadah Ramadhannya tapi setelah itu keimanan dan ketaqwaannya menurun kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: