Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Di Rumah …. Enggak Pake Kata ‘aja’

Posted by djadjasubagdja on April 4, 2009

Sebagai pengguna Facebook, hal yang paling sering saya lakukan adalah mengomentari status teman-teman. Mulai dari komentar bernuansa humor hingga yang berupa doa, sering saya layangkan. Status teman-teman tersebut tidak hanya berupa kegiatan yang sedang mereka lakukan, atau posisi mereka, tetapi juga pandangan mereka atas sesuatu. Namun ada satu hal yang paling menarik bagi saya, yakni status teman-teman di saat akhir pekan.

Di akhir pekan, kalau boleh saya kelompokkan, ada dua kelompok status teman-teman saya di FB. Pertama adalah mereka yang mengisi akhir pekan di luar rumah, dan kelompok lainnya adalah mereka yang memutuskan untuk tidak kemana-mana. Teman-teman di kelompok kedua ini, biasanya mengisi status mereka dengan sepenggal kalimat “di rumah aja” atau yang sejenisnya.

Tidak pergi ke luar rumah untuk beraktivitas seakan menjadi sesuatu yang bernilai kecil di masyarakat kita. Hal ini tercermin dari penggunaan kata “aja” atau “saja” jika kita mengabarkan kepada orang lain bahwa kita sedang di rumah, tidak kemana-mana. Seolah-olah, berakhir pekan di rumah, tidak bepergian, merupakan sesuatu yang derajatnya lebih rendah dari bepergian untuk berktivitas di luar rumah.

Padahal, ada banyak hal menarik yang bisa kita lakukan di rumah di akhir pekan. Mencoba resep baru, merapikan rak buku, atau sekadar berkumpul bersama seluruh anggota keluarga sambil menikmati pisang goreng dan acara televisi, merupakan hal positif yang bisa memberi kontribusi pada pembinaan dan pengembangan keluarga. Hal ini sangat berarti bagi terbentuknya komunikasi antar anggota keluarga.

Saya masih ingat apa yang kami lakukan di akhir pekan ketika saya dan adik-adik mulai menginjak usia remaja. Ketika itu hari Sabtu bukan merupakan hari libur. Malam minggu biasanya kami isi dengan makan malam spesial di rumah. Saya katakan spesial, karena biasanya yang memasak adalah ayah kami. Menu spesialnya adalah nasi goreng plus telur dan udang kering atau nasi kunyit yang digoreng tanpa minyak.

Kalau sudah jam tujuh malam, dan tidak satupun dari kami yang punya acara, biasanya kami minta ayah kami membautkan nasi goreng. Ibu kami biasanya hanya menyiapkan bahan-bahannya saja, selanjutnya, mulai dari mengupas bawang, mengiris bawang, hingga menghidangkannya di piring besar, ayah kami yang melakukannya. Sementara beliau memasak, kami biasanya duduk-duduk saja menonton tv.

Hal yang cukup unik dari acara makan nasi goreng buatan ayah kami ini adalah ketika menyantapnya. Nasi goreng tersebut tidak dihidangkan di piring makan, tapi di sebuah piring besar, lalu kami menyantapnya rame-rame dari piring tersebut. Itulah keunikannya. Itu juga kenikmatannya. Terkadang ayah kami hanya menonton saja kami menyerbu piring besar yang berisi nasi goreng buatannya tadi, tapi itulah kepuasan beliau, pasti.

Setelah itu, ya kami lanjutkan nonton televisi bersama. Kalau sedang musim mangga, biasanya ibu kami mengupaskan mangga untuk kami. Dan setiap potongan mangga yang mendarat di piring pasti langsung segera berpindah ke mulit kami. Kalau sudah berebutan seperti ini, biasanya ayah kami hanya tertawa-tawa saja. Paling-paling beliau mengambil gitar dan menyanyi lagu sekenanya sambil tidak menghiraukan protes kami atas lagu yang dinyanyikannya.

Orang tua kami dua-duanya pegawai negri. Tidak banyak uang yang mereka miliki. Gajinya hanya cukup untuk memenuhi keperluan kami sehari-hari. Jadi, jangan harap hari Minggu selalu diisi piknik atau pergi jalan-jalan. Hingga saya lulus SMA, orang tua kami tidak memiliki mobil pribadi, paling juga mobil dinas ayah kami. Jadi, yang namanya piknik itu sangat jarang kami lakukan. Hari Minggu kami lebih sering tinggal di rumah.

Namun demikian, meski tidak bepergian, selalu saja ada yang dilakukan ayah kami di hari Minggu. Mulai dari memperbaiki perabotan yang rusak, menambal dinding yang rusak, membetulkan instalasi listrik, mengganti tanah di pot tanaman, mencangkok, menggergaji dahan atau ranting yang mengganggu, membersihkan selokan di depan rumah, memotong rumput, atau menanam pohon di halaman. Kegiatan-kegiatan tersebut beliau lakukan dengan selalu meminta bantuan kami.

Seringnya sih, kami enggan membantu beliau, karena capek, kotor, berkeringat, dan terkadang kulit kami jadi terpanggang sinar matahari. Namun ketika kami beranjak dewasa kami sadar bahwa sebetulnya beliau tidak memerlukan bantuan kami. Beliau meminta kami membantunya hanya agar kami terbiasa mengurus rumah dan tahu bagaimana caranya memperbaiki sesuatu yang rusak. Sekarang ini, dalam hal memelihara rumah, satu hal yang tidak bisa saya lakukan adalah memperbaiki atap, karena badan saya sekarang ini tidak cocok untuk pekerjaan ini.

Jadi, sebetulnya, di akhir pekan, ada banyak hal yang bisa kita lakukan dengan keluarga di rumah. Kita bisa mengajak anak-anak memperbaiki sesuatu, merapikan halaman, merawat tanaman atau hewan peliharaan, atau berkemah di halaman rumah, seperti yang dilakukan rekan saya, Winda, baru-baru ini.

Berkemah, meski hanya di halaman rumah, pasti sangat berkesan bagi anak-anak. Saya masih ingat, dulu, ketika saya duduk di kelas 5 atau 6, saya dan beberapa sepupu berkemah di halaman belakang rumah. Kami memasang tenda di antara pohon belimbing dan rumpun pohon pisang. Ada api unggun juga waktu itu, kebetulan rumah sepupu saya sedang direnovasi, jadi banyak kayu bekas yang “dibuang” ke halaman belakang rumah kami.

Tendanya sangat sederhana, bukan tenda betulan. Waktu itu kami hanya memanfaatkan ponco (jas hujan militer yang agak besar) yang diletakkan di atas tambang plastik yang direntangkan di batang pohon belimbing dan tiang jemuran. Lalu keempat ujungnya kami ikat dengan tali rafia yang ditambatkan ke pasak. Alasnya hanya berupa tikar biasa. Ujung-ujungnya yang bolong kami tutupi dengan seprai bekas.

Betul-betul sederhana, tapi malam itu kami benar-benar merasakan suasana berkemah. Tidur di tenda dan menghangatkan badan dengan mengelilingi api unggun. Tidak pernah saya lupakan acara kemah kami di malam minggu itu. Semalaman kami di halaman rumah hingga besok paginya. Hanya 30 menit saja saya masuk ke dalam rumah malam itu untuk menonton serial komedi favorit saya “Hogan Heroes”. Jadi, tulis saja di FB bahwa anda ‘sedang di rumah’ tanpa kata ‘saja’.

Advertisements

One Response to “Di Rumah …. Enggak Pake Kata ‘aja’”

  1. bayu said

    benar pak, saya justru akhir pekan menghabiskan waktu di rumah untuk menyelesaikan side job dan kadang-kadang sampai malam ngelebihin waktu kerja normal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: