Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Keikhlasan dalam Beribadah

Posted by djadjasubagdja on February 7, 2009

Dulu, ketika saya masih sekolah, di dekat rumah lama orang tua saya ada belokan jalan yang kebetulan juga merupakan ujung sebuah gang. Di belokan itu beberapa becak mangkal di sana. Salah satu dari penarik becak itu bernama pak Abid (bukan nama sebenarnya). Selain sebagai penarik becak, pak Abid juga pengurus masjid yang terletak di gang tersebut, dimana saya sering sholat Jumat atau Tarawih di masjid tersebut yang kebetulan letaknya tidak jauh dari pangkalan becak tadi.

Di saat menunggu penumpang, tidak seperti penarik becak lainnya yang menghabiskan waktu dengan berkelakar atau mendengarkan lagu dangdut di radio kecil, pak Abid lebih sering terlihat membuka Al Qur’an dan mengaji, tentunya. Sungguh, sebuah pemandangan yang jarang terlihat di masa itu, antara akhir tahun 80-an hingga 90-an. Jangan cari pak Abid di tempat mangkalnya di saat menjelang sholat dzuhur dan ashar, dia pasti sudah ada di masjid, siap-siap mengumandangkan adzan dengan lantunan khas yang barangkali hanya beliau seorang yang memiliki irama adzan seperti itu.

Ada dua hal yang membuat saya kagum dengan pak Abid. Pertama adalah ketika beliau selesai melaksanakan sholat-sholat sunat menjelang sholat Jumat, beliau pasti menyalami semua orang yang berada di masjid. Memang sih masjidnya tidak besar, tapi seumur hidup saya belum pernah menjumpai orang yang begitu rajin menyalami sesama jamaah, kecuali pak Abid ini. Beliau biasanya sholat sunat beberapa kali, dan setiap selesai sholat sunat pasti akan menyalami orang-orang yang belum disalami sebelumnya.

Hal kedua adalah ternyata beliau juga memberi perhatian kepada sesama jamaah. Pernah saya mengalami kecelakaan lalu lintas, dan saya harus terbaring di tempat tidur selama lebih dari satu bulan, kemudian harus berjalan dengan kruk selama dua bulan berikutnya. Otomatis selama sebulan pertama saya tidak pernah ke masjid untuk sholat Jumat. Tiba-tiba saja pak Abid datang menengok bersama pak Ketua DKM. “Pantesan tidak pernah kelihatan jumatan,” begitu komentar beliau saat menengok. Subhanallah, rupanya beliau juga suka memperhatikan siapa yang hadir ke masjid dan siapa yang tidak, dan beliau berusaha memelihara silaturahmi dengan jamaah.

Dari sini saya bisa melihat bahwa pak Abid menjalankan ibadah vertikal dan horisontal. Hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia beliau pelihara dengan baik. Logika kita pasti mengatakan, bahwa layaklah Tuhan memberi kebahagiaan kepada umatnya yang saleh ini. Namun, hidup dan kehidupan tidak dikendalikan oleh logika manusia, beberapa tahun lalu saya mendengar kabar salah seorang anak pak Abid tewas terbunuh seorang penodong. Si anak ini sebenarnya bukan sasaran si penodong. Jadi, ceritanya, ketika terjadi sebuah penodongan, si anak kebetulan menyaksikan kejadian tersebut dan berusaha menolong orang yang ditodong. Namun malang nasibnya, penodong menusukkan pisaunya ke si anak ini hingga tewas. Begitulah nasib pak Abid.

Apakah pak Abid menjadi surut ibadahnya karena musibah yang menimpanya? Saya yakin tidak! Beliau pasti akan tetap menjalankan ibadah vertikal dan horisontalnya secara konisten. Bagi siapapun, baik seorang ahli ibadah, maupun yang tidak pernah beribadah, musibah sama saja. Musibah adalah sesuatu yang datang dan kemudian pergi. Hanya saja, seorang ahli ibadah akan menyikapi musibah dengan sabar dan ikhlas. Itulah buah dari ibadah yang sudah dapat kita nikmati di dunia, yakni sabar dan ikhlas.

Pak Abid tidak mempertanyakan mengapa jalan hidupnya berbeda dengan orang lain yang baru beberapa tahun rajin beribadah tapi telah dianugerahi kemudahan-kemudahan dalam usahanya. Pak Abid juga tidak mempertanyakan mengapa jalan hidupnya bahkan lebih berliku dan dipenuhi onak dibandingkan dengan orang yang malas beribadah. Pak Abid faham, itu semua rahasia Tuhan, karena pak Abid juga faham bahwa Tuhan telah berfirman bahwa Dia akan memberikan apa-apa yang dikehendakiNya kepada siapa-siapa yang dikehendakiNya.

Tuhan tidak berikan rezeki berlimpah, kedudukan tinggi, kemudahan, kelapangan, dan kebahagiaan hanya kepada orang-orang yang mematuhi aturannya. Bahkan kepada mereka yang tidak percaya akan keberadaanNya pun, Tuhan berikan itu semua, karena Tuhan menyayangi semua ciptaanNya. Jadi janganlah kita mengatakan bahwa karena ibadah kita telah sempurna, maka Tuhan anugerahkan semua kebaikan dan kemudahan; karena semua ibadah kita masih jauh belum berarti jika dibandingkan dengan nikmat yang selalu Tuhan anugerahkan kepada kita. Beribadahlah dengan ikhlas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: