Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Anak Bukan Milik Kita …. Hanya Titipan dariNya

Posted by djadjasubagdja on January 16, 2009

Adakah di dunia ini seseorang yang meminjami kita sesuatu seumur hidup kita, lalu kapanpun kita bisa minta dia ikut menjaga yang dia titipkan tersebut? Tentu saja tidak ada. Pinjaman tanpa bunga saja sudah jarang kita dapati di dunia ini. Kalaupun ada pinjaman tanpa imbalan, pastinya dalam jangka waktu yang terbatas, tidak seumur hidup kita bisa meminjam tanpa imbalan. Kalaupun ada pinjaman seumur hidup tanpa imbalan, pastinya si yang meminjamkan tidak bisa kita mintai bantuan untuk ikut menjaganya.

Namun Tuhan memberikan kita pinjaman tanpa imbalan seumur hidup, dan kapan saja kita bisa minta tolong Tuhan untuk menjaganya. Sungguh, bukankah itu suatu pertanda bahwa memang Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Tuhan pinjami kita anak, tanpa kita harus membayar bunganya, dan Tuhan pula yang akan mencukupi rezeki anak-anak kita. Sayang, kebanyakan dari kita tidak menyadari hal ini.

Kebanyakan dari kita menganggap anak adalah milik orang tua, padahal mereka adalah mahluk ciptaan Tuhan yang dipinjamkan kepada kita. Kita hanya diminta ikut menjaga dan mendidik, dan Tuhan sendiri yang memberikan kesehatan, kesejahteraan, kepintaran, dan kecakapan kepada mereka. Sering sekali kita melihat orang tua mengatur-ngatur masa depan anak tanpa mempertimbangkan minat dan bakat si anak.

Banyak dari orang tua yang merasa memiliki pengalaman hidup, lantas kemudian mengarahkan anak berdasarkan keinginan dia semata. Padahal, kalu difikir lebih dalam, jaman terus berkembang. Kehidupan yang akan dihadapi si anak pasti berbeda dengan kehidupan yang telah dilalui si orang tua. Jaman yang telah dilalui si orang tua, dan menjadi pengalaman hidupnya, sudah jauh berbeda dari jaman yang akan diarungi si anak.

Alkisah, ada seorang anak SD yang gemar bermain sepak bola. Teman-teman sepermainan dia mengakui kelihaiannya dalam mengolah bola di lini tengah dan kemudian menggiringnya mendekati gawang lawan. Sayang, orang tuanya tidak terlalu senang anaknya ‘menghabiskan’ waktu bermain bola. Orang tuanya tidak mau si anak kelelahan bermain bola, takut malamnya tidak bisa belajar. Wajar sih.

Ketika jaman kompetisi klub bola antar RW, si anak tadi diajak kawan-kawannya masuk ke klub bola RW dimana dia berdomisili. Beberapa pertandingan dia ikuti, hingga mengantarkan klub bola RW-nya menjadi klub yang disegani di kelurahan. Hanya sayang, dia lakukan itu tanpa sepengetahuan orang tuanya. Orang tuanya bukan tidak mengetahui hal itu. Gosip mudah beredar. Si anak memang bintang lapangan, semua orang sekampung sudah tau. Sekali saja ketahuan si anak pulang bermain bola, langsung saja dia dimarahi orang tuanya.

Waktu terus berlangsung, si anak tahu diri. Orang tua mengingainkan dia menjadi dokter atau insinyur atau ekonom. Dia berhenti bermain sepak bola. Dia serius menyelesaikan sekolahnya, hingga akhirnya bisa menjadi sarjana ekonomi. Namun, karena bakat si anak adalah bermain bola, maka keahliannya di bidang ekonomi tidak maksimal. Sulit juga bagi dia mencari pekerjaan.Baru beberapa tahun setelah lulus mendapat pekerjaan yang lumayan. Ya, sekadar lumayan buat menyambung hidup.

Saya berandai-andai. Kalau saja dulu dia teruskan bermain bola, lalu dia masuk klub perserikatan, bukan mustahil dia akan menjadi pengganti ajat Sudrajat, Robby Darwis, atau Adeng Hudaya, tiga ikon Persib ketika itu. Tentunya, dengan menjadi pemain bola profesional, kehidupannya akan jauh lebih baik dari yang sekarang.

Namun saya juga tidak menyalahkan orang tuanya. Orang tuanya hidup di jaman orde lama dimana tidak ada pemain sepak bola profesional ketika itu. Wajar kalau si orang tua tidak rela anaknya menjadi pemain bola. Hanya saja, kenyataannya, jaman berubah, dan yang namanya jaman akan selalu berubah. Di jaman si anak tadi, seseorang bisa hidup dari bermain sepak bola secara profesional. Itu yang tidak disadari si orang tua.

Seingat saya, di jaman saya bersekolah, kuliah di jurusan teknik sipil, elektro, atau mesin itu menjanjikan masa depan yang sangat baik. Tidak salah jika ada orang tua yang mengarahkan anaknya kuliah di jurusan-jurusan ini. Jika memang si anak memiliki minat di bidang-bidang ini, ya tidak masalah. Namun jika ternyata minat si anak adalah menggeluti dunia desain grafis, maka arahan orang tuanya agar dia kuliah di jurusan mesin atau elektro hanya akan menjadi beban bagi si anak.

Setelah si anak menyelesaikan pendidikan di fakultas teknik, si anak menemui kesulitan dalam mencari pekerjaan. Dia tidak begitu sreg bekerja di bidang teknik, tetapi juga tidak memiliki pendidikan formal desain grafis, ketika hendak melamar sebagai desainer. Coba kalau dulu dia kuliah di jurusan desain grafis, sesuai kata hatinya, dia tidak akan mengalami kesulitan mencari pekerjaan di jaman teknologi informasi sekarang ini, dimana kebutuhan akan desainer situs web sangat tinggi.

Sekali lagi, jaman berubah. Di era kehidupan orang tua si anak tadi, dunia desain grafis belum berkembang, masih menjadi bidang minor. Namun di saat ketika si anak memasuki usia kerja, justru bidang ini berkembang dengan pesat, jauh meninggalkan bidang-bidang teknik sipil, mesin, dan elektro. Pengalaman orang tua bukan satu-satunya acuan dalam menentukan sekolah anak.

Namun ini bukan berarti pengalaman orang tua sama sekali tidak dipakai dalam mendidik anak. Beberapa pengalaman mendasar, seperti misalnya bahwa rajin belajar lebih baik dari malas belajar, tetap sangat berperan dalam mendidik anak. Pengalaman orang tua sangat penting dijadikan acuan dalam mendidik anak, tetapi ketika sampai pada pemilihan jurusan, keinginan anak juga harus dipertimbangkan.

Bagaimana kalau justru pilihan si anak itu salah? Tidak perlu khawatir, si anak akan mengoreksi kesalahan yang telah dia buat tanpa menyalahkan si orang tua. Anak adalah milik Tuhan, orang tua hanyalah insan yang dititipi anak. Tugas orang tua adalah mengarahkan anak untuk hidup dengan baik dan benar, sesuai aturan Tuhan. Jangan lupa untuk selalu memohon Tuhan menjaga anak kita, tidak bayar koq.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: