Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Membaca Membawa Nikmat

Posted by djadjasubagdja on December 4, 2008

Dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, kadang-kadang saya merasa kurang pede dengan hobi saya, membaca. Teman-teman saya kebanyakan hobinya keren-keren, pikir saya saat itu. Ada yang punya hobi berenang, melukis, bermain piano, sepak bola, bulu tangkis, filateli, dan hal-hal lainnya selain membaca. Terkadang saya sendiri bertanya dalam hati, apakah benar membaca itu sebuah hobi? Bukankah anak-anak lain juga senang membaca buku?

Menuliskan kata “membaca” sebagai hobi ini tetap saya lakukan hingga saya lulus kuliah. Ya, mau apa lagi yang mesti saya tulis, karena saya tidak memiliki kegemaran di bidang olah raga, seni, elektronika, atau mengoleksi sesuatu. Barangkali orang akan tersenyum kalau membaca CV saya saat melamar bekerja dulu, karena di bagian hobi saya tulis membaca. Mungkin orang yang membaca CV tersebut akan berfikir kalau saya ini sebetulnya tidak punya hobi.

Entahlah, apakah benar membaca itu hobi saya atau memang lantaran saya tidak punya hobi, akhirnya saya anggap “membaca” sebagai hobi saya. Ini mungkin sama saja dengan orang yang menyebutkan “makan” atau “berwisata” sebagai hobinya. Siapa yang tidak gemar makan dan piknik? Namun yang jelas, dari dulu tidak pernah ada orang yang mempertanyakannya. Paling-paling orang bertanya mengenai buku apa saja yang pernah saya baca.

Ketika masih duduk di bangku SD hingga kelas 1 SMP, banyak sekali buku yang saya baca. Buku-buku terjemahan karya Jacob Grimm, H.C. Andersen, Robert Louis Stevenson, Charles Dickens, Victor Hugo, Alexander Dumas, dan Shakespeare banyak saya baca. Belum lagi serial komik Tintin, Jhonny Goodbye, Tanguy & Laverdure, dan Asterik. Demikian pula dengan seri Lima Sekawan dan Sapta Siaga yang merupakan tulisan Enyd Blyton. Beberapa kisah klasik 1001 Malam dan Petualangan Sinbad juga saya baca. Bahkan komik karya R.A. Kosasih seperti serial Mahabharatha, Bharatha Yudha, Pandawa Seda, Ramayana (Rama-Sinta), dan Panji Semirang pun menjadi bacaan saya di waktu liburan.

Buku-buku yang saya baca itu dibeli ibu kami di toko buku dekat sekolah tempat beliau mengajar. Ibu selalu menyisihkan uang gajinya setiap bulan untuk membelikan kami, saya dan adik-adik, buku bacaan. Kalau pas liburan sekolah, Ibu biasanya membelikan kami buku yang lebih banyak dari biasanya. Mungkin itulah yang menyebabkan saya selalu menuliskan “membaca” sebagai hobi saya. Barangkali, secara tidak sadar, itulah bentuk apresiasi saya terhadap jerih payah ibu kami ini.

Beberapa teman saya juga gemar membaca, tapi saya lihat mereka tidak pernah menuliskan kata “membaca” sebagai hobinya. Apakah karena memang mereka memiliki hobi main bola ataukah karena buku yang dibacanya itu adalah buku yang dipinjamnya dari saya, sehingga mereka tidak merasa memiliki hobi membaca, saya tidak tahu. Namun satu hal yang pasti, karena saya merasa begitu tingginya perhatian ibu kami terhadap kebutuhan buku bacaan untuk anak-anaknya, akhirnya saya tulis kata “membaca” sebagai hobi saya.

Kala saya mulai menginjak usia remaja, ibu kami tetap rajin membelikan buku bacaan. Buku-buku terjemahan karya Agatha Christie adalah yang paling saya ingat, meskipun saya sudah lupa dengan judul-judulnya. Terkadang, saya baca juga buku-buku terjemahan tulisan Barbara Cartland dan Sydney Sheldon milik ibu saya. Di masa itu, saya sudah tidak terlalu banyak membaca buku. Selain beban pelajaran yang semakin tinggi, juga mungkin karena saya mulai lebih sering bermain dengan teman sekolah. Ya, maklumlah, anak remaja.

Sekarang ini, setelah bekerja dan berkeluarga, terus-terang, hanya satu atau dua buku saja yang pernah saya baca. Istri saya sebenarnya rajin membeli buku. Dia mengoleksi beberapa buku Harry Potter. Begitu pula dengan buku-buku populer masa kini seperti Digital Fortress, Bourne Identity, The Alchemist, Da Vinci Code, dan Da Vinci Decoded. Beberapa buku tulisan Pramoedya Ananta Toer juga dia miliki. Namun belum ada satupun dari koleksi istri saya itu yang saya baca.

Apakah hobi saya sudah berubah? Apakah karena takut kacamata yang sudah minus 8 ini bakalan bertambah tebal kalau terus-menerus membaca? Ataukah karena saya sudah kelelahan membaca? Saat ini saya bekerja di sebuah penerbit buku dan tugas saya sehari-hari memang berkisar diantara mengevaluasi naskah yang masuk dan terkadang mengoreksi naskah yang sedang dikerjakan oleh para editor. Jadi, saya pikir, mungkin karena saya terlalu jenuh menghadapi bacaan, sehingga ketika tiba di rumah rasanya sulit sekali untuk membaca buku.

Namun demikian, mungkin karena banyaknya buku cerita yang telah saya baca ketika saya masih anak-anak, sekarang ini saya jadi lebih gemar menulis. Jangan-jangan hobi saya berubah, fikir saya beberapa waktu lalu. Namun juga, apakah karena saat ini saya senang menulis tulisan-tulisan pendek lantas saya bisa menganggap hobi saya adalah menulis? Tulisan-tulisan saya itu pun tidak ada yang dimuat di media masa, hanya parkir di blog saya. Satu dua tulisan saya di blog cukup serius, tapi saya belum pede untuk mengirimkannya ke surat kabar.

Namun itu semua tidak penting. Hal yang paling penting adalah bahwa upaya yang telah dilakukan ibu kami, membelikan kami buku cerita secara rutin, telah memberikan saya kemampuan untuk menulis. Memang sih, saya belum sehebat penulis profesional, tapi setidaknya sedikit lebih baik dari sebagian besar teman-teman saya. Hatur nuhun Ibu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: