Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Apa Mungkin Bisa Menulis Tanpa Rajin Membaca?

Posted by djadjasubagdja on December 4, 2008

Sebenernya skripsi saya tuh udah kelar, tinggal disusun kata-katanya aja,” demikian canda seorang mahasiswa tingkat akhir saat bercengkrama dengan beberapa kawannya. Semua tentu saja tertawa terbahak-bahak, karena barangkali juga mereka mengalami masalah yang sama.

Kurang cakap dalam penulisan skripsi memang sudah menjadi ciri khas sebagaian besar mahasiswa kita. Sudah tidak aneh lagi kalau rata-rata mahasiswa tugas akhir membaca skripsi para seniornya di perpustakaan bukan untuk mempelajari materinya, tapi untuk mencari tahu seperti apa sebuah karya ilmiah ditulis. Lebih dari itu, belakangan muncul biro-biro jasa konsultasi skripsi. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Apakah mahasiswa kita tidak diajari cara menulis karya ilmiah di kampusnya? Tidak juga! Di tahun pertama perkuliahan ada mata kuliah Bahasa Indonesia, yang bahan utama perkuliahannya adalah pengenalan pola-pola penulisan ilmiah. Di akhir perkuliahan tersebut, mahasiswa diberi tugas penulisan ilmiah. Jadi sebenarnya, bekal sudah diberikan sejak tahun pertama. Namun tetap saja sebagian besar mahasiswa selalu mengalami kesulitan ketika menulis skripsi.

Seringkali, ketika seorang mahasiswa mulai mencoba menulis skripsinya, yang muncul hanya sekumpulan pointer dari pemikirannya dan data-data penelitiannya. Dia kemudian bingung, bagaimana menjadikan itu semua sebagai sebuah tulisan. Dia seperti orang yang kehilangan kata-kata.

Sebenarnya, sejak di sekolah dasar kita telah diajari mengenai kata, kalimat, dan paragraf oleh guru kita. Di sekolah juga kita telah diajari apa yang namanya pokok fikiran paragraf, kalimat utama paragraf, dan kalimat pendukungnya. Jadi, kalau setiap satu pointer si mahasiswa tadi dijadikan sebuah paragraf, maka rangkaian paragraf itu sudah bisa dijadikan draft skripsi untuk dikonsultasikan ke dosen pembimbing.

Namun demikian, memang tidak semudah itu mengubah kalimat-kalimat pointer tadi (sebagai representasi pemikiran yang ada di kepala kita) ke dalam paragraf-paragraf. Barangkali, malah ada yang masih kebingungan untuk menuliskan isi kepalanya dalam bentuk kalimat pointer. Nah, kalau ini sudah gawat.

Katakanlah pointer-pointer telah kita tuliskan. Pelajaran tentang paragraf juga masih kita ingat. Apakah itu menjamin bahwa kemudian akan dengan mudahnya kita mengubah pointer-pointer itu menjadi sejumlah paragraf? Belum tentu! Kalau dianalogikan dengan berbisnis, ini yang namanya sudah diberi modal tapi usaha tidak jalan.

Mengapa hal ini terjadi? Jawabannya sederhana. Bagaimana mungkin bisa menulis dengan mudah kalau kita tidak banyak membaca? Membaca yang dimaksud di sini adalah bukan membaca buku teks pelajaran atau perkuliahan. Kegiatan membaca yang efektif melatih kemampuan kita dalam menulis adalah membaca buku nonteks, seperti karya sastra, misalnya.

Coba kita perhatikan sebuah tulisan karya sastra. Untuk melukiskan seorang gadis yang sedang menanti kekasihnya di sebuah cafe saja, penulisnya bisa menghabiskan dua halaman. Si penulis benar-benar memberikan deskripsi mengenai si gadis dengan mendetil, mulai dari gambaran wajah dan tubuhnya hingga pakaian yang dikenakannya. Bahkan warna minuman yang ada di hadapan si gadis itu pun dia gambarkan dengan sejumlah kalimat. Semua hal dieksplorasi oleh penulisnya.

Deskripsi yang sangat detil dalam sebuah karya sastra, akan melatih kita untuk juga dapat mengembangkan apa yang ada dalam pemikiran kita ke dalam rangkaian kata-kata. Kemampuan ini tentunya tidak akan terbentuk karena kita telah membaca satu atau dua buku, tapi setelah kita membaca puluhan karya sastra. Oleh sebab itu jangan heran mengapa siswa di negara-negara maju selalu mendapat PR membaca karya sastra, untuk kemudian mereka kumpulkan resensinya ke guru bahasa mereka. Dari awal mereka sudah “dipaksa” membaca karya sastra.

Pada tahun 1996, kebetulan saya mendapat tugas belajar di sebuah universitas di Amerika Serikat. Tugas belajar itu sebenarnya berupa kursus bahasa Inggris, tapi karena saya tidak perlu mengikuti semua kelas kursus, saya minta untuk menggantinya dengan kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi dan Sejarah Eropa, sesuai anjuran pimpinan perusahaan yang membiayai kursus saya tersebut. Hal itu bisa dilakukan karena memang penyelenggara kursus tersebut merupakan unit khusus dari universitas tersebut.

Ketika mengikuti ujian tengah semester mata kuliah Sejarah Eropa, saya kaget sekali saat menerima lembar soal dan lembar jawaban. Ternyata lembar jawabannya bukan berupa lembaran kertas kosong, tapi sebuah buku tulis! Di soal ujian tengah semester Sejaran Eropa tersebut dituliskan bahwa jawaban untuk sebuah soal minimal harus sekian halaman.

Saya benar-benar panik saat itu, karena setelah dihitung-hitung, total jawabannya bisa mencapai 16 halaman, dan waktu pengerjaannya hanya dua setengah jam saja. Matilah aku, pikir saya saat itu. Sebetulnya, ketika kuliah S1 dulu, saya sudah terbiasa dengan jawaban ujian beberapa halaman per soal, tapi sebagian besar berupa perhitungan-perhitungan dan diagram/rangkaian/flowchart, bukan 100% kata-kata!

Terus terang, sebenarnya kemampuan mengarang saya tidak terlalu parah. Sejak SMA saya bisa menyelesaikan tugas penulisan makalah dengan baik. Namun, di ujian Sejarah Eropa tersebut masalahnya adalah bahwa saya harus menuliskan jawabannya dalam bahasa Inggris. Itu sama saja dengan menyuruh saya mengarang dalam bahasa Inggris, sementara saat itu saya tengah mengikuti kursus bahasa Inggris. Ini sama saja dengan seorang taruna akademi militer yang disuruh bertempur melawan musuh.

Namun, di tengah kepanikan itu, saya masih bisa memperhatikan satu hal yang membuat saya kagum. Ternyata tidak sedikit mahasiswa yang meminta buku tambahan untuk jawaban mereka. Rupanya jawaban mereka lebih panjang dari persyaratan halaman minimal. Hebat sekali mereka, pikir saya sambil menyeka keringat dingin.

Itulah sekadar gambaran, bagaimana kebiasaan membaca karya sastra di sekolah-sekolah di negara maju bisa mengasah kemampuan menulis para pelajar. Jadi jangan merasa aneh kalau kebanyakan mahasiswa kita tidak pandai menulis, karena memang dulunya tidak pernah “dipaksa” membaca karya sastra ketika duduk di bangku sekolah. Kita hanya berfokus pada pengetahuan bahasa dan sastra.

Pelajaran apresiasi sastra di sekolah-sekolah hanya sebatas pada pembelajaran mengenai pengetahuan karya sastra, tidak dalam bentuk tugas membaca dan meresensi. Seandainya saja siswa-siswa kita sejak dini diberi tugas membaca karya sastra, barangkali mereka tidak akan mengalami kesulitan ketika sudah menjadi mahasiswa dan harus menulis skripsi.

Menulis karya ilmiah adalah proses mentransformasi pengetahuan atau informasi yang dimiliki seseorang ke dalam serangkaian kalimat dan data-data pendukung seperti gambar, diagram, rumus, tabel, dan grafik. Proses ini diawali dengan pencarian informasi, lalu dilanjutkan dengan pengolahannya. Setelah itu, kita simpulkan dalam pokok-pokok pemikiran yang wujudnya bisa berupa kalimat-kalimat pointer. Pokok-pokok pemikiran itu kita kembangkan menjadi pokok-pokok fikiran paragraf. Setelah itu baru dilakukan langkah besarnya, yakni mengembangkannya menjadi serangkaian pragraf. Keterampilan melakukan langkah besar ini hanya bisa didapat dari kebiasaan membaca buku nonteks, seperti buku sastra. Ayo kita “paksa” anak-anak kita membaca buku-buku cerita/sastra.

Advertisements

2 Responses to “Apa Mungkin Bisa Menulis Tanpa Rajin Membaca?”

  1. agorsiloku said

    Wuakakak… rupanya di negeri kita, kita tidak belajar sastra atau sejarah, tapi sepenuhnya belajar menghafal. Sekolah tidak pernah mewajibkan siswa untuk mengenal karya-karya sastera pendahulu kita. Kita tidak kenal Armin Pane atau Rustam Effendy, kita hanya kenal judulnya saja. Membacanya…. nyaris nggak. Kita bisa kenal Oom Willy, Sang Merak itu, tapi kita tidak pernah belajar memahami puisi. Kita mengenal sejarah, sebagai ingatan-ingatan tanggal dan tahun peperangan. Sampai-sampai Perang Dipenogoro terjadi kapan… ?. Dijawab 1825-1930… maka sang siswa berkomentar… Oh.. perangnya habis magrib ya… 😀

  2. Andri Kusmayadi said

    Wah Pak Djadja, gimana kelanjutan ceritanya? Kalau Bapak berhasil menyelesaikan sampai 16 hal, itu berarti Pak Djadja termasuk hebat juga, karena mengerjakannya dalam kondisi ‘keringat dingin’.He..he…
    Iya sih bener juga Pak. Tapi, kalau ada orang yang suka menulis, tapi tidak suka membaca gimana ya? Maksudnya, dia bukan tipe pelahap setiap bacaan. Dia hanya membaca kalau dia mau menulis, gimana tuh, Pak?
    Btw, Pak di SMAN 5 dulu diajar sama Pak Saras ga Bahasa Indonesianya? Waktu itu saya mendapat pelajaran dari dia untuk membaca novel karangan YB Mangunwijaya, Burung-burung Manyar. Saya juga harus membuat resensinya. Berarti, dia termasuk guru yang hebat ya Pak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: