Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Menerjemahkan: Bukan Sekadar Mencari Padanan Kata!

Posted by djadjasubagdja on November 25, 2008

Menarik sekali tulisan Mula Harahap, di blog-nya http://mulaharahap.wordpress.com yang berjudul Mengkutak-katik GoogleTranslate. Mengkritik dengan santun, itulah hebatnya seorang Mula Harahap. Teresonansi oleh tulisan senior saya ini, tiba-tiba saya juga ingin berbagi pengalaman dalam hal penerjemahan ini. Barangkali ada gunanya bagi pembaca.

Menerjemahkan bukan merupakan pekerjaan sederhana. Bukan sekadar mengubah kata-kata dalam satu bahasa ke bahasa lainnya. Perlu diingat bahwa bahasa adalah wujud kebudayaan, yang dilatar belakangi interaksi sosial dari komunitas pengguna bahasa. Sebuah kata dalam sebuah bahasa bisa bermakna banyak, dan tidak semua maknanya sama dengan semua makna kata tersebut dalam bahasa lainnya.

Untuk memudahkan pemahaman, mari kita ambil satu kata dalam bahasa kita, misalnya kata “cetak”. Terjemahan dalam bahasa Inggris dari kata “cetak” ini adalah “print”. Dengan demikian, kalimat “Andi sedang mencetak kartu nama” bahasa Inggrisnya adalah “Andi is printing name cards”. Namun tentunya kita tidak bisa menerjemahkan “cetak” menjadi “print” dalam kalimat “Andi Lala mencetak gol tunggal di pertandingan bersejarah itu”.

Kita sering melihat orang-orang menerjemahkan kata “fakultas” menjadi “faculty”. Apakah orang-orang Amerika akan langsung mengerti maksudnya? Belum tentu, karena di universitas-universitas di sana istilah “faculty” biasanya dipakai dalam frase “faculty member”, yang dalam dunia perguruan tinggi kita berarti sivitas akademika (civitas academica). Sementara itu, di Amerika Serikat, sebutan untuk lembaga di bawah universitas yang terdiri dari beberapa jurusan serumpun adalah “school”, seperti “school of medicine” (fakultas kedokteran) atau “school of economics” (fakultas ekonomi), BUKAN “faculty of medicine” atau “faculty of economics”.

Itulah mengapa penerjemah harus benar-benar menguasai bidang dari materi yang diterjemahkannya dan memiliki pengalaman menggunakan bahasa-bahasa dalam penerjemahan tersebut. Jangan sampai, misalnya, kata “printer” di sebuah buku komputer diterjemahkan sebagai “pencetak”, karena kata itu tidak lazim dipakai oleh komunitas teknologi informasi di tanah air. Contoh lain adalah kata “force” yang di dalam ilmu fisika diterjemahkan sebagai “gaya”, sementara di bidang militer kata tersebut berarti “angkatan” (air force = angkatan udara) atau “kekuatan” (military force = kekuatan militer).

Penguasaan bidang/ilmu materi yang akan diterjemahkan ini penting. Bayangkan kalau seseorang yang tidak pernah belajar fisika diminta menerjemahkan buku fisika berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Barangkali istilah “gaya” akan dia terjemahkan sebagai “style”. Kalau ditugasi yang sebaliknya, dia juga akan bingung ketika menemukan istilah “electromagnetic field”, apakah akan diterjemahkan menjadi “padang elektromagnet” atau “medan elektromagnet”?

Sebetulnya sah-sah saja jika diterjemahkan sebagai “padang elektromegnetik”, tapi karena sudah menjadi kesepakatan fisikawan di tanah air bahwa terjemahannya adalah “medan elektromagnetik”, maka terjemahan bakunya bukan “padang elektromagnetik”. Ini menyangkut konvensi bidang keilmuan, dan setiap bidang ilmu memiliki konvensi istilah. Dalam ilmu fisika, semoga tidak bosan dengan fisika, kata “elevation” tidak selalu diterjemahkan sebagai “ketinggian”, tapi dapat pula diterjemahkan sebagai “sudut elevasi”. Itu semua tergantung konteks kalimat dan fenomenanya.

Itulah yang kemudian, dulu, ketika saya menangani penerjemahan buku-buku teks perguruan tinggi (dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia), saya menerapkan tiga kriteria ketika mencari penerjemah. Pertama, harus memiliki kompetensi keilmuan yang sesuai dengan buku yang akan diterjemahkan. Kedua, tentunya harus pandai berbahasa Inggris ragam formal-akademik. Ketiga, harus pula menguasai bahasa Indonesia dengan cukup baik.

Kandidat yang memenuhi kriteria pertama dan kedua cukup banyak populasinya. Mereka adalah para dosen yang mengajar di perguruan-perguruan tinggi ternama. Biasanya mereka pernah melanjutkan pendidikan (S2 atau S3) di negara-negara yang bahasa komunikasinya bahasa Inggris. Namun, tidak banyak dari mereka yang bahasa Indonesia-nya cukup baik. Sebagian hasil terjemahannya terkadang berupa serangkaian kalimat-kalimat berkosa kata Indonesia, tapi bernuansa asing. Banyak dari mereka yang perbendaharaan kata Indonesia-nya kurang.

Sebenarnya, tidak ada kriteria yang paling penting dari ketiga kriteria di atas. Hanya saja, terkadang saya abaikan kriteria yang terakhir, karena memang setelah selesai tahapan penerjemahan, hasil terjemahan tadi harus diedit/disunting oleh seorang editor penerbitan. Namun, sekali lagi, dalam menentukan editor mana yang akan menyunting hasil terjemahan tadi, saya juga memilih editor yang menguasai bidang ilmu tersebut. Itulah sebabnya mengapa ketika melakukan rekrutmen editor, penerbit selalu menguji keterampilan bahasa Indonesia si calon.

Jadi, hal yang paling penting ketika kita harus menerjemahkan sebuah buku atau tulisan formal adalah menetapkan kriteria penerjemahnya. Sang penerjemah haruslah menguasai bidang tersebut dan menguasai kedua bahasa, baik bahasa yang diterjemahkan maupun bahasa hasil terjemahannya. Menerjemahkan bukan sekadar pekerjaan mencari-cari padanan kata dalam kamus dwibahasa

Advertisements

2 Responses to “Menerjemahkan: Bukan Sekadar Mencari Padanan Kata!”

  1. heryazwan said

    Pada sebuah buku terjemahan, Secretary of State diterjemahkan dengan Sekretaris Negara. Alamaak…
    Si penerjemah rupanya tidak paham kalau di Amerika menteri itu disebut Secretary. Kata di atas seharusnya diterjemahkan menjadi “Menteri Luar Negeri”.

  2. Bayu said

    saya punya buku teori relativitas Einstein versi terjemahan. saya agak risih saat membaca kata-kata ladang elektromagnet. waktu pertama kali saya baca buku itu saya masih sma dan baru mau masuk universitas. waktu itu saya sangat kesulitan membaca buku itu karena banyak istilah yang terlalu dipaksakan seperti ladang elektromagnet di atas. setelah kuliah saya baru ngeh bahwa istilah itu maksudnya medan elektromagnet (electromagnetic field). jadi, memang menerjemahkan harus dilakukan oleh orang yg sesuai bidang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: