Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Tak Lelah Hardware Mengejar Software

Posted by djadjasubagdja on November 23, 2008

Saya masih ingat ketika komputer pertama saya rusak. “Memorinya rusak satu,” kata si teknisi menjelaskan tentang kerusakannya. Awalnya saya tidak begitu mengerti dengan yang dimaksud si teknisi, tapi setelah dia membuka casing komputernya dan memperlihatkan 8 buah komponen elektronik yang berderet rapi sambil mencabut salah satunya (yang rusak), akhirnya saya mengerti.

Memang, dari kuliah Pengenalan Komputer saya tahu kalau di dalam sebuah komputer itu ada yang namanya memori yang tidak kalah penting dari mikroprosesornya. Namun seperti apa wujud fisik memori, baru kali itulah saya melihatnya. Komputer saya yang pertama itu hadiah dari orang tua saya karena saya bisa diterima kuliah di perguruan tinggi negri yang biaya kuliahnya pada saat itu (tahun 1986) jauh lebih rendah dibandingkan kalau saya kuliah di swasta.

Saya belum lupa dengan komputer pertama saya itu, sebuah komputer rakitan tipe PC XT dengan mikroprosesor Intel 8088 (saudara tua Intel Pentium) yang kompatibel dengan IBM PC XT 8086 yang ada di laboratorium komputer TPB ITB, yang dipakai untuk latihan para mahasiswa tahun pertama. Saat itu komputer belum diajarkan di sekolah, bahkan belum semua perguruan tinggi mengajarkan pengenalan komputer. Pemilik komputer pun masih jarang, karena harganya masih mahal pada saat itu. Seingat saya, harga komputer pertama saya tadi sekitar 1,2 juta rupiah, tidak jauh dari harga sebuah sepeda motor bebek buatan Jepang waktu itu. Penggunaan komputer juga masih terbatas untuk keperluan pendidikan.

Meskipun harganya terbilang mahal, tapi kemampuannya jauh lebih rendah dari komputer pribadi (personal computer = PC) yang ada saat ini. Memorinya 64 kB (64 ribu bytes), kecepatan (clock speed) mikroprosesornya kurang dari 1 MHz (1 juta hertz). Coba bandingkan dengan PC sekarang yang rata-rata memiliki memori di atas 512 MB (512 juta bytes) dengan kecepatan prosesor 1 GHz (1 milyar hertz). Dari sisi kecepatan mikroprosesor dan kecepatan, PC sekarang sudah seribu kali lebih cepat dan memiliki kapasitas memori seribu kalinya. Sementara itu, harganya hanya sepertiga harga sebuah sepeda motor bebek buatan Jepang saat ini.

PC yang sekarang saya pakai untuk bekerja, spesifikasinya lebih tinggi dari yang saya sebutkan di atas. Memorinya 2 GB (2 milyar bytes) dan kecepatan mikroprosesor gandanya masing-masing 1,4 GHz (1,4 milyar hertz). Saat ini, PC dengan spesifikasi setinggi itulah yang banyak dipakai orang-orang. Kalau di jaman dulu, komputer dengan spresifikasi ini mungkin hanya ada di pusat-pusat penelitian atau perusahaan besar, dan tidak dijadikan komputer pribadi (PC), melainkan sebuah server (komputer induk).

Kecepatan mikroprosesor dan kapasitas memori PC jaman sekarang yang telah menjadi seribu atau bahkan dua ribu kali dibandingkan PC di tahun 80-an ini tidak lepas dari tuntutan kebutuhan. Menurut saya, PC tahun 80-an (seperti komputer pertama saya tadi) juga tidak bisa dibilang lambat saat kita mengeksekusi dan menggunakan perangkat lunak (software) yang ada saat itu. Hanya saja, perangkat lunak berkembang menjadi lebih tinggi resolusi grafisnya dan meningkat kemampuannya. Hal ini menuntut peningkatan kinerja perangkat keras (hardware), dalam hal ini terutama kecepatan mikroprosesor dan kapasitas memori yang lebih tinggi.

Di tahun 80-an, PC beroperasi dengan sistem operasi IBM DOS atau Microsoft DOS. Seingat saya, DOS yang pernah populer di negara kita adalah DOS versi 3.3 hingga DOS versi 6. Setelah itu, Microsoft mengganti DOS dengan Windows di penghujung tahun 80-an. Windows yang cukup memasyarakat di awal tahun 90-an adalah Windows 3.1 for Workgroups, di mana saat itu juga jaringan komputer dan internet sudah mulai memasyarakat. Boleh jadi, Windows inilah yang membuat Microsoft tambah meraksasa. Tampilannya yang sangat grafis (graphical user interface = GUI) menjadikan komputer mudah dioperasikan oleh hampir semua orang, lebih user friendly.

Kemunculan Windows ini juga diiringi oleh munculnya perangkat-perangkat lunak yang lebih user friendly. Di jaman DOS, perangkat lunak pengolah kata yang banyak dipakai adalah Wordstar, ChiWriter, dan WordPerfect. Untuk bisa mengoperasikan perangkat-perangkat lunak ini terkadang diperlukan sebuah kursus, karena menu-menu dan fungsinya tidak user friendly sebagaimana menu dan fungsi-fungsi yang terdapat di pengolah kata yang banyak dipakai orang saat ini, yaitu Microsoft Word. Demikian pula dengan perangkat lunak sel elektronik seperti Multiplan, Supercalk, atau Lotus-123 versi lama. Pengoperasiannya tidak semudah Microsoft Excell.

Namun tentunya kemudahan pengoperasian perangkat-perangkat lunak masa kini plus pilihan jenis huruf, format, tampilan, dan desainnya bukan tanpa syarat. Semua itu menuntut kecepatan dan memori yang lebih tinggi. Ketika kecepatan dan memori dapat menjawab tantangan ini, perangkat-perangkat lunak terus berkembang memenuhi kebutuhan pengguna untuk lebih user friendly lagi, dan konsekuensinya kembali menuntut kecepatan dan memori yang lebih tinggi dari sisi perangkat kerasnya.

Perkembangan perangkat lunak inilah yang memicu peningkatan kecepatan mikroprosesor dan kapasitas memori komputer. Ketika muncul versi terbaru dari sebuah perangkat lunak, maka sebuah komputer yang awalnya dirasakan sudah cukup handal, akan terasa sangat lambat dan bahkan mungkin menjadikan komputer kita hang. Produsen mikroprosesor kemudian meningkatkan produk barunya yang lebih cepat dan lebih tahan panas. Produsen komputer kemudian meluncurkan produk baru yang telah memakai mikroprosesor terbaru tadi dan juga meningkatkan kapasitas memorinya. Kemudian, seperti sebuah lomba tanpa garis finish, produsen perangkat lunak menyempurnakan produknya yang biasanya diiringi dengan kebutuhan akan kecepatan dan memori yang lebih. Entah kapan lomba ini akan berakhir.

Advertisements

2 Responses to “Tak Lelah Hardware Mengejar Software”

  1. Dijoe said

    Wuih, asyik banget ya Pak waktu TPB sudah punya komputer sendiri. Waktu kuliah saya masih nebeng komputer di LabKom TI atau rental yg di Jl Dayang Sumbi. Waktu ngerjain TA aja saya nebeng punya teman kuliah, Bagus (thx ya Gus).

    My very own computer adalah saat gw udah kerja di PE (sekitar 1994). Setelah nabung beberapa bulan baru deh kebeli laptop Compaq Presario (serinya lupa) seharga 2,9 jt, kalo gak salah. Hmmm laptop itu sekarang udah jadi barang rongsokan. Hancur cur cur setelah sekian lama membantu gw cari uang dari side job.

  2. Bayu said

    baru tau kalo pa djadja punya akun di wordpress …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: