Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

KPK dan FPB

Posted by djadjasubagdja on November 23, 2008

Kalau ada lomba singkatan favorit di tanah air tercinta ini, barangkali KPK akan menjadi juara untuk periode sekarang ini. Rasanya hampir tiap hari koran menuliskan singkatan favorit ini. Lebih dari itu, bahkan ada nama acara di sebuah stasiun televisi yang kalau disingkat jadi KPK juga, meski bukan kependekan dari Komisi Pemberantasan Korupsi.

Anak bungsu saya yang baru kelas satu SD pekan lalu bertanya kepada saya, “Pak, koq kakak belajar KPK sih?” Saya jadi tersenyum, karena yang dipelajari kakaknya bukan KPK si singkatan favorit, tapi KPK yang berarti Kelipatan Persekutuan terKecil. KPK yang satu ini memang merupakan salah satu materi yang dipelajari anak kelas empat SD. Bersama dengan KPK, juga diajarkan FPB (Faktor Persekutuan terBesar) dan pohon faktor, sekaligus juga bilangan prima. Cukup berat juga untuk anak kelas empat SD.

Materi pelajaran matematika di kelas empat dan lima memang yang tersulit dibandingkan kelas enam. Di materi KPK dan FPB, pertama diajarkan dulu pengertian faktor, lalu pemfaktorannya. Setelah itu diperkenalkan pengertian kelipatan. Baru setelah itu diajarkan cara mencari KPK dan FPB dari faktor-faktor dan kelipatan dari dua bilangan.

Setelah siswa memahami pengertian faktor, kelipatan, FPB, dan KPK, lalu materi meningkat ke pencarian FPB dan KPK dengan pohon faktor dan fakor primanya. Ini yang membuat anak sulung saya mabok. Begitu pula teman-temannya. Itu yang disampaikan gurunya saat saya mengambil raport bayangan di sekolahnya. “Hampir semua siswa mengalami kesulitan, Pak,” demikian cerita sang ibu guru.

Beberapa hari setelah itu anak saya menyampaikan kepada saya bahwa gurunya mengajarkan cara lain untuk mencari KPK dan FPB. “Kata bu guru ini cara lama, Pak, lebih gampang,” begitu kata anak saya sambil memperlihatkan catatan matematikanya. Saya pelajari cara lama ini, dan ternyata memang lebih gampang, meski tidak terlalu membangun pengertian faktor, pikir saya.

Tiba-tiba saya ingat dulu waktu saya belajar KPK dan FPB di kelas lima. Ayah saya sampai berinisiatif menemui guru matematika saya, pak Sinung, untuk membicarakan hal itu. Ternyata di sekolahnya ayah saya juga belajar KPK dan FPB, tapi singkatannya berbeda. Saya lupa, tapi kalau tidak salah KPK itu di jaman ayah saya namanya KPT.

Waktu ayah saya berbincang dengan pak Sinung, sang guru matematika saya itu, saya masih ingat mereka tertawa-tawa setelah beliau menjelaskan bahwa itu adalah materi yang sama dengan yang dipelajari ayah saya dulu, hanya namanya saja yang berubah. Entah nanti apakah di jaman cucu saya namanya tetap KPK dan FPB atau berubah, tapi yang pasti materi mengenai bilangan prima, pemfaktoran, dan kelipatan pasti akan terus dipelajari.

Terus terang, anak sulung saya dulu-dulunya agak enggan kalau harus belajar matematika dengan saya. Namun setelah dia mengalami kesulitan mempelajari KPK dan FPB, dia jadi lebih sering bertanya kepada saya kalau ada PR matematika atau sains. Jadi, meskipun saya masih lelah sepulang bekerja, saya luangkan waktu untuk mengajari anak saya matematika.

Saya jadi suka berhitung-hitung, sesungguhnya di negara kita ini ada berapa sih anak jenius? Berapa yang pintar? Berapa yang biasa-biasa saja? Berapa yang di bawah biasa-biasa? Berapa yang di bawah itu? Tentu sulit untuk mendapatkan angka pastinya, tapi kalau kita asumsikan distribusinya mengikuti pola kurva distribusi normal, pastinya yang terbanyak adalah siswa dengan kemampuan akademik biasa-biasa alias normal alias rata-rata.

Anak-anak dengan kemampuan akademik rata-rata ini sebenarnya bukan tidak bisa menjadi anak pandai atau bahkan jenius, karena hal itu bisa dibentuk. Metoda pembelajaran yang benar dan rangsangan atau perintah untuk rajin belajar akan menjadikan siswa dengan kemampuan akademik rata-rata ini menjadi anak pandai. Sebaliknya, kalau mereka mendapatkan pendidikan yang kurang, bukan mustahil mereka menjadi orang dengan kemampuan akademik di bawah rata-rata.

Katakanlah pendidikan nasional telah berada di jalur yang benar, atau setidaknya katakanlah sebagian besarnya memberikan pembelajaran yang seharusnya kepada siswanya. Namun ketika anak ada di rumah, apakah orang tua memiliki cukup waktu untuk mereka? Sesungguhnya tugas utama sekolah itu adalah membentuk kepribadian, pengetahuan, dan keterampilan siswa. Sekolah mengajarkan disiplin dan hubungan sosial. Sekolah mentransfer pengetahuan dan mengajarkan metodologi dalam mempelajari sesuatu. Sekolah juga mendidik siswanya untuk terampil mengerjakan sesuatu, mulai dari memecahkan persoalan hingga membuat sesuatu. Namun itu semua hanya akan menjadi sesuatu yang sifatnya laten jika rumah tidak mengasahnya dengan latihan dan latihan.

Dengan demikian, kemampuan akademik anak-anak kita tergantung dari sekolah dan kita sendiri. Barangkali anak-anak jenius dan pandai tidak terlalu memerlukan bimbingan dan perhatian orang tua saat belajar di rumah, tapi anak-anak yang ada di level rata-rata pasti membutuhkan hal itu. Kembali ke hitung-hitungan saya tadi, katakanlah kebanyakan anak memerlukan bimbingan dan perhatian orang tua saat belajar di rumah, maka berapa banyak orang tua yang punya waktu untuk anaknya? Apakah anak kita akan menjadi anak pandai atau tidak, ya tergantung bimbingan kita juga.

Advertisements

2 Responses to “KPK dan FPB”

  1. linzzz said

    brpo FPB dari 13 dan 19

  2. Djadja said

    To: Linzzz
    wah, nanti saya tanyakan dulu sama si Prima …. he he he ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: