Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Jangan Salahkan Pandora

Posted by djadjasubagdja on October 31, 2008

Kalau saja Pandora tidak penasaran membuka peti yang dititipkan Hermes kepadanya, barangkali dunia tidak akan seperti sekarang ini. Penyakit, lapar, haus,iri, dengki, marah, permusuhan, fitnah, bohong, dendam, serakah, dan segudang hal negatif lainnya konon dulunya tidak berkeliaran di muka bumi. Semuanya terpenjara di kotak yang dititipkan Hermes kepada Pandora.

Hermes memang telah mewanti-wanti Pandora saat dia menitipkan kotak itu, agar Pandora jangan membukanya. Namun Pandora hanyalah seorang anak kecil yang tentu saja rasa keingintahuannya sangat tinggi. Rasa keingintauan Pandora untuk melihat apa isi kotak yang dititipkan tersebut telah membuat semua hal negatif keluar menyeruak dari kotak tersebut begitu Pandora membukanya.

Pendek kata, setelah Pandora membuka kotak yang dititipkan Hermes kepadanya, maka manusia bisa lapar, bisa haus, bisa sakit, bisa marah, bisa iri, bisa dendam, bisa serakah, bisa membohong, bisa memfitnah, bisa bermusuhan, bisa menjadi serakah, dan bisa melakukan hal-hal buruk lainnya. Dulu, katanya, tidak ada itu semua.

Coba saja kalau Pandora tidak membuka kotak tadi, barangkali kita tidak hidup seperti sekarang ini. Kita mungkin hanya bermain-main tanpa merasa lelah, lapar, haus, dan sakit. Kita hanya bermain dan bermain dengan semua teman kita, dan tidak ada permusuhan atau perasaan negatif di antara sesama manusia. Semua senang dan gembira. Alangkah indahnya hidup seperti itu.

Namun apakah kita harus menyalahkan Pandora? Dia kan masih anak-anak, wajar kalau dia penasaran ingin membuka kotak yang dititipkan Hermes kepadanya. Katakanlah memang Pandora bersalah, tapi bukankah Hermes lebih salah lagi, karena teledor menitipkan kotak penting kepada seorang anak kecil. Ini sama dengan kita menitipkan sebuah keping dvd porno kepada seorang anak kecil, dan berpesan agar jangan menontonnya, lalu kita tinggalkan untuk waktu yang cukup lama.

Kalau waktu itu sudah ada undang-undang tentang perlindungan anak, barangkali Hermes bisa diadili karena telah melanggarnya. Dia telah menitipkan barang berbahaya kepada seorang anak kecil. Apalagi Hermes itu kan dewa, mestinya dia berlaku tidak segegabah itu. Hermes lah yang salah. Jangan salahkan Pandora! Ha ha ha … ini hanyalah sebuah kisah, sebuah mitologi dalam kebudayaan Yunani kuno, tapi bukan berarti kita tidak bisa memetik pelajaran berharga dari keteledoran Hermes ini.

Di masa kini, apakah ada orang yang bertindak seceroboh Hermes? Banyak! Coba saja perhatikan para pedagang keping dvd kakilima di pusat-pusat keramaian kota. Keping dvd porno dipajang begitu saja di tempat para pedagang itu memajang keping-keping dvd lainnya, dan semua orang bisa melihat dan membelinya, termasuk anak-anak! Tidak ada yang menjamin bahwa para pedagang itu tidak akan menjual keping-keping dvd porno itu kepada anak-anak.

RUU tentang pornografi sedang dalam proses untuk dijadikan UU. Apakah itu akan segera menjadi UU atau ditunda lagi atau dibatalkan, kita tidak bisa menebaknya. Pro-kontra akan keberadaan UU tentang pornografi juga masih mewarnai pembahasan-pembahasannya. Jadi, apakah akan kita tunggu dulu undang-undangnya disahkan untuk menertibkan penjualan keping-keping dvd porno itu? Tentu saja tidak, karena dengan perundang-undangan yang ada saat ini pun, sebenarnya aparat sudah bisa menertibkan penjualannya.

Hukum harus ditegakkan, dan itu tugas kita semua, bukan hanya tugas para penegak hukum saja. Penyuluhan kepada para pedagang kakilima yang biasa menjual keping dvd porno mesti dilakukan. Mereka juga mesti diwadahi dan dibina, sehingga bisa berjualan dengan lebih profesional. Penjualan materi-materi dan media pornografi juga mesti diatur dengan benar. Beberapa toko buku di Amerika Serikat ada yang menjual buku porno, tetapi mereka meletakannya di ruang terpisah, dan anak-anak tidak dapat melihat-lihat, apa lagi membelinya.

Aturan-aturan yang mengatur penjualan barang-barang tertentu, seperti buku porno, majalah/tabloid porno, film porno, minuman keras, dan barang-barang lainnya yang tidak baik untuk dikonsumsi anak-anak, bisa diterbitkan oleh Pemerintah dalam bentuk Peraturan Pemerintah atau bahkan Peraturan Mentri. Demikian pula dengan penertiban materi media cetak dan elektronik. Tentunya dengan mengacu kepada undang-undang yang sudah ada, misalnya KUHP, UU Perlindungan Anak, dan UU Penyiaran.

Di Amerika Serikat, orang yang belum berusia 21 tahun tidak boleh minum minuman beralkohol. Penjual minuman beralkohol di sana akan meminta kartu identitas pembeli minuman beralkohol jika si penjual ragu apakah si pembeli ini sudah berusia 21 tahun atau belum. Ada kejadian menarik ketika saya dan teman-teman sedang makan di sebuah restoran di dekat kampus tempat kami mengikuti kursus bahasa Inggris, University of Maine at Orono, di Amerika Serikat. Ceritanya seperti tertulis di bawah ini.

Ketika kami sedang menunggu makanan yang kami pesan, datanglah beberapa mahasiswa S1 yang sekampus dengan kami untuk juga makan di restoran itu. Mereka lantas memesan makanan dan minuman, sementara seorang pelayan mencatat pesanan mereka. Ketika salah seorang dari mereka memesan bir, pelayan itu langsung menanyakan kartu identitasnya. Si mahasiswa tadi langsung menyodorkan kartu identitasnya kepada si pelayan, dan langsung si pelayan menyalami si mahasiswa tadi sambil berkata, “Happy birthday!” Jadi rupanya hari itu si mahasiswa genap berusia 21 tahun, dan dia sudah tentu boleh minum bir. Itulah yang namanya penegakan hukum. Sang pelayan restoran telah menegakkan hukum. Tidak perlu seorang sherrif untuk melakukan hal itu.

Kembali pada fenomena penjualan keping dvd porno di kakilima pusat-pusat kota, dan juga para pedagang kakilima yang menjual majalah dan tabloid bergambar aduhai. Sekeras apapun kita paksa mereka untuk ikut menegakkan hukum, untuk tidak menjual materi porno kepada anak-anak, rasanya kita malah akan capek sendiri. Jadi, yang harusnya berfikir adalah para aparat pemerintah daerah, bagaimana caranya agar mereka tertampung di tempat yang memang dirancang untuk berjualan dan terpantau aktivitasnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: