Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Pajak: Balada pak Untung

Posted by djadjasubagdja on October 30, 2008

Mujur benar nasib pak Untung, dia benar banar beruntung. Tidak sia-sia kedua orang tuanya menamainya Untung.

Sebagai karyawan plat merah, dia tidak ketinggalan ikut menjadi manusia bijak, insan taat pajak. Setiap tahun dia isi SPPT PPh dengan baik dan benar, sesuai petunjuk dan arahan aparat pajak yang pernah mensosialisasikan perpajakan di kantornya beberapa tahun lalu. Dia masukkan satu-satunya sumber penghasilan yang dimilikinya, yakni gaji.

Ya, hanya gaji yang menjadi sumber penghasilannya, dan memang pak Untung orang jujur dalam mengisi formulis pajak, dia tidak pernah mendapatkan uang tambahan dari manapun. Pak Untung bukan dokter, tidak nyambi menjadi dosen, tidak jadi perantara jual beli tanah, dan istrinya tidak bekerja, alias ibu rumah tangga tulen. Jadi betul sekali, penghasilan pak Untung hanya berupa gaji yang dia terima setiap bulan dan gaji ke-13, kalau pas ada.

Jadi kita semua dapat membayangkan, berapa nilai pajak penghasilan yang harus pak Untung setorkan ke Negara. “He he he … saya taat bayar pajak, dan saya isi dengan benar semua formulir perpajakan yang dikirimkan kantor pajak kepada saya … he he he,” demikian pak Untung obrolkan jika kebetulan teman-teman atau tetangganya membicarakan pajak.

Pak Untung tidak bekerja di departemen yang diistimewakan Negara, yang karyawannya mendapatkan gaji jauh lebih tinggi dari karyawan yang bekerja di instansi pemerintahan pada umumnya. Dia juga bukan karyawan BI atau Ditjen Pajak yang penghasilannya jauh di atas pegawai negri lainya. Dia karyawan sebuah departemen yang penggajiannya standar-standar saja. Pak Untung juga bukan pejabat eselon tingkat atas, dia pegawai golongan menengah saja. Namun jangan ditanya soal kenalan. Dia punya segudang kenalan yang rata-rata direktur perusahaan rekanan departemen tempat pak Untung bekerja.

Dulu, saat pak Untung kepingin merenovasi rumah tipe 36 yang masih dia cicil pelunasan pembayarannya ke BTN, dia ceritakan itu kepada seorang rekanan. Dapat ditebak, sang rekanan langsung menolong pak Untung menyediakan semua bahan bangunan dan tukang yang diperlukan secara gratis. Begitu pula saat pak Untung merasa sudah perlu memiliki sebuah mobil, tiba-tiba salah seorang rekanan mencukupi kebutuhan itu.

Karena proyek lancar dan selalu dirancang untuk terus ada proyek setiap tahun, para rekanan yang dekat dengan pak Untung selalu mendapatkan proyek dari departemen tempat pak Untung bekerja. Jadi, untuk urusan membayar PBB atau memperpanjang STNK, pak Untung cukup mengangguk dan melempar senyum kepada mereka, dan mereka sudah faham itu.

Tidak hanya renovasi rumah, mobil, bayar PBB, dan memperpanjang STNK yang kesemuanya ditanggung gratis oleh para rekanan. Bahkan saat pak Untung menceritakan sekolah anak-anaknya kepada seorang rekanan, ketika mereka minum kopi di kantin, sang rekanan tadi langsung mengerti. Maka, untuk uang pangkal dan uang kuliah, pak Untung tidak perlu pusing memikirkannya.

Jangan tanya soal sepatu, pulpen, ponsel, ikat pingang, dompet, jaket kulit, batik, jas, laptop, dan jam tangan. Itu mah otomatis terpenuhi dengan sekali kerdipan sebelah mata kepada para rekanan lainnya. Begitu pula saat keluarga pak Untung berlibur sekeluarga ke Bali atau Danau Toba, semua akomodasi sudah langsung disediakan rekanan. Jangan tanya pula berapa lembar voucher belanja yang diterimanya saat dekat-dekat lebaran.

“Siapa bilang saya terima uang dari rekanan?” kata pak Untung sewot saat ada rekan sejawatnya yang menyindir dalam sebuah rapat kerja. “Sumpah, saya tidak pernah meminta,dan tidak pernah juga menerima uang,” lanjutnya, membela diri. Memang betul, pak Untung tidak pernah meminta, dia hanya bercerita ke beberapa rekanan, dan para rekanan itu langsung membantu pak Untung dalam memenuhi kebutuhannya. “Ini hanya sekadar membantu seikhlasnya pak,” begitulah kata-kata pengantar dari para rekanan.

Pak Untung tidak pernah menerima uang dari pihak manapun, jadi dia tidak berbohong sewaktu mengisi formulir-formulir pajak penghasilan. Jika tetangganya bingung, bagaimana dia bisa mewujudkan hidupnya yang berkecukupan, itu artinya tetangga pak Untung tidak membaca tulisan ini. Mereka pasti akan bertambah heran saat diundang pak Untung sebelum dia pergi naik haji.

Lain pak Untung, lain ibu Lucky, seorang konsultan keenergian yang jam kerjanya bisa 12 jam sehari. Meskipun nama mereka bermakna sama, dan meski pula ibu Lucky tidak memiliki masalah dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Namun, ketika akan membayar pajak, jelas ibu Lucky membayar jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang dibayarkan pak Untung ke Negara. Dan sementara ibu Lucky harus hati-hati menjaga lambungnya dari cafein (baca: kepaksa minum kopi decaf), pak Untung masih tenang-tenang saja bisa menikmati kopi kental di kantin kantornya setiap pagi sehabis menggesek kartu absennya. (Catatan dari penulis: cerita di atas adalah fiktif ; nama, tempat, peristiwa, dan hal lainnya sama sekali tidak nyata)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: