Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Merokok Itu Menyehatkan

Posted by djadjasubagdja on October 29, 2008

“Ah yang bener aja,” kata saya kepada teman yang mengatakan kalau merokok itu menyehatkan. “Ya, maksudku, menyehatkan perekonomian negara …. ha ha ha …,” lanjut dia sambil tertawa. Lantas kami pun tertawa bersama, terbahak-bahak.

Benar atau tidaknya pernyataan sang teman tadi, kami sendiri juga tidak tahu pasti, karena kami bukan pakar ekonomi. Kami hanya dua teman kerja yang menghabiskan jam malam ketika kami melakukan dinas luar kota. Namun kami juga tidak tahu apa benar merokok itu sangat tidak menyehatkan, seperti yang tertulis di bungkus-bungkus rokok, karena kami pun bukan dokter.

Hal yang jelas pada malam itu adalah tiba-tiba saya kembali mencoba menghisap sebatang rokok seperti beberapa tahun sebelumnya. Saya katakan mencoba, karena memang saya bukan perokok. Meskipun saya berasal dari keluarga perokok berat, saya bukan perokok. Ayah saya almarhum perokok berat. Kedua adik laki-laki saya juga perokok dan merek rokok yang mereka hisap sama dengan yang dulu dihisap ayah kami, rokok kretek nomor satu di negri ini. Hampir semua sepupu saya perokok, begitu pula paman-paman saya.

Rokok bukan hal asing bagi saya. Waktu kecil juga saya sering disuruh membeli rokok oleh ayah atau paman saya. Bahkan saya tahu merek-merek rokok luar yang sekarang sudah tidak pernah nongol lagi di pasaran dalam negri, seperti Peter Stuyvessen, du Mourier, Camel, More, dan beberapa merek lainnya yang saya lupa. Kalau saya sebutkan merek-merek itu kepada teman-teman saya yang perokok, mereka tidak mengenalnya. Mungkin pengetahuan saya tentang merek rokok lebih baik dari teman-teman saya yang perokok.

Namun, meskipun tadi saya katakan kalau saya ini bukan perokok, bukan berarti tidak pernah merasakan rokok. Seingat saya, ketika SMA saya coba sekali merokok. Sehisap dua hisap, lalu saya batuk-batuk. “Gak enak ….” kata saya sambil melemparkan rokok tadi ke api unggun. Waktu kuliah juga demikian. Ketika bekerja, saya coba juga menghisap rokok teman satu mes, tapi tetap saja, bagi saya, rokok itu tidak enak.

Beberapa hari belakangan ini anak sulung saya yang baru kelas 4 SD mulai mencoba-coba bergaya meniru orang merokok. Bukan dengan rokok sungguhan, tentunya, karena di rumah kami sekarang tidak ada yang merokok. Dia hanya bergaya seperti sedang merokok dengan menggunakan kue kering yang digulung, seperti kue semprong, tapi lebih kecil diameternya. Dasar anak laki-laki, pikir saya.

Istri saya marah melihat hal ini. Saya tidak ikutan memarahi dia, sudah merupakan komitmen bagi saya, kalau istri saya memarahi anak-anak, saya tidak marah. Lantas saya panggil anak saya tadi, saya suruh duduk di meja makan. Saya nasehati dia bahwa merokok itu, menurut kedokteran, membahayakan kesehatan. “Sehari-hari saja kita menghindari asap dan debu, jadi, ya jangan sengaja masukin asap ke paru-paru kita,” demikian saya mulai nasehat saya.

Saya juga contohkan sepupu-sepupu saya yang giginya mulai hitam-hitam karena asap rokok, karena mamang itulah yang paling nyata bagi anak saya. Lalu saya coba mulai mengilustrasikan berapa uang yang bisa ditabung kalau kita tidak merokok. “Uang lima ribu yang buat beli rokok, kalau kita tabung bisa mencapai 9 juta dalam lima tahun, itu cukup untuk membeli sepeda motor,” kata saya, mencoba memberi gambaran sederhana. “Tidak merokok juga bisa mengurangi godaan saat kita puasa,” lanjut saya, dan kemudian saya jelaskan lagi kepada dia.

Saya kira, kebanyakan orang, bahkan para perokok, setuju kalau merokok itu bisa mengganggu kesehatan, minimal batuk-batuk. Para perokok juga sudah banyak yang sadar bahwa asap rokok mereka membahayakan kesehatan orang-orang di sekelilingnya. Namun, anekdot klasik yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang mati ketika sedang mengisap sebatang rokok juga barangkali ada benarnya. Buyut saya setiap hari makan daging atau ikan, merokok, dan tidak suka berolah raga, tapi usianya bisa mencapai 96 tahun tanpa pernah sakit keras. Beliau hanya sakit keras sekali saja, yakni 3 bulan sebelum beliau meninggal.

Jadi, apakah merokok itu membahayakan kesehatan? Entahlah, yang jelas rokok adalah ‘tenaga’ para perokok. Paman saya tidak bisa menulis atau membuat rencana kerja kalau tidak merokok. Ayah saya selalu merokok saat ada rapat kerja, bahkan ada fotonya saat dia sedang merokok di ruang rapat. Jaman kuliah dulu ada dosen saya yang selalu merokok ketika memberikan kuliah. Namanya Profesor Pantur Silaban. Pak Silaban ini mengoleksi foto gurunya, Profesor Fenymann, salah seorang murid Einstein yang juga peraih Nobel untuk bidang Fisika. Kata pak Silaban, “Saya punya 9 foto Profesor Feynmann, dan hanya dua yang dalam phose tidak sedang merokok.”

Terlepas dari pertanyaan, seberapa besar bahaya merokok bagi kesehatan ; dan sepenting apa manfaat rokok bagi perokok. Tidak membeli rokok itu artinya hidup lebih hemat, seperti yang saya nasehatkan kepada anak saya tadi. Tidak merokok itu mengurangi godaan saat puasa. Tidak merokok itu tidak mengirim polusi asap kepada orang-orang di sekeliling kita. Bagi saya sendiri, tidak merokok itu berarti menghormati nasehat Ibu dan Ayah saya. “Bapa memang perokok, tapi sebaiknya kamu jangan merokok, jaman sekarang lain dengan jaman Bapa dulu ; Bapa dengar, perokok lebih mudah dibujuk untuk mencoba ganja dibandingkan dengan yang bukan perokok,” demikian, masih saya ingat nasehat ayah kami saat kami masuk usia remaja waktu itu, di masa ketika sedang rame-ramenya konsumsi ganja dan morfin di kalangan abege 80-an.

Advertisements

3 Responses to “Merokok Itu Menyehatkan”

  1. Irfan said

    Merokok bisa merusak mata, Pak…
    Mata pencaharian. Hahaha

  2. Pratama said

    Wah menarik sekali mas….
    tulisan tentang rokok ini luar biasa

  3. Arief said

    30% kematian disebabkan karena rokok.

    yang 70% bukan karena rokok, makanya merokok aja karena kematian karena bukan rokok ternyata lebih banyak…..huihihihi

    **iblis = mode on**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: