Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Penertiban Kaki Lima: Mulailah Dari yang Kecil

Posted by djadjasubagdja on October 26, 2008

Jalan di samping komplek perumahan anggota DPR di wilayah Kalibata boleh dikatakan sangat sepi. Pintu gerbang komplek di jalan tersebut telah lama tidak difungsikan. Jalan ini seolah hanya menjadi pemisah antara komplek tersebut dengan bagian belakang deretan beberapa gedung pemerintahan yang mukanya menghadap Jalan Kalibata. Para penghuni sendiri memang lebih sering menggunakan pintu gerbang utama di jalan Pengadegan.

Jadi memang, tidak banyak pemakai jalan ini. Beberapa waktu lalu, jalan ini sempat dijadikan arena kebut-kebutan sepeda motor anak muda. Namun ini tidak berlangsung lama setelah sejumlah polisi tidur melintang di sepanjang jalan tersebut. Setelah itu, jalan ini menjadi sepi kembali.

Kalau dikatakan sama sekali sepi sih tidak. Di akhir pekan atau pas musim liburan, tepatnya di sore hari, biasanya banyak orang nongkrong di mulut jalan ini yang kebetulan berdekatan dengan kampus STEKPI. Namun, ya hanya ramai di mulut jalannya saja. Di ujung lainnya, juga boleh dikatakan ramai, karena di sana ada stasiun kereta api Duren Kalibata dan terminal angkot liar. Hanya saja, sama dengan di ujung yang dekat kampus STEKPI, hanya ramai di ujungnya saja.

Sepinya jalan ini rupanya menarik minat para pedagang kaki lima untuk berjualan di sepanjang pinggirannya setiap Minggu pagi. Seingat saya, pasar kaget ini mulai rame sejak sekitar awal tahun 2007. Awalnya memang sejak dari dulu banyak pedagang makanan berjualan di sekitar mulut jalan yang dekat kampus STEKPI. Konsumennya adalah mereka yang pulang berolah raga di halaman parkir yang tidak jauh dari mulut jalan itu.

Sekarang ini, tidak hanya pedagang makanan yang berjualan di sepanjang jalan itu. Boleh dikatakan, hampir semua jenis kebutuhan kita ada di sana. Mulai dari makanan, minuman, sayur-mayur, pakaian, asesoris sepeda motor, peralatan dapur, hiasan rumah, ikan hias, ponsel, jam tangan, mainan anak, hingga peralatan listrik dan pertukangan. Bahkan permainan kuda-kudaan untuk anak-anak pun ada di sana.

Jangankan mobil, sepeda pun tidak bisa melewati jalan itu saat mereka berjualan, dari pukul 6 hingga 10 pagi setiap hari Minggu. Bahkan di penghujung bulan Puasa kemarin, mereka berjualan dari hari Sabtu pagi hingga Minggu sore, nonstop. Kelihatannya ada pihak yang mengkoordinir mereka.

Ketika saya ceritakan ke adik saya yang tinggal di Bekasi tentang pasar kaget di dekat kampus STEKPI ini, adik saya tidak terlalu kaget mendengarnya. Dia bilang, di dekat perumahan tempat tinggalnya juga ada pasar kaget seperti itu. Bahkan jualannya pun lebih beragam. “Ada yang jualan anak kancil segala,” kata adik saya tadi.

Pasca Lebaran kemarin, seperti tahun-tahun sebelumnya, muncul berita tentang penertiban pedagang kaki lima di beberapa kota. Polisi Pamong Praja menyita perlengkapan dagang mereka ketika para pedagang kaki lima tadi masih berlebaran di kampung halamannya. Beragam komentar bermunculan. Ada yang pro, tapi ada yang mengharapkan agar pelaksanaannya tidak seperti itu.

Keberadaan pedagang kaki lima ini memang merupakan hal yang dilematis bagi warga kota dan pemda. Di satu sisi, warga membutuhkan kehadiran mereka, tapi kebanyakan dari mereka juga mengganggu ketertiban bersama. Trotoar jadi tidak dapat digunakan oleh pejalan kaki sebagaimana mestinya. Badan jalan akhirnya menyempit, karena banyak orang yang lalu-lalang. Bahkan di beberapa tempat, para pedagang kaki lima ini memakai badan jalan sebagai tempat mereka berjualan.

Jika sudah begini, biasanya mereka digusur paksa oleh aparat. Sering sekali kita menyaksikan kejadian seperti ini di televisi. Tidak hanya gusur paksa, bongkar paksa kios-kios liar pun sering menghiasi layar televisi kita. Buat aparat, ini bukan pilihan. Mereka hanya melaksanakan tugas dan amanat dari warga kota juga, dimana memang sebuah kota mestinya tertib.

Kembali ke pasar kaget di dekat STEKPI tadi. Jika pemerintahan setempat membiarkan hal ini, bukan tidak mungkin pasar kaget yang hanya ada di setiap Minggu pagi ini bertambah jam bukanya. Lantas bukan tidak mungkin akan buka juga di hari-hari lainnya. Masih untung, jalan yang dipakai merupakan jalan sepi, yang boleh dibilang juga jalan mati. Namun bagaimana kalau hal ini terjadi di tempat lain?

Tempat-tempat mangkal kaki lima yang banyak kita lihat di keramaian, seperti trotoar wilayah pertokoan dan pasar, perkantoran, sekolah, terminal, atau stasiun barangkali dulunya tidak seramai sekarang. Barangkali berawal dari gerobak makanan yang sering mangkal di jam-jam tertentu hingga akhirnya keterusan mangkal di situ, akhirnya ramailah tempat tersebut dengan sejumlah pedagang kaki lima. Begitupun dengan kios-kios liar di tempat-tempat yang seharusnya diperuntukkan bagi publik atau ruang hijau kota.

Kalau sudah ramai, maka akan sulit menertibkannya. Apa lagi kalau sudah ada pihak-pihak yang mengkoordinir mereka. Jadi, melihat polanya, bukankah akan lebih mudah menertibkan mereka saat mereka belum menjadi semi-permanen dibandingkan jika mereka sudah seperi penghuni setengah resmi. Barangkali sudah saatnya bagi pemda untuk mulai menertibkan yang sedikit-sedikit, karena yang sedikit ini bisa memicu yang lain untuk ikutan berdagang. Untuk yang sudah menjadi tempat mangkal, memang pemda mesti memikirkan tempat strategis sebagai tempat alternatif mereka berjualan, sekedar menyambung hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: