Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Buku Elektronik yang Tidak Elektronis

Posted by djadjasubagdja on October 24, 2008

Kata anak saya yang duduk di kelas 4 SD, media masa itu ada dua, yakni media cetak dan media elektronik. Lalu dia mulai mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana mengenai pengertian keduanya, beserta contoh-contohnya. Televisi dan internet, kata dia, adalah contoh media elektronik ; sedangkan koran dan majalah adalah contoh media cetak.

Beberapa hari yang lalu, di ruangan seorang teman, saya melihat sebuah buku pelajaran. Wujudnya sama dengan buku-buku pelajaran pada umumnya, hanya satu yang membedakannya, di kulit depan tercetak sebuah logo berbentuk lingkaran yang bertuliskan “bse”. Tulisan “bse” terletak di tengah lingkaran, dan di seputar lingkaran tertulis “BUKU SEKOLAH ELEKTRONIK”.

Saya ambil buku tersebut dari atas meja teman saya tadi, lalu saya amat-amati, saya buka-buka halaman dalamnya, dan akhirnya saya letakkan kembali. “Apanya yang elektronik ya?” tanya saya kepada teman saya tadi. “Ya, itu kan versi cetak dari buku sekolah elektronik yang ada di situs buku sekolah elektronik, dan memang siapa saja bisa mengunduhnya, apakah untuk kepentingan sendiri atau komersil,” demikian penjelasan teman saya.

Jadi rupanya itulah maksud logo “bse” di buku tersebut. Saya pikir buku tadi seperti buku-buku yang dilengkapi perangkat elektronik, sehingga bisa mengeluarkan suara atau gambar. Saya jadi tersenyum, kalau saja anak saya yang kelas 4 SD melihat buku tadi, mungkin dia bingung, koq ada ya buku elektronik yang tidak memerlukan listrik?

Bukannya saya tidak setuju dengan program buku murah yang wujudnya adalah buku sekolah elektronik yang bisa kita unduh di internet atau keping cd-nya sudah banyak beredar di masyarakat. Hanya saja, perlukah logo “bse” tetap dicantumkan di buku versi cetaknya? Mungkin lebih benar jika di atas logo itu dituliskan “diunduh dari” atau “versi cetak dari” atau apa lah yang menyebutkan bahwa buku itu berasal dari buku sekolah elektronik.

Barangkali sah saja kalau kebanyakan orang mengatakan kalau hal ini bukan kesalahan. Hanya salah kaprah semata. Tidak jauh dari pengertian lampu neon yang ada di rumah kita. Namanya lampu neon, meskipun tidak mengandung neon sama sekali. Awal-awalnya sih memang lampu tabung (tube lamp = TL) ini diisi gas neon, tapi yang sekarang banyak menggantung di langit-langit rumah kita itu isinya gas merkuri. Jadi mestinya bernama lampu merkuri, bukan lampu neon.

Kembali ke buku sekolah elektronik versi cetak tadi. Ya pasti, dunia tidak akan kiamat jika lebih banyak lagi orang mencetaknya, dan tetap menuliskan logo “bse” tanpa keterangan tambahan yang menjelaskannya. Hanya saja, apakah kita akan membiarkan masyarakat terus masuk ke alam salah kaprah?

Advertisements

One Response to “Buku Elektronik yang Tidak Elektronis”

  1. Hery Azwan said

    Pak Djadja,
    artikel ini coba kirim ke kompassiana.com.
    menurut wartawannya, sekarang kompassiana telah dibuka untuk umum, bukan hanya untuk wartawan kompas.
    lumayan, kan artikel ini bisa dibaca lebih banyak khalayak pembaca dibanding kalau di blog kita sendiri.

    Salam

    Hery Azwan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: