Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Berani Berubah

Posted by djadjasubagdja on October 18, 2008

“Alhamdulillah Pak, kemarin empat lukisan saya dibeli orang Malaysia, harganya juga lumayan,” demikian jawaban seorang mantan abege (anak buah gue) yang sejak bulan lalu tidak tercatat lagi sebagai karyawan di perusahaan tempat kami bekerja. Terus terang, saya sangat lega mendengar hal itu, apa lagi saya lihat dia tampak lebih sehat dibandingkan ketika masih bekerja.

Dari temannya, saya juga mendengar bahwa hasil penjualan keempat lukisan itu dia belikan sebuah mobil bekas, dengan maksud menaikkan citranya di depan pelanggan dan calon pembeli lukisan-lukisannya. “Syukurlah,” komentar saya dengan tulus sambil menyimpulkan bahwa uang pesangonnya mungkin masih utuh.

Dua bulan lalu, si mantan abege ini adalah salah seorang desainer kulit (cover) buku di bagian kami. Selain bekerja, dia juga melukis secara profesional. Artinya, di luar jam kerja, dia melukis dan menjual lukisannya sebagai penghasilan tambahan. Hal ini sudah berlangsung cukup lama, hingga belakangan sempat terganggu karena kesehatannya memburuk. Ketika perusahaan menawarkan pensiun dini, dia putuskan untuk ikut serta. Tentunya dengan pertimbangan agar mendapatkan uang pesangon yang lumayan dan dapat berkonsentrasi melukis.

Terus terang, di tengah jalan dia sempat agak ragu, terutama ketika saya tanyakan apa rencananya setelah tidak bekerja. Waktu itu dia seolah seperti tersadarkan, bahwa sebenarnya saat itu bisa diibaratkan seperti loncat dari pesawat terbang tanpa parasut. Rekan-rekannya, yang sama-sama mengikuti program pensiun dini, rata-rata sudah memiliki rencana, ada yang memang kebetulan mendapatkan pekerjaan baru dan ada juga yang akan berwirausaha.

Waktu itu saya tidak bisa membayangkan apa jadinya dia setelah uang pesangonnya habis untuk hidup sehari-hari, sementara hasil dari melukis (waktu itu) boleh dibilang tidak banyak. Dia sendiri juga tidak bisa menjawab ketika saya tanyakan apakah nantinya kira-kira hasil dari melukis akan cukup untuk menafkahi keluarganya? Bimbanglah dia, tapi akhirnya dia mengikuti program pensiun dini tersebut.

Namun Tuhan rupanya punya skenario sendiri. Setalah dia keluar dari pekerjaan, di pameran lukisan yang diikutinya, empat lukisannya terjual dengan harga yang lumayan, lebih besar dari gaji dia selama setahun ketika masih bekerja. Ya memang sih, belum tentu juga bulan depan atau bulan depannya lagi dia bisa memperoleh hasil yang sama dari penjualan lukisannya, tapi setidaknya masa depannya sudah mulai teraba.

Salut juga saya kepada si mantan abege ini. Dia berani melakukan perubahan. Meskipun hal ini dia lakukan dengan setengah terpaksa. Selama kurang lebih sepuluh tahun dia menjadi karyawan dan selama itu pula tentunya telah tertanam sebuah paradigma dalam dirinya bahwa yang namanya nafkah utama itu didapat dari bekerja di perusahaan. Namun kemudian dia hapuskan semua itu dari alam pemikirannya, dan dia memulai sesuatu yang baru …. fokus pada hobinya …. melukis ….. dan menjadikannya sebagai sandaran hidupnya.

Saya bukan tukang ramal nasib. Saya tidak mengatakan bahwa hidupnya bakalan lebih makmur ketimbang kalau dia terus bekerja sebagai desainer kulit buku. Bisa saja penjualan lukisannya di hari-hari berikutnya biasa-biasa saja. Namun yang jelas, dia sekarang tidak perlu terpaksa begadang untuk melukis lalu kemudian besok paginya mesti bangun pagi agar tidak telat pergi ke kantor. Sekarang dia bisa mengatur waktunya sendiri. Bisa tidur cukup, sehingga tidak sakit-sakitan seperti dulu.

Selain bagi si mantan abege, yang bernama Gatot, tulisan ini juga saya dedikasikan untuk sepupu saya, mbak Yani, yang berani meninggalkan jabatan puncak di perusahaan tempat dia bekerja untuk kemudian berwiraswasta, dan sekarang telah berhasil. Untuk paman saya, mang Hery, mantan karyawan perusahaan teknik sipil, yang sekarang sukses dengan waralabanya. Kerabat saya, yuk Mas dan kak Thamrin, yang memilih wirausaha sebagai karir. Kawan lama, pak Budi Prasodjo dan mas Santo, yang memutuskan berhenti jadi pegawai dan memulai usaha sendiri. Juga untuk tiga orang teman di tempat kerja saya sebelum ini, Danny – Wendy – pak Hendy, yang kemudian memutuskan untuk berbisnis mandiri. Kemudian untuk teman-teman kuliah saya, Hedy Iriana, Arvino, Hape, Nurdizal,Teguh, Nabil, mas Catur, dan Andri Farjia (Si Raja Kambing). Kecuali Nabil dan Hedy Iriana, yang sedari awal memutuskan untuk berbisnis, mereka semua awalnya berkarir sebagai karyawan, tapi akhirnya mereka putuskan untuk berhenti berprofesi sebagai karyawan dan mulai menjalankan bisnis sendiri. Sukses untuk mereka semua.

Advertisements

One Response to “Berani Berubah”

  1. Adenita said

    Tulisan yang sangat inspiratif. Ada beberapa teman yang memutuskan hal yang sama dan ternyata lebih bahagia walaupun pemasukan yang didapat tidak rutin. Was thinking to do the same 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: