Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

A Tribute to Ebiet G. Ade

Posted by djadjasubagdja on September 29, 2008

Suasana kota Yogyakarta tahun 1979 memang beda dengan hiruk pikuk Yogga di tahun 2000-an. Namun ada yang masih sama, lagu Ebiet. Ketika saya diajak uwak ke Yogya sekitar tahun 1979, rasanya hampir semua stasiun radio di sana memperdengarkan lagu Ebiet, dan setelah lebih dari 25 tahun kemudian, atau di saat ini, lagu-lagu Ebiet masih saja mengumandang di seputar Malioboro, dilantunkan para pengamen jalanan. Bahkan malam ini saya masih bisa menikmati lagu-lagu Ebiet di Zona 80 MetroTV.

Itulah lagu-lagu Ebiet. Barangkali hanya lagu-lagu Bimbo dan Iwan Fals yang bisa menyamai aras kelestariannya. Hits-hits Ebiet, seperti Camelia, Untuk Sebuah Nama, Berita Kepada Kawan, Titip Rindu Buat Ayah, Apakah Ada Bedanya dan sejumlah lagu lainnya tetap enak didengar. Mendengarkan lagu-lagu Ebiet seperti mendengar untaian nada-nada yang membius kalbu yang dipenuhi lirik-lirik puitis sarat makna yang mengalir secara selaras di dalamnya. Lirik dan melodi lagu-lagu Ebiet ibarat jiwa para filsuf dan tatapan bijak mereka.

Berita Kepada Kawan adalah favorit saya. Lagu itu seingat saya sudah lama diciptakan Ebiet, mungkin sekitar tahun 1980-an. Berarti sudah tercipta jauh sebelum kita menyadari bahwa mungkin Tuhan marah kepada kita dan mengirim beragam bencana yang datang beruntun belakangan ini. Itu artinya, sudah sejak dulu-dulu, lewat lagu Berita Kepada Kawan, Ebiet sudah menyuruh kita semua bertanya kepada “rumput yang bergoyang” apakah Tuhan mulai bosan dengan tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa atau barangkali alam mulai enggan bersahabat dengan kita.

Dengan kata lain, di tahun 80-an, kepekaan Ebiet sudah bisa menangkap tanda bahwa saat itu, ketika bencana alam belum sedahsyat dan sesering seperti saat ini, Tuhan mulai marah kepada kita yang mulai bangga dengan dosa-dosa. Sekarang ini, baru kita sadar bahwa Tuhan benar-benar marah kepada kita, karena terlalu banyak salah dan dosa yang telah kita lakukan.

Seandainya saja saat itu kita tidak terlalu terlena dengan senandung irama lagu Berita Kepada Kawan dan lebih memperhatikan kedalaman maknanya, barangkali sudah sejak dulu kita menyadari bahwa dosa kita sudah mulai membuat Tuhan marah dan alam sudah mulai enggan bersahabat dengan kita karena kita telah memperlakukan alam dengan semena-mena. Sekarang sudah berlarut-larut, besarnya dosa sudah melebihi gunung-gunung, tapi jangan lupa, Tuhan itu maha pemaaf.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: