Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

How Batik Are We?

Posted by djadjasubagdja on September 25, 2008

Kalau anda punya akun di Facebook, pasti pernah mendengar atau bahkan mungkin mengikuti kuiz “How Sunda Are You” atau “How Minang Are You”. Mungkin besok-besok ada yang membuat kuiz “How Indonesia Are You”. Kita lihat saja, tapi saat ini saya tidak berniat membicarakan sejauh mana keindonesiaan kita. Saat ini saya hanya ingin mencoba mengingatkan diri sendiri dan anda semua, sejauh mana kita mengenal batik. How batik are we?

Belum lupa bagaimana marahnya kita kepada tetangga kita, Malaysia, lantaran mereka mematenkan batik di dunia internasional. Tak lama kemudian, angklung juga mengalami nasib yang sama. Kemarin-kemarin, para seniman Bali menjerit karena desain tradisional Bali dipatenkan oleh orang asing. Wah gawat, lama-lama kita tidak punya apa-apa.

Namun, terlepas dari apa yang dilakukan orang lain terhadap kekayaan seni tradisional kita, sebenarnya seberapa jauh kita mengenal seni budaya sendiri? Bagaimana kita akan mempertahankan dan mengembangkannya kalau ternyata kita tidak mengenal budaya kita sendiri. Sejauh apa kita mengenal batik?

Sejak sebelum saya pindah kerja ke perusahaan tempat saya bekerja sekarang ini (2004), setiap hari Jumat para karyawan mengenakan kemeja batik berlengan pendek atau baju muslim. Jadi ketika belakangan muncul tren berbatik di hari Jumat, kami sudah otomatis meramaikan fenomena ini. Pebisnis batik tentunya berharap semangat berbatik ini tidak lantas menjadi melempem.

Hanya saja, kelihatannya, semangat berbaju batik ini tidak kita ikuti dengan semangat mengingat-ingat kembali pelajaran kesenian yang kita dapatkan di SMP dulu. Seingat saya, di SMP kita mempelajari nama berbagai motif batik tradisional, seperti rereng, parang curiga, sidamukti, kawung ece, jonas, dan …. apa lagi ya …. saya lupa!

Bagi orang Bandung atau mereka yang pernah tinggal di Bandung, tentunya tahu daerah/perumahan Sukaluyu yang bisa diakses dari Jalan Suci atau Jalan Pahlawan. Di komplek perumahan Sukaluyu ini semua nama jalannya memakai nama motif batik tradisional. Jadi, ada Jalan Kawung Ece, Jalan Sidamukti, Jalan Jonas, dan sejumlah nama jalan lainnya. Jadi, kalau mau tahu apa saja nama motif batik tradisional, coba main-main ke komplek perumahan Sukaluyu ini.

Ketika saya masih SMA, saya sering juga main ke komplek Sukaluyu ini, karena ada teman sekelas yang tinggal di Jalan Kawung Ece. Kemudian, ketika kuliah, saya pernah mencuci film positif hasil percobaan spektrum cahaya di sebuah studio foto di komplek Sukaluyu, tepatnya di Jalan (batik) Jonas. Film positif yang dicuci berukuran khusus, sehingga tidak semua studio foto bisa melakukannya. Hanya studio foto yang di Jalan Jonas itu (kata asisten laboratorium) yang bisa mencucinya.

Belakangan studio foto tersebut menjadi sebuah studio foto terkenal, yakni Jonas Photo Studio. Studionya tidak hanya ada di Jalan Jonas, tapi tersebar di sejumlah jalan protokol dan pusat perbelanjaan terkenal di kota Bandung dan di beberapa tempat di Jakarta. Terus terang saya salut kepada pemilik Jonas Photo Studio yang memakai nama Jonas. Jarang-jarang ada bisnis nonbatik yang memakai nama motif batik sebagai brand-nya. Hanya saja, banyak orang salah melafalkan Jonas yang satu ini. Kebanyakan orang melafalkannya sebagai “yonas”, bukan “jonas”. Tentunya ini karena sedikit dari kita yang tahu bahwa nama Jonas ini adalah nama motif batik tradisional.

Jika saja kita tahu bahwa jonas adalah nama salah satu motif batik tradisional, tentunya kita akan melafalkan Jonas Photo Studio sebagaimana yang tertulis, bukan mengucapkannya menjadi yonas. Nama motif batik merupakan salah satu saja dari keragaman kebudayaan kita, tapi yang satu ini pun tidak banyak yang memahaminya.

Jujur mesti kita akui, kita tidak mengenal budaya kita dengan baik. Mengenal saja tidak, apalagi mempertahankannya. Tidak heran malah orang lain yang mematenkan beberapa dari hasil budaya kita. Kalau bukan kita sendiri yang memelihara kebudayaan kita, jangan kaget dan jangan menyesal jika nanti keroncong, kolintang, gamelan, suling, kecapi, sasando, kentongan, wayang kulit, wayang golek, reog, calung, ulos, songket, blangkon, koteka, lurik, mandau, rencong, keris, kujang, tari saman, tari pendet, tari kecak, jaipong, pempek, gudeg, tempoyak, dodol, wajit, peuyeum, plecing, bagea dan seabreg “harta pusaka” kita lainnya kemudian dipatenkan orang lain.

Advertisements

2 Responses to “How Batik Are We?”

  1. PT. InterDev Prakarsa (Nurdizal M. Rachman) said

    Ini adalah balasan dari kejahiliahan kita… kita ga tau mana milik kita dan mana milik orang… hari ini kita meratap ketika banyak hasil karya nenek moyang kita diambil orang lain…

    Tapi di sisi lain liat bagaimana hasil karya orang lain kita bajak baik dalam bentuk musik, software, merek dan lain-lain.

    Kita tidak begitu serius dengan masalah budaya kita, bukan hanya warisan budaya, juga budaya yang kita ciptakan saat ini.

    Bayangin kang Djadja, selain penegakan hukum lemah… kita juga harus menempuh jalur panjang kalau mengurus HAKI di sini.. Tambah2 sedikit kita yang tau tentang HAKI

  2. iman said

    harusnya nanya ibu saya…beliau tau semua jenis batik…karena selalu pake kain baik…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: