Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Demi Dua Puluh Ribu Rupiah

Posted by djadjasubagdja on September 16, 2008

Turut berduka cita, atas meninggalnya 21 orang saat terjadi kerusuhan di antrian pembagian zakat di Pasuruan 15 September 2008 kemarin. Sungguh sangat mengenaskan, mereka gugur dalam menjalankan kewajiban menafkahi keluarganya. Mereka adalah 21 orang dari ribuan orang, kebanyakan ibu-ibu, yang rela mengantri untuk mendapatkan zakat yang dibagikan seorang warga Pasuruan di sebuah mushola di dekat rumahnya. Mereka adalah 21 orang dari ribuan orang yang rela berdesak-desakan mengantri berjam-jam demi uang dua puluh ribu rupiah yang dibagikan.

Bagi sebagian dari kita, nilai dua puluh ribu rupiah mungkin tidak seberapa. Bahkan mungkin nilai total uang yang dibagikan, lima puluh juta rupiah, boleh dibilang belum seberapa jika dibandingkan dengan penghasilan wakil rakyat, gaji petinggi BUMN, atau gaji petinggi Pemerintahan. Namun, bagi kaum duafa seperti mereka, jangankan dua puluh ribu rupiah, untuk yang lebih kecil dari itupun mereka pasti rela mengantri.

Kejadian di Pasuruan hanya puncak gunung es dari pegunungan kemiskinan di halaman kita sendiri. Kejadian itu menambah corak dari kejadian sejenis (pembagian zakat/sedekah masal lainnya di beberapa tempat) dan pemandangan yang selalu kita lihat saat pembagian BLT atau daging Kurban. Itulah kita.

Pembagian zakat langsung secara masal juga menggambarkan kepercayaan yang rendah dari masyarakat akan keberadaan lembaga zakat/sodaqoh/ sedekah seperti BAZIS, Rumah Zakat, Dompet Duafa, dan lembaga lainnya. Padahal sosialisasi yang dilakukan lembaga-lembaga ini cukup gencar, baik itu melalui pemberitaan dan iklan di media massa, maupun lewat spanduk/baliho. Bahkan leaflet-leaflet yang mewartakan pelaksanaan program-program yang mereka jalankan juga sering singgah di rumah kita.

Lembaga-lembaga penyalur/pengelola zakat dan sodaqoh ini bahkan memiliki program penyaluran dana zakat/sodaqoh yang cukup baik, dengan tidak hanya memberikan uang atau barang konsumtif, tetapi memberikan modal usaha dan bimbingan usaha kepada kaum fakir/miskin. Rumah Zakat, misalnya, membagikan beberapa ekor kambing kepada keluarga miskin di pedesaan. Selain melakukan pembagian kambing, mereka juga memberikan bimbingan pemeliharaan dan komersialisasi ternak kambing. Mereka tidak hanya memberikan ikan, tapi juga kail dan bimbingan memancing serta menjual ikan.

Umat Islam Indonesia mestinya belajar dari apa yang telah dilakukan gereja dalam menglola dana dari jemaah untuk kepentingan sosial. Juga belajar dari pemerintah Saudi Arabia dalam mengelola daging Kurban untuk disalurkan ke Afrika. Dengan pengelolaan yang baik, dana umat akan terdistribusi dengan baik dan menjadi lebih efektif dalam mengurangi angka kemiskinan.

Kita juga tidak perlu ragu-ragu mengembangkan organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah yang lebih peduli pada kegiatan sosial. Muhammadiyah sudah sejak dulu difokuskan pada pelayanan sosial seperti penyelenggaraan sekolah dan rumah sakit. Apa yang dilakukan Muhammadiyah dan lembaga-lembaga penyalur dana zakat/sodaqoh perlu kita dukung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: