Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Ke Museum: Murah dan Bermanfaat

Posted by djadjasubagdja on September 14, 2008

Masih belum lepas dari ingatan saya ketika mengunjungi Monas pada tahun 1978 bersama rombongan guru SD IWKA, sekolah tempat saya belajar ketika itu. Saya bisa ikut rombongan guru saya karena kebetulan salah seorang guru saya, pak Aries Komarudin, pergi tidak dengan keluarganya. Jadi saya dihitung “anaknya” pak Aris. Dari Bandung kami berangkat dengan kereta api Parahyangan, berhenti di stasiun Gambir, lalu berjalan kaki menuju Monas.

Sampai saat ini, saya masih bisa menceritakan apa saja yang saya saksikan di Monas pada waktu itu. Melihat salinan naskah proklamasi yang diiringi suara Bung Karno, melihat sederetan diorama sejarah Indonesia, dan naik ke puncak Monas. Semuanya masih lekat di ingatan saya, meski itu saya alami 30 tahun lalu.

Sering kali saya menceritakan hal itu kepada anak-anak saya, dan mereka selalu merengek minta diantar mengunjungi Monas. Sudah agak lama kedua anak saya minta diantar ke Monas, tapi sering kali kami tidak punya kesempatan untuk mewujudkannya. Namun, pagi tadi, sepulang dari kantor pos, tiba-tiba saja saya putuskan untuk mengantar anak-anak ke Monas, sambil ngabuburit.

Kedua anak saya senang sekali. Mereka sangat antusias, sampai-sampai berlari-lari di lorong yang menghubungkan tempat pemberhentian kereta Taman Monas dengan loket penjualan karcis. Setelah puas mengamati kota Jakarta dari puncak Monas, melihat-lihat diorama sejarah, dan mendengarkan suara Bung Karno membacakan Proklamasi, kami pulang. Lunas hutang saya kepada mereka, kata saya dalam hati.

Sepekan sebelumnya saya mengantar anak-anak mengunjungi Tugu Proklamasi di Jalan Proklamasi (Pegangsaan Timur), Jakarta. Lalu kami melanjutkan piknik ngabuburit ke Gedung Stovia, tempat dr Wahidin, dr Sutomo, dan dr Tjipto Mangunkusumo menimba limu kedokteran dan mendirikan Boedi Oetomo pada tahun 1908. Beberapa waktu sebelumnya, saya juga mengantar mereka mengunjungi Museum TNI Satria Mandala, di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Tidak terlewatkan, kami juga pernah mengunjungi Planetarium, di Jalan Cikini, Jakarta. Saat mengunjungi Taman Mini, wahana tujuan utama kami adalah Museum Iptek.

Kami sekeluarga sering pergi ke Bandung, menengok orang tua saya. Selama di Bandung, kami tidak melewatkan kesempatan mengunjungi Museum Geologi, tempat kerangka gajah purba dan replika rangka dinosaurus T-rex dipajang. Selain itu, kami juga sempatkan menonton pertunjukan angklung dan kesenian anak-anak tradisional tanah Parahiangan di Saung Angklung Udjo.

Selain karcis masuk ke Saung Angklung Udjo, karcis masuk ke tempat-tempat yang saya sebutkan di atas bisa dikatakan sangat murah. Jauh lebih murah dari harga makan siang di warteg. Karcis masuk ke Stovia, yang merupakan museum Kebangkitan Nasional, hanya senilai 500 rupiah per orang! Karcis masuk ke Monas mungkin yang termahal, tapi itupun hanya senilai Rp7.500,00 saja untuk orang dewasa, sementara anak-anak cukup membayar Rp3.500,00 saja. Cukup murah. Jauh lebih murah dibandingkan pengetahuan yang didapat anak-anak di sana.

Ketika tiba di rumah, sepulang mengunjungi Monas, si kecil menunjukkan karcis masuk ke Monas tadi. Tiba-tiba saya jadi penasaran, apakah semua warga Jakarta pernah mengunjungi Monas? Jangan-jangan masih banyak yang belum mengunjungi Monas. Apa lagi mengunjungi STOVIA atau Museum Satria Mandala. Mungkin warga Jakarta atau mereka yang berwisata ke Jakarta lebih tertarik untuk mengunjungi tempat-tempat hiburan ketimbang mengunungi museum-museum, tempat-tempat bersejarah, atau wahana bernuansa iptek. Padahal karcisnya murah sekali.

Hiburan memang merupakan kebutuhan kita. Namun, jangan lupa, pendidikan juga kebutuhan kita, bahkan barangkali saat ini sudah menjadi kebutuhan primer, mendampingi sandang-pangan-papan. Memang betul, kita pasti sudah menyekolahkan anak-anak kita di sekolah yang cukup baik. Namun yang namanya pendidikan kan bukan hanya semua yang ada di sekolah. Lebih dari itu, kita pun mesti memperkaya wawasan anak-anak kita dengan beragam hal luar sekolah seperti lingkungan hidup, industri, internet, museum, dan wahana-wahana iptek. Dengan demikian, anak-anak kita tidak akan tertinggal dari rekan-rekannya di belahan bumi lain.

Di negara-negara maju, mengunjungi museum atau galeri seni merupakan kegiatan standar keluarga dalam mengisi hari libur. Jika kita juga tidak mau tertinggal dari mereka, ya mari kita kunjungi museum, galeri seni, dan wahana-wahana bernuansa iptek. Murak koq.

Advertisements

2 Responses to “Ke Museum: Murah dan Bermanfaat”

  1. sinta said

    hehehe jadi malu aku juga belum pernah tuh ke Monas

  2. Anonymous said

    dear mas djaja subagdja,
    saya berencana ke musium iptek bandung pertengahan nov ini. apakah benar, musium iptek bandung ini bernama lain sabuga ITB?
    kalau bukan, dimanakah musium iptek ini berada?
    matur nuwun untuk jawabannya…
    salam dari jogja,TISNA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: