Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Mengurangi Golput dengan Berita

Posted by djadjasubagdja on July 25, 2008

Di harian Kompas edisi Jumat 25 Juli 2008, di halaman pertama, kita dapat membaca sebuah tulisan mengenai kemungkinan naiknya angka golput di Pemilu 2009. Kemungkinan itu didasarkan pada data angka golput di beberapa pilkada dan juga didukung oleh pendapat akademisi. Di akhir tulisan, salah seorang dari akademisi itu memberikan “solusi” bahwa golput bisa dikurangi jika parpol bisa memunculkan tokoh baru.

Kemunculan tokoh baru, baik itu untuk pemilihan caleg maupun pemilihan capres/cawapres, memang merupakan hal yang dinantikan para pemilih. Rakyat sudah kurang percaya dengan para eksekutif dan legislatif yang tengah menjalankan pemerintahan saat ini. Mereka dinilai telah mengkhianati amanat yang diberikan rakyat.

Benarkah demikian? Benarkah para pemimpin kita dan para wakil kita sudah tidak dapat kita percayai? Benarkah mereka telah mengkhianati kita? Jika kita menyimak apa-apa yang telah dilakukan KPK, maka cukup jelas bagi kita, betapa banyak oknum anggota dewan, oknum aparat, oknum pejabat, dan oknum pengusaha yang menjadi tersangka kasus korupsi. Hanya, sebetulnya, seberapa banyak ya? Berapa persenkah? Berapa orang oknum anggota dewan yang terkena kasus korupsi? Berapa yang sering mangkir sidang? Berapa yang sering tidur saat sidang? Namun juga, berapa yang telah bertugas dengan baik? Berapa orang yang tidak mau menerima suap atau gratifikasi? Entahlah, kita tidak pernah diberi tahu, atau setidaknya, kalaupun diumumkan, mungkin sosialisasinya masih kurang.

Namun, jelas bagi kita, bahwa ada oknum anggota dewan yang busuk, tapi juga masih banyak yang baik. Banyak sekali oknum aparat dan pejabat yang masih getol menjalankan praktik KKN, tapi ada juga yang anti KKN. Siapa saja mereka? Anda hafal nama-nama mereka? Tentu saja, beberapa nama oknum yang tersangkut kasus KKN bisa kita sebutkan namanya. Bahkan sering kita sebutkan namanya ketika kita ngobrol ngalor-ngidul dengan rekan-rekan kita. Bagaimana tidak kita ingat, nama mereka sering muncul di koran-koran, majalah, dan televisi. Bahkan berhari-hari menjadi judul berita di halaman pertama koran-koran.

Nah, pertanyaan selanjutnya, apakah nama-nama aparat, pejabat, dan anggota dewan yang anti KKN dan konsisten memerangi segala bentuk KKN pernah muncul di halaman pertama koran-koran nasional? Apakah ada surat kabar nasional yang secara khusus menulis tentang partai-partai yang memiliki mekanisme yang cukup baik dalam menangkal segala bentuk KKN di tubuhnya sendiri?

Ada sih koran yang sering memunculkan tokoh-tokoh bersih, tapi biasanya dimuat di halaman belakang atau tengah. Bukan di halaman pertama. Apakah persoalan penempatan ini penting? Ya, sangat penting.

Masyarakat kita bukan masyarakat pembaca. Kita lebih banyak mengandalkan komunikasi verbal. Hal ini dapat dilihat jelas saat kita duduk di ruang tunggu pesawat atau kereta api. Jarang sekali dari kita yang menunggu kereta atau pesawat sambil membaca buku. Kita lebih senang mengobrol, bahkan dengan orang yang baru kita jumpai. Berita koran terkadang tidak seluruhnya dibaca. Jangankan membaca tulisan-tulisan di halaman tengah atau belakang, bahkan beberapa dari kita hanya membaca judulnya saja. Jadi dapat dipastikan, tulisan mengenai seorang Mr. Clean di halaman belakang pasti akan terkubur oleh berita penangkapan oleh KPK di halaman muka.

Saya kira tidak berlebihan jika saya sampaikan bahwa kini sudah saatnya media menata ulang penempatan berita-berita, bukan hanya didasarkan pada alasan ekonomis bahwa berita heboh akan mengangkat tiras. Media sudah harus mulai menempatkan berita-berita positif mengenai aparat, pejabat dan anggota dewan berprestasi di halaman muka. Memang benar, saat ini bukannya tidak ada pemberitaan mengenai anggota dewan yang bereputasi baik di halaman depan koran, tapi biasanya dikaitkan dengan kritik yang bersangkutan atas sebuah kebijakan pemerintah. Bukan itu yang saya maksud.

Sering saya mendengar anggota dewan yang mengembalikan hadiah/bingkisan hari raya, tapi hal-hal seperti ini tidak muncul sebagai berita utama. Semakin dekat ke pelaksanaan pemilu, semakin santer pemberitaan mengenai isyu-isyu miring seputar dana kampanye. Namun tidak pernah kita membaca tulisan di halaman depan koran yang mengupas tentang partai-partai yang mengelola pendanaan partainya dengan bersih.

Banyak cara untuk mendongkrak keikutsertaan pemilih di Pemilu 2009. Pemunculan tokoh baru dan pendataan pemilih yang lebih baik, barangkali dapat meningkatkannya. Namun, media juga dapat berpartisipasi dalam meningkatkan keikutsertaan pemilih ini, yakni dengan memberikan porsi dan posisi pemberitaan yang sama, antara sisi negatif dan sisi positif para eksekutif dan legislatif kita.

Advertisements

One Response to “Mengurangi Golput dengan Berita”

  1. aespesoft said

    Sayang ya pak, kebanyakan rakyat kita ga melek internet, jadi ga bisa ngikutin berita.

    Tapi ya smoga orang2 yg dapet akses internet ini yang ber komunikasi verbal dan menyebarkan info kebaikan orang orang baik itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: