Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Kalah oleh Kartini

Posted by djadjasubagdja on July 16, 2008

Lagi-lagi saya menerima imel yang berisi tulisan indah nan puitis tentang betapa luhurnya pribadi dan peran para wanita, terutama kaum istri dan kaum ibu. Tentu saja saya senang menerima imel-imel semacam itu, sesenang ketika saya mendengarkan ceramah atau khutbah Jumat yang bertemakan keluhuran seorang istri atau ibu.

Namun, terus terang, mungkin karena Tuhan juga menganugrahi kepenasaranan kepada kita, saya benar-benar heran, koq kenapa saya belum pernah menerima imel yang khusus berisi tentang keluhuran seorang suami dan ayah? Saya juga belum pernah mendengar penceramah atau khatib yang membahas tentang hal ini. Kalau ceramah atau khutbah tentang seorang pemimpin (yang kebetulan seorang pria) atau seorang pemuda pejuang sih sering saya dengar, tapi tidak secara khusus memandangnya dari sisi dia sebagai seorang ayah atau suami.

Ini bukannya iri karena saya ini (kebetulan tercipta sebagai) kaum pria. Hanya saja saya penasaran, koq hanya kaum wanita yang sering diapresiasi? Keheranan saya beranjak dari hal sederhana. Kebetulan dari kecil hingga berusia 40 tahun saya memiliki ibu dan ayah kandung lengkap. Baru bulan lalu ayah kami meninggal dunia. Jadi selama itu saya berinteraksi dengan kedua orang tua saya. Keduanya mengajarkan hal yang sama kepada kami, anak-anaknya. Salah satunya adalah untuk tidak membedakan seseorang berdasarkan gender, termasuk membedakan ayah-ibu.

Bagi saya pribadi, kasih sayang dan peranan kedua orang tua kami sama, tidak berbeda. Keduanya istimewa bagi saya. Tidak pernah saya berfikir salah satu dari mereka lebih istimewa dari yang satunya. Sama saja, sama-sama istimewa. Barangkali hanya cara pengungkapannya saja yang berbeda. Mereka juga mengajarkan kepada saya bahwa dalam mendidik anak, kalau ayah memarahi anak maka ibu jangan ikut memarahi, dan sebaliknya. Kalau ayah dan ibu sama-sama memarahi anaknya, kepada siapa anak akan menangis? Kalau sang ayah memarahi, maka ibu cukup menasehati dengan lemah lembut. Jika sang ibu yang memarahi, maka ayah cukup menasehati dengan santun. Skenario seperti itu, menurut kedua orang tua kami, akan memberi “kenyamanan” bagi anak-anak.

Barangkali juga karena kebetulan ibu saya juga bekerja seperti ayah saya. Juga barangkali karena kebetulan ayah kami bisa masak makanan seenak masakan ibu kami. Lagi-lagi, barangkali karena ayah kami juga rajin mengerjakan pekerjaan rumah bersama-sama dengan kami dan ibu kami saat tidak ada pembantu di rumah. Semua itu, barangkali, yang membuat saya berfikir kalau tidak ada bedanya antara ibu dan ayah kami. Mereka sama-sama luhur di mata kami, anak-anaknya.

Ketika hal ini saya obrolkan dengan teman-teman, mereka bilang kepada saya bahwa bagaimanapun ibu adalah orang yang melahirkan kita, yang berjuang meregang nyawa dan kesakitan saat melahirkan kita, sehingga banyak orang lebih memuliakan seorang ibu dari pada seorang ayah. Namun, bukankah seseorang tidak pernah memilih apakah dia ingin menjadi seorang lelaki atau seorang perempuan?
Benar adanya jika kita lebih memuliakan profesi guru atau tenaga medis dibandingkan yang lainnya, karena itu memang pilihan seseorang. Benar juga jika kita lebih menghormati seorang pahlawan yang berjuang bagi negaranya tanpa pamrih dibandingkan mereka yang tidak berjuang, karena itu memang sebuah pilihan. Namun, jika kita tidak bisa memilih sama sekali, lalu masing-masing diberi tugas sesuai kodratnya, maka lantas lalu kita bilang yang satu lebih mulia dibandingkan dengan yang lainnya?

Ibu Kartini telah lama meninggalkan kita. Itu maknanya adalah, dulu sekali, di jaman penjajahan, sudah ada orang berfikiran modern tentang kesamaan gender. Nah, saat ini, apakah kita akan tetap berorientasi pada perbedaan gender? Apakah kita akan berfikir kalau salah satu gender lebih luhur atau mulia dibandingkan yang satunya? Lebih jauh lagi, apakah kita akan terus mempertahankan istilah karyawati, wartawati, mahasiswi, siswi, seniwati, dan istilah bernuansa gender lainnya? Apakah kita akan terus mengkotak-kotakkan diri dalam persatuan profesi yang bernuansa gender? Apa kita akan terus seperti itu? Mulailah berfikir seperti Kartini yang punya pemikiran briliant tentang kesamaan gender. Ayolah Bung!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: