Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Disiplin itu Amal

Posted by djadjasubagdja on June 23, 2008

Tulisan ini khusus untuk mengenang almarhum ayahanda kami yang berpulang ke Rahmatullah 14 Juni 2008 lalu. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya ketika sedang menjalani scanning MRI di RSI dr. Santosa, Bandung. Hingga saat ini, penyakit apa yang menjadi penyebab kepergian almarhum belum diketahui dengan pasti, karena scanning belum tuntas. Namun dugaan awal para dokter di RS TNI AU dr Salamun, tempat beliau dirawat sehari sebelumnya, beliau terkena sindroma dimana sistem kekebalan tubuhnya menyerang sistem syaraf. Hanya saja, penjalarannya cepat sekali, tidak seperti kebanyakan pasien lain. Mungkin karena sudah selama hampir 10 tahun almarhum menderita pembengkakan jantung, diabetes, dan asam urat; bahkan sudah selama 23 tahun ginjalnya tidak berfungsi dengan baik.

Apapun yang menjadi penyebabnya, kami sekeluarga ikhlas melepas kepergian almarhum, setelah sekian lama menjalankan tugasnya sebagai kepala keluarga dengan sangat baik. Belum pernah saya melihat seorang kepala keluarga sebaik almarhum. Setelah pensiun, almarhum selalu aktif mengerjakan beberapa pekerjaan rumah dan mengantar/menjemput ibu kami ke/dari sekolah. Bahkan sehari sebelum kepergiannya almarhum masih mengantar adik bungsu kami ke pasar, setelah menjalankan salah satu kegiatan rutinnya, menyapu halaman.

Satu hal yang sangat menonjol dari almarhum dalam mendidik kami, anak-anaknya, adalah disiplin. Beliau mendidik disiplin tidak hanya dengan nasehat, hukuman, dan pujian, lebih dari itu, beliau juga memberi contoh disiplin melalui dirinya sendiri. Almarhum juga mengajari kesederhanaan kepada kami dengan gaya hidup sederhana almarhum sendiri. Kami juga diajari memperbaiki dan memelihara rumah dan peralatan dengan contoh, dengan tindakan, bukan sekadar nasehat dan instruksi. Almarhum mengajari kami bekerja dengan ajakan untuk membantunya memperbaiki atau membersihkan sesuatu.

Disiplin adalah jiwa dari tindakan dan pikiran almarhum. Seingat saya, sehari sebelum Idul Fitri, beliau masih pergi ke kantor untuk bekerja, dan sudah masuk kembali di hari ketiga, di saat tanggal sudah tidak merah lagi. Setiap peralatan rumah selalu harus kembali ke tempatnya, adalah salah satu aturan yang kini kami sadari bahwa itu adalah untuk mendidik jiwa disiplin.

Ketika almarhum telah pergi meninggalkan kami semua, warisan yang paling berharga yang langsung kami dapatkan adalah makna disiplin. Almarhum telah menyimpan fotokopi surat-surat untuk pengurusan kematian (untuk pemakaman secara militer) dan pensiun-janda di dua buah map yang disimpan rapi di salah satu tas yang disimpan di lemari. Tidak hanya surat-surat yang sudah tersusun rapi di map, bahkan di luar map-map tersebut sudah ada instruksi yang harus kami lakukan untuk pengurusan kematian. Sehingga semua itu memudahkan bagi kami dalam pengurusannya. Barangkali ini adalah pelajaran terakhir tentang kedisiplinan bagi kami.

Sungguh, pelajaran terakhir ini telah membuka wawasan baru bagi kami bahwa ternyata disiplin itu memberikan kemudahan bagi orang lain. Barangkali tidak berlebihan jika saya katakan bahwa disiplin juga merupakan salah satu bentuk amal. Ya Allah swt, beri kami kekuatan untuk tetap bisa berdisiplin sebagaimana yang selalu diajarkan dan dicontohkan ayah kami almarhum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: