Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Pencuri Mobil

Posted by djadjasubagdja on May 30, 2008

Suatu hari di sebuah kampus. Di awal perkuliahan Pengantar Ilmu Ekonomi, pak dosen melayangkan sebuah pertanyaan kepada para mahasiswa, sebagai “pemanasan”.

Dosen: “Katakanlah, atas suatu keajaiban, tiba-tiba anda mendapati jiwa anda masuk ke raga orang lain, seorang pencuri mobil profesional. Pencuri itu masih muda, lihai dan menguasai segudang teknik mencuri seperti membuka kunci, menguasai pengoperasian perangkat elektronik yang bisa memindai frekuensi sistem alarm dan segala perangkat pengaman kendaraan, menguasai teknologi pengaman perparkiran elektronis, dan memiliki intuisi kuat dalam melakukan profesi sebagai maling.”

Sang dosen berhenti sebentar, lalu meneguk air di gelas yang memang disediakan untuknya, kemudian melanjutkan.

Dosen: “Saat itu, katakanlah, si pencuri, di saat tiba-tiba jiwa anda terperangkap masuk di raganya, tengah bersiap melakukan aksinya di sebuah tempat parkir yang dipenuhi segala jenis mobil, segala jenis merek, dan dari berbagai tahun produksi. Hebatnya, si pencuri bisa mengira-ngira, mana yang diasuransikan dan mana yang tidak. Nah, jiwa anda ada di raga si pencuri, mobil mana yang akan anda pilih untuk anda curi?”

Di fakultas ekonomi pergruan tinggi tersebut tidak seperti di perguruan tinggi lainnya di Indonesia, mahasiswanya cukup berani menjawab. Beberapa mahasiswa mengacungkan tangan, berminat menjawab pertanyaan sang dosen. Mereka tahu, pertanyaan ini pasti ada kaitannya dengan mata kuliah yang sedang mereka ikuti, Pengantar Ilmu Ekonomi.

Sang dosen menunjuk seorang mahasiswa berkaos oblong putih yang duduk di deretan bangku tengah.

Dosen: “Anda yang berkaos putih, yang di tengah, silakan”

Mahasiswa kaos putih: “Saya akan pilih mobil termahal yang ada di tempat parkir, tapi jelas yang tidak ada sopirnya, Pak. Soalnya si pencuri kan lihai, meski mobil mahal pasti pakai alarm canggih, dia pasti bisa menaklukannya. Kenapa mobil termahal yang dicuri? Ya, karena akan memberikan keuntungan yang paling tinggi, sementara upaya untuk mencurinya sama dengan upaya mencuri mobil yang lebih murah, resikonya juga sama, tapi jelas lebih menguntungkan. Ini sesuai dengan prinsip ekonomi, Pak, pengorbanan yang sekecil-kecilnya, hasil yang sebesar-besarnya.”

Dosen:”Bagus, jadi anda masih agak ingat juga dengan pengertian ‘prinsip ekonomi’ yang ada di pelajaran Ekonomi di SMP dulu.”

Sang dosen memberi kesempatan kepada mahasiswa lain untuk menjawab, lalu dia menunjuk mahasiswa berkaos biru yang duduk di deretan bangku depan.

Dosen:”Tadi anda mengangkat tangan juga, kan? Ayo silakan, apa jawaban anda?”

Mahasiswa kaos biru:”Kalau jiwa saya terperangkap di raga si pencuri tadi, maka mobil yang akan saya curi adalah mobil sejuta umat, Pak, alias mobil yang paling laku dan paling banyak dibeli orang, karena akan lebih cepat menjualnya, sehingga dana tunai akan lebih cepat diperoleh. Kalau saya curi mobil mewah, ya memang nilai jualnya lebih tinggi, tapi kemungkinan lakunya lebih lama, susah nyari penadahnya, Pak. Mencuri mobil sejuta umat itu lebih menguntungkan, karena uang tunai yang lebih cepat didapat, meski nominalnya lebih sedikit, tapi net present value-nya kan lebih tinggi.”

Dosen: “Bagus, rupanya anda sudah membaca buku sebelum berangkat ke kampus.”
Lalu dosen menunjuk mahasiswa lain yang juga duduk di depan, yang berkemeja flanel kotak-kotak ala koboy dan berkaca mata.

Dosen: “Tadi anda juga mengangkat tangan, ya; kalau jawaban anda lain, silakan!”

Mahasiswa kemeja flanel kotak-kotak: “Kalau saya jadi si pencuri itu, Pak, akan saya curi mobil sejuta umat juga, tapi yang beransurasi, minimal TLO lah. Bukan apa-apa, Pak, mencuri mobil yang diasuransikan tidak akan merugikan pemilik, dan malah akan menguntungkan banyak pihak. Si pemilik malah akan untung, karena mendapatkan mobil baru, dealer mobil juga senang, karena penjualan bertambah, sementara itu, pihak asuransi tidak dirugikan, karena urusan penggantian sudah diperhitungkan, bahkan jika pencurian tersebut diwartakan di koran-koran, maka itu akan jadi iklan gratis bagi perusahaan asuransi. Koran juga akan laku, karena beritanya up to date. Kalau saya pikir, bisa jadi si pencuri ini adalah sosok ‘the invisible hand’ seperti yang ditulis di buku. Bener kan, Pak?”

Dosen: “Wah, anda malah bertanya ke saya. Nanti kita bahas itu soal ‘the invisible hand’ yang anda sebut tadi. Jawaban anda juga bagus, dan rupanya anda juga sudah mempelajari buku sebelum masuk ke ruangan ini. Di ruangan ini rupanya banyak calon ekonom, ada lagi yang mau menjawab?”

Dari deretan bangku tengah, dekat mahasiswa berkaos putih tadi, seorang mahasiswi mengacungkan tangan.

Dosen: “Sialkan!”

Mahasiswi: “Kalau jiwa saya terperangkap di raga si pencuri tadi, Pak, saya akan urungkan niat mencuri mobil, karena sekecil apa pun kerugian yang terjadi atas sebuah pencurian, atau sebesar dan sebanyak apapun keuntungan yang akan muncul sebagai akibat tindak pencurian, maka pencurian tetaplah sebuah pencurian, agama manapun mengharamkannya dan hukum manapun melarangnya. Kalau tiba-tiba jiwa saya terperangkap di raga si pencuri, yang menurut Bapak tadi dia profesional, masih muda, lihai, memiliki intuisi kuat, dan menguasai teknologi sistem pengaman mobil dan sistem perparkiran elektronis, pastilah memiliki uang yang cukup dari hasil dia mencuri selama ini, dan uang itu pasti cukup untuk berwiraswasta, katakanlah membuka jasa reparasi elektronik, karena kan, kalau bisa mengakali perangkat elektronik pengaman mobil dan sistem perparkiran, pastinya punya keterampilan di bidang elektronika. Membuka reparasi elektronik mungkin saja menghasilkan lebih sedikit uang dari pada mencuri mobil, tapi bagaimanapun mencuri mobil beresiko tinggi, dan resiko mencuri mobil tidak sama dengan resiko yang dimiliki seorang wiraswastawan, yang meski sama-sama bernama resiko, tapi resiko yang dimiliki seorang wirausahawan pastinya didasari seperangkat ilmu ekonomi dan data-data pasar. Jadi akan saya urungkan niat mencurinya, Pak. Kemudian jiwa saya akan saya menggerakkan raga si pencuri untuk membuka usaha reparasi. Kemudian mengembangkannya hingga bisa membuka lapangan kerja bagi orang banyak. Ini juga tetap tidak keluar dari prinsip ekonomi, dan tetap menjadi bagian dari ‘the invisible hand of economics’. Last but not least, tidak melanggar hukum.”

Dosen: “Rupanya di kelas ini ada juga yang bisa berfikir ‘out-of-the-box’. Rekan anda ini bisa keluar dari ‘perangkap’ skenario saya tadi. Ini yang paling penting di masa sekarang ini. Bagus sekali, dan anda juga sudah membaca buku rupanya. Sekarang giliran anda, ada pertanyaan?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: