Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Relativitas Ujian Nasional

Posted by djadjasubagdja on May 3, 2008

Seiring dengan berlangsungnya ujian nasional SD/SMP/SMA/SMK 2008, banyak sekali pemberitaan dan tulisan di media masa. Mulai dari keunikan pelaksanaan ujian di berbagai daerah hingga berita yang selalu hot di seputar ujian nasional, yakni nyontek!

Kebiasaan menyontek saat mengikuti tes atau ujian barangkali umurnya hanya terpaut beberapa tahun dari usia tes atau ujian itu sendiri. Sejak jaman orang tua dan bahkan kakek-nenek kita, selalu saja ada kisah tentang si tukang nyontek. Hanya bedanya, kalau dulu frekuensinya sedikit, sekarang ini bertambah. Kalau dulu hanya melibatkan siswa, kemudian berkembang dengan juga melibatkan joki, nah, belakangan ini malah melibatkan juga (oknum)guru dan (oknum) kepala sekolah juga.

Apapun alasannya, memberikan jawaban ujian kepada siswa adalah perbuatan salah, bahkan sekarang ini dinyatakan sebagai tindakan kriminal. Namun, baik juga jika kita kaji sedikit alasan beberapa oknum pendidik yang memberikan jawaban ujian kepada anak muridnya. Dari tayangan di televisi, ada dua alasan yang muncul. Pertama adalah kekhawatiran rendahnya jumlah lulusan di sekolah tempat sang oknum mengabdi dan yang satunya lagi adalah kekhawatiran para oknum ini kalau siswanya tidak lulus maka mereka akan tambah kesulitan mencari pekerjaan. Memang beralasan, tapi ya tetap salah!

Pekan lalu kebetulan saya ditugasi menghadiri rapat di Bandung, dan seperti biasanya saya tidak menginap di hotel, tapi di rumah orang tua saya. Sambil menengok mereka. Sebelum tidur, ibu saya, yang kebetulan seorang kepala sekolah swasta yang tidak masuk kategori sekolah favorit, bercerita seputar ujian nasional ini. Ibu saya berujar, sekarang ini memang yang khawatir tidak hanya siswa dan orang tuanya, tapi juga para guru dan terutama kepala sekolah. Kepala sekolah khawatir akan hasil ujian nasional ini karena mereka tidak mau dicap gagal mendidik para siswa, karena dari hasil latihan ujian diprediksikan bakal banyak siswa yang tidak lulus. Padahal, menurut Ibu saya, para guru telah mencurahkan segala kemampuannya untuk meningkatkan pengetahuan siswa.”Anak-anak di sekolah Ibu kan dulunya adalah mereka yang tidak lulus seleksi penerimaan siswa baru di sekolah negri dan swasta favorit; otomatis kemampuan (akademis) mereka lebih rendah dari anak-anak di sekolah negri dan swasta favorit. Jadi, para guru di sekolah Ibu perlu bekerja lebih keras mendidik mereka. Tapi, ya, karena bagaimanapun mereka itu memang tidak sepintar anak-anak di negri atau swasta favorit, ya kemajuannya pun tidak terlalu jauh,” demikian penjelasan Ibu saya.

Bahasa sederhana dari pernyataan Ibu saya di atas adalah, bagaimanapun para siswanya tidak bisa diadu dengan siswa sekolah favorit yang diisi anak-anak pintar. Jadi pastinya hasil ujiannya berbeda. Maka tidak adil kalau hasil ujian nasional dijadikan tolok ukur keberhasilan pembinaan siswa oleh para pendidik dan pengelola sekolah. Ini juga yang menjadi pemicu oknum pendidik memberikan jawaban kepada siswanya. Tolok ukur keberhasilan sebuah institusi pendidikan mestinya adalah seberapa besar nilai rata-rata siswa bisa terangkat dibandingkan dengan nilai-rata-rata siswa ketika lulus dari jenjang pendidikan sebelumnya. Bukan berapa rasio kelulusan.

Namun Ibu saya juga tidak lantas menginginkan penurunan nilai batas kelulusan atau kualitas soal ujian. Kualitas ujian dan nilai batas kelulusan mesti tambah baik, tapi sekolah jangan dinilai dari rasio lulusan juga. Nilailah sekolah dari seberapa mampu sekolah membuat siswanya menjadi lebih pintar dibandingkan ketika mereka baru masuk. Dulu mereka lulusnya jauh di bawah standar, jadi kalau sekarang mereka ‘hanya’ sedikit di bawah standar, ya berarti sekolah tersebut boleh dikatakan berhasil, meski banyak siswanya yang tidak lulus.

Lulus dan tidak lulus adalah sebuah cerminan penguasaan materi dan proses pendidikan. Hanya saja, Pemerintah juga mesti memikirkan nasib siswa yang tidak lulus, karena jumlahnya cukup banyak. Jika mereka yang tidak lulus ini mengulang di tahun berikutnya, maka ini tidak menjadi masalah besar. Tetap menjadi masalah, tetapi bukan masalah besar. Masalah besar muncul tatkala orang tua siswa yang tidak lulus ini tidak mempunyai biaya untuk mengulang pendidikan. Mereka juga mungkin telah merencanakan, setelah selesai sekolah, anaknya bisa bekerja.

Untuk kasus seperti ini, sebenarnya, yang diperlukan mereka adalah sertifikat yang menyatakan mereka telah selesai mengikuti jenjang pendidikan tertentu (SD/SMP/SMA), nilai tidak terlalu mereka harapkan, karena kenyataannya kemampuan mereka juga memang seperti itu. Mereka hanya perlu pernyataan bahwa mereka pernah bersekolah hingga jenjang tertentu.
Namun tentunya, pemberian sertifikat telah menyelesaikan pendidikan di jenjang tertentu ini sifatnya sementara. Mungkin bisa diterapkan dalam 2 – 3 tahun ini, karena setelah itu, di mana kualitas lulusan SD sudah distandarkan, maka tidak ada lagi siswa SMP atau SMA/SMK yang kualitasnya di bawah standar. Secara alamiah, ketika lulus SMP, siswa juga bisa langsung menentukan, apakah akan melanjutkan ke SMA atau SMK, tergantung dari karakternya, lebih senang mempelajari ilmu pengetahuan atau lebih terampil mengerjakan sesuatu.

Nilai kelulusan memang harus cukup tinggi, demikian juga dengan kulitas soal ujian nasional. Dengan demikian tujuan pendidikan untuk menelurkan lulusan berkualitas bisa tercapai. Namun janganlah rasio kelulusan dijadikan dasar kinerja sebuah institusi pendidikan, dan untuk 2 -3 tahun ini Pemerintah juga mesti punya solusi yang konstruktif bagi mereka yang tidak lulus (meski telah menempuh ujian persamaan). Setelah masa itu berlalu, baru kita tancap gas, lalu lepas landas!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: