Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Film Lokal dan Potensi Lokal

Posted by djadjasubagdja on April 23, 2008

Seorang teman yang rajin nonton film di bioskop dan rajin juga mengirimkan “resensi” film-film yang ditontonnya di milis alumni kembali mengirimkan resensinya awal pekan ini, tapi tidak seperti biasanya, kali ini dilengkapi ulasan umum atas kesuksesan film-film Cina/Mandarin. Menurut sang teman, kesuksesan film Cina adalah karena tempat/dekorasi/kostum yang menarik, serta akting laga yang bagus. Setuju banget!

Itulah yang disebut bekerja/berkreasi dengan benar dan baik, prosesnya dimulai dari pengamatan potensi, eksplorasi potensi, lalu eksploitasi potensi. Maka meledaklah film-film Cina, bahkan hingga ke hadapan pemirsa Barat. Namun tentunya proses itu juga diiringi kerja keras dan ketekunan berkarya di dunia perfilman, baik dari para aktor dan pekerja film, maupun dari para pebisnis filmnya.

Coba kita perhatikan bagaimana orang memproduksi film. Eopa punya potensi sdm yang menguasai dunia drama dengan baik, maka kita lihat sendiri, film-film Eropa kebanyakan berbasiskan drama/dialog dan seni. Mereka juga mengeksploitasi habis-habisan peninggalan bangunan-bangunan antik yang tetap cantik dipandang mata.

Amerika Serika menguasai teknologi tinggi, memiliki wilayah yang sangat luas untuk aksi petualangan dan kejar-kejaran. Mereka manfaatkan kekhasan tadi lewat film-film bernuansa teknologi tinggi atau petualangan. Hollywood bahkan memanfaatkan konflik yang terjadi antara negaranya dengan negara tetangga. Masalah sosial perkotaan, narkoba, dan rasialisme kerap menjadi tema film-film layar lebar atau film televisi di negara paman Sam ini. Dunia militer dan spionase serta dunia koboy dan Indian juga tak lepas dari pandangan para produser film di sana untuk mereka angkat sebagai tema atau latar belakang.

Bolywood, yang pada awalnya dipandang sebagai meniru-niru Hollywood, ternyata memiliki kemandirian untuk tidak kemudian larut dalam kegiatan meniru-niru nuansa Hollywood, meski awalnya ada beberapa film India yang meniru film-film box office Amerka. Film-film India tidak malu-malu tampil bergaya lokal dengan puluhan penari yang bergoyang-goyang dan mengedipkan mata dengan dibumbui aroma sensual yang kental. Tema-tema film India juga tidak jauh dari kekhasan mereka sehari-hari seperti gap antara si miskin dan si kaya atau penderitaan kaum hawa.

Meski tidak menjadi industri utama, film-film Jepang (atau film-film Hallywood berlatar Jepang) selalu bertema seputar samurai, ninja, atau harakiri, karena hal itu adalah khasnya Jepang. Orang luar Jepang tidak akan terlalu tertarik dengan hal-hal lain yang ada di Jepang selain ketiga hal itu. Seperti orang luar akan selalu takjub dengan aksi laga dalam film Cina atau kontras antara gedung-gedung pencakar langit di Hongkong dengan komunitas tradisional di seputarnya.

Mestinya, para sineas kita juga memanfaatkan apa yang kita punya, tidak perlu berpayah-payah meniru atau memodifikasi. Buktinya Ayat-ayat Cinta bisa meledak. Poligami memang fenomena masyarakat muslim, tapi poligami di negara kita berbeda dengan poligami di Timur Tengah di mana mereka lebih homogen dan secara konstitusional memberlakukan hukum Islam. Di situlah kehebatan Ayat-ayat Cinta dalam memanfaatkan fenomena poligami dalam masyarakat kita dengan melihatnya dari sudut lain.

Film Nagabonar (yang pertama) cukup sukses, karena memang memanfatkan fenomena yang khas dari perbedaan karakter orang-orang di lingkungan kita (Nagabonar yang orang Batak, Lukman yang orang Minang, dan Somad yang orang Jawa). Semuanya dilebur dalam sebuah aktivitas yang melibatkan interaksi di antara mereka dengan latar belakang perang kemerdekaan.

Contoh sukses lainnya adalah sinetron serial Losmen. Saya yakin, kesuksesan sinetron serial Losmen bukan semata karena dimainkan oleh aktor dan aktris kelas kakap seperti Mieke Wijaya, Mang Udel, Ida Leman, Eeng Saptahadi, Dewi Yul,dan Mathias Muchus, tapi juga karena mengekploitasi fenomena post power sindrome dari seorang mantan pejabat yang merasa gengsi istrinya kemudian terjun ke dunia usaha penyewaan kamar (losmen), dimana pada tahun 80-an profesi dagang atau bisnis kecil-kecilan masih dipandang lebih rendah dibandingkan dengan menjadi pegawai. Ini merupakan fenomena khas negara kita kala itu dan losmen bisa “membenturkan” seorang mantan pejabat dengan kenyataan bahwa setelah pensiun anak-anak masih perlu biaya yang pada akhirnya biaya itu diperoleh dari usaha losmen istrinya.

Kalau kita rajin menggali dan terus berfikir, sebenarnya masih banyak potensi lain yang khas Negri kita. Sebut saja kekhasan hewan-hewan di Sulawesi. Bisa saja produser film memproduksi film dengan latar belakang keragaman hayati Sulawesi yang ditandai oleh paduan antara satwa Asia dan satwa Australia (dan tidak ditemui di wilayah lain). Filmya sih bisa film apa saja (misalnya pencarian korban pewawat jatuh), tapi latarnya bisa memanfaatkan keunikan satwa Sulawesi tadi.

Salah satu tema yang banyak dipakai film Hollywood adalah dunia mafia. Sebenarnya, mafia ini kan sejarahnya berasal dari Sicilia, Italia. Namun para sineas Amerika cukup jeli memanfaatkannya sebagai tema film. Adakah film Italia bertema mafia yang menjadi box office? Rasanya belum ada. Film mafia yang sukses selalu merupakan produk Hollywood. Barangkali, kalau para produser film dan sineas kita tidak jeli melihat potensi lokal, bisa saja tiba-tiba kita dikejutkan oleh film Hollywood yang bertemakan carok meledak di pasar film dunia.

Advertisements

One Response to “Film Lokal dan Potensi Lokal”

  1. y gautomo said

    Blog baru dan update terus pak ?

    Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: