Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Nasib Keconcong Tak Seindah Jazz

Posted by djadjasubagdja on March 9, 2008

Akhir pekan panjang di awal Maret 2008 ini benar-benar akhir pekannya para pecinta musik jazz di tanah air, karena Java Jazz kembali diselenggarakan di ibu kota. The Manhattan Transfer, James Ingram, Bobby Caldwell, atau gitaris Lee Ritenour adalah beberapa dari para pendekar jazz kelas internasional yang tampil memeriahkan Java Jazz kali ini. Beberapa hari menjelang pertunjukan musik jazz ini sudah muncul berita-berita ringan di koran mengenai beberapa tokoh publik yang menyatakan akan menontonnya, bahkan ada yang datang dari luar kota dengan memboyong keluarganya untuk rame-rame nonton Java Jazz.

Sungguh hebat sekali daya tarik pertunjukan musik jazz kelas internasional ini, dan antusiasme serupa terjadi di tahun-tahun sebelumnya baik di Java Jazz Festival maupun di Jak Jazz Festival. Seingat saya, belum pernah ada berita yang menyebutkan ada sebuah jazz festival di Jakarta yang sepi penonton. Semua festival jazz di Jakarta selalu sukses, baik dari segi pertunjukannya maupun dari segi banyaknya penonton yang menyaksikan.

Setahu saya, jazz bukan musik favorit sebagian besar masyarakat kita. Apa lagi kalau jazz-nya yang benar-benar jazz (main stream), bukan sekadar jazzy atau jazz yang rada ngepop. Barangkali, jangankan dibandingkan dengan jumlah penggemar dangdut, jika dibandingkan dengan jumlah penggemar musik rock dalam negri pun, maka jumlah penggemar musik jazz kita relatif lebih sedikit. Namun jangan tanya soal kemampuan finansial pecinta musik jazz ini. Sudah sejak dulu, penggemar musik jazz tanah air rata-rata berasal dari kalangan menengah ke atas.

Meski penggemar jazz tanah air tidak sebanyak penggemar rock atau dangdut, tapi jazz Indonesia selalu eksis dari masa ke masa. Saya masih ingat di tahun 70-an, TVRI memiliki program musik jazz rutin. Saya lupa persisnya apakah ditayangkan seminggu sekali atau sebulan sekali, tapi nama musisi jazz nasional tempo doeloe seperti Jack Lesmana atau Jopie Item sering disebut ayah saya yang rajin nonton acara jazz di tivi hitam putih kami kala itu. Saya sendiri mengenal jazzer lokal dari penuturan beliau. Waktu berlalu dan entah kapan persisnya, tapi rasanya acara tersebut tidak berlanjut di awal tahun 80-an.

Namun eksistensi musik jazz nasional tidak berhenti. Pada pertengahan tahun 80-an muncullah musisi-musisi jazz muda (waktu itu) yang membentuk grup musik jazz beraliran fussion, seperti Krakatau, Karimata, atau Batalion of Musician (BOM). Nama-nama seperti Indra Lesmana, Doni, Pra, atau Cendy Luntungan akrab di telinga para penggemar jazz tanah air, terutama para penggemar dan para remaja yang mengaku sebagai penggemar jazz. Grup-grup musik jazz mancanegara seperti Casiopea, Chickorea, atau Shakatak akrab di telinga kami, remaja tahun 80-an. Saat itu, kalau tidak kenal nama George Benson, Al Jarreau atau Matt Bianco, maka siap-siap saja dijuluki kuper. Makanya saya dan adik saya waktu itu juga tidak ketinggalan menjadi penggemar jazz pemula. Sementara itu, nama-nama legendaris seperti Ray Charles atau Louis Armstrong juga muncul lagi di benak para orang tua kami seiring dengan kemunculan kembali Bill Saragih, Buby Chen, Ireng Maulana, Beny Mustafa, Beny Likumahuwa, Trisno atau Maryono di layar kaca berwarna pada penghujung tahun 80-an hingga awal-awal tahun 90-an. Di era ini pula muncul Java Jazz Festival, yang merupakan tindak lanjut dari kesuksesan beberapa musisi jazz nasional di North Sea Jazz Festival, Den Haag. Setelah itu, selang beberapa tahun kemudian, jazz nasional kembali vakum.

Seingat saya, di seputar masa reformasi, jazz tanah air masih belum ramai lagi. Baru setelah tahun 2000 muncul beberapa grup musik jazz anak muda. Grup musik jazz Maliq n d’Essential menjadi idola remaja masa kini. Menurut adik saya yang masih kuliah, ada juga beberapa grup musik jazz tanah air sekelas Maliq, dia sempat sebutkan beberapa nama, tapi saya lupa, maklum daya ingat sudah mulai berkurang. Namun jelas, sejak jaman Buby Chen, jaman Jack Lesmana, jaman Indra Lesmana, hingga kini – jaman Maliq, jazz selalu eksis di tanah air kita. Festival jazz selalu ada, apakah itu Java Jazz ataupun Jak Jazz.

Lantas, yang menjadi pertanyaan besar saya, mengapa hal serupa tidak terjadi pada musik keroncong? Kalau jazz berasal dari Amerika yang letaknya nun jauh di sana, maka keroncong asalnya tidak jauh, bahkan dekat sekali, dari negri kita sendiri. Saya juga tidak yakin kalau penggemar keroncong lebih sedikit dari penggemar jazz. Namun mengapa saat ini keroncong seolah tidak muncul kembali?

Dulu, ketika kita hanya punya TVRI, ada acara musik keroncong yang ditayangkan secara rutin sepekan sekali di tivi. Musik pengiringnya adalah Orkes Keroncong Gita Pusaka pimpinan Ahmad, penyanyinya siapa lagi kalau bukan Sundari Soekotjo, Tutiek Tri Sedya, Totok Salmon, Mamiek Slamet, Mus Mulyadi, dan seabreg penyanyi keroncong lainnya. Kadang, penyanyi pop juga tampil. Biasanya mereka membawakan langgam (lagu pop yang dikeroncongkan). Hetty Koes Endang juga sering membawakan lagu pop-keroncong (lagu berirama keroncong tapi diiringi musik band modern), bahkan dikasetkan. Hal ini terjadi pada kurun waktu pertengahan 80-an hingga awal 90-an. Sama dengan era Indra Lesmana di periodisasi jazz tanah air versi saya di atas. Kemunculan generasi Sundari Soekotjo seolah menjawab ‘keinginan’ para buaya keroncong seperti Gesang atau Bram Titale agar keroncong tetap hadir di tanah kelahirannya. Namun sayang, setelah itu, seiring dengan berkurangnya dominasi TVRI, keroncong tidak terasa lagi eksistensinya.

Hingga awal tahun 90-an, pasang surut musik keroncong kira-kira sama dengan yang dialami jazz tanah air. Namun, kini, ketika jazz kembali muncul, keroncong tetap tidak terdengar. Hanya sedikit dari kita yang mengetahui bahwa TVRI masih rajin menyajikan musik keroncong rutin sepekan sekali lewat acara Gema Keroncong. Stasiun tv swasta seolah lupa akan keberadaan musik ini. Musik kita sendiri. Musik yang dipuji-puji orang Jepang dan orang-orang luar negri lainnya yang menghargai seni.

indah lukisannya alam
kala senja menjelang pelukan malam
burung putih menyampaikan salam
kata selamat malam

Begitulah sepenggal lagu keroncong Bandar Jakarta, seolah mewakili ribuan lagu keroncong lainnya yang menyampaikan ucapan selamat malam kepada kita, karena banyak dari kita yang melupakan keroncong. Kalau orang tua kita dan sebagian dari kita mengenal Bengawan Solo lebih sebagai sebuah lagu keroncong yang mendunia, maka barangkali anak cucu kita akan lebih mengenal Bengawan Solo sebagai sumber banjir. Apakah kita tega mengucapkan sayonara kepada keroncong?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: