Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Terompet Air Mata

Posted by djadjasubagdja on January 2, 2008

Sebuah stasiun televisi memberitakan sejumlah selebritis yang kebanjiran rupiah hingga milyaran rupiah sebagai imbalan atas hiburan yang mereka suguhkan kepada kaum berdompet tebal yang menikmati pergantian tahun 2007-2008 di sejumlah hotel dan tempat hiburan. Tentu saja, puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Pemberi Rezeki atas perolehan para artis malam itu, dan rasa syukur yang sama atas rezeki yang dimiliki oleh para penontonnya yang malam itu bisa berpesta menyambut tahun baru.

Seperti malam-malam tahun baru sebelumnya, saya sekeluarga tidak melakukan aktivitas khusus dalam menyambut tahun baru. Bukannya tidak bersyukur atas karunia yang diberikan Tuhan di tahun 2007, tapi ya memang begitulah. Istri saya malah buru-buru tidur karena kelelahan sehabis belanja beberapa kebutuhan rumah tangga. Tiba-tiba, kira-kira lima menit menjelang pergantian tahun kami dikejutkan oleh bunyi petasan dan ledakan kembang api yang disulut beberapa tetangga jauh kami. Tak lama kemudian, terdengar suara terompet yang dibunyikan anak-anak kos rumah sebelah dan beberapa pengendara sepeda motor dan mobil yang melintas di depan rumah. Bersamaan dengan itu, bunyi ledakan terus terdengar. Wah, pasti itu pesta kembang api, pikir saya.

Iseng-iseng saya keluar rumah, melihat ke atas langit, dan ternyata dugaan saya betul, agak jauh ke arah pusat kota terlihat langit bersinar kemerahan dengan asap putih pekat di sekitarnya. Ternyata, selain petasan dan kembang api kecil yang disulut beberapa tetangga jauh kami, rupanya ada pesta kembang api yang lebih besar di tengah kota. Dan ledakan-ledakan kembang api terus terdengar hingga beberapa menit setelah pergantian tahun. “Berisik sekali di luar,” kata istri saya dengan nada mengeluh, karena tidurnya terganggu. Suara petasan dan kembang api baru berhenti setelah hujan turun kemudian.

Keesokan paginya saya bangun agak siangan karena semalam telat tidur. Setelah mandi, sambil sarapan saya hidupkan televisi. Biasa, sarapan sambil nonton berita pagi. Dan bisa ditebak, pagi itu berita teve diisi oleh kegiatan masyarakat dalam merayakan tahun baru. Berita lainnya adalah pencarian korban longsor dan laporan ketinggian air banjir di beberapa wilayah di Jateng dan Jatim. Beberapa korban banjir masih belum terjangkau pertolongan, karena jalur transportasi terputus, terpaksa bantuan makanan dilembarkan dari helikopter ke beberapa lokasi. Kasihan sekali saudara-saudara kita yang kebanjiran di hari-hari terakhir 2007 dan hari pertama 2008 ini, sementara saudara-saudara kita lainnya barangkali masih tidur lelap setelah berpesta tahun baru semalam.

Tiba-tiba saya bertanya kepada diri sendiri, bagaimana orang-orang bisa berpesta di malam tahun baru sementara begitu banyak bencana tengah terjadi. Banjir rob di Jakarta Utara, banjir di beberapa wilayah di Jateng dan Jatim, longsor di Karanganyar, pesawat jatuh di Sabang, banjir di Jambi, serta banjir dan longsor di daerah lainnya. Belum lagi sisa bencana lama yang masih belum tuntas juga penanganannya, seperti sebagian kecil pengungsi tsunami Aceh yang rumah penggantinya masih dalam tahap pembangunan. Sebagian korban Lapindo yang masih belum mendapatkan penggantian. Mantan karyawan PT DI yang masih belum tuntas urusan pesangonnya. Ribuan buruh garmen yang tidak diberi pesangon setelah di-phk karena perusahaannya bangkrut. Dan segudang bencana yang menghiasi pergantian tahun ini, seperti juga beberapa tahun belakangan ini.

Saya masih ingat, ketika tsunami besar terjadi di tahun 2004, Pemerintah waktu itu menghimbau agar tidak ada pesta tahun baru. Himbauan tersebut disambut baik oleh kita semua. Namun di tahun-tahun berikutnya, meski bencana banjir dan longsor selalu menghiasi pergantian tahun, selalu banyak saja orang-orang yang merayakan tahun baru dengan berpesta atau berkeliling kota dengan membunyikan terompet atau menonton kembang api di pusat kota. Terus terang saya tidak habis pikir mengapa kita merayakan tahun baru seperti itu di tengah bencana yang sedang melanda sebagian dari saudara-saudara kita?

Salut kepada Presiden dan Wapres yang memperingati pergantian tahun dengan melaksanakan kegiatan keagamaan. Salut kepada beberapa saudara kita yang memperingati pergantian tahun dengan mendengarkan ceramah di masjid-masjid. Salut kepada saudara-saudara kita yang di malam tahun baru menghadiri misa/kebaktian di gereja-gereja. Aktivitas semacam inilah yang mestinya kita lakukan dalam menyambut pergantian tahun, bukannya berhura-hura di jalan atau di tempat hiburan. Ingatlah, bahwa saat kita meniup terompet tahun baru, ada saudara kita yang tengah menangis di tengah bencana yang menimpanya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: