Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Go Internasional: Tidak Sesederhana Itu

Posted by djadjasubagdja on November 20, 2007

Hari Sabtu dan Minggu biasanya saya habiskan untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil, seperti pegangan pintu lemari yang terlepas, mengencangkan engsel, merapikan kabel-kabel, atau mengencangkan baut-baut sepeda anak-anak. Biasanya setelah itu langsung membersihkan akuarium. Kalau istri saya tidak minta ditemani jalan, ya paling saya habiskan akhir pekan saya untuk nonton film kartun bersama anak-anak.

Saya lupa, Sabtu atau Minggu pagi kemarin, seperti biasanya saya duduk di samping si bungsu yang sedang nonton film kartun Disney. “Wah, ceritanya tentang apa nak, koq ada duel anggar segala?” tanya saya yang langsung dijawab si kecil, “Three Musketeer pa.”

Jadi rupanya ceritanya tentang Mickey Mouse dan Donald Duck yang menjadi The Three Musketeer. Saya lantas teringat dengan beberapa film Hollywood yang dibuat berdasarkan cerita The Three Musketeer ini. Kemudian tiba-tiba saya sadar, betapa banyak cerita yang berasal dari Prancis yang difilmkan oleh industri film Hollywood. Selain yang di atas, ada beberapa cerita Prancis lain seperti Si Bongkok dari Norte Dame, Pulau Monte Christo, Keliling Dunia dalam 80 Hari, dan pastinya sejumlah lainnya yang saya tidak tahu persis. Berapa banyak pula cerita tulisan H.C. Andersen yang telah difilmkan Hollywood? Apakah novel-novel Harry Potter difilmkan oleh orang Inggris?

Dari contoh-contoh di atas, kita dapat melihat bahwa ketika sesuatu yang kita miliki atau ciptakan telah mendunia, maka siap-siaplah untuk kemudian orang lain mengambil keuntungan darinya (tentunya setelah kita mendapatkan keuntungan terlebih dahulu). Kalau tidak rela dimanfaatkan orang lain atau katakanlah kalau tidak rela orang lain mendapat manfaat yang lebih besar, maka kita mesti membuat rencana untuk mengembangkan bisnis dari efek yang ditimbulkannya.

Misalnya, katakanlah tiba-tiba ada novel kita yang go internasional dan menjadi best seller, maka siap-siaplah para sineas kita untuk memfilmkannya. Dengan demikian, tidak hanya si penulis yang mendapatkan royalti dari penjualan novel dan pemutaran filmnya, tapi juga para insan perfilman kita mendapat keuntungan darinya.

Demikian pula misalnya kalau ada satu jenis makanan kita yang kemudian digemari tidak hanya oleh kita tapi para turis asing yang berkunjung ke Bali, maka siap-siaplah untuk membuka restoran, yang menyajikan makanan itu sebagai menu utama, di negara-negara asal turis asing tadi. Jadi jangan sampai kita hanya mengekspor bahan makanannya saja, tapi para pengusaha restoran di luar negri yang meraup keuntungan yang lebih besar. Jangan jadi seperti Itali, yang menjadi negri asal piza, tapi Amerika yang meraup keuntungan besar dari restoran-restoran piza dan jaringan waralabanya.

Mematenkan batik atau angklung sebagai karya budaya kita tentunya merupakan langkah nyata untuk melindungi warisan nenek moyang. Namun demikian, kalau hanya sebatas mematenkan dan memproduksinya saja maka jangan kaget kalau tiba-tiba kita melihat pertunjukan angklung dan peragaan busana batik di brosur Kuala Lumpur City Tour.

Untuk membangun sebuah negara kita memerlukan sebuah Rencana Besar yang dihasilkan oleh pemimpin-pemimpin yang arif dan cerdas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: