Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Ekspor Peuyeum

Posted by djadjasubagdja on November 10, 2007

“Sebenarnya tulisan senada pernah saya tulis di beberapa milis, tapi terus terang, karena saya pikir hal ini penting, jadi ijinkan saya sajikan juga di Beranda saya.”

Tiba-tiba saja si sulung bilang kalau dia suka jus anggur ketika selesai mencicipi jus anggur (alcohol free) pemberian neneknya. Sontak saja, secara otomatis, saya bilang ke mertua saya, yang saat itu masih berada di meja makan bersama kami, bahwa sebenarnya negri kita ini kaya akan buah-buahan yang belum tentu ada di negri orang. Coba renungkan, barangkali kalau bahasa Inggris-nya jambu batu banyak yang tahu, guava, tapi kalau jambu air … apa bahasa Inggrisnya. Terus kalau jambu air jenis cincalo, atau jambu bol, apa hayo? Belum lagi buah duku dan kerabatnya seperti pisitan, kokosan, menteng, bencoy, dan … apa lagi ya.

Mangga dan pisang pun dalam bahasa Inggris-nya ya cuma manggo dan banana, sementara kita mengenal beragam mangga dan pisang. Mangga harum manis, dermayon, si mana lagi, limus, cengkir, golek, gedong, kweni, yang bentuk, rasa, dan tekstur buahnya cukup jauh berbeda. Begitupun di keluarga pisang, kita mengenal pisang ambon lumut, pisang ambon putih, raja cere, muli, tanduk, mangala, dan pasti masih banyak jenis pisang yang saya lupa namanya. Dan kita pun tahu mana pisang yang enak untuk dimakan tanpa diolah dan mana pisang yang enak untuk dijadikan pisang goreng atau pisang rebus/kukus. Kita juga tahu kalau pisang mangala hanya cocok untuk diiris sedikit kemudian diulek bersama bahan-bahan bumbu rujak ulek. Hmm, nikmat sekali rasanya siang-siang makan rujak ulek atau menikmati gerimis sore di hari Sabtu sambil makan pisang rebus dan ditemani secangkir bajigur panas.

Dalam hati saya bertanya, ada tidak ya pengusaha kita yang tertarik untuk mengekspor jus buah-buahan asli Nusantara. Jus beneran lho, bukan yang sudah dicampur gula dan air. Investasinya pasti tinggi karena menyangkut pengadaan buah-buahan segar berkualitas ekspor bebas pestisida dengan pengemasan suci hama dan tanpa melibatkan bahan pengawet atau sintetis lainnya. Dan tentu saja si produsen juga harus memberi kepastian kepada eksportirnya bahwa jusnya terjamin kesegarannya untuk jangka waktu yang cukup lama, seperti minuman kemasan lain yang biasa dikonsumsi saudara-saudara kita di negara maju.

Itu buah-buahan. Nah bagaimana dengan makanan lainnya? Kalau kari ayam atau kari kambing, barangkali di India atau Timur Tengah juga banyak. Apa lagi dengan aneka olahan ayam atau daging. Tapi kalau dendeng belut khas Cianjur atau bandeng asap khas Sidoarjo, mungkin orang lain belum pernah merasakannya. Di bandara Juanda Surabaya yang baru, iseng-iseng saya beli sebungkus goreng lurjuk (saya lupa-lupa ingat tulisannya, tapi ya kurang lebih begitulah menulisnya, lurjuk, katanya sejenis hewan laut yang suka dibikin oseng-oseng/cah, dan menurut saya rasanya enak). Pas lagi bayar, saya berfikir ini makanan sebenarnya punya potensi ekspor seperti halnya keripik ceker ayam, keripik pisang, atau kerupuk kulit. Kita bisa bilang inilah “Exotic Foods of Indonesia”, atau “From Indonesia with Exotic Foods”

Banyak koq makanan/minuman eksotis dari negri kita. Selain yang telah saya sebutkan di atas, ada brem Bali, brem Jawa, peuyeum Bandung, peuyeum/tape ketan. Tinggal teknologi pengemasannya dan desain kemasannya. Teknologi pengemasan tentunya harus mengacu pada standar mutu internasional. Perusahaannya juga barangkali harus mulai memikirkan untuk mengaplikasikan standar mutu tertentu seperti ISO atau HACCP. Desain kemasan harus benar-benar bergaya khas tanah air kita, karena biasanya yang seperti itu memiliki nilai lebih di mata bangsa asing, terutama yang bule-bule. Kalau tidak salah, ada pengusaha yang mengekspor bandrek atau wedang jahe, kemasannya bagus dan khas, tapi rasanya belum terdengar gaungnya di mancanegara. Barangkali kalau diberi label “hot ginger ale with coconut sugar” akan lebih mudah memasarkannya di luar negri. Lalu promosikan pas memasuki musim gugur. Ya, minimal pasti dibeli lah sama orang kita yang bermukim di sana. Minum bandrek sambil menikmati gugurnya daun pohon mapple yang berwarna merah, oranye, kuning … seperti menikmati soft drink sambil menikmati ombak pantai tropis.

Terus terang, saya gregetan banget dengan ekspor makanan dan minuman khas kita ini. Saya yakin koq, bakal banyak peminatnya. Ada yang diekspor sebagai makanan yang dikemas, dan barangkali yang paling berpeluang adalah perluasan outlet restoran-restoran kita ke manca negara alias mengembangkan usaha boga dengan cara waralaba hingga ke luar negri.

Sampai sekarang saya bingung, kenapa para pengusaha jaringan restoran mie bakso atau bakmi nasional belum ada yang meluaskan bisnisnya hingga ke Singapura atau Malaysia, misalnya. Atau kalau merasa takut kalau di sana banyak juga restoran mie, mengapa tidak dicoba ekspansi ke Australia dan Selandia Baru? Pede aja lah. Teman saya yang orang Malaysia juga selalu bilang kalau mie di Jakarta itu enak-enak. Jangankan bakmie kelas restoran terkenal, bakmie tujuh ribuan yang dijual si Engko di sebrang ruko di kantor lama saya pun dia bilang enak.

Kapan ya ada pengusaha Batagor Bandung yang buka cabang di luar negri? Kapan ya ada pemilik jaringan goreng ayam kampung yang mau nambah jaringannya di luar negri? Kapan ya ada urang awak yang buka restoran Minang di negri orang? …. Eh, lupa, kalau yang terakhir ini banyak juga, saya pernah makan nasi Padang di daerah Queens di New York beberapa tahun yang lalu, nasi plus telur balado plus ayam bakar harganya 9 dolaran. Onde – mande, dengan duit segitu saya bisa makan sambil neraktir temen di warung makan Ajo deket kantor.

Kenapa saya berpendapat bahwa kalau kita mengekspor makanan/minuman khas kita atau kita meluaskan bisnis restoran atau jasa boga ke luar negri adalah salah satu peluang? Jawabannya adalah pengalaman saya sendiri sekitar bulan Oktober di tahun 1996 di Quebeck City, Kanada. Waktu itu saya sedang belajar bahasa Inggris di sebuah universitas di Amerika Serikat. Kebetulan tempatnya relatif dekat dengan Quebeck, maka kampus mengatur jalan-jalan akhir pekan ke sana. Piknik ini sebenarnya diperuntukkan bagi mahasiswa mancanegara, tapi mahasiswa lokal juga boleh ikut. Maka berangkatlah saat itu kami dengan mengendarai bis sekolah yang warnanya kuning.

Meskipun bulan masih Oktober, tapi di Kanada sudah lebih dingin dibandingkan dengan negara-negara iklim ugahari (empat musim) lainnya. Tidak heran, setelah seharian keliling kota di hari Sabtunya, begitu sampai di penginapan, langsung kami keluar lagi mencari makan malam. Saya kebetulan pergi mencari tempat makan malam dengan beberapa teman dari Jepang dan Amerika Serikat. Setelah selesai makan lalu kami jalan-jalan menikmati dinginnya malam. Setelah agak jauh berkeliling, kami putuskan untuk minum kopi di sebuah coffee shop. Ternyata kedai kopi yang kami kunjungi waktu itu benar benar kedai kopi. Bubuk kopinya berasal dari puluhan tempat di dunia. Menunya tidak berupa sehelai karton, tapi berupa buku. Di buku menu mereka, kopi-kopi diklasifikasikan berdasarkan asal negaranya. Jadi, menu mereka terbagi atas nama benua, nama negara, dan nama atau jenis kopinya. Hal yang benar-benar membuat saya terkesan dan bangga adalah kopi Indonesia. Khusus untuk kopi Indonesia, mereka bahkan membagi-bagi lagi per pulau. Karena sudah lama tidak minum kopi asli, saya langsung pesan kopi Mandailing. Wah nikmat sekali, bubuk kopinya ditubruk air panas di gelas khusus bersaringan yang bisa kita tekan ke dasar gelas hingga ampas dan air kopinya terpisah, lalu saya tuangkan air kopinya ke cangkir yang telah disediakan, saya tambahi gula satu gandu kecil, nikmatnya tidak pernah saya lupakan. “It seems you have a real coffee,” kata salah seorang teman yang berambut pirang waktu itu. Sementara sekarang kita rame-rame nyerbu kedai-kedai kopi ala Amerika. Kita bikin “Kedai Kopi Sruput Nikmat” atau “Java Coffee Shop” yuk!

Besok paginya, sebelum meneruskan keliling kota, saya dan beberapa teman pergi mencari tempat sarapan. Seorang teman yang kebetulan seasrama dengan saya, dan meskipun dia mahasiswa lokal tapi senang bergaul dengan mahasiswa non-lokal, mengusulkan mencari tempat makan yang unik, tapi tetap terjangkau oleh kocek kami tentunya, maklumlah waktu itu kami kan mahasiswa. Akhirnya ketemulah tempat sarapan yang kami cari. Lalu kami memesan menu yang disarankan, semacam adonan lembaran (croissant) dengan pisang, keju, dan taburan coklat. Selesai sarapan temen yang orang Amerika sambil tersenyum-senyum berseru, “it was great!”. Hebat sekali sarapan kita, maksudnya. Saya dan seorang teman yang juga berasal dari Indonesia bengong saja melihat ekspresi si pirang ini. Barangkali karena heran kami tidak ‘ngeh’, lalu dia berkata ke saya, “wasn’t it great, Djadja, we had a nice breakfast with bananas?” Segera saja saya sadar bahwa buat mereka sarapan seperti yang kami santap tadi adalah sesuatu yang jarang, maka saya cepat-cepat saya mengiyakan perkataannya yang pertama tadi sambil juga tersenyum. Padahal, sebenarnya, bagi saya, sarapan kami tadi itu ya tidak beda dengan pisang bolen yang banyak dijual di toko-toko kue di Bandung, dan perbedaan harganya bagai bumi dan langit!

Sebagai gambaran tambahan, setahu saya, beberapa orang Amerika Serikat kini mulai terbiasa dengan menyantap nasi di tempat-tempat pusat jajan serba ada. Biasanya orang-orang Jepang agresif sekali menawarkan chicken teriyaki di mal-mal di sana. Nasi Asia lebih enak dibandingkan nasi mereka. Bahkan saya pernah melihat seorang bule yang kios makannya menyajikan nasi plus aneka lauknya di Quincy Market, sebuah pusat jajan/belanja yang legendaris di jantung kota Boston.

Sejak saat itu saya sadar kalau buat orang asing, makanan yang barangkali biasa buat kita, bisa jadi sesuatu yang luar biasa buat mereka. Kalau ada restoran Sunda di Amerika Serikat atau Eropa yang menyajikan segala macam pepes ikan dan ayam, plus lalab dan sambel (yang disesuaikan dengan lidah mereka) plus sayur asem atau sayur lodeh; barangkali orang sana akan menjulukinya sebagai tempat makan yang “exotic” atau “extraordinary”. Apa lagi kalau dipromosikan sebagai penyedia makanan sehat berkolesterol rendah. Ada yang tertarik berinvestasi di industri boga khas lokal berorientasi global?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: