Beranda Djadja Subagdja

Yuk kita bebenah!

Pembantu, Mitra Kerja Kita

Posted by djadjasubagdja on November 3, 2007

Beberapa politisi, budayawan, dan selebritis baru-baru ini menggelar kampanye peduli pembantu yang digelar di rumah Gus Dur. Kalau sampai ada kampanye semacam ini, berarti banyak sekali majikan yang memperlakukan pembantu tidak sebagaimana seharusnya, pikir saya. Padahal, seingat saya, dulu kami selalu diajarkan untuk memperlakukan pembantu secara manusiawi dan proporsional. Hal ini akhirnya menjadi kebiasaan bagi saya dan istri untuk juga memperlakukan pembantu tidak sebagai orang lain, dan mereka pun akhirnya menganggap kami sebagai kerabat. Begitu juga dengan saudara-saudara kami, mereka memperlakukan pembantu secara manusiawi.

Seorang mantan pembantu kami, misalnya, menyempatkan datang ke rumah kami sewaktu kami mengadakan syukuran khitanan anak kami yang dulu diasuhnya. Begitu pula ketika dia melahirkan, beberapa bulan kemudian dia bawa bayinya ke tempat kami. Kepada semua pembantu, kami biasanya menasehati agar dia bekerja dengan baik agar nantinya menjadi istri yang bisa mengurus rumah tangganya dengan baik. “Kalau kamu bekerja dengan baik, kan saya juga bisa naikin gaji kamu, tapi kamu juga jangan boros jajan, agar uangnya bisa dikirim ke orang tua kamu di kampung, buat beli tanah atau perhiasan,” begitu biasanya istri saya kalau menasehati pembantu baru.

Sejak kecil, seingat saya, orang tua saya selalu mempunyai pembantu, maklum Ibu saya adalah seorang wanita karir. Jadi, meski ada nenek yang menjaga saya dan adik-adik, pembantu selalu ada. Bahkan saya masih ingat beberapa dari mereka yang sempat bekerja di rumah kami selama bertahun-tahun.

Satu hal penting yang selalu ditekankan oleh orang tua saya adalah aturan kalau kami wajib memakai kata ‘tolong’ kalau meminta bantuan tenaga mereka. Kalau saja kami lupa mengucapkan kata ‘tolong’ saat meminta pembantu melakukan sesuatu, pasti orang tua kami langsung menegur kami di depan pembantu, lalu menyuruh mengulangi permintaan kami dengan kalimat yang santun. Kebetulan, dalam bahasa Sunda, terjemahan dari kata ‘tolong’ adalah ‘punten’ yang juga berarti maaf. Tradisi ini juga saya terapkan ke anak-anak saya sekarang.

Hal lain lagi yang diutamakan oleh orang tua kami adalah panggilan untuk pembantu. Semasa kami kecil, kami diharuskan memanggil ‘bibi’ kepada mereka. Tapi ketika kami sudah menginjak usia remaja, kami memanggil mereka ‘mbak’ (karena kebetulan pembantu kami waktu kami remaja, bukan orang Sunda). Hal ini juga berlaku kalau kami memanggil tukang becak atau pedagang keliling. “Panggil mereka mbak, mas, akang, euceu, mang, atau bibi; tergantung beda usia kalian,” begitu pesan ayah saya. “Dari dulu, kita, orang Sunda, selalu memanggil tukang becak, tukang sayur, atau pedagang keliling lainnya dengan sebutan ‘mang’, untuk menghormati mereka, karena kita juga memanggil ‘mang’ atau ‘bibi’ kepada paman atau istri paman kita sendiri; itu artinya kita juga anggap mereka paman atau bibi/tante kita,” tambah ayah saya. Maka akhirnya saya mengerti mengapa nenek saya memanggil ‘jang’ kepada tukang becak atau pedagang keliling karena ‘jang’ atau ‘ujang’ adalah panggilan orang yang lebih tua kepada seorang anak lelaki di masyarakat tatar Parahiangan.

Saya kira, hal itu juga berlaku di daerah manapun di negri kita ini. Di Jakarta, misalnya, tukang becak atau pedagang keliling biasa disapa ‘bang’ atau ‘abang’, karena orang Betawi memanggil ‘bang’ atau ‘abang’ kepada kakak laki-laki atau pria yang lebih tua. Di Jateng dan Yogya, mereka disapa ‘mas’ atau ‘mbak’, seperti lazimnya orang Jawa memanggil kakak laki-laki atau perempuannya. Pendek kata, orang tua kita selalu mengajarkan agar kita menganggap pembantu, tukang becak, tukang delman/sado/andong/bendi/bajaj, atau pedagang keliling sebagai saudara kita, bukan orang lain.

Karena saya orang Sunda, ijinkan sebentar saya membahas istilah pembantu ini dari kaca mata orang Sunda. Menurut orang tua saya, di jaman penjajahan, pembantu disebut jongos atau babu, dan mereka dipanggil oleh majikannya tanpa sebutan, tapi langsung disebut namanya. Lambat laun, seiring dengan bertambah baiknya tatanan masyarakat kita, di tanah Pasundan pembantu disebut rencang (dalam bahasa Sunda halus), dan mereka biasanya dipanggil bibi oleh anak si majikan, karena memang biasanya mereka berjenis kelamin perempuan, dan usianya lebih muda dari sang majikan. Rencang dalam bahasa Sunda, dekat dengan kata rerencangan yang berarti teman. Selain disebut rencang, dalam bahasa non-halusnya, disebut batur. Istilah batur ini bisa berarti sama dengan teman (dalam bahasa Sunda, babaturan = rerencangan = teman). Kalau tidak salah, dalam bahasa Jawa pun, pembantu disebut rencang (maaf kalau salah). Dari analisis etimologi (ilmu asal usul bahasa) ini, jelas bahwa sejak jaman dahulu, pembantu dianggap teman atau barangkali lebih tepatnya orang yang ‘menemani’ kita di rumah. Bukan orang lain. Sehingga mesti diperlakukan dengan baik.

Sebelum era kemunculan biro jasa penyaluran pembantu, biasanya kita mendapat pembantu dari kampung kita sendiri, atau terkadang tetangga yang kondisi ekonominya kurang. Jadi, biasanya, kita juga kenal dengan orang tua atau keluarga mereka. Ketika masih bayi, saya, katanya, diasuh oleh seorang pengasuh, dan orangnya saya kenal karena dia adalah tetangga kami yang rumahnya di gang dekat rumah kami. Kalau pas Lebaran kami bertemu dengan dia di rumah buyut saya yang rumahnya tidak jauh dari rumah mantan pengasuh saya itu, biasanya ibu saya langsung menyuruh saya menyalaminya. Sekali lagi, sebenarnya sudah sejak jaman orde baru, kita tidak pernah menganggap pembantu itu orang lain.

Dulu kami punya pembantu yang berasal dari desa yang letaknya dekat dengan desa asal buyut kami. Desa si pembantu ini, letaknya, kata nenek saya, benar-benar sebuah desa terpencil, dimana sekolah juga masih jadi barang langka, padahal ketika itu pembangunan SD Inpres sudah menjangkau desa-desa. Si pembantu yang satu ini masih sangat muda, barangkali masih berusia 15-an. Makanya kalau malam, dia tidur menemani nenek saya, karena barangkali kalau tidur sendiri masih takut. Pada suatu hari, si pembantu ini terlihat sedang menulis surat, lalu ibu saya menanyakan itu surat untuk siapa. Rupanya dia menulis surat untuk orang tuanya. Ibu saya lantas menyuruh dia menuliskan alamat rumahnya di amplop, tapi kemudian ibu saya paham kalau si pembantu ini tidak bisa menulis dengan benar, padahal katanya dia lulusan SD. Setalah sedikit ‘dites’, akhirnya ketahuan juga kalau sebenarnya jangankan menulis dengan benar, membaca dengan benar pun dia tidak bisa.

Kebetulan, tidak lama berselang, di RW kami waktu itu, ada gerakan Pemberantasan Buta Huruf (PBH). Gerakan PBH ini didanai oleh Pemerintah dan masyarakat. Pemerintah menyediakan buku tulis dan buku ajar, serta alat tulis untuk siswa dan keperluan pengajaran, sementara tenaga pengajar dan tempatnya diupayakan masyarakat. Nama programnya adalah Kejar Paket A (Kelompok Belajar Paket A). Kebetulan, tempat belajar Paket A di RW saya waktu itu adalah rumah kami, sedangkan gurunya adalah salah seorang warga yang kebetulan guru SD warga kami. Waktu itu banyak sekali ibu-ibu yang mengikuti Kejar Paket A di rumah kami, waktu belajarnya sore hari. Nah, atas permintaan ibu saya, pembantu kami tadi juga kami ikutkan, dan akhirnya dia bisa menyelesaikan seluruh program ini. Tentu saja si pembantu ini senang karena akhirnya bisa membaca, manulis, dan berhitung (calistung) dengan benar dan mendapatkan sertifikat yang setara dengan ijazah SD. Bahkan, karena sudah bisa membaca, ibu saya jadi mudah mengajari dia memasak, membuat kue, membuat sirup, dan kegiatan keterampilan lainnya. Kebetulan ibu saya seorang guru keterampilan masak di sebuah SMP. Cukup lama juga si pembantu ini bekerja di tempat kami hingga akhirnya tidak pulang lagi ketika pulang kampung karena dinikahkan oleh orang tuanya. Bekalnya untuk berumah tangga juga sudah cukup, karena hasil kerjanya selalu dia tabung untuk kemudian dia belikan tanah di kampungnya. Beberapa tahun setelah dia menikah, kami mendapatkan kabar kalau si pembantu ini menjadi salah seorang aktivis kegiatan PKK di desanya, segala ilmu yang diajarkan ibu saya rupanya diamalkan dengan baik di desanya.

Seorang lagi pembantu yang bekerja cukup lama di tempat kami. Tidak seperti biasanya, waktu itu kami mendapat pembantu dari luar Jawa, tepatnya dia berasal dari Ternate, Maluku Utara. Dia bisa sampai ke kota Bandung karena dibawa pamannya yang kebetulan menikah dengan orang Bandung Selatan. Karena usianya tidak begitu jauh dari saya dan adik-adik, maka kami memanggil dia mbak, yang juga sesuai keinginan dia. Beerapa tahun setelah dia bekerja di tempat kami, adiknya datang, mau mencari pekerjaan dengan menjadi tentara. Ayah saya membantunya, mengarahkan, agar dia lulus seleksi calon bintara. Tapi, karena giginya kurang baik, dia gugur. Akhirnya dia bekerja di perusahaan cat di dekat rumah pamannya. Tidak lama kemudian dia menikah dengan orang Bandung Selatan juga, mengikuti jejak pamannya. Karena kerabatnya hanya kakaknya dan keluarga pamannya, maka orang tua dan adik-adik saya ikut mengantar adik si pembantu ini. Kepada keluarga pengantin perempuan juga kami sampaikan kalau kami ini sudah seperti keluarga bagi kakaknya. Beberapa tahun setelah itu, si pembantu kami ini, setelah beberapa tahun tidak pulang menjenguk ibunya di Ternate (kalau Lebaran juga dia merayakannya bersama kami di Bandung), akhirnya pulang kampung, dan bisa ditebak, akhirnya dinikahkan. Dia menikah dengan orang Papua. Si pembantu ini memang belum pernah lagi datang ke tempat orang tua saya, tapi adiknya hampir setiap tahun datang berlebaran ke rumah orang tua saya. Kami pun masih mendapat kabar tentang kakaknya, si mbak, mantan pembantu kami. Dari adiknya pula kami mendapat kabar kalau si mbak ini memberi nama yang sama dengan nama adik saya kepada anak pertamanya. Rupanya sama dengan kami, dia juga menganggap kami sebagai saudaranya. Saya jadi tersenyum geli, nun jauh di sana ada seorang anak yang ibunya orang Ternate dan ayahnya orang Papua, tapi namanya nama orang Sunda.

Melihat apa yang menimpa sebagian saudara-saudara kita yang menjadi pembantu di negri orang. Saya tidak habis pikir, budaya seperti apa yang mereka miliki, sampai berlaku semena-mena terhadap orang yang membantu rumah tangga mereka. Apakah karena mereka berbeda bangsa? Namun, ada juga orang kita yang berlaku semena-mena kepada pembantu, padahal mereka sebangsa. Kalaupun tidak sebangsa, bukankah mereka juga sama-sama manusia. Pembantu juga manusia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: